
Devan menaruh tas Kanaya di atas ranjang dan duduk di samping Kanaya.
"Jangan berpikir macam - macam, Ay. Istirahat saja dulu malam ini. Kamu sudah aman berada di sini" ujar Devan menenangkan Kanaya.
"Terima kasih, Van. Kalau tidak ada kamu, mungkin Kak Elvano sudah menemukanku," ujar Kanaya sambil memeluk Devan.
"Jangan khawatir, selama kamu ada di sini, aku akan melindungimu, Ay. Elvano tidak akan mungkin menyakitimu. Aku janji," ujar Devan sambil memeluk Kanaya erat dan menepuk pundak Kanaya.
Setelah itu, Devan melepas pelukannya.
"Sekarang kamu istirahat saja dulu, besok pagi kita bicara lagi," ujar Devan sambil mengusap lembut kepala Kanaya, dan menaruh rambut Kanaya yang jatuh di wajahnya ke belakang telinganya. Kanaya tersenyum dan mengangguk.Ia merasa tenang karena Devan ada di sisinya. Devan pun beranjak dan keluar dari kamar Kanaya, membiarkan Kanaya untuk beristirahat, sementara ia sendiri berjalan ke kamarnya dan untuk beristirahat.
***
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja, hah?" teriak Elvano sambil mencengkram pergelangan tangan Kanaya dan melemparkannya ke atas ranjang.
"Tidak, Kak El, Kumohon jangan sakiti aku!"Teriak Kanaya berusaha bangkit dan menjauhi Elvano yang berjalan ke arahnya.
"Kamu milikku, Kanaya! Tidak ada orang lain yang boleh memilikimu! Tidak juga dengan Devan!" Teriak Elvano sambil meraih pergelangan kaki Kanaya dan menariknya hingga Kanaya berada dalam kungkungan Elvano lagi.
"Kau milikku, Kanaya!" Teriak Elvano di depan wajahnya kemudian ******* bibir Kanaya dengan kasar, tidak memperdulikan Kanaya yang memberontak.
"Tidak Kak Elvanooo! Kumohon lepaskan akuuuu!" Teriak Kanaya dengan terengah - engah dan tangannya memukul - mukul tubuh seseorang.
"Ay bangun Ay," terdengar suara Devan di telinganya seiring sepasang tangan menghentikkan tangannya dari memberontak.
"Ini aku Devan, kamu sudah aman disini," ujar Devan saat Kanaya membuka matanya.
"Aku takut, Van... aku sungguh sangat takut," tangis Kanaya di dada Devan.
"Sssssst.... it's okay, Ay. Aku ada disini, ada aku, tidak ada yang akan menyakitimu," ujar Devan menenangkan Kanaya sambil memeluknya erat.
Alika dan Bella yang terbangun karena jeritan Kanaya hanya bisa memandangi Kanaya dengan iba.
Pagi belumlah menjelang, dan mereka baru saja tertidur beberapa jam, namun Kanaya sudah terbangun dari mimpi buruknya.
Bella segera pergi untuk mengambilkan segelas air untuk Kanaya.
__ADS_1
"Nyonya, minumlah ini," ujar Bella kepada Kanaya sambil memberikan segelas air putih kepadanya.
Devan meraih gelas itu, dan meminumkan air putih itu pada Kanaya, kemudian ia memberikan gelas itu kembali kepada Bella.
"Ay, kamu hanya bermimpi. Sebaiknya kamu kembali tidur, ini sudah malam," ujar Devan sambil mengusap kening Kanaya yang berkeringat.
Saat itu barulah pukul 1 malam, dan Devan belum tidur saat ia mendengar Kanaya berteriak dalam tidurnya.
Kanaya menggeleng.
"Nggak Van, aku nggak mau tidur lagi! Aku nggak mau mimpi seperti itu lagi!" Jerit Kanaya dengan ketakutan.
"Aku temani kamu ya, Ay. Aku akan temani kamu tidur," ujar Devan sambil memandang Kanaya dengan khawatir.
Kanaya mengangguk dan Devan pun segera merebahkan Kanaya di ranjang, dan membiarkan Kanaya tidur di dadanya.
Alika mengajak Bella keluar dari kamar itu untuk membiarkan Devan dan Kanaya beristirahat.
"Aku akan jaga kamu, Ay. Sekarang tidurlah," ujar Devan.
