
"Baik Tuan, maafkan saya. Hal itu tak akan terulang lagi. Saya mohon Tuan, ampuni saya," mohon Sarah dengan wajah yang ketakutan.Wajah yang pucat pasi,tidak menyangka jika Tuannya itu akan melindungi Kanaya sedemikian rupa.
Elvano menghentakkan Sarah dengan kasar. Hingga hampir saja Sarah terjelembab ke lantai.
"Dan itu juga berlaku bagimu Maya! Jangan pernah menyentuh Kanaya atau aku akan membuat perhitungan untuk kalian berdua! Paham?!" Ancam Elvano pada Maya dan juga Sarah.
Maya dan Sarah yang ketakutan dengan Amarah Elvano pun hanya mengangguk.
"Sekarang siapkan sarapan untukku!" perintah Elvano pada Sarah, dan Sarah pun bergegas pergi ke dapur sebelum di damprat lagi oleh Tuannya itu.
"Elvano, sudahlah, jangan marah lagi. Aku hanya tidak sengaja memarahinya pagi ini. Aku pikir dia tidak sengaja mematuhi aturanmu," rajuk Maya sambil bergelendot di lengan Elvano.
"Dengar Maya, hanya aku yang bisa melakukan apapun yang aku mau pada Kanaya. Dan ingat kau jangan pernah menyentuh dia tanpa seijinku!" ucap Elvano sambil menatap Maya.
"Baik Elvano, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Maya berpura - pura menyesal.
Elvano berbalik dan berjalan menuju ruang makan, Maya mengikutinya.
Sementara itu Kanaya yang sedang membersihkan kamar Elvano tidak tahu apa yang sudah terjadi di lantai dasar.
Ia membersihkan kamar Elvano sambil meneteskan air mata, tidak habis pikir, mengapa Elvano tidak membela harga dirinya paling tidak di hadapan Sarah, pelayan di rumah itu.
'Ternyata memang benar Kak Elvano benar - benar menganggapku bukan sebagai istrinya.' batin Kanaya
"Auuuu" pekik Kanaya ketika tangannya terkena pecahan kaca saat ia memunguti kaca frame foto yang pecah di lantai.
Dicabutnya pecahan kaca itu perlahan dari jarinya, kemudian di hisapnya darahnya yang ada di jarinya itu, berharap pendarahannya terhenti.
Sementara ia duduk di lantai dan berusaha menghentikkan pendarahan di jarinya, ia memunguti frame foto yang tengkurap menghadap ke lantai. Saat ia membalikannya ia melihat wajah Kak Devita disana bersama dengan Kak Elvano yang tersenyum bahagia.
"Kalian tampak bahagia," gumam Kanaya pelan.
'Harusnya Kakak yang menikah dengan Kak Elvano dan bukannya aku. Aku sangat yakin jika Kak Elvano pasti akan membahagiakan Kakak' batin Kanaya sambil meneteskan air mata.
Tiba - tiba pintu terbuka dan Elvano melangkah masuk.
__ADS_1
Kanaya segera menaruh foto yang di pegangnya ke atas meja dan mulai membersihkan kembali pecahan kaca yang ada di lantai.
Elvano masuk ke dalam kamarnya hendak mengambil telepon genggamnya yang tertinggal di meja atas nakas, dan ia sempat tetegun melihat Kanaya memegang fotonya bersama Devita. Ia pun berusaha mengabaikan apa yang di lihatnya, saat Kanaya menaruh foto itu kembali dan mulai membersihkan lantai.
Namun, langkah Elvano terhenti saat melihat darah yang menetes dari tangan Kanaya ke lantai, membuat noda bercak darah di lantai putihnya. Ia pun menghampiri Kanaya.
Kanaya yang melihat Elvano menatap lantai yang kotor karena darah yang menetes dari jarinya dan ia pun segera membersihkan lantai itu.
Kanaya sudah siap untuk kena damprat Elvano, karena ia mengotori lantainya, namun di luar dugaan Elvano berjongkok dan memegang tangannya yang berdarah dan memperhatikannya.
"Kamu ini ceroboh sekali!" ujar Elvano sambil menarik Kanaya berdiri.
"Maaf Kak Elvano, aku tidak sengaja. Aku akan mengepelnya nanti, " ujar Kanaya sambil mengikuti Elvano yang menariknya memasuki kamar mandi.
