Indigo

Indigo
Chapter 145 | Overseas Women Photo Frames


__ADS_3

Ketujuh remaja tersebut mengerutkan keningnya pada bangunan villa yang besar nan megah tersebut. Terkesan memang menawan bila dipandang, hingga sampai-sampai bola mata Reyhan tak sengaja menoleh ke arah mobil putih berjenis Pajero yang terparkir di kiri villa. Reyhan kemudian berjalan menghampiri mobil tersebut dengan menyusutkan keningnya.


“Bray! Ini kan mobilnya si Kenzo. Kenapa bisa ada di sini, ya?“ Reyhan mencoba mendekatkan wajahnya ke kaca jendela mobil kemudi, siapa tahu Kenzo berada di dalam sana.


Angga yang pandangan matanya tak terlepas dari hawa aneh suasana malam ini, kepalanya menoleh ke arah Reyhan yang sedang mengecek dalam mobil Pajero Kenzo dari luar. Dengan itu Angga segera melangkah menghampiri sahabatnya bersama satu tangan kanannya menenteng tas besar hitamnya di pundak kanan.


“Reyhan.”


Reyhan yang dipanggil oleh Angga langsung menoleh menatap sahabatnya dengan menghadapkan tubuhnya ke lelaki tampan Indigo tersebut. “Kenapa, Ngga? Kok wajah lo terlihat gelisah begitu? Ada apa?”


“Reyhan, gue rasa-”


“Selamat malam untuk kalian semua. Ada yang bisa saya bantu? Saya baru saja memperbaiki alat yang sedang rusak, namun tiba-tiba dari belakang villa saya mendengar suara mesin mobil yang menuju ke sini.” Ucapan Angga yang belum terselesaikan telah dipotong oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan baju kerahnya seperti seorang petugas yang menjaga bangunan villa tersebut.


“Apakah salah satu di antara kalian semua ada yang ingin menyewa villa ini untuk sebagai inap liburan kalian? Sepertinya tidak ada, terakhir kali yang menyewa bangunan villa ini adalah seorang remaja lelaki seusia kalian.”


“Hah?! Yang benar, Pak?! Siapa namanya?!” desak Jevran maju dua langkah mendekati pria paruh baya tersebut.


“Namanya adalah Kenzo Revansar Rafael. Apakah itu dari teman kalian semua?” tanya pria paruh baya tersebut.


“Ya! Betul sekali! Apakah benar teman kami menyewa bangunan villa yang ada di jalan hutan kota Bandung ini, Pak?! Karena Kenzo kemarin hari Minggu sekitar jam lima sore, mengirim pesan ke kontak salah satu temannya bahwa dia meminta pertolongan. Maka dari itu kami ke sini untung memastikan keadaannya. Jika kami boleh tahu, dia sekarang dimana, Pak?! Bapak bisa bantu kami?”


Aji mendekati Jevran lalu berbisik pada temannya yang telah menjabarkan semuanya. “Vran. Lo terlalu terang-terangan buat menjelaskan ini semua ke Bapak penjaga bangunan villa itu.”


“Maaf, saya tidak bisa membantu.”


Reyhan menaikkan kedua alisnya, karena awal ia melihat sosok pria paruh baya tersebut, Reyhan sudah merasakan aneh pada beliau. “Lho! Kenapa tidak bisa, Pak?! Bila Bapak tahu dimana keberadaan teman kami sekarang, tolong kasih tahu pada kami semua! Kami sudah jauh-jauh pergi ke kota Bandung hanya untuk menyelamatkan Kenzo!”


Pria paruh baya itu tidak menggubris pertanyaan Reyhan yang menggunakan nada tinggi, malahan beliau menatap Angga. Menatap mata abu-abu autentik lelaki pendiam tersebut dengan begitu lekat. Angga yang memirsa kedua mata pria tua berkisar umur 40-an tahun, membuat kedua tangannya yang diam dalam sekejap bergetar dengan sendirinya. Apa yang terjadi padanya?


