
Elvano masuk ke dalam mobil, begitu pula Anton yang sedari tadi mengikuti Elvano. Anton duduk di kursi depan bersama panji.
"Berikan kunci mobilmu!" Perintah Elvano tanpa menoleh ke arah Kanaya. Kanaya mengambil kunci mobil dari dalam tasnya dan memberikannya pada Elvano.
"Anton, suruh orang untuk membawa pulang mobil ini kerumah," ujar Elvano pada Anton sambil memberikan kunci mobil itu.
"Baik Pak," jawab Anton sambil menerima kunci mobil itu.
"Panji, ke rumah ujar Elvano."
"Maaf Pak, Bagaimana dengan meeting Bapak?" tanya Anton sambil melihat jam tangannya.
Elvano pun melihat jam tangannya, dan berdecak.
"Kak El, aku bisa pulang sendiri, kalian tidak perlu mengantarku," ujar Kanaya yang tak ingin menjadi beban bagi Elvano.
"Diamlah Kanaya, kalau kau ikuti perintahku untuk tidak pergi tanpa seijinku, semuanya tidak akan terjadi!" ujar Elvano dengan ketus.
Kanaya tidak merasa melakukan kesalahan apapun, ia pergi membawakan makan siang untuk Elvano, bukan untuk hal lain. Dan Kanaya juga tidak mengerti mengapa Elvano tidak membiarkannya pulang sendiri saja dan justru mengantarnya pulang saat ia tergesa - gesa? Tapi Kanaya tidak bertanya lagi. Ia cukup tahu Elvano tidak ingin di bantah.
"Telepon klien kita dan katakan aku akan sedikit terlambat," ujar Elvano.
"Cepat jalan Panji!" perintah Elvano.
Panji pun melajukan mobilnya secepat mungki melewati jalanan yang cukup padat hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
"Masuklah ke dalam rumah dan jangan pernah keluar tanpa seijinku lagi. Aku akan berbicara denganmu nanti," ujar Elvano sebelum Kanaya turun dari dalam mobil.
Kanaya mengangguk dan mencium punggung tangan Elvano sekali lagi.
Kanaya memandang mobil Elvano yang bergerak menjauh. Walaupun Elvano belum bersikap baik padanya, paling tidak ia sudah mau memakan masakannya dan itu membuat Kanaya tersenyum.
***
Kanaya menunggu Elvano pulang sore itu setelah tadi siang ia membawakan makan siang untuknya dan mengantarkanya pulang. Elvano bilang ia ingin bicara dengannya.
Dengan memakai kaos tee dan rok tile selutut, Kanaya menunggu Elvano di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Saat Elvano datang Sarah membukakan pintu.
__ADS_1
"Nyonya mana?" tanya Elvano pada Sarah.
"Sedang menonton televisi Tuan," jawab Sarah sambil menunjuk ruang keluarga.
"Sarah suruh semua pelayan keluar dari rumah ini dan tidak ada yang boleh masuk sampai aku mengijinkan," ujar Elvano dengan nada dingin.
"Baik Tuan," ujar Sarah patuh. Kemudian mulai memanggil semua pelayan untuk keluar, sementara Elvano berjalan ke ruang keluarga.
"Kak Elvano, kamu sudah pulang?" ujar Kanya sambil beranjak dari duduknya dan menghampiri Elvano.
Seperti biasa ia hendak mencium punggung tangan Elvano, namun kali ia mencengkram tangan Kanaya dengan keras.
"Aaaaarghh!" pekik Kanaya kesakitan.
"Murahan Kamu Kanaya!" tuduh Elvano padanya.
"Lepaskan Kak El, kamu menyakitiku," pinta Kanaya sambil meringis kesakitan.
"Kamu sengaja tidak mengikuti perintahku dan datang ke kantorku untuk menggoda laki - laki lain, Hah?!" tuduh Elvano.
Kanaya menggeleng sambil menahan sakitnya.
"Bohong! Aku sudah melarangmu dan kau tetap melakukannya! teriak Elvano kemudian menyeret Kanaya ke atas.
"Kak El, tolong lepaskan aku!" teriak Kanaya meminta di lepaskan. Ia hampir terjungkal karena tidak bisa mengimbangi langkah Elvano yang menariknya.
Elvano membawa Kanaya ke kamar paling ujung, kamar Kanaya, dan menghempaskannya hingga Kanaya mengenai sisi ranjang.
