Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Mengikuti Petunjuk


__ADS_3

"Ibu Desi, bisa saya minta waktunya sebentar?" tiba - tiba seseorang berpenampilan gagah dan rapi bertanya kepadanya.



Visual Gilang Narendra.


"Maaf, saya tidak mengenal Bapak. Bapak siapa?" tanya Desi sambil mengerutkan dahinya, merasa tidak mengenal pria di hadapannya.


"Saya Gilang. Pak Devan yang menugaskan saya untuk mencari Ibu Kanaya," ujar Gilang berterus terang. Ia mempunyai insting jika Desi mempunyai niat baik untuk melindungi Kanaya, sama halnya dengan Gilang. Jadi mereka berada di pihak yang sama, dan tak perlu lagi bagi Gilang untuk berbohong.


'Pak Devan, Bukankah Pak Devan adalah laki - laki yang waktu itu mencari Nyonya dan yang berfoto bersamanya?' batin Desi.


"Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada ibu Desi, kalau ibu tidak berkeberatan," ujar Gilang dengan sopan.


Desi tampak ragu - ragu.


"Percayalah Ibu Desi, niat Pak Devan baik dan ingin melindungi mereka. Ia sangat mengkhawatirkan Ibu Kanaya," tambah Gilang.


"Baiklah Pak Gilang, biar saya menaruh belanjaan saya terlebih dahulu," ujar Desi.


Gilang pun membiarkan Desi menyelesaikan belanjaan dan menaruhnya di mobil yang mengantarnya dan kemudian bersama Gilang mereka masuk ke sebuah cafe persis di depan supermarket itu.


"Jadi, kemana mereka pergi?" tanya Gilang to the point.


Desi menghela napas.


"Saya pun ingin mengetahui keberadaan mereka, Pak. Tapi sejujurnya saya tidak tahu. Mereka benar - benar menghilang dan tak ada kabar," jawab Desi.


"Tapi Anda membantu mereka melarikan diri," ujar Gilang langsung.


Melarikan diri. Ya, mungkin kata itu memang tepat di ucapkan untuk mendiskripsikan kejadian saat itu. Desi memandangi wajah Gilang, menyadari pria berwajah tampan di hadapannya telah mengerjakan PR nya dengan baik.


"Saya tidak tahu apa yang Anda katakan, Pak," ujar Desi. Bagaimana pun ia bekerja pada Elvano, dan tidak mungkin ia mengakui perbuatannya.


Gilang tersenyum dan menatap ke arah lain, tidak percaya dengan ucapan Desi.


"Saya tahu ada sesuatu yang terjadi semalam sebelum Ibu Kanaya pergi, yang membuat Ibu Kanaya begitu ketakutan dan trauma. Saya rasa itulah sebabnya Anda membantunya pergi hari itu," ujar Gilang pada Desi.


"Saya memang bersimpati pada Nyonya, tapi saya pun loyal pada Tuan yang mempekerjakan saya," ujar Desi mengatakan posisinya di depan Gilang.


"Pak Gilang, saya benar - benar tidak tahu tentang keberadaan mereka, tetapi...." ujar Desi tertahan dan menengok ke kanan dan ke kiri sejenak.


"Nyonya sangat suka menulis, carilah Cassandra atau..... Fandi, teman dekat Bella, dia mungkin bisa membantumu," ujar Desi kemudian beranjak dari duduknya.


"Fandi siapa?" tanya Gilang.

__ADS_1


"Bapak pasti bisa menemukannya," ujar Desi, kemudian ia pergi meninggalkan Gilang.


Selepas kepergian Desi, Gilang mencari tahu mengenai Bella Syafira, yang biasa di panggil Bella. Gilang mencari namanya di beberapa media sosial berdasarkan data yang ia dapat dari Kapten Lian. Dan ia pun berhasil menemukan Irfandi teman dekat Bella. Tetapi Gilang tidak menemukan satu hal pun mengenai Cassandra yang ada hubungannya dengan Kanaya, Bella atau pun Fandi.


Ia pun menelepon Rafael untuk memintanya mengecek nama Cassandra,"


"Kau ini sungguh tidak sabar!" Seru Rafael padanya.


Gilang tertawa mendengar gerutuan Rafael.


"Aku meneleponmu untuk memberimu tambahan tugas," ujar Gilang beranjak dari duduknya.


"Hmmm..." respon Rafael.


"Bisa kau cari tahu, seseorang yang bernama Cassandra yang berhubungan dengan Kanaya Zavira? Aku sudah mencarinya dan tidak menemukan hasil apapun "ujar Gilang.


