Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Berita Televisi


__ADS_3

"Tunggu Kak Elvano. Ada apa sebenarnya?" tanya Kanaya sambil memegang lengan Elvano, menghentikannya dari apa yang tengah di lakukannya.


"Aku hanya membantumu packing, Ay." jawab Elvano sambil memaksakkan sebuah senyuman.


"Kita harus cepat bergegas karena pesawat akan segera berangkat 45 menit lagi," ujar Elvano masih menutupi berita kecelakaan Devan. Kanaya menatapnya dan mengobservasinya.


"Ay, jangan berpikir yang tidak - tidak," ujar Elvano, kemudian ia kembali mengepak pakaian dan barang - barang mereka.


Karena tidak bisa mendapatkan jawaban apa pun dari Elvano, Kanaya keluar dari kamar dan memanggil Alvaro dan Clara untuk bersiap - siap.


Dalam waktu setengah jam. Mereka berempat sudah berada dalam kendaraan yang akan mengantar mereka ke bandara.


Elvano berusaha bersikap biasa saja, seakan - akan tidak ada hal buruk yang telah terjadi.Meskipun begitu ia merasa bersalah karena menutupinya dari Kanaya. Tetapi ia lakukan semua itu demi kebaikannya.


Namun, betapun Elvano berusaha menutupinya, ada hal lain yang tidak bisa ia bendung. Sebuah pesan masuk ke telepon Kanaya dari Lina, salah satu karyawan di apartemennya.


"Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi, Bu Kanaya," pesan dari Lina.


Kanaya mengerutkan dahinya. Apa maksudnya pesan dari Lina?


Belum sempat ia menjawab, Lina sudah mengirimkan pesan lagi.


"Bagaimana kedaan Bapak, Bu? Saya harap, Bapak baik - baik saja."


"Apa maksud Lina... Devan?" batin Kanaya heran. Ia pun membalas pesan dari Lina.


"Maksud kamu apa Lina?"


Ia menunggu jawaban dari Lina dengan was - was. Namun, Lina tidak menjawabnya. Di pandanginya Elvano sedang menemani Alvaro dan juga Clara di pesawat itu. Kedua anaknya itu sedang menikmati kudapan dan coklat hangat yang di sediakan oleh pramugari di pesawat.



Perasaan Kanaya semakin tidak enak. "Apa terjadi sesuatu pada Devan? Ya Tuhan, semoga tidak" batin Kanaya.


Ia pun mencoba menghubungi telepon Devan melalui WA Call, namun masih tidak di angkat olehnya.Ia lalu menghubungi Siti, asisten rumah tangganya.


"Siti...." baru saja Kanaya menyapanya, ia sudah mendengar isak tangis Siti.


"Siti... ada apa?" tanya kanaya dengan perasaan yang tidak enak.


"Bu, apa Ibu sudah mau pulang?" tanya Siti.


"Ya, aku dan anak - anak dalam perjalanan. Bapak mana?" tanya Kanaya.


Tangis Siti semakin keras saat menanyakan tentang Devan.

__ADS_1



"Siti? Siti? Bapak mana?" tanya Kanaya yang mulai panik, karena Siti tidak memberitahu dimana Devan.


Elvano yang saat itu mendengar suara Kanaya menanyakan Devan, segera menoleh. Ia melihat mimik wajah Kanaya yang panik, dan ia segera menghampirinya dan meraih telepon genggam Kanaya.


"Kak Elvano, apa yang sedang kamu lakukan? Aku sedang telepon," protes Kanaya setengah panik, karena ia sangat ingin bicara dengan Devan.


Elvano mematikan percakapan telepon itu dan memasukkan telepon genggam Kanaya dalam kantong celanya.



"Kak Elvano! Berikan aku teleponku! Aku ingin berbicara dengan Devan!" Pinta Kanaya dengan memandang tajam Elvano.


"Devan sedang tidak bisa bicara denganmu, Ay?' ujar Elvano perlahan.


"A... apa maksudmu, Kak Elvano? Dimana Devan?" tanya Kanaya semakin panik. Suaranya cukup menarik perhatian Alvaro dan Clara. Sehingga kedua anak itu menoleh.


"Ay, tenang. Aku akan beritahu dimana Devan. Tapi, tidak di sini. Ikut aku," ujar Elvano sesaat setelah ia menoleh ke arah Alvaro dan Clara.


Sepertinya ia harus memberitahu Kanaya, mengenai Devan, dan Ia tidak ingin melakukannya di depan Alvaro dan Clara.


Elvano masih meraih tangan Kanaya dan membawanya masuk ke kabin belakang dan menutup pintunya, kabin belakang itu adalah sebuah kamar lengkap dengan ranjang dan kamar mandi ensuite kecil. Sebuah pintu memisahkan kabin itu dengan kabin penumpang di tempat mereka duduk tadi.


Elvano berpikir sejenak, bagaimana ia akan mengatakannya pada Kanaya. Saat tiba - tiba Raka menghubungi melalui WA Call.


