
Yohanes Elvano Alvarendra POV
"Ke rumah sakit Arya." ujarku pada supirku Arya.
"Baik Pak," jawabnya dengan patuh seperti biasa.
Pagi itu, entah kenapa aku ingin menjenguk Devan lebih pagi. Biasanya aku akan menjenguknya saat ada waktu luang di sela - sela kesibukan kantor. Namun pagi itu, aku ingin bertemu dengannya, untuk mengucapkan terima kasih entah untuk yang ke berapa kalinya padanya.
Aku sedih melihat kondisinya. Aku sama sekali tidak menyangka akan hal ini terjadi padanya. Namun, sekali lagi manusia hanya bisa merencanakan dan menjalani, namun pada akhirnya kekuasaan yang ada di atas sana lah yang menentukan jalan akhirnya.
Devan tidak pernah tersadar sejak kecelakaaan itu, hal yang terakhir yang ku ingat adalah vidio call kami siang itu, saat di kota L saat aku, Alvaro dan Clara sedang bermain pasir di depan cottage sewaan kami.
Satu hal yang sampe sekarang membuatku tertegun dan berpikir jika saat itu adalah pertemuan terakhirnya dengan kami adalah apa yang ia katakan saat itu. Pesannya pada Kanaya, Alvaro, Clara dan juga padaku.
Kanaya,Alvaro dan juga Clara sedang masuk ke dalam cottage karena Clara ingin ke toilet, tinggal Devan dan aku yang berada di sana. Kami berbicara berdua.
**** Flashback On ******
"Elvano, terima kasih," ujar Devan padaku saat itu.
"Stop bicara seperti itu, Van. Kalian keluargaku juga. Kalian tidak berhutang apapun padaku," jawabku, tidak ingin membesar - besarkan apa yang aku lakukan untuk mereka. Mereka adalah keluargaku, dan keluarga tidak saling pamrih bukan?
"Kanaya dan anak - anak tampak bahagia berlibur kesana," ujar Devan.
"Hmmm ya, tempatnya cukup bagus dan juga nyaman. Kamu harus segera kesini, Van. Dan melihat tempat yang indah ini," jawabku.
"Ya, kalau waktu masih berpihak kepadaku," jawab Devan saat itu.
"Devan, Devan, kamu ngomong apa!" Ujarku padanya sambil terkekeh. Menganggap omongannya adalah lelucon. Dan dia menanggapinya dengan tersenyum.
"Elvano," panggilnya. Matanya seperti menatap tajam padaku
"Ya?" jawabku.
"Kalau sesuatu terjadi padaku, maukah kamu menjaga mereka untukku?" tanyanya.
"Devan, sudahlah, berhenti bicara yang tidak - tidak! "Celotehku padanya, tidak ingin menganggap serius ucapannya.
Pertanyaan apa macam itu? Tanpa dimintanya aku pun akan melakukannya. Keluarganya adalah juga keluargaku. Aku menyayangi mereka seperti mereka adalah keluargaku juga.
"Aku tahu kamu akan melakukannya meskipun aku tidak memintanya. Aku tahu kamu menyayangi mereka, sama besar seperti aku menyayangi mereka," ucap Devan.
"Dan aku juga tahu, kamu masih sangat mencintai Kanaya," tambahnya.
__ADS_1
Aku terkejut dengan perkataannya. Membuatku memandangnya sesaat sebelum aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, entahlah obyek apapun yang bisa tertangkap mataku, namun tapi tidak sampai ke benakku, karena benakku sedang memikirkan apa yang di katakannya baru saja.
"Aku tahu berat bagimu melihat aku dengannya, tapi ternyata kamu bisa mengikhlaskannya," ucap Devan lagi.
"Jadi sekarang saatnya bicara dari hati ke hati?" batinku sambil memandang wajahnya di layar telepon genggam itu.
"Aku akui, aku masih sangat mencintai Kanaya. Aku minta maaf, karena sulit bagiku untuk melupakannya. Tetapi aku akan menepati janjiku, Devan. Aku tidak akan pernah menganggu rumah tangga kalian," ucapku.
Devan tersenyum.
"Aku mengerti kenapa kamu tidak bisa melupakkannya, terkadang aku pun sangat cemburu padamu," ujar Devan sambil terkekeh.
"Kanaya adalah seseorang yang easy to love, hard to break dan impossible to forget, bukan begitu Elvano?" tanya Devan sambil tersenyum.
Aku tersenyum, harus ku akui bahwa Devan benar.
Seandainya aku lebih bijaksana beberapa tahun yang lalu untuk melihat bahwa Kanaya adalah seseorang yang layak untuk di cintai dan tidak mudah untuk aku lupakan, mungkin aku tidak akan pernah menjadi monster dalam hidupnya,dan jalan hidup kami akan berbeda.
Tetapi garis hidup berbicara lain. Untuk sampai di posisiku saat ini, aku harus menempuh berbagai hal buruk yang membuatku bertambah dewasa dan lebih bijak dalam menyikapi hidup. Dan semua itu karena Kanaya.
"Seperti yang kamu katakan, Devan. Aku sudah menerima semua ini dengan lapang dada. Aku senang dia bahagia bersama denganmu," ujarku jujur.