Sampai pada akhirnya Angga harus memegang dadanya pakai tangan kanannya dengan sedikit mencengkram. Sakit? Itu jelas sekali. Bahkan dirinya merasakan dalam dadanya sedang diremat-remat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Saking tak bisa menahan rasa sakitnya, lelaki Introvert tersebut langsung terjatuh berlutut sementara tangan kirinya menyangga tanah.


Angga membuka matanya saat sempat memejamkan matanya erat dikarenakan rasa sakit di dadanya begitu amat dahsyat. Kini rasa sakit itu justru menjalar ke kepalanya yang tengah mengalami cedera. Bersama wajah yang telah menjadi pucat, Angga mendongakkan kepalanya untuk menatap kembali pria paruh baya tersebut yang sedang memperhatikan kedua matanya.


Pandangan Angga seketika berubah jadi buram. Kepalanya pusing berputar-putar walau di sisi lain, Angga melihat sebuah tanduk merah darah yang ada di atas kepalanya beliau. “Argh! S-siapa dia ...”


Brugh !


Tubuh Angga limbung jatuh ke samping membuat kedua sahabatnya, kekasihnya, dan keempat temannya yang sedari tadi panik sambil memanggil-manggil namanya, terdiam dengan mata mencuat saat melihat mata Angga terpejam dalam posisi tubuhnya tergelimpang di atas tanah pekarangan villa, apalagi di situ sudah tidak ada pergerakan dari tubuhnya.


Reyhan sebagai sahabatnya langsung berlari ke samping Angga lalu mengangkat kepala lelaki pemilik indera keenam itu dan menopang kepalanya Angga menggunakan lengan tangan kirinya, sementara tangan satunya Reyhan bergerak menepuk pipi kanan sahabatnya berkali-kali.


“Angga?! Anggara?! Ini anak kenapa bisa pingsan, sih?!” Reyhan beralih menggoyang-goyangkan bahu lemas sahabatnya dengan raut wajah risaunya.


Reyhan mendongakkan kepalanya ke arah pria paruh baya tersebut yang tak ada niatan untuk membantu Angga yang tiba-tiba hilang kesadaran. “Apa yang telah anda lakukan pada sahabat saya?! Mengapa sahabat saya tiba-tiba pingsan?! Jawab saya, Pak!!”


Pria paruh baya tersebut menaikkan satu alisnya. “Saya tidak berbuat apa-apa pada sahabatmu. Lebih baik segera bawa dia ke kamar dalam bangunan villa ini. Ada beberapa kamar yang saling berjejeran di atas tangga, daripada kenapa-napa, kan?”


Reyhan menggertakkan giginya kuat dengan penuh kemarahan terhadap beliau yang berbicaranya cukup santai. Reyhan lekas membaringkan kepala Angga di tanah dengan perlahan lalu beranjak berdiri menatap tajam pria paruh baya tersebut. “Saya baru bertanya serius dengan anda! Apa jangan-jangan andalah yang telah membuat Kenzo masuk ke dalam bahaya dan masalah?!”


Aji langsung menghampiri Reyhan yang emosinya kembali memuncak, pemuda berambut agak ikal itu segera mengusap-usap punggung temannya. “Rey, cukup. Lo jangan asal ambil kesimpulan yang belum tentu benar, lebih baik kita bawa Angga masuk. Angga lebih penting sekarang, oke?”


Reyhan membuang mukanya dari tatapan beliau dengan berdecih sinis. Bagaimana bisa emosi Reyhan mereda kalau pria paruh baya itu saja, seperti telah membuat sahabatnya hilang akan kesadarannya setelah menatap mata beliau yang memang ada suatu kejanggalan yang belum sama sekali diselidiki secara seksama.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan membaringkan tubuh Angga di atas kasur empuk salah satu dari atas kamar dalam villa bersama kedua lelaki temannya yang membantu sang sahabat Indigo-nya Reyhan. Freya kemudian duduk di pinggir kasur lalu tangannya meraih untuk memegang lengan tangan kiri kekasihnya.


“Panas ...” lengai Freya menatap nanar wajah pucat milik Angga yang mana lelaki tampannya belum kunjung sadarkan diri.

__ADS_1


“Itu artinya Angga Demam, dong?! Kok kejadian ini perasaan secara tiba-tiba? Padahal tadi sebelum sampai di lokasi bangunan villa ini, Angga kelihatan sehat-sehat saja, lho.” Jova menimpali.


Rena, Lala, Aji, dan Jevran hanya diam saja meski hatinya mereka saling bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi kepada Angga, bahkan usai menatap mata pria paruh baya tersebut yang tak mempunyai inisiatif membantu Angga nang kondisinya lemah seperti ini.


Sementara Reyhan yang ada di belakang punggungnya Freya, mengepalkan kedua telapak tangannya dengan rahang mengeras. “Sudah dipastikan kalau ini penyebab dari Bapak penjaga bangunan villa! Bahkan tiba-tiba Angga pingsan hingga mengalami Demam! Itu sudah gak masuk akal dan diluar nalar!”


Reyhan langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan yang menjadi kamarnya Angga di villa megah tersebut dengan langkah yang dipercepat. Aji dan Jevran yang menatap kepergian temannya, mencoba untuk memanggilnya namun tak sama sekali digubris olehnya.


Reyhan menuruni undakan anak tangga yang begitu panjang hingga tiba di lantai pertama, pemuda humoris tersebut dengan kemarahannya curiganya berjalan menuju pintu hitam villa yang mempunyai ukuran nang besar. Reyhan tentu ingin menemui pria paruh baya itu untuk meminta penjelasan apa yang telah beliau lakukan pada Angga hingga menjadi seperti itu di dalam kamar atas nomor 001


Cklek !


Angin berhembus kencang meniup rambut cokelat style keren milik Reyhan, begitupun dinginnya angin menusuk kulit sekujur tubuhnya saat dirinya membuka pintu utama villa. Kepala Reyhan menoleh kanan-kiri secara bergiliran untuk mencari keberadaan sang penjaga bangunan besar tersebut.


“Kemana Bapak itu? Kenapa sekarang gak ada? Gue harus cari ke belakang villa.” Reyhan melangkah meninggalkan pintu utama untuk segera mendatangi tempat belakang bangunan villa, barangkali Reyhan menemukan beliau di sana.


Sungguh, saat Reyhan mengitari luar bangunan villa tersebut jalan amat gelap hingga Reyhan harus perlu menyalakan blitz ponselnya untuk sebagai penerang jalannya selama menyusuri tempat itu. Walau hatinya sebenarnya sedang diselimuti rasa takut, tetapi Reyhan mencoba menepisnya kali ini.


Kedua kaki Reyhan berhenti melangkah saat dirinya telah sampai di belakang villa. Rupanya di belakang bangunan tersebut ada sebuah kolam renang jernih, beserta semak-semak daun lebat lumayan tinggi. Bola mata Reyhan bergerak kesini-kemari mencari dimana pria paruh baya itu berada.


Namun yang Reyhan dapatkan bukan sosok beliau, akan tetapi seorang lelaki berbadan tinggi kemungkinan semampai tinggi badannya Reyhan yang ada di balik pohon besar luar wilayah villa. Jaraknya memang sangatlah jauh, tetapi pemuda Friendly tersebut mampu melihatnya dengan bantuan cahaya blitz handphone miliknya yang sedang Reyhan pegang di tangan kanan.


Reyhan memicingkan kedua matanya saat lelaki itu tengah menggenggam sebuah alat mesin yang memiliki ukuran besar. Dan Reyhan kenal alat apa yang lelaki asing tersebut genggam dibalik pohon. Haruskah Reyhan keluar dari wilayah kawasan tempat villa untuk mendatangi pemuda tersebut?


