
Kini Anggara dan Senja telah berada di atas atap rumah sakit Kusuma. Angin malam yang tenang membuat Anggara merasa betah disitu, dilihat Senja duduk selonjor menduduki atap.
"Hei Ngga, sini dong duduk. Emangnya kakimu gak kram berdiri mulu kek patung monumen?"
"Bagaimana aku bisa duduk, aku kan roh yang ada aku jatuh kenceng ke lantai paling akhir di dalem rumah sakit ini. Kamu juga, kok bisa duduk sih?! Gak nembus apa gimana? Kan kamu hantu."
"Ya pake cara ala hantu dan roh dong Anggara."
"Caranya?"
"Nih, kamu tinggal pejamkan matamu dan bayangin terus rasain atap ini adalah dimensi alam kita bukan alam jiwa. Bayangin rasain sambil coba duduk loh ya, jangan berdiri mulu haha."
"Hm iya aku paham."
Anggara memejamkan matanya dan membayangkan atap ini adalah dimensi alam roh yang bisa ia singgahi. Perlahan dan perlahan Anggara menduduki atap tersebut begitu hati-hati takut hasilnya gagal total. Anggara telah merasakan pantatnya telah menduduki atap rumah sakit Kusuma. Yes! Berhasil dengan mulus rupanya.
Anggara membuka mata sipitnya yang telah merasakan ia bisa menduduki atap rumah sakit tersebut. Anggara menoleh ke Senja dengan senyuman sumringah merekah di wajah tampannya itu, senyuman dari Anggara berhasil membuat Senja terpana-pana atas ketampanan pemuda roh itu.
"Ih manis banget kalo lagi senyum kek begitu, andai dia arwah kek gue .. pasti udah gue jadiin pacar abadi gue."
Senja bergumam dengan terus berpaling menatap wajah putih tampan Anggara bak selebritis artis di Negara Korea. Anggara mengerutkan jidatnya dan mencoba masa bodoh pada ucapan lontaran pada Senja yang memujinya seperti terpesona kepada dirinya. Senja yang menyadari apa yang telah ia lontarkan dalam gumaman-nya langsung membuang pandangannya dari Anggara dan langsung menangkup kedua pipinya yang pipinya itu telah merah merona.
' Sumpah lo tadi ngapain sih Ja?! Bikin malu aja deh ! '
Senja melirik Anggara yang nampak tak peduli dan cuek apa yang tadi tak sengaja Senja lontarkan. Angin semilir tenang ini mampu meniup lembut rambut hitam Anggara. Anggara memejamkan matanya lalu menghirup udara angin malam dalam-dalam. Setelah melakukan aktivitas itu, secara ajaib hati Anggara yang terpuruk menjadi lumayan membaik.
Anggara membaringkan dirinya dengan tangan ia sanggah di atas kepalanya. Anggara menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit serta bulan sabit bercahaya. Setelah menatap pemandangan langit malam itu, mata Anggara bersilih ke Senja yang tak terlepas dari tatapannya di Anggara. Mata Senja langsung berkaca-kaca dan mulai memalingkan mukanya sembarang arah.
"Senja, apa aku boleh tanya?"
"Ehm b-boleh, tanya apa Ngga?"
"Gilles itu apa bahaya buat aku? Secara, kamu tadi langsung narik aku kesini biar aku terhindar dari arwah jahat itu."
Senja menoleh menghadap ke Anggara sambil mengangguk antusias. "Iya kamu bener, Gilles sangat bahaya buat kamu. Itu adalah hantu beraura gelap yang menetap disini sudah selama delapan tahun lamanya. Aku gak tau kenapa Gilles bisa datang ke rumah sakit Kusuma ini yang dulu terbilang aman sekarang malah jadi angker. Orang-orang pada gak tau wujudnya Gilles kecuali kalo orang itu bisa melihat yang astral."
Anggara menebak maksud Senja. "Indigo."
"Nah betul. Eh tapi jarang loh anak yang punya kelebihan indera keenam."
"Oh begitu."
"Hmmm kalo kamu sendiri, Indigo gak?"
Pertanyaan Senja membuat Anggara terdiam seribu kata. Ia tak mungkin mengungkapkannya kalau ia ini adalah pemuda Indigo yang kata Andrana dan Agra ia memiliki aura luar biasa. Anggara yang diam buat Senja bertanya-tanya dalam hati, ekspresi Anggara royal terbaca oleh Senja.
"Ada something nih, hmm kayaknya dari tampang wajahmu ini .. kamu menyembunyikan satu rahasia kamu dari aku yak?"
"A-aku enggak Indi-"
"Udah gak usah bohongin aku, kamu anak Indigo ya, kaaaaaann."
Anggara menggaruk tengkuknya gusar bingung menjawabnya, namun padanya Anggara menganggukkan kepalanya. Senja begitu puas pada jujurnya Anggara.
"Bagus! Kamu harus aku jagain terus biar kamu gak di ambil sama gilles!!"
"Apa perlu sampe jagain aku segala? Aku bisa sendiri."
"Heh, jangan sembrono please! Gilles itu hantu jahat yang punya kekuatan tersembunyi yang susah di bongkar. Kamu jangan coba menantang sama Gilles, apalagi Gilles itu lagi incer anak yang punya kelebihan khusus, kek Indigo. Satu lagi, Gilles itu gak suka kalo roh kembali pada raganya seutuhnya jadinya dia pengen tamatin roh itu dalam sekejap mata doang. Ngeri, kan?"
"Aku baru tau kalo itu bahaya banget. Jadi aku harus disini terus? Gak kemana-mana?"
"Boleh jalan-jalan kok, aku sudah berpengalaman banget soal-soal berkaitan dengan roh. Kamu bolehnya deket-deket aja no jauh-jauh daripada ragamu bermasalah."
"Masa gitu?!"
"Kamu gak percaya? Kalo gak percaya coba aja."
"Ogah! Jangan sampe tubuh ragaku kenapa-napa apalagi itu ulahku sama kecerobohan aku sendiri. Bahkan tadi aja aku coba masuk ke jasadku yang terjadi malah bikin jengkel."
"Menolak yak?"
"Iya. Terus apa yang bakal aku lakuin biar roh aku ini sama tubuhku di sana bisa menyatu balik? Bener-bener gak adil."
"Aku tau ini gak adil, Ngga. Tapi mungkin ada sebuah rintangan yang harus kamu lalui agar dirimu bisa nyatu kembali ke tubuh raga kamu."
"Rintangan apa yang harus aku lalui?"
Senja mengangkat kedua bahunya. "Aku gak tau pasti sih, tapi mungkin itu ada. Kamu tau gak Ngga, sebenernya aku sedih banget jadi hantu seutuhnya. Pengen kalo ada mesin waktu aku mau kembali ke masa-masa dulu, mungkin kalo aku puter pada masa kelam itu .. aku pasti bakal wanti-wanti."
"Aku kangen banget sama sahabat kecilku, dan juga kedua orangtuaku yang taruh perhatian sayang sama aku. Tapi ini udah dari takdirku, takdir yang udah gak bisa diubah."
"Apalah gunanya umurku ini, aku masih punya masa depan kali .. masa di kasih takdir kek begini," ucap Senja senyum lesu.
"Memangnya apa penyebabnya kamu bisa meninggal? Kayaknya itu berat banget buat kamu," tutur tanya Anggara pilu.
Senja menghela napasnya panjang sambil meratapi bintang-bintang di langit. "Jaman sekarang mana ada sih banyak orang yang baik? Banyaknya juga yang jahat, kok. Manusia tahun sekarang itu tuh kejem-kejem banget, suka banget akhiri nyawa orang lain. Aku meninggal karna di bunuh sama orang pembunuh di gunung pendakian."
Anggara merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap serius pada teman hantunya. "Tujuan kamu waktu masa itu apaan?"
"Aku sama temen-temen sekolahku liburan di puncak gunung, disana pas banget buat santai-santai bangun tenda. Waktu itu malem belum sampai kami di tujuan yang kami mau, jiwa kami terancam mati dibunuh sama orang-orang pembunuh itu. Kalau aja aku nurut sama sahabatku buat latihan bela diri, pasti aku bisa ngelawan manusia-manusia Neraka tanah Jahanam itu! Sampe sekarang aja aku masih nyesel gak nurut ucapan sahabatku."
"Tapi, yaudah deh. Semua juga udah terlambat, nyesel juga gak ada fungsinya buat ubah takdirku ini," kata Senja sambil menahan tangis.
"Kenapa kamu gak pergi naik ke atas Surga saja? Pasti hatimu tentram disana," timpal Anggara lirih.
"Aku gak bisa Ngga, ada urusan yang harus aku tuntaskan .. kalau sudah tuntas aku akan pergi."
"Aku disini gak punya temen, jadi kamu mau nggak jadi temen arwahku? Aku kesepian gak ada yang bisa di ajak ngobrol buat ngisi hatiku."
Meskipun sifat Anggara cuek suka tidak peduli, namun Anggara mempunyai rasa belas empati. Anggara begitu iba pada takdirnya Senja. Anggara tersenyum lebar dan mengangguk setuju.
"Oke, aku mau jadi temenmu. Aku harap setelah aku jadi temen ceritamu, kamu gak kesepian lagi ya. Dan jangan sedih lagi, mengerti?"
"Hm'em aku mengerti! Makasih banget Ngga! Akhirnya aku punya temen di aku yang jadi arwah seutuhnya."
Anggara mengangguk lagi tanpa tidak melupakan senyuman tampannya. Selain tampan dan Introvert, rupanya Anggara juga merupakan orang yang sangat baik hati. Anggara sangat cocok menjadi teman curhat curahan hati bagi Senja. Senja tersenyum manis yang mengingatkan Anggara akan Freya sahabat kecilnya. Anggara hanya ingin melihat Freya tersenyum bukan menangisi tubuh raganya yang sedang tengah Koma di kamar rawat ICU.
"Oh iya Ngga, kalo kamu mau pergi dari atap sini .. kamu tinggal terbang aja. Mudah banget kok."
"Gimana caranya?"
"Kamu cukup pejamkan matamu sama seperti saat kamu duduk disini. Nah abis itu kamu harus rileks kan dirimu biar gak terlalu tegang. Aku ngomong gitu karna kamu roh yang masih baru, belum terbiasa melakukan kebiasaan itu."
"Oke, nanti aku coba. Ngomong-ngomong kamu jadi arwah sudah berapa lama?"
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima." Senja mengatakan itu sambil menghitung pada jari-jari lentiknya dengan memikir ia sudah berapa lama menjadi hantu.
"Satu tahun sih."
"Berarti umur kamu, enam belas tahun ya?
"Hm'em enam belas tahun. Kalo kamu?"
"Tujuh belas tahun, hmm bukannya tadi kamu bilang kamu umurnya sama kayak aku? Lah kok sekarang malah enam belas tahun?"
"Eeee kayaknya yang tadi aku salah ucap deh." Senja menjawab dengan kikuk lalu bertanya pada Anggara, "Waduh berarti aku harus manggil kamu kakak dong?"
"Gak usah. Kamu panggil aja Anggara, gak usah pake manggil sebutan kak Anggara segala."
Anggara menyipitkan matanya. "Kamu ini menghormati orang yang lebih tua umurnya ya?"
"Itu harus dong! Aku dimana-mana pasti menghormati orang yang lebih tua dariku, itu kata mama sama papa begitu juga Cahya."
"Cahya? Sahabat kecilmu?"
"Yups. Mungkin dia sekarang udah tidur, dia cowoknya gak suka begadang."
"Bagus dong."
"Hehehe ya, begitulah."
"Anggara kamu juga gak usah sedih lagi ya, tenang disini kamu ada temennya kok. Inget juga nih kamu jangan sampe terluka karna hasil ulah kamu sendiri yang buat raga kamu ikut terluka alias kesakitan."
"Kalo itu aku udah tau kok. Kamu tenang aja," ujar Anggara masih tersenyum.
"Nah sip deh! Oke, aku udah mulai ngantuk banget nih .. aku pergi dulu ya Ngga. Sekalian jaga-jaga kalo ada Gilles lagi. Kamu masih inget kan apa omonganku tadi soal pergi dari atap rumah sakit ini?"
"Sans, aku inget kok. Hati-hati."
"Pasti! Kamu tidur disini aja, dijamin aman dari Gilles. Pada dasarnya dia takut kalo di luar melainkan di dalem rumah sakit Kusuma."
Anggara mengangguk. Senja melambaikan tangannya sebelum ia melakukan kekuatan mantra-nya untuk menuju ke dalam rumah sakit Kusuma. Setelah kepergiannya Senja, Anggara membaringkan dirinya dan akan tidur karena angin malam membuat Anggara menjadi ngantuk ingin tidur.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di pagi hari mendatang, Andrana telah bangun dan mulai mengoceh mengajak ngobrol dengan tubuh Anggara yang masih terbaring Koma sedangkan Agra pergi keluar dari rumah sakit untuk membeli sarapan bubur ayam pinggir jalan rumah sakit Kusuma, sementara ketiga sahabat Anggara dan satu teman Anggara tak ada yang mau pulang, sedari tadi malam mereka di kursi tunggu hingga tertidur lelap disitu.
Reyhan yang tidur di posisi salah, harus menerima nasibnya. Punggung ia terasa sedikit kaku untuk di gerakkan tegak duduk. Semalam, si Reyhan tidur di keadaan badan membungkuk tentu punggungnya menjadi pegal dan sedikit kaku.
Jova yang sudah terbangun dari tidurnya tak juga dengan sahabat perempuan tubuh mungilnya. Freya terlihat masih lelap dalam tidurnya sepertinya mimpinya belum usai maka itu Freya setia pada tidurnya. Jova melihat betul-betul wajah Freya yang bawah kantung matanya membengkak, masih ada bekas air mata yang telah mengering. Tangan Freya tak terlepas dari dekapan lembut tubuhnya Jova.
Agra kembali dengan menenteng kantung plastik putih yang didalamnya berisi 6 kotak elastis bubur ayam hangat. Agra menghampiri ketiga remaja tersebut dengan senyuman ramahnya.
"Ayo sarapan dulu, Om bawain bubur ayam nih buat kalian. Yuk makan, nanti daripada kena sakit mag. Bisa bahaya hehe."
Suara Agra membuat Freya terbangun dari tidurnya dan sedikit menggeliat, ia mengusap matanya lalu membuka matanya. Dilihat di depannya sudah ada Agra membawa kantung plastik berisi beberapa kotak bubur ayam yang masih hangat. Freya melepaskan pelukannya Jova yang sedari tadi malam tidak ia lepaskan.
"Freya udah bangun, cuci muka dulu sana gih biar seger mukanya. Nih Om udah beliin kamu bubur ayam anget, nanti kita makan bareng-bareng yak," ucap Agra ramah.
Freya mengangguk tanpa menjawab dari Agra, ia beranjak dari kursi lalu mulai mencuci wajah sembabnya di air kran wastafel dekat pintu kamar rawat ICU sahabat kecilnya. Agra meletakkan kantung plastik putih di kursi sebelah lalu membuka pintu yang sebelumnya Agra telah memakai baju hijau khusus penjenguk di ruang ICU. Agra memasuki kamar rawat ICU anaknya dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Andrana yang menggenggam tangan jasad tubuh Anggara seraya mengusap-usap kepala sang anak semata wayang kesayangannya.
"Ma, kita makan dulu yuk. Mama harus sarapan biar gak sakit. Anggara di tinggal aja dulu," tutur suruh Agra lembut dengan mengelus pucak kepala istrinya yang juga mengenakan baju hijau penjenguk ruang ICU.
Andrana mengangguk dengan senyuman lalu melepaskan genggamannya di tangan tubuh Anggara dan meletakkannya perlahan di atas kasur ranjang pasien. Agra menarik lengan tangan Andrana mengajak ia pergi sarapan dan meninggalkan kamar rawat ICU anak putranya yang selalu terdengar bunyi alat monitor pendeteksi jantung. Satu hari raga Anggara Koma, kini sudah mulai ternampak wajah serta bibirnya bertambah pucat dan tetap masih ada hela napas dada naik turun sedikit lambat serta pernapasan hidung yang terpasang oleh masker oksigen.
...---------->◎:☬☬☬:◎<----------...
Merasa sinar matahari memancarkan cahaya hingga menyinari wajah Anggara yang masih tidur, Anggara pun terbangun dengan menutup wajahnya karena sinar matahari terlalu memancar di muka Anggara. Anggara bangun duduk dan mulai yang ia tatap adalah jalan kota Bogor banyak kendaraan berlalu lalang disana. Karena sinar matahari terlalu terik untuknya, Anggara memutuskan untuk pergi dari atap rumah sakit Kusuma.
Beruntungnya Anggara masih ingat apa yang di ucapkan Senja soal tentang cara ia pergi dari tempat ini. Anggara berdiri dan berjalan ke pinggir atap, Anggara memejamkan matanya tenang dan mulai rileks kan diri agar ia tak terlalu tegang. Perlahan Anggara melangkahkan satu kakinya di udara dan...