"Sebentar Ay, aku... terima ini sebentar saja," ujar Elvano sambil berjalan keluar kabin dan menerima telepon dari Raka di sana. Ia berharap Raka dapat memberikan kabar baik mengenai kondisi Devan. Elvano sendiri belum berani mengorek informasi mengenai Devan karena posisinya di dekat Kanaya dan juga anak - anak.


Kanaya menatap punggung Elvano, saat ia keluar dari pintu kabin, dan menghela napas. Bagaimanapun ia harus menunggu Elvano selesai menerima panggilan teleponnya.


Sambil menunggu Elvano selesai menelepon, ia menyalakan televisi yang ada di kamar itu dan mencari program yang menarik. Akan tetapi tangannya berhenti memencet remote, saat ia melihat program berita yang membuat matanya menatap tidak percaya pada apa yang di lihatnya. Ia melihat kendaraan yang sangat familiar baginya tampak rusak berat.


"Kecelakaan yang menimpa mobil yang membawa Devan Permana SH, sore ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Saat kejadian terdapat 4 orang dalam kendaraan dan sudah di pastikan satu di antaranya tewas, dan tiga lainnya luka parah..."


Kanaya tidak lagi mendengarkan penuturan repoter berita itu, karena pandangannya menjadi buram dan ia sudah tidak ingat apa - apa lagi.


Elvano yang baru saja selesai berbicara dengan Raka, dan merasa memanggul beban yang berat. Raka baru saja memberitahu bagaimana keadaan di sana, saat ia telah sampai di rumah sakit. Setelah menarik nafas dalam ia pun masuk kembali ke kabin pesawat dan sangat terkejut saat melihat Kanaya sudah tergeletak di lantai kabin dan televisi masih menyala dengan berita mengenai kecelakaan yang menimpa Devan Permana.


"Kanaya!" Panggilnya sambil setengah berlari menghampiri Kanaya.


"Ay! Kanaya!" Panggilnya berusaha membangunkan Kanaya. Kanaya tampak tidak sadarkan diri. Ia pun mengendong Kanaya dan membaringkannya di atas ranjang. Elvano memencet tombol ke tempat pramugari dan dalam beberapa menit, seorang pramugari datang.


"Ada yang saya...."


"Mbak, tolong ambil P3K!" Perintah Elvano sambil ia membuka beberapa kancing baju milik Kanaya agar pernafasaannya tidak terganggu.

__ADS_1


Pramugari itu segera mengambil kotak P3K dan mengambil minyak kayu putih seperti permintaan Elvano.


"Kanaya..., Ay." panggil Elvano sambil menepuk pipi Kanaya perlahan dan mendekatkan botol minyak kayu putih di dekat hidung Kanaya.


Bulu mata Kanaya sudah mulai bergerak menandakan bahwa ia sudah mulai siuman.


"Devan..." panggil Kanaya perlahan. Mendengar Kanaya memanggil nama Devan. Membuat hati Elvano terasa perih, bukan karena ia cemburu, melainkan menyadari Kanaya memanggil Devan karena ia telah mengetahui tentang kecelakaan itu.Ia bisa merasakan kesedihan Kanaya dan kekhawatiran akan kehilangan Devan.


"Ay...." panggil Elvano dengan lembut sambil menggenggam satu tangannya dan menepuk pipinya dengan tangannya yang lain.


"Devan, apa itu kamu?" tanyanya sembari ia membuka matanya.


Hanya sedetik Kanaya tertegun, sebelum ia melonjak duduk dan berkata! "Oh.., aku cuma mimpi!"


Kanaya terlihat lega. Rupanya ia masih belum bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan.


"Aku mimpi saat melihat berita tentang Devan...." ucapannya terhenti saat pandangan matanya menangkap layar televisi di kabin kamar itu yang mirip dengan apa yang ada di mimpinya, dan ingatannya pun kembali seiring berubahnya raut wajah Kanaya.


"Ay..., maaf." ujar Elvano merasa ikut sedih.


"Kak Elvano, cepat katakan! Semuanya itu tidak benar kan?" tanya Kanaya dengan histeris. Kedua mata menggenangnya menatap ke dalam mata Elvano, mencari pembenaran.



"Maaf Ay... itu benar. Raka yang memberitahuku....." ujar Elvano.


"Devaannnnn..." panggil Kanaya sambil ia menangis.


"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Kanaya pad Elvano dan masih tidak percaya jika Devan mengalami kecelakaan demikian parah, dari kondisi mobil yang di lihatnya dari berita televisi.


"Aku juga belum jelas, apa yang terjadi. Kamu harus sabar ya," ujar Elvano mencoba menenangkan Kanaya.


"Apa dia baik - baik saja? Dia... masih hidupkan? Devan masih hidupkan, Kak El?" tanya Kanaya dengan tatapan penuh harap pada Elvano. Ia teringat apa yang di dengarnya dari berita televisi, bahwa ada 1 orang yang tewas dan 3 yang lainnya mengalami luka.


Elvano menarik nafas dalam sebelum menatap Kanaya.


"Kak Elvano... tolong beritahu aku," ucap Kanaya lirih. Air matanya tidak berhenti mengalir membayangkan yang terburuk yang terjadi.



Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2