“Woi! Siapa yang ada di sana?!”


Tap !


Reyhan terperanjat kaget saat bahu kirinya ditepuk kencang oleh satu orang di belakangnya. Hal itu membuat ia spontan menoleh ke belakang dengan satu langkah memundurkan jarak antara ia dan orang yang telah mengagetkan jantungnya.


“Vran?! Huh! Lo ngagetin gue! Kenapa, sih?!” sentak Reyhan jengkel dengan telapak tangan kanan menempel di dadanya.


Jevran menghela napasnya. “Gue dari tadi nyariin diri lo, dan ternyata elo ada di belakang villa. Lo sedang apa di sini? Ini udah malem, Rey. Ayo masuk, nanti lo bisa masuk angin apalagi lo sendiri kurang tahan yang namanya dingin.”


‘Kok udah hilang?’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah menaiki undakan tangga yang panjang itu bersama Jevran yang berjalan di depannya, Reyhan tidak sengaja melihat sebuah bingkai foto wanita cantik Prancis yang mengenakan sebuah gaun krem ciamiknya bersama senyuman manisnya, gaya pose modelnya pun hampir sama seperti lukisan patung Mona Lisa.


Reyhan berhenti di situ untuk memandang bingkai foto tua berdebu itu buat hanya sesaat. Jevran yang merasa temannya berhenti melangkah, ikut menghentikan jalannya lalu memutar tubuhnya ke belakang. Cukup beberapa detik Reyhan mengamati, tiba-tiba saja lukisan wanita Prancis dalam bingkai foto itu berubah menjadi rupa sosok yang menyeramkan begitupun gaun krem anggunnya menjadi penuh bercak-bercak darah.


Reyhan sontak kaget setengah mati sampai jatuh tersungkur ke belakang. Kedua matanya saling mencuat dengan keringat dingin timbul, detak jantungnya berpacu sangat cepat, napasnya ngos-ngosan seketika. Tubuhnya bergetar hebat menyaksikan lukisan wanita bingkai foto kuno tersebut berubah begitu singkatnya.


“Reyhan! Lo kenapa?!” panik Jevran sambil duduk posisi berlutut lalu memegang kedua pundak temannya dari belakang.


Jevran yang mengerutkan keningnya melihat Reyhan tak terlepas dari pandangan bingkai foto kuno yang terpajang di tembok kuning pastel itu, menoleh untuk menatap lukisan bingkai foto tersebut. Tak ada yang aneh atau menyeramkan di depan mata Jevran Adifian Luji.


“Elo lihat apa? Bingkai foto lukisan wanita tua dan kuno itu gak ada yang aneh. Apa jangan-jangan lo melihat sisi lain dari lukisan wanita Prancis yang bergaun itu?” tanya Jevran.


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat dengan memejamkan matanya kuat seraya menundukkan kepalanya. Tanpa dilepas oleh Jevran, Reyhan membuka matanya perlahan lalu kembali menarik wajah pucat-nya melintang ke arah bingkai foto kuno tersebut yang kotor berdebu.


Aneh. Rupa wajah aura lukisan wanita dalam bingkai foto tua tersebut telah kembali seperti semula, balik cantik daripada tadi yang sangat menyeramkan. Gaun ciamiknya pun terlihat bersih tak ada bercak-bercak darah seperti apa yang Reyhan lihat.


Reyhan berakhir menyentuh pangkal hidungnya yang kepalanya terasa pusing setelah apa yang dirinya pandang barusan pada bingkai foto kuno lukisan wanita Prancis tersebut yang terlihat usang karena telah lama dibiarkan begitu saja tanpa dirawat untuk di bersihkannya.


“Lo pasti kecapekan, hingga lo sampai berhalusinasi pada bingkai foto yang dipajang di tembok itu. Mending sekarang lo ke kamar dan tidur, ya? Karena lo seharian sudah nyetir untuk kami semua. Lo sekarang harus beristirahat.”


