Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Di Taman


__ADS_3

Devan yakin Kanaya belum berjalan jauh, sehingga ia pun meneruskan pencariannya hingga ia berhenti di sebuah taman yang cukup ramai.


Devan terengah - engah dan menghampiri sebuah kios rokok yang menjual makanan kecil dan minuman. Ia mengambil air mineral kecil dan lansung meneguknya.


" Mas lihat Mbak, ini?" tanya Devan sambil menujukkan foto Kanaya untuk ke sekian kalinya pada semua orang yang tak di kenalinya.


Penjaga kios itu memperhatikan foto Kanaya dan ia pun melihat ke sekitar taman.


"Itu, PaK!" Ujarnya sambil menunjuk sekumpulan anak - anak yang sedang bermain dan seorang wanita yang sedang duduk di taman.


Awalnya ia heran apa yang di tunjukkan oleh penjaga kios itu, hingga ia bergeser untuk mengambil handpohenya dan terlihatlah Kanaya yang sedang duduk di rumput bersama - sama anak kecil. Ia terlihat tersenyum dan berbicara dengan anak - anak yang ada di sana.


Perlahan Devan berjalan ke arah Kanaya ia tampak sangat bahagia berbicara dengan anak - anak usia balita dan sekolah dasar yang ada di sana.


Devan hanya berdiri di sana dan memperhatikan Kanaya dan sepertinya, Kanaya tidak mengetahui kehadirannya.


"Bapak, anaknya yang mana?" tanya seorang Ibu - ibu muda itu padanya.


Devan tidak menjawab dan menunjuk Kanaya.


"Oh itu, Mbak itu suka sama anak - anak, dia sendiri yang tiba - tiba ngajak bermain anak - anak di sini, akhirnya semuanya pada ngumpul dan dia lanjut ceritain dongeng. Lumayan Pak, anak - anak bisa dengerin dongeng gratis," ujar Ibu itu sambil terkekeh.


" Kata Ibu itu, Mbaknya tinggal di sana, tetangganya. Itu, Pak rumah gede yang tingkat itu, jadi kita nggak usah khawatir, asal di lihatin aja anaknya, Pak," ujar Ibu itu lagi sambil menunjuk seorang Ibu lain beberapa meter dari tempatnya Devan berdiri. Devan memang tidak mengenal Ibu yang di tunjuk barusan, namun ia pernah melihatnya di lingkungan rumahnya.


Akhirnya Devan memilih menunggu Kanaya selesai bercerita dan duduk di rumput tak jauh dari Kanaya. Hingga waktu semakin sore dan anak - anak itu mulai pulang satu persatu. Devan pun beranjak dan berjalan mendekati Kanaya.


"Terima kasih Tante, sampai ketemu lagi ya bye bye.." ucap seorang anak perempuan dengan kepang dua kepada Kanaya, saat pengasuhnya membawanya pulang.


Kanaya melambaikan tangan dan tersenyum.


Kanaya tidak menyangka kedatangannya ke taman bisa membuat hatinya menjadi tenang.

__ADS_1


*** Flashback beberapa saat yang lalu..... ***


Di tatapnya anak berusia tiga tahun itu. Wajah anak itu begitu tak berdosa, lucu dan sangat menggemaskan.


Kanaya tersenyum dan memberikan bola warna warni itu padanya, " Telima kacih, Tante," ujarnya sambil menerima bola warna warni itu. Kemudian datang Ibunya dan menciumi anak itu di depan Kanaya. Betapa ia sayang dengan anaknya.


Kanaya tersenyum mengingat kasih sayang Mamanya yang juga melakukan hal yang sama padanya dan Kak Devita saat mereka kecil dulu. Dan seketika ia teringat pada jabang bayi yang ada di dalam dirinya. Tak disadarinya ia memegang perutnya sendiri dan mengelusnya. Terbesit perkataan Devan padanya saat di rumah sakit siang itu.


"Anak itu tidak berdosa, Ay. Dia mengandalkanmu, Ay."


Devan benar, anak itu, yang tumbuh di dalam dirinya adalah anaknya, darah dagingnya. Meskipun ia tercipta saat malam terkutuk itu, namun anak itu tidak berdosa sama sekali. Anak itu suci, dan dia tidak bersalah atas apa yang Ayahnya lakukan pada Ibu yang mengandungnya.


Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Kanaya beranjak dari bangku Taman itu, dan menghampiri sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain di taman itu dan ikut bermain bersama mereka.


*** Flashback berakhir ***


Kanaya tersenyum dan mengelus perutnya yang mulai tampak sedikit benjolan di sana.


Tiba - tiba matanya tertumbuk pada sepasang sepatu kulit hitam yang berhenti di depannya. kanaya pun mendongak dan melihat pemilik sepatu itu.


Devan duduk bersila, tepat di hadapan Kanaya.


"Bagaimana perasaanmu, Ay?" tanya Devan sambil menatap wajah Kanaya, yang masih menatapnya dengan terkesima.


'Perasaanku?' batin Kanaya berpikir keras mencari jawaban pertanyaan itu.


"Rasanya... aku tidak tahu... mungkin, aku sudah merasa ikhlas.. ikhlas... dan menerima, mungkin ini memang jalan hidupku..." ucap Kanaya dengan sedikit bergetar.


Kanaya merasa itulah yang di rasakannya. Ia belum merasa bahagia ataupun bersorak gembira atas kehamilannya, namun tidak pula menyesal mengandung anak itu.


Untuk saat itu, Kanaya merasa cukup dengan perasaannya itu. Ikhlas dan menerima...

__ADS_1


Devan merasa lega mendengar ucapan Kanya, paling tidak ia sudah tidak lagi menolak anak itu, dan itu adalah suatu kemajuan yang harus ia syukuri.


"Aku ikut senang, Ay." ujar Devan sambil menggenggam kedua tangan Kanaya.


"Kita pulang ya?" ajak Devan.


Kanaya mengangguk dan ia pun beranjak dari duduknya.


*****


Dua bulan berlalu dan perut Kanaya mulai membesar. Ia pun sudah mulai bekerja di Apartement milik Ibu Rena. Ibu Rena memang sangat baik pada Kanaya, sehingga mau menunggu hingga Kanaya untuk siap bekerja.


Bekerja di sana tidak terlalu membuatnya lelah, sekali - kali ia harus menginspeksi unit Apartement yang bermasalah, akan tetapi fasilitas yang ada di dalam Apartement itu tidak menyulitkannya. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari rumah Devan. Sehingga, saat Devan tidak bisa menjempunnya pulang pun, ia bisa dengan mudah pulang dengan taksi.


Tok! Tok! Tok!


" Masuk!" Seru Kanaya saat seseorang mengetuk pintu kantornya.


Kepala Devan menyembul dari balik pintu, senyum merekah dari bibir Devan saat di lihatnya Kanaya tersenyum padanya.


"Sudah siap?" tanya Devan sambil melangkah masuk ke dalam kantor Kanaya dengan memakai celana berwarna abu - abu dan kemeja putih yang ia gulung hanya dengan sebatas lengan saja.


Biasanya Devan akan selalu memakai jas rapi dan lengkap dengan dasi jika ia bekerja. Namun, sore itu ia tampak sangat santai.


"Sebentar lagi," ujar Kanaya sambil mengambil sebuah folder dan memasukkanya kembali beberapa lembar kertas ke dalamnya. Ia membereskan meja kerjanya sesaat sebelum ia meraih tas tangannya dan berkata, " Ayo, Van.Aku udah siap sambil berjalan menghapiri Devan."


Perut Kanaya saat itu sudah semakin membesar dengan usia kandungan yang mencapai 4 bulan. Rencananya sore itu, ia akan memeriksakan kandungannya itu ke dokter kandungan dengan di antar oleh Devan.


"Hesty, aku pergi dulu ya. Nanti kalau ada apa - apa kamu bisa telepon ke saya." ujar Kanaya pada staf recepsionisnya, Hesty.


"Iya Bu, hati - hati di jalan," jawab Hesty sambil tersenyum memandang ke arah Managernya melangkah keluar lobby apartement dengan Devan Permana. Karyawan Kanaya sudah mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Kanaya. Sehingga, mereka tidak pernah membicarakan atau bergosip mengenai hubungan bosnya itu dengan pengacara kondang Devan Permana. Selain itu Ibu Rena pun melarang keras untuk membicarakan atau menggosipkan Kanaya di belakangnya,"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2