Elvano membuka Keran air di wastafel dan mengguyur jari Kanaya yang berdarah, kemudian dia mengeringkannya dengan tissu. Setelah itu ia berjalan beberapa langkah menghampiri kotak obat yang ada di dinding kamar mandi dan mengambil antiseptik serta perban yang berperekat. Kemudian mengobati luka Kanaya dan menempelkan perban itu di jari Kanaya.
Kanaya tertegun ia pikir Elvano akan mendampratnya habis, tetapi Elvano justru merawat lukanya.
"Lain kali cepat bersihkan lukamu sebelum kau mengotori kamarku?" ujar Elvano kemudian ia pergi meninggalkan Kanaya yang tertegun.
dan langsung pergi meninggalkan kamarnya kembali ke meja makan dimana sarah telah menyiapkan sarapan untuknya dan juga Maya.
"Lama sekali mengambil Handphone," keluh Maya dengan kesal. Rupanya Maya cemburu, karena di kamar itu ada Kanaya yang sedang membersihkan kamarnya.
Elvano tidak menanggapi ucapan Maya dan melanjutkannya makan.
"Darah apa ini? Apa kau terluka?" tanya Maya tiba - tiba saat ia melihat bercak noda darah merah di kemeja Elvano bagian depan.
Elvano melihat noda darah yang di tunjuk Maya sesaat. Ia tidak tahu jika darah Kanaya mengotori kemejanya.
"Bukan apa - apa, hanya noda saja," ujar Elvano tanpa memberitahu kejadian sebernarnya pada Maya.
Maya hanya cemberut dan meneruskan sarapannya.
Tiba - tiba telepon genggam Elvano berbunyi. Luna, mama Elvano yang meneleponnya.
__ADS_1
"Hallo Ma" ujar Elvano menjawab telepon mamanya.
"Halo Elvano bagaimana kabarmu dan juga Kanaya? Mama harap perjalanan bulan madu kamu menyenangkan." ujar Luna setelah mendengar sapaan Elvano.
"Ya Mah, kami sangat bersenang - senang," ujar Elvano sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi makan.
"Mama harap akan segera mendengar kabar gembira Elvano! Mama sudah tidak sabar ingin segera menggedong cucu Mama" ujar Luna dengan ceria.
"Oh iya Mah, semoga saja kami segera di karuniai," ujar Elvano pura - pura. Apalagi yang harus ia katakan.
Maya yang samar - samar mendengar pembicaraan Elvano dan Mamanya pun cemberut.
"Kanaya Mana? Mama mau bicara dengannya?" ujar Luna.
"Mmm.. Kanaya sedang di kamar mandi, Mah? Ada apa? Nanti biar Elvano sampaikan," ujar Elvano.
"Mama kangen banget sama Kanaya, ingin bicara dengannya. Sekalian kamu bilangin Ke Kanaya. Mama mau main kerumahmu nanti siang dan mengajak Kanaya pergi ke mall. Kanaya pasti sudah kangen berjalan - jalan ke mall dan berbelanja kan?" ujar Luna.
"Mama mau kesini? Jam berapa Ma?" tanya Elvano sambil terduduk tegak.
"Sekitar jam 10. Setelah itu kita langsung ke mall. Lisa juga sudah tidak sabar ingin berbelanja bersama dengan Kanaya," jawab Luna.
"Baiklah Ma, nanti Elvano sampaikan kepada Kanaya," ujar Elvano.
Dan setelah mengobrol dengan mamanya beberapa saat, Elvano pun menutup sambungan teleponnya.
Elvano terlihat berpikir sebentar sebelum ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke atas.
"Elvano, kamu mau kemana? Kenapa tidak di habiskan makanannya?" tanya Maya dengan kesal karena Elvano meninggalkannya. Apalagj Elvano berjalan keatas. Kemana lagi kalau tidak untuk menemui Kanaya?
"Ada yang harus aku kerjakan. Habiskan makananmu, setelah itu bersiap - siaplah Panji akan segera mengatarmu pulang?" ujar Elvano lalu lanjut berjalan ke atas dan masuk ke kamarnya.
Saat ia memasuki kamarnya, Kamarnya sudah terlihat rapi, dia tidak menemukan Kanaya di sana.
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote.