
“Anggaaaaaaaaaa!!!”
Freya berlari kencang dengan berteriak histeris untuk menghampiri kekasihnya yang tubuhnya tak bergeming di daerah sana. Larinya gadis cantik itu kini disusul oleh mereka bertujuh yang ada di belakangnya, mereka ikut berlari mendatangi Angga dengan raut wajah paniknya masing-masing.
Freya duduk bersimpuh dengan menatap kekasihnya cemas, dengan kedua tangan yang gemetar gadis itu mulai menyentuh bahu lemas Angga untuk ia balikkan tubuhnya menjadi terlentang. Air mata mulai berurai membasahi pipinya saat menatap wajah pujaan hatinya yang amat begitu pucat dimana di bagian luar matanya terlihat menghitam, bibirnya yang bungkam pucat kering, ditambah terakhir aliran darah nang telah keluar dari salah satu lubang hidungnya.
Freya beralih menyentuh lembut pipi kiri Angga yang kedua matanya terpejam dengan tenang. “Ngga ...”
Sayangnya suara getaran dari mulut lirih dari Freya tidak direspon oleh Angga, membuat gadis cantik itu meraih tubuh lemahnya untuk ia topang di atas kedua pangkuan kakinya. “Angga, kamu dengar suaraku? Kamu cuman nutup mata doang, kan?”
Harapnya Freya seperti itu, tetapi lagi-lagi kekasihnya tetap tidak bergeming untuk menjawab dua pertanyaannya. Ia mencoba menatap wajah tampan Angga beberapa saat, tetap saja lelaki itu tak kunjung membuka matanya.
“Hiks! Angga, ayo bangun dong! Kamu jangan kayak gini!” tangis Freya seraya mengusap darah hidung Angga hanya menggunakan jari jempol dari tangan kanannya.
“A-angga kenapa, Frey?!” panik cemas Jova seraya ikut duduk berlutut di sebelahnya Freya yang memangku tubuh lemah Angga.
Freya dengan menarik ingusnya, menoleh ke arah sahabatnya. “Aku gak tahu Angga kenapa! Tapi kayaknya dia pingsan, karena aku bangunin dari tadi Angga gak buka matanya!”
Freya mengelap air matanya pakai punggung tangannya. “Padahal Angga sudah menang untuk mengalahkan makhluk itu, tapi dia malah justru jadi kayak gini. Mukanya juga pucat banget. Aku takut Angga kenapa-napa, Vaaaa!”
Ketakutan yang ada di dalam hati Freya justru menambah saat teringat firasat buruk dan negatifnya terhadap Angga saat waktu itu. Meski kekasihnya tidak mengatakannya, tetapi entah mengapa perasaannya menjadi sangat tidak enak.
“Hei-hei! Kamu yang tenang dulu! Jangan panik kayak gini, Angga pasti bakal baik-baik saja. Em, yang penting kita bersembilan keluar terlebih dahulu dari bangunan kastil ini. Oke?” ucap Jova lekas seraya mengelus-elus punggung mungil Freya.
Reyhan yang tak bisa berkata apa-apa meski hatinya dilumuri rasa kekhawatiran, mulai bertindak untuk memanggul tubuh Angga ke belakang punggungnya. Tetapi baru saja hendak mengangkat raga sahabatnya, dari pelosok tembok ruangan ritual terdapat sebuah portal berwarna ungu bercampur kebiruan yang sangat indah dan menawan, bahkan kemunculan lingkaran portal besar yang memukau menjadi pusat perhatian delapan remaja tersebut.
“Itu apaan?” tanya Rena dengan menyipitkan kedua matanya curiga pada kehadiran portal lingkaran yang mempunyai ukuran cukup besar.
Freya yang menatap portal dua warna kolaborasi itu, kedua tangannya saling mendekap tubuh lelakinya yang raganya tetap tak bergeming. Ia gelabah bila ada sesosok makhluk lain yang berniat untuk mencelakai diri Angga kendati kondisinya sudah sangat benar-benar lemah.
Di dalam lingkaran portal tersebut datang sebuah bayangan manusia pria yang sepertinya sedang melangkah keluar dari benda alam non logis itu. Freya semakin mempererat pelukannya di tubuh Angga dengan detak jantung berdegup kencang melewati batas normalnya.
Sorot mata Reyhan memang terlihat tajam karena sudah curiga duluan pada bayangan pria jangkung yang melangkah ingin keluar dari portal, tetapi beberapa saat kemudian kedua mata lelaki tampan berambut cokelat lumayan pirang itu, melebar waktu menatap jelas sosok pria yang telah keluar dari benda gaib tersebut bersama murah senyumannya nang mengembang di bibirnya.
‘Eh, bentar! Bapak itu bukannya ...’
**Flashback On**
“Selamat malam untuk kalian semua. Ada yang bisa saya bantu? Saya baru saja memperbaiki alat yang sedang rusak, namun tiba-tiba dari belakang villa saya mendengar suara mesin mobil yang menuju ke sini.”
“Apakah salah satu di antara kalian semua ada yang ingin menyewa villa ini untuk sebagai inap liburan kalian? Sepertinya tidak ada, terakhir kali yang menyewa bangunan villa ini adalah seorang remaja lelaki seusia kalian.”
“Hah?! Yang benar, Pak?! Siapa namanya?!”
“Namanya adalah Kenzo Revansar Rafael. Apakah itu dari teman kalian semua?”
“Ya! Betul sekali! Apakah benar teman kami menyewa bangunan villa yang ada di jalan hutan kota Bandung ini, Pak?! Karena Kenzo kemarin hari Minggu sekitar jam lima sore, mengirim pesan ke kontak salah satu temannya bahwa dia meminta pertolongan. Maka dari itu kami ke sini untung memastikan keadaannya. Jika kami boleh tahu, dia sekarang dimana, Pak?! Bapak bisa bantu kami?”
“Vran. Lo terlalu terang-terangan buat menjelaskan ini semua ke Bapak penjaga bangunan villa itu.”
“Maaf, saya tidak bisa membantu.”
“Lho! Kenapa tidak bisa, Pak?! Bila Bapak tahu dimana keberadaan teman kami sekarang, tolong kasih tahu pada kami semua! Kami sudah jauh-jauh pergi ke kota Bandung hanya untuk menyelamatkan Kenzo !”
“Argh! S-siapa dia ...”
Brugh !
“Angga?! Anggara?! Ini anak kenapa bisa pingsan, sih?!”
“Apa yang telah anda lakukan pada sahabat saya?! Mengapa sahabat saya tiba-tiba pingsan?! Jawab saya, Pak !!”
“Saya tidak berbuat apa-apa pada sahabatmu. Lebih baik segera bawa dia ke kamar dalam bangunan villa ini. Ada beberapa kamar yang saling berjejeran di atas tangga, daripada kenapa-napa, kan?”
^^^{Dialog Berada di Chapter 145}^^^
**Flashback Off**
‘Iya. Gue ingat! Bapak itu adalah penjaga bangunan villa Ghosmara yang ada di kota Bandung. Seorang beliau yang sudah membuat Angga kesakitan saat malam itu. Tapi, kenapa dia dateng ke sini?’