Whus...
Anggara merasakan ia mengambang di udara tak lagi memijak atap rumah sakit, seketika Anggara membuka matanya. Senyuman bahagia tertampang di wajah tampannya. Ia telah berhasil terbang, benar kata Senja, ini sangatlah mudah. Baru pertama kali ini Anggara merasakan ia bisa terbang di udara.
Kini Anggara mulai mengendalikan keseimbangan terbangnya menuju ke dalam rumah sakit Kusuma yang telah banyak orang-orang pengunjung serta mengobrol-ngobrol. Di dalam Anggara seperti hantu bergentayangan yang terbang sesukanya tanpa tujuan. Anggara hanya ingin jalan-jalan keliling rumah sakit Kusuma untuk mencari suasana hati barunya.
Anggara terbang hingga di lorong lantai 2, ternyata di lantai lorong ini sama-sama ramai seperti di lantai pertama. Disaat Anggara terbang, Anggara melihat satu kamar rawat pasien yang pintunya sedikit terbuka, Anggara berhenti terbang dan memilih berjalan normal kembali. Anggara menengok dalam kamar rawat tersebut hingga Anggara mendapati seorang gadis kecil berambut hitam pendek yang tengah bermain boneka kucing abu-abunya di ranjang pasien.
Gadis imut itu juga mengenakan baju pasien warna dominan biru muda lengan panjang, senyuman manis ia terlihat saat bermain satu bonekanya itu. Anggara terus memperhatikan gerak-gerik cerianya dari gadis kecil itu di kejauhan, sampai tiba-tiba gadis pipi putih tembam itu melihat ke arah Anggara. Entah mengapa gadis kecil itu tersenyum sumringah bahagia dan melambaikan tangannya ke arah Anggara untuk masuk ke dalam kamar rawatnya yang kosong hanya gadis kecil seorang.
"Kak Anggara! Sini!"
Anggara begitu terkejut gadis kecil bermuka imut itu tahu namanya, Anggara tanpa ragu langsung memasuki kamar rawat anak gadis kecil itu. Anggara berjalan dan berdiri di samping sisinya ranjang pasien milik gadis kecil tersebut yang mendekap boneka kucing abu-abu sutranya.
"Kakak masih disini?! Ih Dania seneng banget!!"
"Eeee maksud adik gimana?"
Gadis kecil itu langsung menutup mulutnya dan melepaskannya. "Ups, Kakak bukan Kak Anggara ya. Maaf Kak."
"Iya kamu benar nama Kakak, Anggara."
"Kak Anggara siapa, Kak?"
"Anggara Veincent Kaivandra, kalau nama adik siapa?"
"Dania Anggita Sabrina, Kak. Kakak panggil aja Dania hehehe."
"Ooohh nama kamu Dania."
"Iya Kakak," jawab sopan Dania.
"Kakak umur berapa?" tanya Dania manis.
"Tujuh belas tahun, Dik. Kalo bisa Kakak tebak, ehm umur Dania tujuh tahun, ya?"
"Wah bener Kak! Umur Dania tujuh tahun eheheh. Tapi Kak, umurnya kakak berarti seumurannya sama Kak Anggara, loh."
"Kak Anggara? Oh itu Kakak kandungnya Dania?"
"Iya Kak, tadi Dania kira Kakak itu kak Anggara eh ternyata bukan, tapi kok wajah Kakak mirip banget sama kakaknya Dania, yah?"
"Hehe begitu ya, Dik .. di dunia ini, kan kita diciptakan tujuh rupa yang sama, jadi kalo Kakak sama kakaknya Dania wajahnya mirip itu udah hal yang wajar."
"Ooohh begitu ya Kak, duh Dania baru paham hehehe."
Anggara tersenyum. "Memangnya Kakaknya Dania ada dimana?"
"Kata bunda, kak Anggara udah di sisinya Allah," jawab Dania lesu.
' Disisinya Allah? Berarti kakaknya Dania udah meninggal. Kasian bener adiknya ditinggal pergi. '
"Boneka ini adalah hadiahnya dari kak Anggara sebelum kak Anggara ninggalin Dania buat selama-lamanya. Pokoknya boneka kucing ini bakal Dania jagain terus sama Dania peluk-peluk kemana Dania pergi."
"Kata bunda sama Ayah hadiah ini hadiah terakhir dari kak Anggara. Kak Anggara itu baik banget terus juga sayang banget sama Dania, kalo liburan sekolah gitu pasti kak Anggara ngajak Dania jalan-jalan keliling kota pake motornya. Tapi semenjak kak Anggara udah pergi tinggalin Dania, bunda, ayah Dania sering dirumah gak pergi-pergi lagi enggak seperti dulu. Jujur, Dania itu rindu banget sama kak Anggara. Dania pengen kembali main-main bersama kak Anggara kayak dulu, tapi itu udah gak mungkin kata bunda."
Anggara yang mendengarnya menjadi sedih pada ceritanya Dania mengenai kakaknya yang telah tiada. Anggara bisa melihat Dania akan meneteskan air matanya dan itu langsung di usap dengan Dania sendiri.
"Begitu ya," pilu Anggara.
"Iya Kak tapi kata bunda ayah, Dania harus Ikhlas kepergiannya kak Anggara biar kak Anggara yang disisinya Allah hatinya tenang. Dania gak mau buat hati kak Anggara sedih-sedih."
Anggara tersenyum sendu mendengar ucapan Dania yang gadis kecil penuh tegar, kini pun Dania masih mendekap boneka kucing abu-abunya penuh erat. Jika Anggara berada di posisinya Dania, tentu Anggara akan seperti hati Dania yang terpuruk karena kakaknya meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Akan tetapi Anggara baru tersadar bahwa Dania bisa melihat Anggara yang tidak kasat mata. Sementara Dania mengelus boneka kucing lembutnya yang pemberian hadiah terakhir dari kakaknya.
' Kenapa Dania bisa liat wujud gue? Apa Dania anak Indigo? Kalo gue tanya ... ck! Gak usah lah nanti kalo misalnya Dania tanya-tanya soal gue bukan manusia, jadi panjang ini ceritanya. '
"Kak Anggara ..."
"Eh iya, kenapa Dik?"
"Kakak juga lagi sakit yah? Kok kakak pake baju yang sama Dania pake?"
"Ahaha iya kakak lagi sakit."
"Tapi kenapa Kakak gak pake jarum infus kayak Dania? Kan biar Kak Anggara sembuh."
"Eeee itu karna Kakak lagi gak mau pake, makanya Kakak lepas infusnya."
"Emangnya gak sakit Kak? Kan harus di bantu kak suster biar lancar."
"Enggak sakit kok Dik, biasa aja ehehe," ucap Anggara menyengir.
"Ouh begitu yah."
"Oh iya Kak, semalem Dania liat Kakak yang di bawa sama kakak-kakak suster sama pak dokter, kondisinya Kak Anggara parah banget, bahkan Dania sampe ngeri liatnya loh."
"Ngeri gimana, Nia?" tanya Anggara bingung.
"Kepalanya Kakak bagian kening kiri berdarah terus ada lukanya. Saat itu Kakak pingsan sampe si kak Rey nangis terus sedikit marah."
Anggara mengerutkan keningnya. "Kak Rey? kak Rey siapa??"
"Kak Reyhan Lintang Ellvano, itu kakak sepupunya Dania, Kak."
__ADS_1
"Oalah, itu sahabatnya Kakak."
"Wah begitu yak?! Ih keren dong, Dania bisa kenalan sama sahabatnya kak Rey hihi!" gembira Dania sambil bertepuk tangan ria.
Anggara tersenyum sumringah. "Kakak baru tau kalo kak Rey itu adalah sepupunya Dania."
"Loh baru tau toh, Kak? Emangnya kak Rey gak pernah kasih tau ke Kakak kalo kak Rey punya adik sepupu??"
Anggara menggelengkan kepalanya dengan tetap tersenyum. "Sama sekali enggak pernah di kasih tau sama kak Rey, mungkin dia lupa. Sahabatnya kakak itu orangnya suka pelupa jadi kakak maklumi saja."
"Ih iya Kak, kak Rey itu emang suka lupa segalanya. Nih ya Kak, kak Rey itu pernah sampe lupa mandi. Waktu itu sih Dania main kerumahnya kak Rey. Oh iya Kak, si kak Rey itu memang lucu ya kakaknya bahkan suka ngelawak hahahaha!"
"Hahaha iya dia memang orangnya lucu sama humoris banget."
' Bukan humoris lagi tapi sesat, ' batin Anggara.
"Dania di rumah sakit udah berapa lama?"
"Euummm berapa lama yah??" Dania berpikir sambil menempelkan jari telunjuknya di pipinya. "Ah iya! Dania inget, Dania disini udah tiga minggu."
"Oh udah lama banget ya, Dania sakit apa?"
"Tipes hehehehe."
"Waduh masih kecil udah kena Tipes, yaudah lekas sembuh ya Dik Dania," ujar Anggara.
"Makasih Kak Anggara hehehe."
"Iya sama-sama, kalo begitu Kakak pergi dulu ya. Dania baik-baik."
"Oh Kakak mau pergi, yaudah deh gakpapa. Ini paling bentar lagi ayah sama bunda balik kesini kok."
"Beli makanan buat sarapan, ya?"
"Loh kok Kakak tau??"
"Kakak cuman nebak doang kok, yaudah Kakak pergi dulu ya."
"Iya Kak Anggara, hati-hati yaaa!"
"Sip," respon Anggara mengacungkan jari jempolnya ke Dania lalu berbalik badan meninggalkan kamar rawat Dania.
Anggara kembali melanjutkan kelilingnya dengan merenungkan sebuah pikiran, ia bingung maksud dari Dania.
Flashback On
"Oh iya Kak, semalem Dania liat Kakak yang di bawa sama kakak-kakak suster sama pak dokter, kondisinya Kak Anggara parah banget, bahkan Dania sampe ngeri liatnya loh."
"Ngeri gimana, Nia?"
"Kepalanya Kakak bagian kening kiri berdarah terus ada lukanya. Saat itu Kakak pingsan sampe si kak Rey nangis terus sedikit marah."
Flashback Off
"Apa benar ya kata si Senja kalo gue Koma gara-gara jatuh dari tangga? Sumpah gue gak inget!"
Anggara mengacak rambutnya frustasi dengan pandangan menunduk tanpa melihat jalan arah depannya. Namun tiba-tiba Anggara merasakan ia menghantam tubuh seseorang bahkan tubuh tersebut sangat keras.
BUGH !
Anggara sontak cepat menoleh ke depan, dilihatnya ia betapa terkejutnya melihat sesosok begitu menyeramkan serta badan adiluhung mencapai dinding atas rumah sakit Kusuma. Badan yang kekar, kepala botak, tidak memakai alas kaki, dan di kedua tangannya menggenggam masing-masing rantai besi dan bola besi yang terpasang di rantai besi tersebut. Darah-darah dari mulutnya menetes netes mengenai lantai putih itu.
Sosok itu menatap tajam Anggara yang matanya semuanya berwarna hitam, muka hancur seperti meleleh layaknya terkena air panas. Seketika Anggara langsung terbesit di otaknya.
' Apa ini Gilles? arwah jahat yang dibilangin Senja ?! '
Anggara mempunyai peluang untuk kabur antara naik lift dan tangga. Anggara tak mungkin menggunakan lift dikarenakan di lorong lantai 2 banyak pengunjung rumah sakit lainnya, Anggara tak mungkin menakuti orang-orang yang tidak memiliki mata batin. Anggara langsung bergegas mangkir dari Gilles sang hantu jahat yang membahayakan itu. Anggara berlari kencang menaiki tangga yang artinya Anggara juga berlari ke lantai 3 tempat dimana tubuh raganya sedang terbujur Koma di ruang kamar rawat ICU.
Anggara berlari kencang lalu menyempatkan diri untuk menengok ke belakang, hantu negatif itu masih mengejar Anggara dengan menyeret nyeret senjatanya untuk tamatkan nyawa roh seseorang termasuk Anggara. Disaat Anggara melintas lari kabur dari Gilles, Anggara sempat menoleh ketiga sahabatnya yang saling berdiam begitu juga teman barunya, ia melihat hanya sekilas lalu berlari tanpa berhenti hingga sampai pojokan lantai 6 terakhir. Bayangkan saja lari dari lantai 2 sampai lantai ke 6 atau bisa di bilang lantai terakhir, tentu saja itu sangat melelahkan dan membuat napas tersengal-sengal.
Anggara sudah tidak bisa kemana-mana lagi, karena saat ini kini ia telah terpojok di dinding lorong lantai 6 paling ujung sendiri. Gilles juga semakin mendekati Anggara, apakah Anggara harus pasrah dan serahkan dirinya padanya? Tidak, karena Anggara malah sudah tak lagi mendengar langkah kaki besar dan senjata maut milik Gilles.
Anggara yang tadi menutup mata membukanya mata cepat. Gilles, kemana hantu itu? Anehnya hantu bahaya itu telah menghilang entah kemana.
"Kemana dia?! Hilang!" kaget Anggara tak menyangka seraya mengedarkan pandangan sekeliling.
Anggara menghela napasnya dan mulai duduk di lantai berselonjor serta menyenderkan punggungnya di tembok pojok lorong lantai 6. Jantungnya masih berdebar cepat begitu juga keringat keningnya merembes hingga ke sisi pipi Anggara, tangan Anggara mengelus dadanya untuk menormalkan detak jantungnya yang luar batas serta tangan satunya ia gunakan untuk mengelap keringatnya.
Anggara menundukkan kepalanya setelah mengelap air keringatnya, di lantai tak ada bayangannya Anggara. Tentu saja, karena Anggara roh makhluk tak kasat mata bukan makhluk kasat mata. Anggara merasa ada satu orang berdiri di sampingnya, reflek Anggara melihat kesamping.
"Halo bro," sapa pemuda seumurnya.
Anggara mengerutkan jidatnya tak mengenal orang tersebut yang menyapanya ramah seperti Reyhan. "Lo siapa?"
"Gue? Kenalin, gue Stevan Raditya Satya. Cukup lo sebut gue Stevan, okay?"
"Ehm oke," jawab Anggara cuek.
"By the way nama lo siapa?" ucap Stevan mengulurkan tangan pada Anggara.
"Anggara. Anggara Veincent Kaivandra," tanggap Anggara sambil menerima jabatan tangan dari Stevan.
"Widih namanya keren bet dah!"
"Biasa aja."
Stevan duduk di sampingnya Anggara sedangkan Anggara hanya diam cuek. Matanya beralih ke depan tak menatap Stevan lagi yang duduk santai di sebelahnya Anggara. Stevan menoleh ke Anggara yang diam mengarah di depan.
"Anggara, ehm lo pasien di rumah sakit Kusuma ini juga yak?
"Iya."
"Ooohh terus lo kenapa ada disini, dan anehnya kagetnya gue .. lo bisa liat gue anjay!"
Anggara ikut menoleh melihat ke Stevan. "Gue roh," ucapnya lalu mengembalikan hadapannya semula.
"Hah?! Lo roh juga?! Gilak gue punya temen!!"
Stevan memeluk Anggara membuat Anggara kaget bukan main, tangan Anggara menyingkirkan kedua tangan Stevan yang melingkar di pinggang Anggara. Tatapan Anggara pada Stevan sungguh dingin seperti Kutub Utara.
"Baru kenalan udah main meluk-meluk! Biasa aja kali," jutek kesal Angga.
"Buset ketus banget?! Ehehehe maap-maap, abisnya gue kesepian bener woi. Sebenernya ada temen roh gue tapi mereka berdua lagi Ngedate."
'Sepasang kekasih mungkin.' Setelah Anggara mengucapkan kata-kata itu dalam lubuk hatinya, Anggara memutar bola matanya malas ke sampingnya yang kosong.
"Ehehehe bisa dong lo jadi temen roh gue!" semangat Stevan menginginkan satu teman roh lagi.
"Ya, boleh."
"Beneran?! Lo mau jadi temen roh gue?!"
"Hmmm!"
"Lo kenapa malah nyanyi lagu Nissa Sabyan dah? Yang liriknya hmmm hmmm hmmm gitu."
"Koplak, gue gak nyanyi lagu Nissa Sabyan, anjir!"
"Gue gak tau koplak itu apa, tapi gue taunya Koplo cikicik Dangdut aaahhh di goyang dulu maaaakk."
Stevan menggoyangkan badannya dramatis layaknya tengah goyang musik Dangdut, Anggara yang melihatnya langsung menggesekkan keningnya dan wajahnya dengan gerakan diagonal menggunakan sisi jari telunjuknya, menyimbolkan teman rohnya ini SGM (Sinting gila miring).
"By the way berarti tubuh lo lagi Koma yak?"
"Ya." Anggara menoleh ke Stevan dan mulai bertanya, "Lo juga, kan?"
"Yoi, mau liat?"
