
"Lihat saja nanti," ujar Devan sambil menyeringai dan tak ingin memberitahu Kanaya tujuan mereka.
"Kamu ngapain, Ay?" tanya Devan saat melihat Kanaya membuka kaca jendelanya dan membiarkan angin dari luar menerpa kulit wajah dan rambutnya yang bergoyang di tiup oleh angin.
"Wooow!" Teriak Kanaya berkali - kali karena merasa bebas melakukan apapun kemuannya seperti saat ia belum pernah bertemu dengan Elvano.
Devan tertawa melihat kelakuan Kanaya, namun ia sangat senang melihat kelakuan Kanaya bisa berteriak dengan lepas dan terlihat sangat bahagia.
Devan melajukan mobilnya dan keluar dari jalan bebas hambatan melalui daerah dengan jalan yang lebih kecil, hingga mereka sampai di pesisir pantai.
"Kita kepantai, Van?" tanya Kanaya dengan mata yang berbinar - binar dan Devan tersenyum.
"Aku sudah lama tidak kepantai," gumam Kanaya sambil memandang gelombang yang terpecah di pantai beberapa puluh meter di depan mereka.
"Berarti aku mengajakmu ke tempat yang tepat!" Seru Devan sambil mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu.
Kanaya pun membuka pintu mobil dan keluar.
Perlahan ia berjalan di pantai, namun karena sepatu heelsnya menghambatnya, ia melepasnya dan menentengnya. Kanaya berjalan ke pantai dengan bertelanjang kaki meninggalkan Devan di belakangnya.
Tiba - tiba Kanaya berbalik dan berteriak.
"Devan Permana! Kamu mau berlomba sampai ke air laut itu!" Tantang Kanaya sambil menunjuk ombak di pantai dan berteriak.
"Kamu nantang aku, Ay?" tanya Devan sambil menampakkan ekspresi tidak percaya.
"Ya! Kamu berani?" tanya Kanaya menantang Devan sambil tertawa.
"Ok, not cheat!" Ancam Devan.
Baru saja Devan berbicara seperti itu Kanaya sudah berlari terlebih dahulu menuju garis pantai.
"Ay, kamu curaaaaanggg!" Teriak Devan sambil mengejar Kanaya yang berlari sambil tertawa, rupanya Devan berlari lebih kencang dari pada Kanaya, sehingga meskipun Kanaya sudah mencuri start dan beberapa meter berada di depan Devan, tetap saja Devan bisa menyusulnya dan menangkap Kanaya.
"Curang kamu, Ay!" Teriak Devan sambil mendekap Kanaya dari belakang sehingga Kanaya tidak dapat berlari lagi.
"Lepas, Van!" Teriak Kanaya sambil tertawa, namun Devan tidak melepaskan Kanaya dan mendekapnya lebih erat lagi.
"Jangan harap ya, Ay! Aku yang menang! Ayo bilang aku yang menang!" Seru Devan.
"Oke! Oke! Aku yang menang!" Teriak Kanaya sambil tertawa.
__ADS_1
"Kanaya!" Teriak Devan protes sambil menggelitik pinggang Kanaya, membuat Kanaya menggeliat dan tertawa terpingkal - pingkal.
"Iya, iya. Devan yang menang!" Ucap Kanaya dengan nafas yang tersengal - sengal.
Barulah Devan melepaskan Kanaya dan Kanaya pun terduduk di pasir pantai dan begitu pula Devan.
Mereka berdua duduk dengan meluruskan kakinya di atas pasir sambil melihat pemandangan di depan mereka sembari mengontrol deru nafas masing - masing.
"Bagus, ya Van." ucap Kanaya mengometari semburat merah di langit di hadapan mereka. Saat itu sudah menjelang petang, sehingga warna langit di atas horizon mulai berubah menjelang matahari terbenam.
"Cantik," jawab Devan sambil menatap perempuan yang duduk di sebelahnya dengan rambut yang tertiup angin.
Kanaya menoleh dan mendapati Devan tengah menatapnya.
"Maksudku, langit itu, Van," ujar Kanaya sambil menatap langit di depannya berusaha untuk tidak menampakkan rona merah di wajahnya.
"Aku tahu apa yang kulihat, Ay." ujar Devan kemudian menoleh ke arah langit di hadapan mereka berdua.
Tiba - tiba Devan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Kanaya," ajak Devan.