Pria paruh baya yang tersenyum, menjadi berubah lenyap saat menatap Angga yang tergelimpang tak berdaya di atas pangkuan seorang gadis cantik berambut panjang dengan warna hitam legam. Lantas, beliau yang berdiri di belakang portal langsung berlari menghampiri anak-anak muda itu.
“Untuk apa anda datang ke sini?” tanya Reyhan dingin dengan raut wajah penuh kebencian.
Pria paruh baya berambut model cepak itu hanya menghela napasnya setelah mendengar suara dingin dan tatapan sinis dari salah satu remaja lelaki yang masih berumur 17 tahun tersebut.
“Anda ingin menyakiti sahabat saya ini lagi dengan melalui tatapan mata sadis anda?!” Mata Reyhan melotot dengan hela napas naik-turun agak cepat.
“Sabar, Rey! Sabar! Tahan emosi lo sebentar,” tutur Aji sambil melumas punggung kokoh temannya yang emosinya membuncah dengan rahang nang terlihat mengeras.
Beliau menundukkan kepalanya dengan memejamkan matanya berusaha untuk tenang lalu membuka mata kembali dan mengangkat wajah tuanya ke arah Reyhan. “Saya akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang lebih baik sahabatmu saya bawa ke tempat yang aman, karena kondisinya sudah parah.”
“Maksudnya Bapak, parah bagaimana?!”
Baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan bingung Jova, tiba-tiba ruangan ini berguncang dengan dahsyatnya. Mereka semua terkecuali Angga, panik karena ada goyangan hebat macam seperti terjadi bencana alam.
“Cog! Gilak! Gempa bumi!! Gempa bumi!!!” teriak Aji keras karena guncangannya semakin terasa hebat.
“Bangunan kastil ini akan segera runtuh! Ayo cepat kita bergegas pergi untuk masuk ke dalam portal yang telah saya siapkan di sebelah pojok sana!!!” perintah tegas pria paruh baya itu seraya mengangkut raga lemah Angga dari pangkuan Freya ke punggungnya.
Mereka bersepuluh langsung beranjak lari pergi meninggalkan ruangan ritual sekaligus bangunan kastil itu yang akan runtuh melalui lingkaran portal nang menantikan mereka semuanya untuk memasukinya segera sebelum tertimpa oleh puing-puing bangunan dari atas. Hingga pada akhirnya pria tua dan beberapa anak muda tersebut berhasil menembus ke dalam portal lingkaran sebelum lintasan jalan pembawa keberuntungan itu tertutup secara singkat.
...----------›**◎:☬☬☬:◎**‹---------...
“Woi, Anjing! Goblok!” umpat Aji saat dirinya didorong oleh portal tersebut hingga membuat ia jatuh tersungkur di suatu lantai kamar.
Jevran yang melihat Aji terjatuh dengan sempurnanya di atas lantai yang ubin keramiknya berwarna putih, menggelengkan kepalanya. “Cowok, kok teledor amat? Kami aja yang abis didorong gak kenapa-napa. Tuh, si cewek-cewek kagak ada yang jatuh kayak elo. Kalah, noh sama perempuan!”
“Banyak Bacot, lu! Bukannya nolongin gue malah dikasih protes yang bikin ngena hati! Emang temen titisan Dajjal lo, Cug!”
“Emangnya gue peduli? Idih, sori.”
Sementara pria paruh baya tersebut melanjutkan langkahnya yang terhenti karena untuk mendengar perdebatan kedua anak muda itu, ke ranjang kasur buat membaringkan tubuh lemah Angga.
Punggung lemas lelaki itu juga langsung tangkas ditopang oleh tangan Reyhan untuk membantu menidurkan Angga ke dalam posisi terlentang. Sedangkan seperti Freya dan Jova bersama wajah gundahnya, mengangkat kaki-kaki panjang Angga ke atas kasur nan empuk tersebut sekaligus nyaman.
Setelah semuanya beres, salah satu tangan beliau menyingkap jaket jeans abu-abu milik Angga yang menutupi pergelangan tangan kirinya lalu mulai menekan denyut nadinya. Pria paruh baya berkisar umur 40-an tahun itu nampak menghembuskan napasnya lega, saat mengetahui bahwa usahanya belum terlambat dimana irama denyutan nadi di dalam sisi pergelangan tangan anak muda tampan tersebut masih terasa jelas.
Tetapi masalahnya ada satu hal. Saat beliau memegang telapak tangan Angga, tangan lelaki itu sudah rada lumayan dingin. “Jika kalian ingin tahu kondisi Angga posisinya bagaimana, dia sedang tidak sadarkan diri. Dan saya harus mengobatinya secepat mungkin sebelum nyawanya direnggut oleh separuh sihir hitam yang telah lama mengendap di dalam raganya.”
“Hah? Apa tadi? Separuh sihir hitam?!” pekik kejut Aji saat telah berdiri usai terjatuh apes di lantai.
“Ya, betul.”
“Sebenarnya tadi gue sempat lihat sihir hitam dari makhluk itu menusuk ke tubuh Angga lalu masuk ke dalam raganya. Walau waktu itu gue kurang pasti yakin kalau itu terjadi,” celetuk Reyhan.
Beliau yang berdiri tegap di sisi kasur Angga, melemparkan senyuman tipisnya pada Reyhan yang tengah menatap nanar wajah pucat sahabatnya yang bak seperti mayat.
“Kalian semua jangan khawatir. Dengan saya yang akan mengobati atau mengeluarkan semua sihir itu, dia bakal baik-baik saja. Semoga ...”
“Yasudah, lakukan cepat! Banyak omong!” sentak Reyhan tanpa memedulikan etika santunnya.
“Reyhan! Yang sopan sama orang tua. Kamu nggak boleh berkata kasar seperti itu! Gak baik, lho.” Freya menegur sahabat lelakinya untuk menasihatinya.
Pria tua dengan wajah keriput itu, beralih menoleh ke arah gadis cantik lugu ialah Freya Septiara Anesha dengan tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Nak. Wajar saja jika emosi.”
Reyhan yang mendengar itu, langsung memalingkan wajahnya dengan tampang dingin. Kedua tangannya Sengaja ia lipatkan ke dada bidangnya untuk membuang emosinya yang berlebihan.
Pria paruh baya itu menurunkan telapak tangan kanannya untuk menempelkannya di atas dada bidang milik Angga, beliau pula terlihat memejamkan matanya dan bersiap melakukan tugasnya buat menyembuhkan sakit anak muda lelaki tersebut.
Beliau menggeser mundur telapak tangannya untuk menyusuri dari dada Angga sampai ke ulu hatinya kemudian ditekan sedikit dengan beberapa saat saja. Kedelapan remaja itu yang memperhatikannya serius, hanya diam saja tanpa berkomentar. Karena sudah jelas dan tentunya, pria paruh baya itu tengah sedang melakukan penyembuhan terhadap Angga yang kesadarannya belum kunjung kembali.