"Terserah sih, gue fine-fine aja."
"Oke ayo ikut gue!"
"Coba lo liat di dalem sana, itu tubuh gue yang lagi Koma. Dan yang di samping kasur raga gue terbaring itu adalah dua orangtua gue."
Anggara mengangguk dengan melihat kondisi jasad Stevan yang terbaring lemah bersama pasangan alat-alat medis yang tertempel di tubuhnya terutama alat pernapasan oksigen Nebulizer (Alat bantu pernapasan pengidap Asma) Di keningnya dibaluti oleh perban kasa yang melingkar hingga kepala belakang. Sama seperti raga Anggara yang terbujur lemah Koma hanya saja bedanya, jasad Anggara tak menggunakan alat oksigen Nebulizer, tetapi masker oksigen. Wajah pucatnya tubuh raga Stevan sangat pucat dan nampak mata menutup damai seolah tengah tidur tenang.
"Gue Koma udah tiga bulan, gue pengen nyari cara gimana caranya gue bisa kembali ke raga gue seutuhnya. Tersiksa you know, jadi roh terus."
"Lo Koma udah tiga bulan?" tanya Anggara memastikan.
"Iya, udah lama banget, kan. Kalo lo Komanya udah berapa lama??"
"Baru satu hari kemaren."
"Njir masih baru dong lo jadi rohnya?!"
"Ya, gitulah. Lo Koma karna apa?"
"Kecelakaan mobil akibat ketabrak pembatas jalan, jadinya gue Koma. Yaaa meskipun itu udah lama, tapi otak gue masih inget, bray. Nah kalo lo sendiri kenapa?"
"Gue gak inget, kenapa gue Koma. Sampe sekarang masih gue pikir-pikir buat inget kenapa gue bisa Koma."
"Sayang banget ... yaudah deh suatu ketika lo pasti inget kok. By the way gue mau liat tubuh lo yang Koma dong. Cepet anterin gue ke sono."
"Kenapa?"
"Kok tanya kenapa? Kan gue udah tulus liatin raga gue, gantian dong giliran lo yang kasih gue liat raga lo. Boleh ya Pleaaaase!" ucap Stevan memohon pada teman roh barunya dengan gaya penuh memelas.
"Gak usah lebay kayak anak layangan! Yaudah ayo," ajak Anggara lebih dulu balik badan dari daerah kamar rawat ICU Stevan lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Stevan yang ada di belakang. Stevan pun langsung mengikuti Anggara yang akan memperlihatkan tubuh jasadnya yang terbaring Koma di sebuah kamar rawat ICU miliknya.
Di setiap langkah jalan yang dua pemuda roh itu tempuh, Stevan terus mengoceh panjang lebar dengan Anggara membuat telinga Anggara sakit karena terus mendengar ceriwisnya dari teman rohnya itu. Tingkah sifat Stevan sama sekali dengan tingkah sifatnya Reyhan, Anggara menjadi penasaran sekarang Reyhan sedang apa disana.
"Anggara-Anggara!"
"Apaan cerewet!"
"Ngegas bener dah?! Itu kita naik lift aja lah yok, capek gue bro."
"Heh, jangan gilak lol tolol! Lihat noh disono ada banyak orang-orang, nanti kalo kita pake lift yang ada semua orang di lorong ini lari ngacir ngiranya itu setan yang gunain lift!"
"Roh, bego! Kita masih hidup belom matek!"
"Lagian kita kan sekarang makhluk halus yang selalu tembus menembus, jadi ya orang-orang disini gak tau kalo kita naik lift, itu lift juga gak bakal buka kok, kalo bukan manusia yang mencet tombolnya." celoteh Stevan.
"Itu gue tau! Tapi kita ini di posisi keadaan jadi roh, kita bakal menembus bahkan nyentuh tombol angka buat naik ke lantai yang kita inginkan juga susah, karna bakal nembus doang. Kecuali kalo kita berada di dimensi alam kita sementara!"
"Pandai banget itu otak, bukannya lo itu masih baru ya jadi makhluk astral? Lah kok tentang itu lo tau banget, bahkan gue lagi serasa di kasih ceramah sama guru-guru gue di sekolah."
"Tipe-tipe murid pelanggar aturan sekolah. Gue tau banget itu."
"Dih songong banget jadi roh. Eh gini-gini tapi gue cowok yang pinter loh di sekolah, apalagi gue anak ketua OSIS di sekolah SMA gue."
"Wow keren."
"Oh iya dong. Kalo lo jadi apa disekolah?"
"Ya mahasiswa lah, gitu aja pake nanya segala."
"Bukan gitu maksud gue dodol! Lo disekolah dipilih jadi apaan?"
"Oh kalo itu gue dipilih jadi anggota PMR."
"Ehm .. ehm .. ehm." Stevan menggelengkan kepalanya. "Sangat membangongkan everybody, anak anggota PMR kok bisa sampe di rumah sakit. Payah dah hahaha!"
"Gak usah ketawa!" bentak jengkel Anggara.
"Iya-iya dah maap hehehe."
Disaat akan menuruni tangga untuk menuju ke lantai 5, Anggara berhenti melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba mulai muncul bayangan samar-samar yaitu seorang pemuda memakai jaket hoodie hitam, beralih ke sebuah pisau lipat tajam dan bersilih lagi ke sebuah topeng wajah yang biasa di pakai orang pembunuh alias psikopat kejam. Sayup samar-samar tersebut menghilang cepat menimbulkan kepala Anggara menjadi sakit sekali.
"Akh!"
"Eh kenapa Ngga?! Apa lo inget sesuatu?!"
'Mampus, keknya ini anak mau lemes ! ' batin Stevan khawatir.
Benar duga Stevan, Anggara hampir ambruk bertanda ia lemas seketika. Cekatan Stevan memegangi tangan Anggara lalu merangkulnya. Wajah lemas Anggara terlihat di mata Stevan. Gawat! Dengan itu tubuh Anggara bermasalah di kamar rawat ICU-nya.
"Gue lemes ..." lemah Anggara.
"Doh mampos! Jangan lemes dulu woi. Duh kacau balau ini mah! Ayo ke kamar rawat lo!!"
Satu kedipan dari kedua mata Stevan mampu membawa Anggara dan dirinya ke tempat lokasi ruang ICU Anggara. Layaknya tadi adalah mantra teleportasi yang Stevan pelajari selama menjadi roh. Kini mereka berdua telah sampai dalam 5 detik tiba di depan dokter Ello dan beberapa perawat yang tengah menangani tubuh raga Anggara. Dokter Ello tengah menyelamatkan nyawa dari jasad milik Anggara menggunakan alat masing-masing yang seperti setrika namun berbentuk kotak tumpul, tentunya itu adalah alat untuk mengembalikan detak jantung semula atau bisa disebut Defibrillator.
Dada Anggara kini terasa seperti terhimpit oleh batu yang menyiksa dadanya, sangat begitu menyakitkan. Sementara dada jasadnya mulai ditempel oleh alat pengembalian detak jantungnya oleh dokter Ello, Stevan menatap nanar pada layar monitor pendeteksi yang telah terhubung kepada detak jantung temannya. Tertera grafik yang mendatar lurus dan terpampang jelas angka 0 samping kiri pojok grafik yang bergerak secara mendatar garis kontinu tipis.
Dokter Ello menempelkan kedua alat pacu jantung dan mulai menekan tombol energi di masing-masing kedua alat tindakan darurat tersebut. Satu kali kejutan untuk detak jantung raga tubuh Anggara, berjaya membuat tubuh raga Anggara terangkat ke atas dan mulailah bertepatan kembali tertera jelas grafik yang mendatar lurus garis kontinu tipis kini berubah grafik garis zig-zag, artinya berarti detak jantung milik tubuh Anggara telah kembali berdetak. Secara bersamaan itu, Anggara yang roh merasakan segar semula, dadanya yang sesak layaknya terhambat kini bisa bernapas dengan lancar.
Anggara melihat dokter Ello menyenter kedua mata raganya satu persatu lalu menatap layar monitor pendeteksi jantung sebentar usai itu pergi setelah memasukan senter kecilnya ke dalam kantong jas putihnya. Anggara dan Stevan menatap kepergian dokter Ello dan beberapa perawat berseragam putih bersih. Di luar, Dokter Ello seperti sedang berdialog pada Andrana dan Agra. Anggara dan Stevan tak dapat mendengar suara dialognya dokter Ello, Andrana, Agra, Freya, Jova, Reyhan, dan juga Rangga. Tempat ruang tersebut sangat kedap suara maka dari itu dua pemuda wujud astral itu tak mendengar apa yang dibicarakan pada lontaran kepada mereka semua.