"Ayo," ajaknya pada Kanaya
Kanaya menggapai tangan Devan dan berjalan mengikuti Devan yang berjalan menggandeng tangannya, sedangkan tangan satunya menenteng heels miliknya.
"Ayo kita kesana, Ay." ajak Devan sambil menunjuk kedai di pinggir pantai dengan meja - meja di pantai di depannya.
Kanaya mengangguk. Ia pun sudah merasa haus karena berlari dan berteriak tadi.
Kanaya dan Devan memilih meja yang berada di pantai dan menghadap ke arah matahari terbenam. Mereka berdua memesan kelapa muda dan menikmati pemandangan matahari terbenam tanpa berkata - kata.
"Ay, apa kamu sudah siap untuk besok?" tanya Devan setelah menyesap air kelapa mudanya. Saat itu matahari tengah tenggelam di ufuk barat dan lampu - lampu lilin sudah mulai di nyalakan. Mereka pun sudah memesan makan malam mereka di pinggir pantai itu.
"Iya, Van. Mau nggak mau aku harus siap," jawab Kanaya.
"Kak Elvano sudah tidak bisa mengancamku lagi, Mamaku sudah bersamaku dan Papaku pun sudah tidak ada, bersama dengan perusahaannya." ujar Kanaya sambil menerawangi jauh ke arah sisa - sisa semburat jingga di ufuk barat.
"Aku ikut prihatin, Ay. Tapi kamu harus kuat. Mungkin saja Elvano akan melakukan berbagai cara agar kamu kembali kepadanya. Apa kamu sudah siap bertemu dengannya, besok?" tanya Devan lagi sambil memegang tangan Kanaya di atas meja.
Kanaya melihat tangan Devan yang mengenggam tangannya.
"Apa aku punya pilihan lain?" tanya Kanaya sambil mengangkat pandangannya ke arah Devan. Devan menggeleng.
__ADS_1
"Kalau kamu menginginkan perceraian ini berlangsung cepat, kehadiranmu sangat penting dalam proses mediasi ini," ujar Devan.
"Maka aku akan datang, Van. Aku tidak ingin berlama - lama dalam masalah ini," ujar Kanaya sambil menghela napas dalam.
Devan mengangguk.
"Aku akan selalu bersamamu, Ay." ujar Devan sambil mengeratkan genggaman tangannya sebelum ia melepasnya.
Makanan sefood pesanan mereka pun datang.
"Hmm... lezat sekali!" Gumam Devan. Sambil mengendus wangi bakaran ikan, udang, cumi dan saus padang pesanan mereka.
"Coba ini, Ay." ujar Devan sambil mengambil setusuk satai udang dan menyodorkannya ke mulut Kanaya.
Kanaya menggigit dan menarik udang yang ada di tusuk satai itu dan memakannya.
Ia pun mengangguk - angguk tanda menyetujui betapa lezat hingga mereka malam itu.
"Enak?" tanya Devan sambil menatap Kanaya.
"Enak," jawab Kanaya sambil mengunyah udang di mulutnya.
Devan mendekat dan membersihkan garis bibir Kanaya yang terkena noda bumbu satai dengan jarinya. Ia tersenyum saat mata mereka bertemu.
"Lagi?" tanyanya.
"Biar aku makan sendiri, Van. Kamu terlalu memanjakan aku." jawab Kanaya tersenyum malau. Ia pun menuendokkan nasi ke piring Devan, kemudian ke piringnya.
"Aku suka manjain kamu, Ay." jawab Devan sambil melirik ke arah Kanaya.
"Jangan, Van. Aku takut, akan terbiasa."jawab Kanaya tanpa menoleh ke arah Devan.
Devan memandang lekat wajah Kanaya yang tampak berusaha untuk tidak menatapnya.
"Kamu mau makan yang mana dulu,Van? Ini ya, aku ambilkan cumi kesukaanmu," ujar Kanaya sambil memgambilkan cumi saos padang pesanan mereka. Kanaya berusaha untuk tetap sibuk, mengalihkan pikirannya pada pandangan Devan padanya.
Bersambung...
Yeayy...Akhirnya Istri Pengganti Ceo sampai juga di Episode yang ke 100 hehe. Nggak nyangka bisa bertahan sejauh ini~~~
Terima kasih buat kalian semua yang sudah setia menanti updatetan terbaru dari IPC. hehe. Nantikan terus kisah mereka ya. Yang pastinya bakalan makin seru loh...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote, dan hadiahnya. Jika berkenan tekan tombol lik..like..like yang banyak yah...