Beliau mengangkat telapak tangannya ke atas, dan di situlah para anak muda yang menyaksikannya, pandangan bola matanya bergerak kesana-kemari lepau mengikuti haluan gerak-gerik tangan sang pria paruh baya penjaga bangunan villa Ghosmara.
Tatapan mata kekasih, kedua sahabat, dan kelima temannya Angga terpaku saat meninjau sebuah cahaya dengan warna keemasan muncul di tepi-tepi tubuh lemah pemuda tampan tersebut waktu beliau sengaja mengambangkan tangannya di udara tanpa topangan.
Beliau kembali menaikkan telapak tangannya dengan menggunakan tenaga maksimalnya, berguna untuk menarik sihir hitam yang ada di dalam raga Angga. Bibirnya juga komat-kamit layaknya sedang merapalkan sebuah Doa yang kemungkinan manjur.
“Bapaknya sakti banget, gila.”
Jevran yang dibisiki beberapa perkataan terpukau dari Aji secara mendekatkan mulutnya di salah satu telinganya, hanya menghela napasnya saja tanpa berpaling dari fokusnya pria paruh baya itu yang masih berlangsung mengobati luka teman Introvert kelasnya.
Freya mengerjapkan matanya saat melihat Angga yang seperti sedang menarik napasnya dalam saat tangan pria paruh baya tersebut tetap terangkat untuk mengeluarkan sihir hitam yang masih ada di dalam tubuhnya pakai tenaga non lazim.
Kedua mata para remaja tersebut terbelalak lebar waktu menatap sebuah asap hitam menyembul keluar dari badan Angga lalu menaik ke atas disamakan penyembuhan dari beliau yang masih berlangsung untuk dirinya.
Setelah sihir hitam itu berhasil dikeluarkan tanpa tersisa apapun di dalam raganya Angga, beliau menarik tangannya ke belakang lalu asap sihir makhluk yang telah lenyap, menghilang bagaikan dihempaskan oleh angin kencang.
Usai sihir hitam itu menghilang secara gaib berkat pria paruh baya tersebut yang niat menyelamatkan jiwa Angga, lelaki tampan itu sayup-sayup menghembuskan napasnya keluar melalui hidungnya. Meskipun begitu, sepasang matanya tetap di kondisi yang sama yaitu terpejam dengan damai.
“Bapak itu sebenernya setan apa manusia, sih? Kok bisa gitu banget? Kekuatan apaan, tuh?” lancang Lala.
“Bego! Kalau ngomong suka sembarangan. Udah mana suka terang-terangan, lagi! Lo pikir aja pake otak lo. Bapak itu manusia atau bukan!” kesal Rena sambil mencubit pinggang Lala.
“Aduh! Iya-iya, maafin gue!”
Freya yang sedari tadi sengap di sisi kanan kasur kekasihnya, beralih untuk menghampirinya dan menyentuh pipi pucatnya. “Ngga? Angga?”
“Angga masih belum siuman, pergerakan hela nafas di saat penyembuhan yang saya lakukan tadi untuknya hanya pergerakan secara spontan. Kamu yang sabar saja, dia pastinya akan kembali sadarkan diri,” ucap beliau lembut pada Freya.
“Oh, pergerakan spontan ...” paham gadis berambut hitam legam itu dengan suara nada lesu seraya melepaskan telapak tangan halusnya dari pipinya Angga lalu kembali ke posisi awal.
“Iya, Nak. Tidak apa-apa, kamu dan lainnya jangan mengkhawatirkan Angga. Setelah sihir hitam itu keluar dari raganya dan menghilang, keselamatan nyawa Angga masih aman serta tidak terancam.”
“Memangnya kalau boleh saya tahu, efek dari sihir hitam itu seperti apa, Pak? Sepertinya cukup menciutkan nyawa orang,” tanya Jova.
Beliau menolehkan kepalanya ke arah Jova yang memberikan pertanyaan serius padanya. “Efeknya sangat mengerikan. Sihir hitam itu memiliki racun yang begitu kuat bila menembus ke dalam raga seseorang termasuk Angga, jika sihir yang telah menjadi luka itu tidak segera dikeluarkan dan dilenyapkan kemungkinan besar sihir itu akan menggerogoti ke seluruh organ-organ tubuh terutama organ jantung.”
Pria paruh baya itu yang sedang menjelaskan, berhenti sejenak untuk menghela napasnya panjang. “Bila sudah berhasil menjelajahi seluruh organ-organ penting dalam tubuh, sihir hitam itu mampu merusak organ jantungnya hingga membuat Angga cepat meninggalkan dunia.”
__ADS_1
Kedelapan remaja itu sangat terkejut mendengar penjelasan detail dari pria paruh baya tersebut. Ya, mereka begitu bersyukur kepada Tuhan karena semuanya belum terlambat dan Sang Maha Pencipta masih mempersilahkan Angga untuk bersinggah di dunia.
“Sebelum saya melakukan tugas untuk mengobati luka dalam Angga, tubuhnya sudah lumayan dingin. Tetapi Alhamdulillah, setelah penyembuhan ini tuntas suhunya kembali normal seperti sediakala.”
Freya menyentuh dadanya dengan menghembuskan napasnya lega. “Syukurlah, Pak. Saya sangat senang mendengar kebaikan dari kondisinya Angga.”
Pria tua itu hanya tersenyum saja, kemudian pandangan Freya bertemu oleh tatapan Reyhan yang menatap beliau tajam. “Rey? Gitu banget lihat bapaknya? Yang ramah dikit, dong.”
“Males.” Reyhan memalingkan wajahnya segera dari muka pria paruh baya tersebut yang telah usai mengobati luka dalamnya Angga.
Beliau menatap sendu Reyhan saat dari awal sudah tidak disambut tatapan ramah apalagi senyumannya yang terlihat. “Nak, ini cuma kesalahpahaman saja-”
Reyhan kembali menatapnya dengan sinis sambil menyunggingkan senyuman diagonal. “Anda bilang cuma kesalahpahaman saja? Salah paham apa kalau anda waktu malam itu telah membuat Angga tidak berdaya?! Anda ingat, kan?! Dimana saat kami belum terjebak ke dalam hutan alam baka itu?!”
“Atau anda pikun tentang apa yang telah anda perbuat pada Angga saat itu?! Iya?! Bahkan anda tidak ada sama sekali inisiatif untuk menolong kami semua soal kondisi sahabat saya! Langsung pergi begitu saja tanpa ada rasa tanggung jawab. Dan sekarang, anda malah sok bertanggung jawab dan sok baik terhadap Angga! Dasar sakit jiwa!!”
“Reyhan, cukup!! Kamu apa-apaan, sih bilang gak sepantas itu dengan beliau?! Kamu sama saja melawan orang tua, tahu?! Bapak itu bahkan sudah menyembuhkan Angga dari sihir hitam, kalau bukan karena beliau, sahabat kita sudah mati!!!” bentak Jova tak suka pada sikap drastis Reyhan.
“Itu, kan kenyataannya?! Jangan bilang kamu buta saat tentang malam hari itu?” sanggah Reyhan.
Jova hanya mendengus setelah mendengar sentakan Reyhan yang nadanya semakin tinggi. Tidak ingin adu mulut hari ini dikarenakan kondisi di sini sedang tak memungkinkan, sementara pria paruh baya tersebut yang mendengar dua anak muda beda gender itu mulai menduduki tepi kasur Angga lalu menatap Reyhan dengan senyuman kecutnya.
“Saya akan menjelaskan agar kamu tidak salah paham lagi dengan saya. Mungkin kejadian itu dimulai beberapa hari yang lalu ...”
Beberapa remaja itu kemudian menatap wajah teduh beliau termasuk Reyhan yang masih saja memasang tampang datar dan dinginnya. Tak seperti biasanya yang selalu murah senyum serta ramah lingkungan.
“Pada saat itu saya sedang sibuk memangkas rumput yang ada di belakang villa ini-”
“Maaf, Pak! Saya cut dulu sebentar. Kita semua sudah kembali di bangunan villa?! Villa hutan kota Bandung?!” potong Aji dengan wajah ceria.
Mulut pria paruh baya tersebut yang posisinya agak menganga mendengar kekagetan dari Aji, mendengus dengan tersenyum lebar. “Apa yang kamu katakan, benar. Jika kurang percaya pada saya, kamu boleh cek di luar kamar Angga.”
“Oke, Pak! Bentar!” Dengan semangat yang meningkat, Aji berjalan empat langkah lalu meraih knop pintu bulat untuk membukanya dan mengecek di luar ruangan kamar.
Mata Aji melebar seketika dengan mulut ikut terbuka lebar waktu tengah menyapu seluruh pandangan sekitar yang ia tatap. Sedangkan teman-temannya termasuk pria penjaga bangunan villa Ghosmara tetap berada di dalam kamar.
Subhanallah, Alhamdulillah Ya Allah! Ini mimpi apa bukan, sih?! Gak gue sangka, kami semua telah kembali dari hutan setan malapetaka primitif itu, ahahahaha !
Keenam remaja itu yang mendengar sorak teriakan bahagianya Aji dari dalam, menggelengkan kepalanya dengan wajah jengah karena seperti seorang pemuda Aji Rivaldi Valentino sikapnya mirip anak yang masih berusia 7 tahun. Sedangkan pria paruh baya itu hanya tetap tersenyum saja.
“Itu bocah satu bener-bener, ye. Gak ngenakin orang lagi dengerin cerita aja! Bawaannya bikin naik darah mulu, kayak Reyhan.”
Reyhan melirik sinis Jevran. “Napa? Masalah buat lo, hah? Mau gue kick dari tangga villa?! Jawab!!”
Jevran meneguk salivanya susah payah. “Jangan dong, Rey! Entar kalau lo kick gue dari tangga, apa kabar dengan kepala gue yang kepentok lantai?”
“Paling juga bocor.”
“Astaghfirullahaladzim ... ampuni hamba-Mu ini, Ya Allah. Wahai malaikat Atid, tolong jangan catat amal buruk tetangga hamba ini, karena sudah banyak lumuran Dosa yang diperbuatnya. Kasihanilah Reyhan ...”
“Sok alim lo, Anjir!”
Jevran menggembungkan kedua pipinya lalu mengempiskan dengan bersamaan menghembus napasnya keluar dari mulutnya. ‘Kenapa, sih gue yang selalu kena ampasnya terus dari Kunyuk Sutres Reyhan? Padahal cuman sekedar ngomong, gak ada hina-hinaan yang nyentuh hati ini anaknya om Farhan sama tante Jihan.’
‘Emang pantes lo kena ampasnya terus, udah ditakdirkan nasib kayak gitu dari lahir.’ Reyhan yang menyimak suara hati Jevran, menatap tetangganya tetap sinis tanpa ada senyuman yang nampak.
Beliau yang masih duduk ditepi kasur Angga, konstan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Saya lanjutkan, ya?”
“Iya, Pak. Lanjutkan saja! Gak usah ladenin dua anak muda cowok gak jelas sama aneh itu, gak ada faedahnya banget, Pak!”
“Elu, kan juga anak muda!” sembur Rena.
“Tahu, Serenong! Tapi, kan gue cewek bukan cowok kayak mereka yang gayanya always Stress!”
“Sialan, sumpah!” sebal Jevran dan Reyhan kompak.
Pria paruh baya itu terkekeh geli mendengar percakapan seru dari beberapa anak remaja ini. Kemudian setelahnya, beliau melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda karena Aji.
“Beberapa hari lampau saya bertugas memangkas rumput-rumput liar yang ada di belakang villa ini. Dan suatu kejadian aneh mendatangi saya ...”
Raut wajah senang beliau tergantikan menjadi gundah dan was-was. “Ada kedatangan sebuah asap berwarna biru tua berupa angin yang menerpa tubuh saya seketika. Dan di situlah saya tidak ingat apa-apa lagi setelah kejadian yang hadir, tetapi jika dinalar dan pasti, saya diberikan hipnotis negatif oleh seseorang yang tidak saya kenal.”
“Hipnotis?” tanya Reyhan memastikan.
Pria tua itu menganggukkan kepalanya dengan wajah masih gundah dan lesu. “Waktu itu saya benar-benar menyesal karena kurang bisa menjaga diri, padahal saya sudah tahu kalau villa ini bukan villa sembarangan yang bisa dihuni oleh turis.”
“Entah itu hari ke berapa, saya tersadarkan oleh dari hipnotis negatif dan membahayakan itu. Saya di situ langsung peka apa yang telah terjadi dengan saya. Saya bergegas pergi ke suatu tempat ruangan untuk mengecek keadaan kalian bersembilan.”
“Setelah saya cerna pakai logika, berarti kesimpulan dari maksud Bapak, Bapak dihipnotis angin gaib itu dan yang menyambut serta menyapa kami semua waktu saat malam itu, bukan Bapak yang asli?” interogasi Jevran.
“Kurang lebihnya begitu, Nak. Oh iya, soal teman kalian yang bernama Kenzo Revansar Rafael, alasan datang ke sini bukan karena ingin menyewa villa ini, kan? Ada yang lain.”
“Ya, Pak. Saya tidak ada niatan menyewa untuk berlibur di bangunan villa yang terletak di kota Bandung ini. Sebetulnya saya disuruh oleh salah satu teman saya karena ingin meminta bantuan fundamental kepada saya, tetapi kenyataannya ...”
“Saya dijebak dengannya.”
Kenzo menghempaskan napasnya kasar karena harus menceritakan masa kebodohannya lantaran dijebak oleh pemuda itu. “Iya, gue dijebak. Ternyata itu bukan alasannya yang tepat ...”
Flashback On
Jdek !
Kenzo menutup pintu kemudi mobil jenis Pajero warna putih miliknya lalu menguncinya pakai kunci otomatisnya. Kemudian ia merogoh ponsel Androidnya untuk melihat lokasi tempat yang telah dirinya tuju sampai ke titik tujuan.
“Sepertinya ini lokasinya. Tapi kenapa di sini ada bangunan villa? Apa mungkin ini villanya Emlano? Dia minta tolong gue kenapa? Apa karena ingin mendekorasi ruangan yang ada di dalam?”
Banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Kenzo karena penasaran pada permintaan bantuan Emlano kepadanya. Saat maju selangkah ke teras villa, bahu kiri Kenzo ditepuk oleh seseorang dari belakang.
“Eh, elo?” kejut Kenzo melihat sosok Emlano saat telah memutar tubuhnya ke belakang.
“Hai, baru dateng? Sorry, ya udah minta bantuan ke luar kota segala. Jauh, lagi.”
“Nggak masalah. Ini villa punya lo? Besar sekali, ya. By the way, lo pengen minta bantuan apa? Gue siap nolongin diri elo,” ucap Kenzo.
Emlano tersenyum misterius. “Sebelum gue menjawab pertanyaan lo yang itu, elo berteman dengan Anggara Vincent Kavindra?”
Kenzo menautkan kedua alisnya. “Tiba-tiba bertanya itu, kenapa? Iya, gue berteman dengan Angga.”
“Oke.”
“Terus? Kenapa dari tatapan mata lo aneh begitu? Angga teman lama lo?” tanya Kenzo butuh kepastian.
“Dia punya masa lalu, ya? Hati-hati, pendiam gitu tapi Angga adalah orang yang bahaya.”
“Kenapa lo bilang seperti itu? Teman gue adalah orang yang baik. Bahaya dalam bentuk apa emangnya?”
“Pembunuh,” jawab singkat Emlano.
“Hah? Pembunuh? Wah, maaf. Gue gak percaya kalau Angga seorang pembunuh, lo dengar dari siapa? Punya bukti?”
Kenzo menyusutkan kedua matanya dengan tampang curiga terhadap gerak-gerik Emlano. “Gue heran, kenapa lo bisa berkata seperti itu? Lo ada benci apa sama Angga sampai bilang jika dia seorang pembunuh? Asalkan lo tahu, Angga adalah orang yang baik. Sifatnya positif dan gak negatif. Lalu guna lo bertanya seperti ini apa? Bukannya lo pengen minta bantuan sama gue, ya? Ini malah Ghibahin orang.”
“Lo bilang apa tadi? Ghibah? Angga memang pembunuh, cowok yang brengsek, tidak tahu harga diri, dan penghancur reputasi orang!” kata Emlano seraya melangkah maju mendekati Kenzo dengan tatapan tajamnya bersama sunggingan senyum smirk.
Kenzo yang merasa tidak nyaman pada tatapan pemuda itu, langsung berjalan mundur hingga dirinya terpojok di tembok sisi teras villa. “Lo mau apa? Dan kenapa lo bilang tidak senonoh itu terhadap Angga?! Angga salah apa sama lo, hah?!”
“Lo tahu kenapa gue nyuruh lo untuk datang ke lokasi ini? Itu bukan alasan gue yang sebenarnya, Bodoh.” Emlano terlihat tidak menggubris pertanyaan keras Kenzo.
“Maksud lo?!”
“Dasar cowok Stupid, mau banget ditipu orang yang seperti Emiliano Baskatar Leonard. Hahahaha !”
Emlano langsung mengeluarkan senjata yang bentuknya macam pistol dari saku kantong jaket biru dongker miliknya. Dan akan ia todongkan ke arah Kenzo yang matanya mencuat.
“Apa yang ingin lo lakuin?!”
“Hahahaha! Rasain saja.”
“Jangan! Jangan- aaaaarrgh !!!”
Kenzo berteriak kesakitan saat tubuhnya seperti disetrum oleh listrik dari senjata sepadan pistol saat pelatuknya ditarik sementara ujungnya ditempelkan di leher bagian sampingnya. Emlano yang melakukan kekejaman itu, bak seorang psikopat yang terlihat menikmati atas teriaknya Kenzo yang menggelar.
Flashback Off
“Ya ... setelah itu gue gak ingat apa-apa lagi,” pungkas Kenzo dengan kepala menunduk ke bawah sambil menyentuh tengkuknya.
Reyhan dan Jova yang mendengar cerita masa lampau Kenzo tentang jebakan itu, begitu marah meski menggebunya ada di dalam hati saja. Sementara Freya nampak menitikkan air mata, karena sungguh tidak menyangka seorang Emlano yang sifatnya polos tetapi ada sisi bengisnya.
“Kenapa Emlano mengatakan Angga seperti itu, Zo?! Dia ada dendam pribadi apa sama Angga?! Kalaupun Angga salah sama dia, Angga bakal langsung minta maaf untuk menebus kesalahannya, kok!”
“Dan lagi, Angga bukan pembunuh! Angga bukan cowok yang brengsek! Angga juga bukan penghancur reputasi orang! Aku kenal dia dari kecil, jadi aku tahu persis watak Angga seperti apa, Kenzo! Kamu harus percaya sama aku.”
“Iya, aku percaya. Aku yakin Angga bukan orang yang buruk seperti yang dikatakan Emlano, aku juga gak terima pacarmu dibilang tidak senonoh kayak gitu. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi, bisa mungkin ada penyebabnya di masa lalunya Angga. Tapi aku kurang tahu kisah-kisah masa dahulu yang dia alami, apalagi ... Angga orangnya cukup tertutup.”
‘Masa lalu? Masa lalu yang Angga alami? Siapa Emlano benarnya? Apa dia punya hubungan dengan sahabat gue? Emlano bermusuhan sama Angga seperti cowok binatang kayak Gerald itu?’ batin Reyhan dengan pandangan memaling ke arah lain.
“Masa lalu? Kalau Emlano bilang seperti itu untuk memfitnah Angga, apa itu artinya Angga mempunyai masa lalu yang kelam? Masa lalu latar belakang yang belum sama sekali kami ketahui? Iya, Rey?”
Reyhan langsung spontan menoleh ke arah Jevran dengan raut paniknya. “A-apa? Enggak! Angga memang mempunyai masa lalu, tetapi gak seburuk itu. Emlano apanya Angga? Akrab saja tidak, dia pasti mendengar rumor-rumor gak bener itu dari orang lain. Angga gak memiliki masa lalu gelap.”
Jevran tersenyum nyengir. “Santai aja, Rey. Kok lo gelapan gitu jawabnya? Kalau Angga gak punya masa lalu yang buruk, yasudah oke. Gue kira sahabat lo sama Jova punya masa tahun silam yang suram. Alhamdulillah, dah.”
Reyhan menarik senyuman masamnya begitupun Jova. Rasanya sangat tidak enak karena telah membohonginya, apalagi itu adalah tetangga dekatnya. Tetapi mau bagaimana lagi? Reyhan harus bisa menjaga nama baik Angga, walau sahabatnya tidak mempunyai kesalahan di masa tahun lampau, tetapi setidaknya masa lalu yang ia alami ditutup. Biarkan kisah-kisah menyedihkan dan mengenaskan tersebut menjadi rahasia untuknya, Jova, serta Freya.
Pria paruh baya itu yang memperhatikan wajah gusarnya Reyhan, menghela napasnya. ‘Saya tahu kamu sedang berbohong pada temanmu demi kebaikannya sahabatmu.’