Pada akhirnya dokter Ello pamit bersama perawat-perawat dibelakangnya. Agra dan Andrana yang masih memakai baju hijau penjenguk ruang ICU kembali masuk ke dalam kamar rawat ICU, Agra menutup pintu tersebut dan menghampiri Andrana yang telah menyinggahi kursi samping sisi ranjang pasien tempat anak kesayangannya.
"Nak, kamu jangan kayak gitu lagi ya ... Mama sama ayah takut banget tiba-tiba Anggara tadi seperti itu."
Andrana mengusap kepala jasad Anggara kembali dengan sedikit meneteskan air matanya. Anggara yang melihat kesedihannya dari mamanya dan ayahnya begitu tidak nyaman. Ingin memeluk hangat mereka berdua, tetapi Anggara tak bisa apa-apa untuk mendekap tubuh kedua orangtuanya.
"Pergi aja Stev, disini mulu malah bikin gak karuan doang," ucap Anggara melangkah pergi menembus pintu ruang ICU.
"Eh Ngga tungguin gue kek! Main tinggal-tinggal bae ah!"
Stevan berlari kecil lalu menembus pintu ICU. Di luar Anggara duduk kursi di hadapan kursi persinggahannya Freya, Jova, Reyhan, dan juga Rangga. Tak ada sama sekali yang berubah dari wajah para mereka, mereka terus menampilkan muka gundah sendunya. Stevan yang mengetahui Anggara berada di kursi tunggu langsung menghampirinya dan duduk di sisinya.
Suatu ekspresi wajah yang mengejutkan Stevan, ia melongo melihat didepannya terdapat empat remaja SMA yang berwajah menawan.
"Ngga? Mereka itu siapa lo?" tanya Stevan sambil menyenggol-nyenggol lengan Anggara pelan dengan siku tangannya.
"Dua cewek satu cowok itu sahabat gue, yang satunya lagi temen Bogor gue."
"Njir ganteng-ganteng sama cantik-cantik parah wey! Siapa namanya??"
"Yang cewek berambut item panjang terus ada poninya namanya Freya dia sahabat kecil gue. Yang di sebelahnya Freya itu Jova, di sebelahnya Jova namanya Reyhan, yang terakhir namanya Rangga."
"Oh Rangga yang mukanya hampir mirip elo yak. Sumpah demi apa coba?! Gue ngeliat sobat-sobat lo ama temen Bogor lo kayak lagi liat Idola artis panggung! Apalagi elo ini yang guanteng kek Reyhan!"
Anggara memutar bola matanya malas sesuka arah. 'Gak Reyhan gak Stevan, sama aja mereka. Tingkatan lebay-nya sepadan kek diagram batang.'
"Ya gak, Anggara ganteng." Stevan menarik dagu Anggara ke atas dengan gaya romantis. Tentu gaya itu langsung membuat Anggara mencak-mencak.
"Anjir geli! Homo ya lu?! Gue cowok woy!!"
Anggara menepis tangan Stevan yang memegangi dagunya. Tatapan tajam Anggara dengan mata melotot membuat Stevan tak takut tetapi malahan cengengesan menyengir seperti orang gila.
"Di dimensi alam kita ada HP gak? Gue mau nelpon ambulans RSJ biar siapa tau lo bisa membaik disana. Nanti kalo lo dah disana gue bakal jenguk elo dengan bawa buah tangan makanan Sesajen. Biar otak lo yang sinting bisa waras."
"Hahahahahahahaha!!!"
"Tawa lo, GARING!!!" Anggara sengaja mengucapkan kata 'garing' dengan penuh nada oktaf tinggi.
"Becanda gue atuh Ngga, kok malah ngamok kek Hulk si pengamuk dunia kota andalan??"
"Serah gue!"
Stevan menggaruk tengkuknya. "Baru pertama kali ini gue punya temen ketus banget kek cabe rawit."
"Bon cabe!"
Anggara menatap Reyhan yang nampak melamun, ia pejamkan matanya dan mulai mengeluarkan air matanya bertambah suara hisakan tangis pelan. Reyhan menunduk kepalanya pelan dengan tangan kanan menutupi seluruh wajahnya yang tengah bersedih lara. Rangga yang menengok Reyhan pun langsung mengulurkan tangannya ke punggung Reyhan dan mengusap-usap kembali punggung teman tetangganya tersebut.
__ADS_1
Mata Anggara menyilih menatap Freya yang sedang menghapuskan air matanya berusaha tak menangis di keadaan sahabat kecilnya terbaring Koma dan belum ada sama sekali perkembangan darinya. Jova yang merangkulkan tangannya di tengkuk Freya mendekatkan mukanya sedikit ke wajah Freya yang terlihat masih sembab.
"Jangan nangis lagi ya cantik ... aku yakin kok, Anggara bakal baik-baik aja."
"Hm'em," jawab Freya mengangguk dengan nada serak.
Jova menolehkan pandangannya ke Reyhan dengan tersenyum. "Reyhan."
Yang di panggil pun langsung melepaskan tangannya dari wajah lalu mengusap linangan air matanya dan langsung mengedarkan pandangan menunduk berubah menoleh ke Jova.
"Jangan sedih-sedih lagi ya ... ya meskipun aku juga sedih seperti kalian bertiga, tapi buat apa kita kayak gitu. Harusnya kita saling mendukung untuk Anggara agar dia bangun dari Koma. Nih satu lagi, Anggara itu cowok yang kuat dia gak bakal ninggalin kita semua. Bener, nggak?"
"Iya, kamu bener .. Anggara sahabat kita yang kuat ya," respon Reyhan lirih namun mulai nampak menyunggingkan bibirnya senyum tipis, sangat tipis.
"Yups! Itulah Anggara."
"Dengan kita Berdoa, aku yakin banget kalo Anggara suatu saat akan bangun. Separah-parahnya kondisinya Anggara, apa yang kamu katakan ada benarnya."
"Nah good job Frey! Udah daripada sedih-sedih terus mending dukung Anggara, nih denger ya .. walaupun Anggara Koma dan dia gak respon apa yang kita tanya atau kita ajak ngobrol, tapi Anggara masih bisa denger kita loh."
"Masa Va?!"
"Yeh, kalian gak percaya? Bener kok, itu beneran asli!"
"Berarti kalo kita ngomongin Anggara jelek-jelek di kamar rawatnya, Anggara bisa denger ya, meski itu dia gak respon kita."
"Yups, kenapa? Kamu mau jelek-jelekin Anggara kah??"
"Ih ya gak lah, masa sama sahabatnya sendiri jelek-jelekin. Kata Anggara itu gak baik terus itu perbuatan tercela, loh."
"Pppfft si Anggara markotop bener ye, bisa banget sahabat kecilnya plus tetangganya di ajarin perbuatan yang sungguh mulia. Padahal sifatnya Anggara tuh cuek is the best loh, kok bisa yak??"
"Freya aku mau tanya deh sama kamu, Anggara itu guru privat-mu ya?"
"Enggak kok Ga, Anggara bukan guru privat aku. Anggara cuman sahabat TK ku doang, gak ada yang lain-lainnya," tanggap Freya menimpali pertanyaan Rangga.
"Anak polos lo tanya gitu, ya dia jawab yang sederhana lah," celetuk Reyhan.
"Kenapa sih aku selalu di bilang polos mulu?? Polos itu apaan deh? Polos itu kan yang kertas terus tanpa ada motif-motifnya gitu." Freya memanyunkan bibirnya.
"Ha? Kertas terus tanpa ada motif-motifnya gitu?? Bukan, itu beda. Polos yang aku maksud artinya sifat yang selalu berpikir jalan positif segala sesuatu," jelas Reyhan nyaris tertawa.
"Berarti aku polos karna punya sifat begitu??" tanya Freya.
"Iya, begitu." Reyhan menjawab.
"Hehehehe parah, kamu di kasih makan apa sama Anggara sih? Polos banget kamu tuh."
"Kue bolu, yang biasanya Anggara bikin."
"Lah, Anggara bisa buat kue-kue gitu toh?!"
"Iyak, baru tau ya Ga .. si Anggara kalo urusan-urusan masak apapun sama buat kue apapun jago banget kek Chef kelas atas!"
"Selain itu, si Anggara juga jago banget main musik apalagi nyanyi vokal-vokal lagu gitu, kalo ngajarinnya juga hebat banget. Udah gue anggep tuh Anggara guru bimbingan bidang musik spesial gue."
"Bisa aja lo, Rey." Anggara melontarkan ucapan itu dengan tersenyum.