Reyhan menganggukkan kepalanya dengan senyum sendu kepada Jevran sang tetangganya. Reyhan mulai kembali bangkit berdiri bersama dibantu oleh temannya tersebut. Baru saja akan membuka pintu kamar nomer 002 miliknya, Reyhan menoleh ke Jevran yang juga akan melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


“Angga bagaimana?” tanya Reyhan.


“Masih belum sadar di kamarnya. Mungkin besok pagi sahabat lo akan kembali siuman, tadi si Freya juga sudah mengompres Angga buat menurunkan Demamnya. Elo mending gak perlu bimbang,” respon Jevran menjelaskan seraya menepuk-nepuk bahu kanan Reyhan dengan rasa pertemanan.


Reyhan menghembuskan napasnya lemah lalu mengangguk pelan pada Jevran yang sedang tengah tersenyum ramah agar hatinya rada sedikit tenang. Jevran di situ pamit masuk ke dalam kamarnya yang bernomor 003 tepat sebelah kamar Reyhan. Reyhan pun pula pergi masuk ke dalam kamarnya dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur karena hari ini begitu amat lelah.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


02.00 AM


Pintu kamar Reyhan dibuka oleh seseorang kendatipun pemuda humoris itu tetap lelap dalam tidurnya di atas kasur empuk bersama selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya. Seseorang tersebut mendekati Reyhan lalu berhenti melangkah saat telah berada di sisi kasur.


Ia perlahan menggoyang-goyangkan tangan kanan Reyhan supaya lelaki itu segera bangun dari tidurnya yang baru 1 jam. Tak lama kemudian, Reyhan mengernyitkan kedua matanya karena tidurnya terasa diusik oleh seseorang yang membangunkannya.


Reyhan mengucek-kucek kedua matanya. “Aduh! Siapa sih yang gangguin gue tidur?! Gak tau apa anak orang lagi nikmatin mimpi indahnya?!”


Reyhan mengeluarkan protesnya sambil menguap tanpa lupa menutup mulutnya. Ia melepaskan tangannya dari kedua matanya yang sedang ia usap, setelah itu Reyhan segera bangkit dari baringnya untuk mengumpulkan nyawanya sejenak.


Setelah nyawanya telah cukup terkumpul, Reyhan membuka matanya lalu menoleh pada orang yang sudah tega membangunkannya di dini hari ini. Rupanya yang membangunkan dirinya adalah Aji nang sedang tersenyum nyengir.


“Oh, Ajinomoto! Ngapain sih, lo?! Buta, apa itu matanya kalau gue lagi tidur? Ada apa bangunin gue??”


“Rey! Ada yang pengen gue tunjukin lo sesuatu di luar villa! Ayo cepetan, penting banget soalnya! Daripada ketinggalan momen!” ujar Aji seraya menarik tangan Reyhan agar segera beranjak turun dari kasur.


“Momen apaan, Anjir?! Di sono gelap banget! Gue ogah keluar malem-malem- eh gak tau ini masih malem apa udah pagi. Besok aja, dah!”


“Hadeh! Bentar doang, Nyuk! Habis itu lo tidur lagi gakpapa, deh! Kan sayang banget kalau momen yang lo lihat nanti ketinggalan.”


“Ini bocah, ya! Hhh ... yaudah-yaudah! Sebentar, gue mau pake kaos kaki sama sepatu dulu! Lo tunggu di luar kamar gue, sono! Gangguin orang aja!”


“Hehehehe! Siap, Bos!!”


Aji segera berjalan keluar meninggalkan Reyhan yang masih duduk di kasur, sementara si Reyhan menggerutu sebal dengan watak teman satunya itu sambil mengenakan kaos kaki hijau alpukat miliknya kemudian terakhir mengenakan sepatu abu-abu dorian punyanya yang bermerk Nike.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di luar villa, angin masih saja bertiupan kencang menerpa daun-daun pepohonan hingga bernari-nari. Sementara Reyhan berjalan di belakangnya Aji untuk mengikuti arahnya dari sang temannya. Jujur saja, Reyhan masih terlalu mengantuk untuk keluar dari bangunan villa ditambah suasana dinginnya membuat kedua mata Reyhan nyaris terpejam.


Beberapa kilometer tempuh perjalanan telah mereka gunakan untuk melangkah menyusuri jalan hutan nang terasa amat mencekam kali ini dibanding dekat wilayah bangunan villa megah tersebut. Mungkinkah Aji ini sedang menguji nyalinya Reyhan?


Reyhan seketika berjongkok saat barusan kakinya terjerat oleh tali sepatunya yang terlepas, maka dari itu ia segera membenarkan talinya tersebut dengan benar dan kencang. Lantas, Reyhan kembali berdiri. Yang benar saja! Aji telah menghilang entah kemana.


“Aji?!” bingung Reyhan sembari mengedarkan pandangannya setempat untuk mencari keberadaan temannya yang malah hilang bak meninggalkan dirinya sendirian di tempat aura nuansa hantu ini.


“Woi! Lo jangan bercanda, dong!! Gak lucu, sumpah! Tau kalau endingnya bakal gini, gue gak akan mau ikut sama lo! Sekalipun lo paksa gue!” teriak kesal Reyhan.


Reyhan baru tersadar bahwa di sampingnya ada jurang yang sangat dalam dan curam. Reyhan segera menyingkir dari sana dan pandangannya terus mencari keberadaan satu temannya yang menghilang secara tiba-tiba. Hingga Reyhan terdiam kaku seperti patung waktu mendengar suara gergaji mesin yang dinyalakan dari belakangnya.


Reyhan meneguk salivanya susah payah lalu memberanikan diri untuk memutar tubuhnya ke sumber suara. Jantungnya seakan-akan hendak berhenti berdetak saat matanya menatap sosok lelaki yang pernah ia lihat sebelumnya dari belakang bangunan villa saat waktu mencari pria paruh baya penjaga villa yang disewa untuk sebagai liburan inap.


Lelaki itu memiliki tatapan mata yang sadis, dengan hidung dan mulut tertutup oleh masker kain hitam blangkonya. Pakaian serba hitamnya terdapat banyak lumuran darah dan itu bau anyirnya menyengat di indera penciumannya Reyhan.


‘Apa orang ini adalah psikopat?!’ ucap Reyhan dalam relung hati.


“Hahahaha! Target spesial yang gue dapatkan kali ini adalah elo. Dan lo gak akan bisa melarikan diri dari sini, Sobat!” ujar lelaki tersebut sambil melangkah dengan senjata besar mematikan itu yang mampu memenggal anggota tubuh milik Reyhan.


Reyhan berjalan mundur menghindari pemuda sang pembunuh tersebut dengan menggelengkan kepalanya. “Jangan! Jangan! Tolong jangan bunuh gue- waaaa!!!”


Reyhan terpeleset dari tanah becek tepi jurang tersebut hingga membuat dirinya jatuh ke dalam jurang yang terjal menurun ke bawah. Di sana bisa lelaki bermasker hitam itu lihat, tubuh target korbannya posisinya sedang berguling-guling kencang. Dan pada akhirnya, tubuh Reyhan terjun ke paling bawah sampai kepalanya terbentur kuat di bebatuan yang tertancap di tanah.

__ADS_1


Dari atas sana, pemuda berpakaian serba hitam dengan menggenggam gergaji mesinnya yang telah dirinya matikan tombol mesin tersebut, hatinya bahagia sekali telah membuat Reyhan hilang kesadaran di bawah jurang. Tidak sia-sia ia menakut-nakuti sang korban hingga berakhir seperti ini yang buat pemuda berjiwa psikopat itu puas akan kerjanya.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2