Reyhan tersentak kaget mendengar suara hati beliau yang ternyata tahu semuanya. “Dia ... tahu? Darimana? Dari siapa? Apa jangan-jangan Bapak yang sudah menghilangkan sihir hitam itu dari raga Angga, bukan hanya seorang sakti? Tetapi juga seorang Indigo seperti sahabat gue?’
Pria paruh baya berusia 40-an tahun itu dengan kumis tipisnya yang sanggup mendengar batin relungnya Reyhan, hanya diam tak menggubrisnya. Dan sekarang beliau menolehkan kepalanya ke arah Angga untuk menatap anak muda tampan itu yang terbaring lemah di atas kasur empuk.
__ADS_1
’Nak, kamu anak yang baik dan berbakti. Tetapi kenapa kisah hidupmu begitu sengsara? Kamu sering disakiti oleh orang yang membencimu, namun dirimu selalu menguatkan sabar di hati serta jiwa. Tidak ada niatan untuk membalas perbuatan mereka yang keji terhadapmu, tegar dan segalanya yang membuat mental fisikmu menjadi kokoh. Kamu adalah anak pertama yang saya temui, baru kali ini saya menemukan sosok lelaki dewasa tegar dan kuat sepertimu.’
Hati Reyhan terenyuh dan tersentuh setelah mendengar rentetan ucapan beliau yang ada di dalam lubuk hatinya. Rasa menyesal datang padanya, ia rupanya telah salah paham terhadap pria paruh baya tersebut. Beliau bukanlah orang yang seperti Reyhan kira dimana wataknya jahat, licik, beserta pembohong.
Reyhan sang pemuda Friendly, menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya dengan perasaan bersalah terhadap beliau. Andaikan ia mau menanti kehadiran penjelasan aslinya, dirinya tidak mungkin sampai mengubah sikapnya menjadi primitif dan hilang akan adabnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Jam telah menunjukkan pukul 20.00 malam, itulah yang ditilik oleh Freya di jam lingkaran dinding. Meski jarum jam terus bergerak, Angga tetap belum kunjung membuka matanya.
Freya kemudian menatap wajah kekasihnya yang ia cintai. Mukanya pucat, bibirnya kering, terakhir dibawah dua kelopak matanya terlihat menghitam. Tetapi di sini, rasa risau Freya terhadap Angga sedikit berkurang dikarenakan pria paruh baya yang telah menyembuhkan luka dalam lelakinya berkata bahwa Angga akan baik-baik saja, jiwanya pun masih aman dan tidak bakal melayang.
Freya tidak duduk dipinggir kasur, tetapi duduk dengan kedua lutut kaki saling menopang lantai sementara tumit-tumitnya menyangga pantatnya. Gadis itu mengambil tangan kanan Angga untuk mengangkatnya lalu menggenggam telapak tangan milik pujaan hatinya.
Mata indahnya tak terlepas dari wajah lemas dan pucatnya Angga. Perkataan-perkataan yang sudah Angga lontarkan waktu itu, membuat Freya terbayang-bayang dari suara lemah kekasihnya.
...Apakah lo yakin? Dengan lo merendahkan diri, itu malah menjadi sebaliknya. Oke, gue tahu lo paling gagal jika tentang pelajaran Matematika...
...Tetapi, lo lihat saja nantinya. Semuanya akan berubah setelah gue......
Freya mengeratkan perlahan genggamannya di telapak tangan Angga yang ia simpan di dalam kedua telapak tangan lelasnya. Gadis itu mencium antara sepasang telapak tangan miliknya dengan tatapan lara berubah menjadi nanar.
“Setelah apa, Ngga? Kamu ngapain menghentikan omonganmu saat itu? Bahkan kamu terlihat sengaja enggan melanjutkan perkataan perbincanganmu terhadap Reyhan yang tentang itu. Kenapa?”
Pertanyaan Freya hanya mampu dijawab oleh gerakan hela napas dadanya Angga. Dan gadis lugu itu lalu menghembuskan napasnya lesu, apalagi sekarang Freya beralih menempelkan pertengahan antara kedua telapak tangannya di kening sentralnya yang tertutupi oleh poni halusnya.
Telapak tangan kekasihnya tetap ia genggam lembut di dalam sepasang telapak tangannya. Hingga berselang menit setelahnya, ada seseorang yang memanggilnya dengan nada ramah.
“Freya? Ayo makan dulu, Nak.”
Freya yang mendengar namanya dipanggil oleh pria paruh baya itu, langsung melepaskan kedua telapak tangannya dari kening sekaligus mendongakkan kepalanya yang sempat ia tundukkan. Freya menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat beliau sedang tersenyum lebar diambang pintu kamar 001
“Eh! Iya, Pak. Sebentar lagi saya akan turun,” respon Freya seraya menyeka air matanya yang mengalir di pipi putih mulusnya.
Senyuman lebar dari pria paruh baya itu menjadi tipis dan menjadi pilu melihat kondisi Angga dan keadaan perasaan hati Freya sebagai kasihnya. Beliau melangkah masuk ke dalam kamar untuk menghampiri anak muda perempuan itu yang berusia 17 tahun seiras dengan anak muda lainnya.
“Jangan sedih, Angga pasti akan baik-baik saja. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan terhadap kondisinya saat ini, mengerti?”
Kepala Freya manggut-manggut lunglai. “Mengerti, Pak. Saya minta maaf ...”
Beliau terkekeh pelan dengan mengusap pucuk kepala gadis manis itu. “Kok minta maaf? Yasudah, kita turun ke bawah, ya? Sahabat-sahabatmu dan beberapa temanmu sudah menunggu kamu di ruang makan. Biarkan Angga beristirahat di sini.”
“Iya, Pak ...”
Pria paruh baya itu tersenyum hangat kemudian menuntun Freya untuk bangkit berdiri, lalu mengajaknya keluar dari kamar Angga bersama. Sebelum menutup pintu, beliau memencet saklar lampu untuk mematikan cahaya bohlam lampu yang menerangi kamar 001
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Aji meneguk air putihnya dengan nikmat lalu meletakkannya santai di atas meja makan, sementara makanannya di piring telah kandas alias habis hingga tak tersisa secuil pun. “Gue gak nyangka, ternyata selama ini lo udah dijebak sama Emlano. Siswa kelas kita yang ada di SMA Galaxy Admara.”
Kenzo menghempaskan napasnya lemah. “Nasib.”
“Saya merasa kasihan pada kalian semua. Tempat tinggal daerah kalian ada di Jakarta, tetapi harus rela-rela datang ke kota Bandung untuk menolong Kenzo. Tetapi jika saya rasakan, kalian memiliki hati empati dan peduli terhadap satu sama lain.”
Beberapa remaja itu tersenyum pada pujian dari beliau yang begitu tersentuh karena akan kepeduliannya, sedangkan Reyhan nampak diam tidak tersenyum dengan tangan sibuk mengaduk-aduk nasinya yang ada di dalam piring putih kaca pakai sendok.
“Reyhan? Kenapa tidak di makan nasinya? Jangan ditunda rasa laparmu, nanti kamu bisa terkena gangguan pencernaan,” ucap beliau setelah menoleh ke arahnya.