"Sumpah, gue gak tau apa-apa tentang Anggara. Mending gue diem ae."
Lontaran Rangga membuat ketiga temannya tertawa kecil mendengarnya. Anggara yang memandangi senyum tawa dari ketiga sahabatnya membuat diri Anggara ikut tersenyum. Bahkan perkataan-perkataan Jova tadi yang memotivasi dari sedihnya Freya dan Reyhan juga buat Anggara bangga dengan gadis sahabat Tomboy-nya.
"Makasih ya Va, kamu udah memotivasi sedihnya mereka yang raga ku miris banget. Jadi tenang aku."
"What the Why ?! Lo mau ke Surga, Ngga?! Ninggalin semua keluarga lo dan sahabat-sahabat lo?!"
"Bego! Gak gitu maksud gue sompret!" semprot Anggara.
Stevan menyengir. "Becanda gue Ngga, gue tau kali hehehe. Ngomong-ngomong yuk ikut gue!"
"Kemana lagi?" tanya Anggara berkerut kening.
"Udah pokoknya lo ikut gue aja. Di jamin lo bakal seneng terus betah banget dah."
Stevan memejamkan matanya lalu memegang tangan Anggara erat agar ia bisa ke tempat yang ia ajak Anggara secara bersama-sama. Anggara yang ingin protes tak jadi karena di sekelilingnya sudah hanya ada pusaran angin topan yang membawa pemuda roh itu ke tujuan lokasi.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Pusaran angin topan itu telah menghilang setelah berhasil menempatkan dua pemuda roh tersebut di suatu tempat yang menurut Anggara sangat asing.
Beberapa pepohonan yang terawat nan jalan tapak hutan yang halus tak ada sedikitpun kerikil-kerikil di depannya beserta rerumputan hijau asri. Stevan membuka matanya dengan ekspresi tak kaget namun biasa saja, ia sudah kenal sekali sama tempat ini bahkan ia sering sekali mengunjungi tempat leluasa pemandangan segar ini.
"Lo ngapain bawa gue kesini? Ini hutan, kan."
"Yups. Tapi bukan sekedar hutan doang, ada sebuah tempat yang lebih wow dari ini. Makanya gue pengen ngasih kejutan buat temen roh handsome gue."
"Lo pikir gue cewek yang suka di kasih kejutan, ungkapnya 'Suprice for you girl ' gue cowok, gak usah kasih kejutan nanti juga gue biasa aja."
"Hahahahaha! Cool-cool gini ternyata lo bikin ngakak juga ya!"
"Mananya ngakak? Orang gak ada yang lucu, juga."
"Udah-udah, daripada lo banyak protes, lebih baik come with me. Gue akan kasih tunjuk jalan buat lo kesana .. go go go!!"
Stevan mendorong punggung Anggara, dengan berdecak pasrah Anggara menuruti teman rohnya yang daritadi sudah harus perlu obat dari apotik rumah sakit jiwa.
Stevan terus mendorong menggiring Anggara dari belakang sambil berjalan begitu juga bersama Anggara. Mereka terus menempuh perjalanan hingga 30 menit kemudian mereka sampai di depan semak-semak daun yang menghalangi jalan dua pemuda tersebut. Anggara menyibakkan semak-semak tersebut dan apa yang ia lihat sungguh membuat mulut Anggara terbuka melongo.
Sebuah pemandangan danau luas disertakan bebatuan berderetan sejajar pinggir danau, rerumputan hijau segar yang membuat orang-orang ingin berbaring santai di atas rerumputan hijau tersebut. Tak hanya itu saja, selain pemandangan yang memukau hati, ada banyak sekali penghuni-penghuni wilayah danau.
"Selamat datang di dunia alam roh dan arwah!"
Anggara melepaskan pandangan takjubnya lalu menoleh ke Stevan. "Dunia alam roh dan arwah?? Jadi ini yang lo maksud kejutan buat gue?"
"Yoi, gimana? Tempatnya cukup menawan, kan?"
Anggara mengangguk. "Iya cukup menawan kok."
"Tuh apa gue bilang, lo pasti juga bakal ngomong gitu. Noh coba lo lihat sekeliling tempat wilayah alam ini. Ini adalah dimensi kita, dimana kita bisa menyentuh benda apapun disini, berinteraksi sama mereka, bahkan menyentuh mereka pada. And tempat ini, cukup bisa di bilang keren dan unik .. karna disini kita bisa ngeliat makhluk-makhluk hewan aneh di daerah alam ini."
"Oh, lo berarti juga termasuk penghuni dunia alam ini kah?"
"Yups, ya seperti lo denger tadi .. gue menempat wilayah ini sudah tiga bulan. Oke saatnya gue kenalin lo sama temen-temen gue yang lainnya."
Stevan memicingkan matanya mencari teman-teman rohnya dengan teliti dikarenakan disana banyak sekali penghuni antara roh dan arwah. Setelah berhasil menemukannya, Stevan membentangkan tangannya menuding dua temannya yang tengah asyik bersenda gurau bersama.
"WOI DANIEL! YUDAAAA!!!"
Suara teriakan keras dari Stevan mengharuskan Anggara untuk menutup kedua telinganya rapat-rapat, takut gendang dua telinganya mendengung dan langsung pecah.
"Ey! Teriak tuh liat-liat, bisa pecah gendang telinga gue!" omel protes Anggara.
Dua pemuda roh yang di panggil secara teriak oleh Stevan pun menoleh dan menghampirinya saat Stevan melambai-lambaikan tangannya. Dua teman Stevan juga mengenakan baju pasien rumah sakit Kusuma, mereka bernama Daniel Yudistira Andranata dan Yudatara Adikara Pratama.
"Wih dateng lagi lo bro, udah lama kita berdua gak ngeliat lo. Kemana aja lo bah??" tanya Daniel yang sudah ada di hadapannya Stevan serta Anggara.
"Biasa, berkelana tanpa tujuan." Stevan menjawabnya dengan santai bersama lipatan kedua tangan di dada.
"Yaaaahh namanya juga makhluk astral. Eh lo siapa? Anak baru ya di alam sini??" tanya Yuda senang pada Anggara.
Anggara hanya mengangguk dan mengukirkan senyuman tipisnya. Yuda pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan diri kepada Anggara yang diam.
"Oke kenalin, nama gue Yuda. Yudatara Adikara Pratama .. hehehe salken ya kawan."
Anggara menerima uluran tangan Yuda dan mulai bertautan dengan tangan miliknya Yuda. "Anggara Veincent Kaivandra, panggilan Anggara."
"Mantap! Anak kota ini mah kek kami-kami." Daniel menimpali Anggara seraya mengulurkan tangannya pada Anggara. "Oke kenalin, nama gue Daniel. Daniel Yudistira Andranata .. hehehe salken ya kawan."
"Iya," jawab Anggara menerima jabatan tangan Daniel.
"Heleh mentang-mentang lu sahabat gue, lu seenaknya niru ucapan perkenalan diri gue!" sewot Yuda.
"Ya gakpapa lah, asalkan bahagia."
"Lagunya POP Armada band." Stevan membusungkan dadanya masih dengan tangan ia lipat di dadanya.
"Eh Ngga, lo arwah atau roh?" tanya Daniel penasaran.
"Gue roh."
"Wih mantep cuy! Jadilah temen kita bertiga biar lo gak kesepian. Tentunya jadi roh itu meresahkan hati, udah lonely, gak bisa nyentuh benda-benda dimensi alam jiwa, nyentuh manusia bahkan interaksi ngobrol-ngobrol rasa di kacangin," oceh Daniel.
"Oh iye, jasad lo Koma yak di rumah sakit Kusuma??" tanya sambung Daniel.
"Iya, jasad gue Koma semenjak tadi malem."
"Wah masih belom lama dung?! Hm, kalo gue udah Koma nginjek dua tahun lamanya kek Yuda sahabat gue satu," tutur Daniel melirik Yuda sembari mencondongkan sedikit mukanya ke Yuda.
"Kalian ... komanya udah dua tahun?"
"Iyak. Gue Komanya gara-gara jatoh ke dasar bawah jurang bersamaan si Daniel."
"Bisa samaan ya Komanya, jarang kalo sampe segitunya." Anggara tersenyum getir.
"Namanya juga nasib kita berdua, kalo lo sendiri kenapa bisa Koma??"
"Eeee gue gak inget. Gue nyoba inget kenapa gue bisa Koma, tapi otak gue mungkin masih belum mampu untuk inget semuanya kejadian peristiwa yang bikin gue Koma."
"Hmmm apa lo inget terakhir kali sebelum lo Koma??" tanya Yuda serius.
"Terakhir kali gue inget, ehm gue jalan di lorong rumah sakit Kusuma lantai lima, gue juga gak inget kenapa gue jalan di lantai lima, entah gue jalan-jalan atau apalah itu. Tetapi gue gak inget sama sekali," ucapnya seperti menerawang.
"Duh sayang bener kalo lo sampe gak inget apa-apa. Eh tapi lo inget orang-orang yang lo kenal???"
"Kalo itu gue masih inget, Niel."
"Bagus dong. Mungkin otak lo harus di segerin dikit biar bisa inget kenapa lo bisa Koma. Tapi kalo memang itu gak mempan, udah dah lo gak usah paksa."
Anggara mengangguk saran Yuda. "Oke."
"Yaudah dah, mending lo sesuaikan diri dulu disini. Anak baru harus tau tentang-tentang dunia alam roh dan arwah ini dong. Oke see you guys ! Ayok Da."
Daniel menarik tangan Yuda untuk menemui teman-temannya yang lainnya disana. Sementara Stevan mengajak Anggara ke pinggir danau. Air danau tersebut sangatlah jernih dan bening. Saking bening jernihnya air danau, hingga terlihat ikan-ikan menawan berenang dalam air selain ikan-ikan yang berenang tenang di dalam sana, ada juga banyak batu-batu bentuk rata berjejer rapi.
Anggara berjongkok dan mulai menyemplungkan tangannya ke dalam air danau, entah mengapa para ikan-ikan cantik itu mendekati Anggara secara rebutan. Sepertinya mereka yang punya perasaan bisa merasakan aura baik hati Anggara yang terpancar. Air danau yang segar tak juga Anggara ingin berenang di danau, meskipun Anggara bisa berenang tetapi Anggara tidak suka berenang.
Melihat Anggara asyik dengan ikan-ikan dalam air, Stevan menatap Anggara lalu bertanya, "Anggara lo mau berenang di danau itu??"
"Gak, gue gak suka berenang."
"Alah bilang aja gak bisa berenang."
"Gue bisa. Tapi gue gak mau basah-basah itu alasannya," jawab Anggara nada standar.
"Ih berarti gak pernah mandi?!"
"Ya gue rutin mandi, lah!! Sumpah ni anak, maksud gue itu gue gak mau basah-basah karna berenangnya!"
"Ehehehehe. Begono toh."
Di sisi lain, ternampak ada dua gadis perempuan duduk manis di atas batu besar yang biasanya ia berdua singgahi. Mereka merupakan seorang kakak adik yang bermuka kembar jadi susah membedakannya terkecuali pada rambutnya yang berbeda warna.
Satu gadis yang tengah asyik bergelak tawa tiba-tiba matanya terpusat oleh pemuda tampan yang sibuk mendayung-dayung tangannya di dalam air, senyuman ukiran menawan di bibirnya membuat gadis itu yang melihatnya terpana atas ketampanan pemuda tersebut yang tak sama sekali ia kenal.
"Anjay ganteng banget itu cowok!!" heboh gadis yang terus menatap pemuda tersebut.
"Hah? Mana Kak?" tanya adik gadis itu.
"Itu loh, Dik. Coba kamu liat, ada cogan cool tampan!!"
"Duh biasa aja kali Kak, kayak gak pernah liat cowok ganteng aja deh."
"Sumpah kalo jadi gebetannya Kakak, wah bahagia selalu deh hahaha!"
"WOI COWOK GANTENG YANG RAMBUTNYA ITEM!!!"
Suara teriakan dari gadis heboh itu membuat seluruh penghuni pengunjung danau menoleh spontan ke ia termasuk Anggara dan Stevan. Gadis yang berteriak langsung mencium tiga jari-jari dari tangan kanannya lalu meniupnya ke arah Anggara layaknya ibaratnya melakukan Kiss bye.
Anggara bergidik ngeri pada tingkah aneh dari gadis itu yang tiba-tiba begitu pada Anggara. Gadis itu langsung melayang ke Anggara lalu mendarat di rerumputan hijau tepat di depan mata Anggara. Anggara nampak cuek kehadiran gadis itu yang tersenyum lebar padanya bahkan Anggara bertampang muka dingin disaat melihat perempuan genit terhadapnya.
"Hai boleh kenalan gak, ganteng?"
"Terserah."
'Buset mak jang! ganteng-ganteng tapi dingin bener! Mirip kek di novel-novel cetak buku.'
"Ehehehehe sorry-sorry gue bercanda kok, kalo boleh tau nama lo siapa? Gue Laurel Emira Serllyna, kerap di panggil Laurel."
"Anggara."
"Singkat bener? Nama lo cuma Anggara doang??"
"Namanya Anggara Veincent Kaivandra, Rel. Anggara orangnya emang kek begini hehe maklum bae yo," jelas Stevan memperkenalkan Anggara.
"Kak Laurel!!"
Laurel yang kaget langsung menoleh cepat ke sendang suara. Itu adalah suara adiknya yang meneriakinya dengan terbang ke arahnya lalu mendarat ke sampingnya Laurel. Adiknya Laurel nampak takut pada tingkahnya kakaknya yang membuat pemuda ialah Anggara menjadi dingin padahal ia tadi nampak senang-senang.
"Anu, Kak Anggara .. maafin Kakaknya Emica, yah. Kak Laurel kebiasaan kalo ngeliat cowok apalagi itu ganteng pasti hebohnya kumat. Jangan marah ya Kak."
Anggara mengangguk saja dan memberikan senyuman tipis pada gadis yang bernama Emica.
"Sekalian nih Kak kenalkan nama Emica, Emica Laurensya Cerllyna .. Kak Anggara bisa cukup panggil Emica aja hehe."
"Iya sama kenal."
"Sumpah tak kewer-kewer, udah muka sama, nama hampir sama coba. Kelakuan barbar-nya si Laurel emang unusual padahal udah jadi arwah." Stevan menggeleng-gelengkan kepala.
'Apa Anggara cowok yang gak suka cewek sikap berlebihan, ya? Perasaan pas gue gitu tadi, dia langsung berubah dingin.' batin Laurel tak menduga
"Eh Laurel, Emica .. gue sama si Anggara kesono bentar yak. Biasalah anak pendatang baru harus dikasih tau tempat yang keren haha."
"Ouh yaudah deh gakpapa. By the way, gue minta maaf sama sikap gue ke elo tadi ya Ngga."
"Lupain aja, Rel."
"Hehehe ayok Ngga. Good bye guys !"
"Oke!" jawab serempak antara Laurel dan Emica.
Anggara dan Stevan meninggalkan wilayah danau dan mulai melangkah pergi hingga tak terlihat lagi punggung para mereka.
"Aaaaa dari jauh aja keliatan ganteng apalagi kalo liat dari deket depan mata, lebih guanteng bener, ih so handsome. Sumpah demi apa, ketampanan Anggara tuh bikin gue klepek-klepek asli. Udah gitu kulitnya putih, postur tubuhnya sempurna, gaya rambutnya keren kek bintang artis Drakor, terus bahkan dia cowok yang tinggi. Kyaaa tipe-tipe gue banget!!"
"Ih Kakak, udah dong!"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Sekarang Anggara dan teman rohnya telah berada di suatu hamparan danau. Anggara dan Stevan tengah berbaring di rerumputan hijau segar tersebut. Luasnya danau macam laut dengan air yang begitu tenang. Sepertinya kalau para gadis-gadis di situ, mereka akan langsung mengambil momen-momen indah dengan berfoto ataupun memotret betapa indah luasnya danau tersebut.
"Suasananya bikin ngantuk parah, gue tidur ya Ngga .. bangunin kalo ada Tsunami danau disini."
"Yeh, mana ada Tsunami danau .. ngaco banget otak lu."
Tak ada lagi jawaban dari Stevan, ia telah lelap dalam tidur santai nyamannya. Sementara Anggara menopang kepalanya dengan tangan di atas rerumputan hijau sambil memandangi langit yang tertutup oleh daun-daun pohon hal itu membuat menjadi rindang sekali.
Sayup-sayup saat memandangi atas, gambaran-gambaran yang belum tentu jelas masih ada di benak otak Anggara yang tersirat. Ia masih tak tahu apa maksud dari gambaran penglihatannya secara tiba-tiba itu. Apakah ini pertanda sesuatu Anggara akan mengingat mengapa ia Koma sampai saat ini? Pisau lipat, pemuda memakai jaket hoodie berwarna hitam, dan topeng wajah psikopat. Itu semua membuat Anggara bertanya-tanya dalam relung hatinya.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››