"Kalau begitu tidak ada masalah, Elvano. Berjanjilah, kamu akan menjaga Kanaya dan anak - anak saat aku tidak ada." ujarnya lagi, meminta aku mengucapkan janji itu padanya.
"Ya, kamu tidak perlu kuatir Devan. Aku janji akan menjaga mereka. Mereka akan baik - baik saja bersamaku," ucapku padanya.
Raut wajahnya berubah, seperti hilang beban di pundaknya saat aku mengatakan itu.
"Sekarang aku bisa tenang, Elvano. Terima kasih," ucapnya, kemudian ia tersenyum dan menyapa Clara yang tahu - tahu sudah berlari ke arah kami.
Dan suasana kembali ramai oleh canda kami berlima.
***** Flashback Off ****
"Kita sudah sampai, Pak." ujar Arya sambil menoleh ke arahku.
Cepat sekali waktu berlalu, dan tiba - tiba kami sudah sampai di rumah sakit.
"Ok kamu parkir ya, aku mungkin agak lama di dalam," ujarku padanya.
"Ya Pak," jawabnya sambil mengangagguk. Aku turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit yang tampak familiar saat ini. Perawat yang kutemui pun sudah akrab menyapaku.
"Pagi, Pak Elvano," sapa beberapa perawat sambil tersenyum manis saat aku melewati mereka.
__ADS_1
"Pagi," jawabku sambil membalas senyuman mereka, yang membuat mereka saling bisik setelahnya. Biarlah, aku tidak terlalu ambil pusing apa yang mereka bisikkan. Tujuanku kesini adalah untuk menjenguk Devan, bukan untuk hal ini.
Akhirnya, aku sampai di depan ruang ICU, dan seperti biasa aku di wajibkan untuk mencuci tangan dan memakai pakaian steril dari rumah sakit itu.
Aku duduk di dekat ranjang Devan dan memandang wajahnya yang tersenyum damai. 'Apakah perasaaanku saja atau memang ia terlihat berbeda pagi ini?' batinku
"Pagi Devan," sapaku padanya.
"Entah mengapa aku ingin menemuimu pagi ini. Aku senang melihatmu tampak damai. Aku harap ini suatu pertanda yang baik untukmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik bagimu, Van." ujarku padanya, seakan - akan ia duduk di depanku dan mendengarkan ucapannku.
"Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan menepati janjiku padamu. Aku ingin kamu tenang dan tidak perlu khawatir. Karena aku akan menjaga Kanaya, Clara dan juga Alvaro, mereka akan baik - baik saja," ujarku.
"Selamat jalan Devan. Ku doakan yang terbaik untukmu kawan," ucapku sambil ku genggam tangannya dengan erat seperti ini adalah kali terakhir aku menemuinya.
Ah, lega rasanya. Sudah ku katakan apa yang ingin kukatakan padanya. Aku harap, hal ini akan membuatnya tenang dan apapun yang terjadi padanya adalah yang terbaik baginya. Aku pikir sudah waktunya untuk melepaskannya, membiarkannya tenang di sana. Dan aku berharap, Kanaya pun bisa melepaskannya seperti hal nya aku.
Aku keluar dari ruang ICU dan terkejut melihat Kanaya berdiri di depan ruangan itu bersama Alvaro dan juga Clara.
Aku pikir hanya aku yang datang sepagi itu, untuk menemui Devan. Ternyata Kanaya, Alvaro dan Clara?
"Ay, kok tumben kamu pagi - pagi sudah kesini?" tanyaku ingin tahu.
"Mmm ya, Kak El. Kami ingin bicara pada Devan." ujarnya sambil tersenyum pada Alvaro dan juga Clara, seperti memberi mereka kekuatan. Kemudian ia membawa mereka masuk kedalam ruangan itu.
Aku memperhatikan apa yang mereka lakukan pagi itu. Mereka mengobrol pada Devan, seperti yang baru aku lakukan. Seakan - akan Devan ada di sana dan mendengarkan mereka. Tetapi pagi itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda entah apa.
"Semoga ini yang terbaik untuk semua," ujar seseorang yang berdiri di sampingku. Saat aku menoleh, aku mengenalnya sebagai Dokter yang merawat Devan selama ini.
"Maksud Dokter?" tanyaku padanya ingin tahu, kenapa tiba - tiba ia berkata seperti itu.
"Ibu Kanaya baru saja menandatangi pelepasan life support Pak Devan," ujar Dokter itu, sambil menoleh ke arahku.
Aku tertegun, hampir tidak percaya dengan pendengaranku?
Kanaya menandatanganinya? Sebelumnya Kanaya bersikeras tidak ingin menandatangani surat itu. Karena ia yakin, Devan akan kembali sehat. Apakah Kanaya sudah merelakannya?
Tepukan tangan Dokter di pundakku membangungkanku dari lamunanku.
"Ikhlaskan Pak. Semoga ini jalan yang terbaik baginya," ujar Dokter itu. Sebelum ia berjalan pergi meninggalkanku kemudian aku menatap kembali ke tiga orang itu yang sedang berbicara dan tersemyum pada Devan.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.