Reyhan menundukkan kepalanya lambat lalu memejamkan matanya dengan muka raut sesal. “Maafkan saya, Pak ... maafkan saya karena sudah salah paham dengan Bapak. Ternyata Bapak tidak seperti apa yang saya kira, semuanya itu berbanding terbalik dari yang saya pikirkan.”
Mulut beliau bungkam tatkala dengan mata menatap sendu anak muda lelaki pemilik rambut cokelat itu. Hingga tiba-tiba Reyhan menyerong badannya untuk menghadap ke arahnya lalu mengangkat salah satu tangan pria tua itu dan menggenggam telapak tangannya dengan sepasang telapak tangan miliknya.
“Mohon maafkan kesalahan terbesar saya, Pak! Saya tadi telah membentak, menuduh, dan berkata kasar kepada Bapak! Tidak seharusnya saya memotong kesabaran saya untuk menunggu penjelasannya Bapak buat kami semuanya. Saya memang tergolong anak yang Durhaka!”
“Eh, jangan bilang seperti itu! Salah paham itu adalah wajar. Saya sudah memaafkan kamu sebelum dirimu berkata keras seperti itu kepada saya. Sudah, jangan dipikirkan lagi, ya? Yang penting kamu telah tahu mana yang benar mana yang salah.”
Reyhan yang punggung kokohnya diusap-usap oleh beliau, menganggukkan kepalanya lemah. “Maafkan saya sekali lagi, Pak ...”
“Sudah, tidak apa-apa. Sekarang angkat kepalamu, tidak ada yang perlu kamu sesali lagi atas kesalahan pahamanmu terhadap saya. Makan, ya? Ini sudah masuk jam malam, perutmu harus mendapatkan asupan nutrisi gizi dari nasi dan beberapa lauk ini.”
“Baik, Pak. Terimakasih ...”
“Iya, sama-sama.”
Pada akhirnya Reyhan mengembalikan posisi duduknya lalu mulai melakukan aktivitasnya untuk mengisi perutnya dengan makan malam. Setelah itu, beliau menyenderkan punggungnya bersama wajahnya yang terlihat sangat muram, bahkan pandangannya kosong seketika.
“Bapak kenapa? Ada masalah, ya?” tanya Rena dengan hatinya yang perhatian terhadap pria paruh baya tersebut.
“Iya, Pak. Kalau ada masalah, ceritakan saja dengan kami. Siapa tahu kami semua yang ada di sini bisa meringankan masalah yang dihadapi sama Bapak,” timpal Lala usai menyelesaikan kegiatan makan dan minumnya.
Beliau yang berambut hitam dengan gaya cepak, menolehkan kepalanya ke arah dua anak muda gadis itu. “Ya ampun, kalian ini baik sekali, ya? Hm ... saya sebenarnya ingin menceritakan suatu kejadian mengerikan pada kalian berdelapan.”
“Menceritakan suatu kejadian mengerikan apa, Pak? Saya malah jadi penasaran,” tutur Jevran.
“Ini tentang bangunan villa yang kalian tempati. Sudah banyak tragedi-tragedi mengerikan di sini. Bukan hanya mengerikan saja, tetapi juga tidak masuk akal. Dulu, ada beberapa anak muda seusia kalian melancong di villa ternama ini, memang cukup terkenal tapi saya harapnya, villa ini bisa langsung ditutup daripada memakan banyak korban untuk kesekian kalinya.”
Ketujuh remaja itu mendengar cerita sang beliau secara seksama begitupun Reyhan yang seraya menikmati makan malamnya. “Tragedi itu dimulai saat para pengelana iseng memasuki gudang yang ada di dalam villa ini. Di dalam gudang itu terdapat pintu rahasia yang menuju ke bawah tanah.”
‘Pintu rahasia yang menuju ke bawah tanah? Pasti yang tempat awal kami diseret ke hutan baka itu? Ternyata gak cuman kami saja yang mengalami, ada banyak yang menerima kejadian mengerikan,’ batin Jova.
“Salah satu di antara beberapa anak muda itu, ada yang memiliki kelebihan indera keenam atau disebut Indigo. Jika seingat saya, remaja yang mempunyai kekuatan Indigo itu lelaki. Ya, seperti Angga.”
“Lah?!” gegau Aji lantang.
“Iya, Ji. Ada yang seperti temanmu, raga mereka bersama anak Indigo itu diseret oleh waktu dan sesosok misterius yang bisa membuat mereka terjebak ke dalam hutan yang telah kalian datangi. Di sana mereka berpetualangan mencari jalan keluar meski terpisah duluan.”
“Kejadian mereka sama seperti kami ya, Pak? Kami juga terjebak dan terpisah,” ujar Jova.
“Iya, Nak. Betul sekali. Mereka di sana banyak sekali diteror oleh hantu-hantu yang memiliki aura dan energi negatif, dikejar-kejar oleh banyak pembunuhan yang ingin mempermainkan fisiknya. Dan singkat waktunya, mereka menemukan sebuah bangunan kastil yang tak lain tempat dimana Angga ingin dijadikan tumbal oleh sosok pemuda berjubah hitam bersama para personelnya yang dinamakan sekumpulan Sekte di salah satu ruangan tempat bawah tanah kastil.”
“Di antara banyaknya anak muda, yang diincar adalah seorang lelaki yang Indigo itu,” ulas beliau.
“Apakah cowok Indigo dan mereka itu bisa keluar dengan selamat dari makhluk-makhluk durjana itu, Pak?” tanya Aji dengan wajah penuh iba.
Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya sedih. “Sayangnya tidak selamat. Mereka meninggal di bangunan kastil bersama anak lelaki muda Indigo itu, karena dia yang memiliki kelebihan yang dianugerahi oleh Allah tidak kuat menghadapi makhluk tanpa wajah itu. Pada akhirnya karena tidak bisa mengakhirinya dengan jaya, mereka menjadi tumbal pilihan dari makhluk-makhluk negatif.”
“Darah, daging mereka menjadi santapan sosok perampas kekuatan Indigo yang setiap dimiliki oleh seseorang yang punya. Bukan kanibal tetapi semua olahan daging dan darah itu yang telah menyatu menjadi suatu kekuatan ramuan yang membuat dia menjadi lebih kuat dan tangguh, sementara tulang-tulang mereka disimpan ke dalam salah satu gudang yang ada dibawah tanah kastil tempat Kenzo disekap.”
Kedelapan remaja itu terkejut setengah mati, bahkan Reyhan yang sedang meneguk air putihnya nyaris tersedak karena ia mendengarnya sungguh serius.
“Kuat dan tangguh apaan, Pak? Orang lihat cermin aja langsung kayak ngeliat setan yang lebih ngeri dari dia! Tuh, buktinya makhluk iblis itu kalah melawan Angga,” protes Aji.