"Oke," jawab Rafael.


"Gilang.." panggil Rafael.


"Iya," jawab Gilang singkat.


"Gadis itu... Kanaya Zavira, tampaknya tidak sering menggunakan rekening bank miliknya. Mengherankan, Istri pengusaha sesukses Suaminya, tidak memiliki banyak uang dalam tabungannya," ujar Rafael.


"Mungkin ia memiliki tabungan yang lain," jawab Gilang.


"Suaminya tidak pernah mengiriminya uang, Gilang?" ujar Rafael.


"Kecuali suaminya memberi tabungan, miliknya," tambah Rafael.


"Hmmmm..." gumam Gilang.


"Anyway, satu hal lagi. Ia sempat mendapatkan transferan uang masuk dari sebuah layanan keuangan online secara berkala. Tidak banyak, tetapi ia mendapatkannya setiap bulan dan ia menstransfer hampir seluruh uangnya kepada Ratna Adi Wiguna, Ibunya. Dan ia belum mendapatkan transferan lagi ataupun menggunakan rekeningnya sejak 2 minggu ini," ujar Rafael.


"Apa maksudmu dengan layanan keuangan online?" tanya Gilang.


"Kau tahu, fitur pembayaran online, seperti ia mendapatkan uang dari transaksi jual beli atau apalah itu secara internasional," ujar Rafael.


"Mungkin suaminya?" tanya Gilang.


"Aku rasa tidak. Feelingku ia mendapatkannya dari sumber lain. Agak sedikit sulit mendapatkan datanya, tapi saya sedang mengerjakannya. Nanti ku kabari," ujar Rafael sambil memutus sambungan teleponnya.


'Rafael, si jenius yang selalu tak punya sopan santun selalu memutus sepihak sambungan teleponnya," batin Gilang sambil geleng - geleng kepala.


***

__ADS_1


Gilang sekarang berada di dalam mobil sewaannya. Memperhatikan Fandi yang sedang makan di sebuah cafe bersama teman - temannya, saat sebuah telepon tanpa ID penelepon menghubunginya. Gilang langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Ya?" Jawab Gilang seperti sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya.


"Kamu tau aku, Gilang," ujar Rafael dari sebrang teleponnya.


"Apa yang kau dapat," jawab Gilang.


"Layanan keuangan online itu terhubung ke suatu akun yang mendapatkan dana yang cukup besar setiap bulannya, dan...." ujar Rafael dan Gilang menunggu.


"Dana itu di transfer dari perusahaan besar yang bergerak di bidang aplikasi novel online," ujar Rafael.


Gilang pun teringat ucapan Desi, yang mengatakan jika Kanaya adalah seorang penulis.


"Dia seorang penulis novel dan dari situ, ia mendapatkan uang," gumam Gilang.


"Cassandra." ujar Rafael.


"Siapa dia?" tanya Gilang penasaran.


"Cassandra adalah Kanaya Zahira, Gilang. Itu adalah nama penanya, ia di kenal sebagai Cassandra oleh banyak orang," ujar Rafael.


"Dan?"


"Dan ia masih mempunyai sejumlah dana di akunnya, namun sudah dua kali ini dia mentransfer ke rekening seseorang bernama Fan..." ujar Rafael namun tidak selesai karena Gilang langsung memotongnya.


"Irfandi," ucap Gilang sambil menatap seorang laki - laki muda yang tengah mengobrol dengan teman - temannya.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Rafael.


"Karena aku sedang menatapnya saat ini," jawab Gilang sambil bersandar di sandaran kursi mobilnya.


"Hmmm.. berarti kau sudah dekat dengannya," ujar Rafael.


"Apa Fandi melakukan penarikan uangnya setelahnya?" tanya Gilang.


"Hmmm...., tunggu sebentar," ujar Rafael dan terdengar suara ketikan papan keyboard saat ia tengah mencari sesuatu di komputernya.


"Ya. tadi siang, ia menarik uang yang di kirim Kanaya padanya," ujar Rafael.


"Aku rasa kamu tidak membutuhkan bantuanku lagi. Sampai nanti, Gilang!" ujar Rafael dan memutus sambungan teleponnya.


Gilang menaruh telepon genggamnya di dashboard mobilnya dan bergumam, " Kapan kau akan mengantarkan uang itu Fandi?"


Dan Gilang pun menunggu Fandi selama satu jam berikutnya, hingga Fandi beranjak dan pamit kepada teman - temannya setelah mendapatkan sebuah panggilan telepon.

__ADS_1


Jangan lupa, like komen dan vote.


__ADS_2