Kanaya mencoba memejamkan mata sambil mendengarkan detak jantung Devan di telinganya yang berdetak seperti sebuah alunan musik yang membuatnya merasa aman dan tenang.
"Katakan padaku, apa Kanaya sering mimpi buruk seperti itu?" tanya Alika pada Bella.
"Iya Bunda, Nyonya setiap hari selalu bermimpi buruk, oleh sebab itu Nyonya sangat takut jika harus tidur di malam hari," tutur Bella dengan sedih.
Kecurigaan Alika saat melihat lingkaran hitam di bawah mata Kanaya ternyata benar. Kanaya memang kurang istirahat karena di hantui mimpi buruknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan dia seperti itu?" tanya Alika ingin tahu.
Bella terdiam. Ia merasa ragu untuk menceritakan apa yang terjadi pada Kanaya selama ini.
"Tidak apa Bella, kamu bisa mengatakannya padaku. Nyonyamu itu sudah aku anggap seperti anakku sendiri, dan tidak akan ada yang menyakitimu pula," ujar Alika sambil mencoba membujuk Bella untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Nyonya selama ini mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Tuan Elvano," ujar Bella akhirnya.
"Tidak baik seperti apa? Apa dia memukulnya?" tanya Alika ingin tahu.
__ADS_1
Bella kembali terdiam dan ragu untuk menjawab.
"Bella, kamu tahu kan kalau kami semua di sini sangat menyayangi Nyonyamu. Dan anak saya akan melindunginya dari siapapun yang berusaha menyakitinya," ujar Alika, berusaha meyakinkan Bella dengan itikad baiknya dan Devan membantu Kanaya.
"Tuan Elvano pernah mencambuk Nyonya setiap kali Tuan cemburu atau saat Nyonya berbicara dengan laki - laki lain," ujar Bella pelan.
"Ya Tuhan! Apa benar dia melakukan itu?" tanya Alika hampir tidak percaya. Karena setahunya mereka tampak serasi satu sama lain.
"Ya Bunda, semua itu benar adanya. Karena saya sendiri yang membantu mengobati luka - luka Nyonya," ujar Bella.
"Apa tidak ada yang mengetahui hal itu?" tanya Alika heran.
"Tidak Nyonya, tidak ada yang tahu, selain kami pelayan di rumah itu," jawab Bella.
"Bagaimana dengan Ibunya, apa dia tahu?" tanya Alika penasaran. Bagaimana mungkin tidak ada kerabatnya yang tahu.
"Nyonya Ratna dan Nyonya Luna tidak ada yang tahu, karena Tuan selalu memperlakukan Nyonya Kanaya dengan baik di depan mereka," tutur Bella.
"Dan Kanaya diam saja di perlakukan seperti itu?" tanya Alika dengan geram. Ia saja yang tidak mengalami sendiri merasa geram dan marah pada Elvano.
"Nyonya tidak bisa berlaku apa - apa, karena Tuan Elvano mengancam akan melakukan sesuatu pada orang tuanya," ujar Bella.
"Ya Tuhan, kasihan sekali kamu Kanaya, seandainya aku tahu dari dulu, sudah ku ajak kamu bersamaku," ujar Alika sambil meneteskan air mata. Ia bisa merasakan kesedihan dan kesakitan Kanaya selama ini.
"Tetapi yang paling membuatnya trauma adalah kejadian malam itu," ujar Bella. Dan raut wajah Bella berubah benar - benar merasa terpukul apa yang terjadi pada Nyonyanya.
"Apa yang terjadi Bella? Apa yang terjadi malam itu? Apa yang Elvano lakukan pada Kanaya selama ini?" tanya Alika bertubi - tubi.
"Selama ini Tuan tidak pernah menyentuh Nyonya. Saya tidak tahu mengapa, tapi Tuan tidak pernah memperlakukan Nyonya seperti istrinya yang sesungguhnya," ujar Bella.
Alika menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Malam itu tidak ada yang melihat apa yang Tuan lakukan pada Nyonya, tetapi Nyonya sangat berubah semenjak kejadian malam itu. Dan menurut cerita yang saya dengar dari Ibu Desi, Tuan Elvano sangat cemburu pada seorang Pria yang Nyonya temui sebelumnya, dan ia memaksakan kehendaknya pada Nyonya malam itu," ujar Bella sambil meneteskan air mata. Alika terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ya Tuhan, kejam sekali Elvano padanya! Biadab!" Umpat Alika padanya.
Kira - Kira gimana reaksi Devan yah...?
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen dan vote.