“Kalau itu, saya sungguh salut pada kehebatannya Angga. Meski bukan terlahir sakti, tetapi dia begitu cerdik untuk mengelabui makhluk negatif itu. Walau saya tahu, pada ujungnya Angga terkena sihir hitam mematikan tersebut. Tetapi tidak apa-apa, dengan saya yang telah mengobatinya semua akan menjadi baik-baik saja. Saat ini Angga memang butuh pemulihan untuk mengembalikan kesadarannya.”
Kedelapan remaja itu kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya lembut. “Oh ya, Pak. Bapak tahu semuanya darimana? Karena beliau seolah mengamati kondisi-kondisi kami yang ada di dalam hutan waktu itu.”
Pria paruh baya itu menoleh ke arah Jevran. “Saya mempunyai suatu alat pendeteksi yang bisa membuat saya mengerti kondisi kalian semua. Apakah kalian ingin saya tunjukkan alat dan ruangannya? Kalau mau, biar saya antarkan kalian sekarang juga.”
“Eh! Tidak perlu, Pak. Kami di sini hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak karena telah Ikhlas menolong Angga yang hampir sekarat,” ucap Jova.
Beliau hanya senyum menerima rasa terimakasih gadis Tomboy cantik itu. “Oh iya, kalian ingin tahu tidak soal kucing hitam yang menghampiri kalian bertujuh?”
“Hah? Emangnya kenapa, Pak??” tanya Aji.
“Itu adalah kucing suruhannya saya. Kucing mistik yang hanya ingin membantu kalian menunjuk arah jalan menuju bangunan kastil yang terletak di atas puncak bukit. Meski bantuannya dari saya tidak terlalu mencolok, tapi pasti sangat berguna bagi kalian, kan?”
“Jadi itu semua karena bantuannya Bapak?! Wah! Beliau baik hati sekali,” puji Freya dengan hati tersentuh karena jasanya.
Reyhan yang kepalanya menunduk, mendongak dan menatap wajah beliau yang menjadi teduh. “Terimakasih banyak ya, Pak? Berkat kedatangannya Bapak, kami terselamatkan dari tragedi tidak proporsional itu. Kalau bukan hadirnya beliau, mungkin kami akan cedera dan mati karena tertimpa ribuan runtuhan dari bangunan kastil.”
“Tugas saya hanya menolong. Dan jangan berterimakasih pada saya, berterimakasihlah kepada Allah karena kalian masih diberikan kesempatan untuk tetap hidup di dunia.”
Tatkala pria paruh baya berkisar umur 40-an tahun itu teringat akan sesuatu. “Astaga! Saya sampai lupa memperkenalkan diri kepada kalian, maklum sudah tua sering kelupaan. Perkenalkan, ya? Nama saya adalah Richard Harsadi Wicaksono. Kalian cukup panggil saya saja dengan Richard.”
Kedelapan remaja tersebut lagi-lagi menganggukkan kepalanya jangan lupakan senyumannya yang merekah di wajah mudanya.
“Namanya saja bagus dan modern. Cocok banget sama muka auranya Pak Richard yang Ganteng,” sanjung Lala.
Rena yang merasa merinding pada sanjungannya Lala terhadap pak Richard, langsung menyiku kencang lengan temannya yang duduk di sebelahnya. “Gak muda, gak tua ... sama aja dibilang ganteng! Entar lama-lama hewan jantan juga lo bilang ganteng kayak siapa, tuh? Oppa Korea aktor Lee Min Hoo yang lo fans-fans banget sampe kebawa mimpi! Jijay gue lama-lama, ye!”
“Idih! Lo napa yang sewot, coba?! Lagian terserah gue dong mau siapa yang gue bilang ganteng. Yang penting, bukan elo yang gue katain ganteng! Gitu aja udah sentimen. Herman, gue!”
Rena dengan lancang menarik helai rambut panjang Lala. “Heran, Bego! Herman, mah nama orang!”
Lala langsung menepis tangan Rena yang berambut keriting tersebut. “Sakit, ih! Dikit-dikit nyiku, dikit-dikit nabok, dikit-dikit nampar, dikit-dikit nyubit, dikit-dikit jambak! Itu lama-lama kalau gue jengkel, tangan lo gue amputasi!”
Aji yang memperhatikan perdebatan kedua gadis temannya, mengubah wajahnya menjadi jenuh. “Ada masalah hidup apaan, sih ini dua bocah?”
Pak Richard yang mendengarnya sampai tertawa renyah seolah ini adalah hiburan sederhana untuknya. “Haduh, kalian ini ada-ada saja lucunya. Hati saya yang tadi resah sekarang menjadi terhibur karena kalian berdua.”
“Duh! Tapi jangan terus didengerin, Pak. Nanti otaknya Pak Richard jadi Stress karena dengerin obrolan absurd mereka berdua ini,” ledek Jova.
“Hahahaha! Sakit perut saya. Oh iya, ngomong-ngomong kalau jika saya rasakan, Angga adalah anak yang kuat, ya? Karena terlihat sekali bahwa Angga bukan remaja arbitrer.”
Reyhan tersenyum pilu. “Iya, Pak. Angga memang sosok yang kuat. Beberapa kali dia mengalami celaka yang menimpanya, tetapi sahabat saya tetap tangguh dan kokoh, sekokoh baja. Kami sebenarnya juga kagum dengan jiwanya Angga, seakan jiwa yang seperti seorang Anggara Vincent Kavindra langka alias jarang dipunyai.”
Reyhan tertawa lirih sendiri pada pengucapannya ini untuk memuji kehebatannya sang sahabat. Pak Richard pun menganggukkan kepalanya dengan senyum simpelnya, kemudian setelah beberapa menit melakukan perbincangan ringan, mereka bersembilan meninggalkan ruang dapur untuk mengistirahatkan otot-ototnya di kamar tidurnya masing-masing.
Pak Richard menatap kondisi tangan kiri Jevran yang pucat secara sesaat lalu memanggil pemuda itu nang hendak naik ke tangga bersama teman-temannya. “Jevran? Sebelum tidur, apakah kamu ingin saya pulihkan tanganmu?”
Jevran menoleh ke belakang dengan senyum. “Besok pagi saja tidak apa-apa kok, Pak. Bapak lebih baik tidur saja, pasti Pak Richard lelah karena sudah mengeluarkan tenaga dalam untuk menyembuhkan lukanya Angga.”
“Oh, begitu? Yasudah kalau maumu seperti itu. Istirahatlah dengan nyaman, ya? Esok pagi saya akan menyembuhkan tanganmu yang terkena racun dari ular itu.”
Jevran tidak kaget, heran, dan bingung lagi. Ia sudah tahu karena pak Richard pasti mengetahuinya akan hal itu melalui alat pendeteksi seperti apa yang beliau katakan tadi. Kini sekarang anak muda dan pria tua tersebut mulai masuk dan beristirahat di kamar yang berbeda tempat tentunya.
Meskipun kadar oksigennya belum naik sepenuhnya, setidaknya luka dalam milik Angga telah sudah dihapuskan oleh pak Richard sang penjaga bangunan villa Ghosmara. Seperti seorang sakti tapi bukan sakti, namun beliau tugasnya hanya menyembuhkan orang nang mengerkau sakit atau luka yang tak bisa diterima dan ditangkap logika otak.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1