"Kau pikir kau bisa bermain mata dengan laki - laki lain saat aku tidak ada di sampingmu hah?!" teriak Elvano dengan emosi sambil melepaskan kait ikat pinggangnya.
Kanaya menggeleng sambil mengucurkan air matanya.
"Kamu salah paham Kak El, aku tidak pernah menggoda Pak Angga," ujar Kanaya lirih di sela - sela isak tangisnya.
"Pembohong!" teriak Elvano kemudian membalik badan Kanaya dengan kasar menghadap ke ranjang.
"Kak El, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kanaya dengan ketakutan.
"Kamu harus di hukum Kanaya! Semua ini karena ulahmu sendiri!" hardik Elvano di telinga Kanaya sambil menghimpit tubuh Kanaya di sisi ranjang.
__ADS_1
Dalam beberapa detik berikutnya sebuah cambukan mengenai punggung Kanaya!
Cetar!
"Arggghhh!!" teriak Kanaya sambil meneteskan air mata merasakan pedih di punggunya.
"Jangan pernah membantah perintahku!" teriak Elvano.
Cetar! sebuah cambukan mendarat kembali di punggung Kanaya, membuat Kanaya berteriak sangat keras dan menangis kesakitan.
"Dan ini hukuman karena telah menggoda laki - laki lain!" teriak Elvano. Sambil mencambukkan ikat pinggangnya dengan kencang di punggung Kanaya berkali - kali hingga Kanaya berteriak kesakitan dan akhirnya melemas. Tubuh Kanaya merosot ke lantai dan bergetar menahan sakit akibat cambukan dari Elvano.
Dengan terengah - engah karena emosi Elvano menghampiri Kanaya.
"Ini pelajaran untukmu Kanaya, jangan memandang dan tersenyum pada laki - laki lain. Kamu itu hanya milikku, dan tidak ada seseorang lelaki pun yang boleh menyentuhmu! Kamu dengar?" ujar Elvano sambil berjongkok di dekat tubuh Kanaya yang berbaring lemah di lantai.
Kanaya mengangguk, tubuhnya terlalu lemah untuk berkata - kata.
Elvano mendengus dan beranjak pergi meninggalkan Kanaya dengan membanting pintu kamar Kanaya dengan keras.
Kanaya sangat kesakitan dan ia menangis terus menerus. Ia mencoba bangun ke atas ranjangnya dengan susah payah dan bertelungkup disana merasakan pedih yang sangat di punggungnya.
Setelah satu jam sendirian, barulah Bella datang ke kamarnya dan membantunya berganti baju serta membersihkan luka cambuk Elvano di punggungnya.
Bella sendiri sampai menangis saat mengobati luka Kanaya, karena iba pada istri bosnya.
3 hari Kanaya hanya bisa tidur tengkurap karena sakit di punggungnya.
Beberapa hari setelahnya, Kanaya mendengar berita bahwa Angga di pindahkan oleh Elvano ke perusahan yang lain yang lebih kecil di luar kota.
***
Tujuh bulan sudah mereka berumah tangga dan Elvano masih memperlakukan Kanaya dengan tidak baik. Kanaya menanggung semua beban itu seorang diri. Ia tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya kepada orang lain.
Kanaya tidak pernah putus asa walaupun Elvano tidak pernah berubah. Elvano selalu memperlakukannya kasar, sebaik apapun ia mencoba berlaku baik padanya.
Elvano hanya memperlakukannya baik saat mereka sedang bersama orang lain atau keluarga. Orang - orang di luar rumah berpikir jika kehidupan Elvano dan Kanaya baik - baik saja. Tidak ada yang tahu kecuali pelayan rumah mereka yang tidak berani membocorkan apa yang mereka ketahui kepada orang lain.
Kanaya selalu melayani Elvano setiap hari, dan ia pula yang membersihkan rumah, walaupun Desi bersikeras untuk membantunya, tetapi ia selalu mengerjakan perintah Elvano padanya. Dan saat malam pun ia sering menunggu Elvano pulang dari kantor semalam apapun ia pulang. Kadang Elvano tidak pulang dan kadang - kadang Elvano pulang dalam keadaan mabuk dan Kanaya pulalah yang mengurus Elvano dari mulai membersihkannya sampai Elvano tidur di kamarnya.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan hadiahnya.