
Sean pun begitu terkejut dengan penuturan Devan.
"Apa benar Elvano sampai hati melakukannya pada Kanaya? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin anak yang telah di besarkannya dengan baik, bisa melakukan semua itu pada istri yang di pilih untuk di nikahinya sendiri?" Sean tidak percaya dan tidak habis pikir.
"Aaaaaagkkh!" pekik Sean sambil memegang dadanya.
Tiba - tiba dada Sean terasa sakit. Dan kepalanya pun berkunang - kunang. Ia berjalan menuju mejanya dan memencet interkom ke meja Anton. Asisten pribadinya.
Ia pun tak kuat lagi. Tubuhnya lemas dan pandangannya menjadi gelap.
"Pak Sean... Pak Sean.." tedengar suara Anton berteriak memanggil namanya dan menguncang - guncangkan tubuhnya.
***
"Luna...." panggil Sean yang terbaring di ranjang rumah sakit kepada Istrinya.
Satu minggu sudah Sean di rawat di rumah sakit, karena serangan jantung yang menimpanya di kantor Elvano pagi itu. Pagi saat itu, Elvano di amankan oleh pihak kepolisian karena tuntutan penganiyayan terhadap Kanaya Zavira.
"Ya, Pah," jawab Luna mendekat pada suaminya dan duduk di kursi di dekat ranjang rumah sakit.
Luna menggenggam tangan Suaminya yang tampak lemah, selang oksigen tersambung ke hidungnya dan begitu pula selang infus yang ada di tangannya,"
"Bagaimana Elvano?" tanya Sean dengan lemah.
Luna menghela napas, tampak berat sekali untuk menjawab.
"Papa tidak usah memikirkan hal itu, yang terpenting Papa sehat dulu," ujar Luna sambil mencoba untuk tersenyum. Ia tidak ingin permasalahan Elvano menjadi beban pikiran bagi dirinya sendiri.
"Papa tidak apa - apa, Mah. Apa dia baik - baik saja?" tanya Sean lagi mengkhawatirkan kondisi Elvano.
"Elvano baik - baik saja, Pah. Dimas sudah mengurusnya," jawab Luna berbohong. Yang sebenarnya, walaupun penasehat Hukumnya tengah mengerjakan kasusnya, tetapi Elvano sendiri tampak sangat terpukul dengan tuntuttan yang di ajukan oleh Kanaya dan kenyataan bahwa ia sedang berada di dalam sel tahanan.
Sean tahu Istrinya itu, tidak berbicara yang sejujurnya padanya. Ia pun menghela napas berat.
"Bagaimana dengan perusahaan?" tanyanya lagi.
"Lisa yang mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu dan Anton yang mendampingi dan membantu, Lisa. Papah tidak usah khawatir" jawab Luna sambil tersenyum. Dalam hal ini, Luna tidak berbohong. Perusahaan Alvarendra untuk sementara di pimpin oleh Lisa adiknya Elvano dan di bantu oleh Anton, Asisten pribadi Elvano. Meskipun perkembangan perusahaan tidak semulus saat Elvano memimpinnya, tetapi perusahan itu tetap berjalan.
"Mah....." panggil Sean lagi.
__ADS_1
"Cobalah berbicara dengan Kanaya...." pinta Sean.
"Bujuklah ia, untuk membatalkan tuntuttanya terhadap Elvano...." ujar Sean dengan napas yang tersenggal - senggal.
Luna terdiam dan memikirkan apa yang di katakan Sean.
"Meskipun apa yang telah di lakukan Elvano sangatlah buruk, tetapi Papa yakin, Elvano pun sudah melakukan beberapa hal yang baik padanya," ujar Sean.
Sean terbatuk - batuk kecil. Sean mengelus - ngelus dada Suaminya itu, serta menegakkan tubuh Sean sedikit untuk memberinya minum. Setelah itu ia membaringkan Sean kembali.
"Mintalah baik - baik, Mah. Bicaralah baik - baik pada Kanaya...." ujar Sean lagi masih berusaha membujuk Luna agar menemui Kanaya.
"Papa tahu, Kanaya adalah seseorang yang berhati baik, dan ia akan mendengarkan Mama," ujar Sean sambil memandang Istrinya.
"Mama tidak tahu, Pah. Tapi Mama akan coba. Sementara ini Papa jangan berpikiran yang tidak - tidak. Sekarang Papa istirahat ya.." ujar Luna sambil tersenyum dan menyelimuti suaminya.
Sean mengangguk dan memejamkan matanya untuk beristirahat.
Setelah memastikan Sean tertidur, Luna keluar dari kamar dan berdiri di lorong rumah sakit yang sepi di depan kamar rawat inap Suaminya.
Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan meneteskan air mata. Ia tidak dapat menahannya lagi.
******
Siang itu, Kanaya menghadiri sidang perceraiannya di kota D. Biasanya Kanaya tidak menghadiri sidang itu, dan hanya tim pengacaranya saja yang hadir, karena jarak tempat tinggalnya dan lokasi sidang yang berjauhan. Namun, kali itu ia datang bersama Mamanya dan juga Bella. Hari itu, Bella yang menjadi saksi dalam persidangannya. Kanaya berharap setelah hari itu, ia akan bisa bercerai dari Elvano. Ia tidak ingin proses perceraiannya menjadi berlarut - berlarut.
Elvano sendiri tidak dapat menghadiri sidang, karena ia sedang berada dalam tahanan dan menjadi tersangka atas kasus penganiyaan terhadap Kanaya.
Hari itu pengacara Elvano terlihat datang bersama dengan Luna.
Saat Hakim memutuskan sidang di tunda hingga beberapa hari kedepan, Kanaya dan rombongan pun berjalan keluar dari ruang sidang.
Kanaya dan rombongan berjalan cepat, untuk menghindari kerumunan dan wartawan yang ada di sana, yang langsung mengerubuti mereka saat mereka keluar dari ruangan sidang yang tertutup.
Devan dan teamnya dengan sigap membawa rombongan mereka langsung ke mobil meninggalkan area pengadilan agama itu.
Luna pun hanya bisa menatap Kanaya yang pergi menjauh dalam mobil Alphard yang membawanya.
"Ibu Luna, kalau Ibu mau mencoba bicara dengan Ibu Kanaya, saya tahu dimana ia tinggal selama di kota D ini," ujar Dimas yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Dimas, sepertinya dia tidak ingin bicara denganku," tanya Luna tidak yakin.
"Jika benar, Ibu Kanaya seperti yang banyak di bicarakan orang - orang, Saya rasa Ibu Kanaya Zavira tidak akan begitu," ujar Dimas.
"Antarkan aku kesana, Dimas." ujar Luna akhirnya.
Mereka pun pergi ketempat Kanaya, Devan dan rombongannya memginap.
Dengan bantuan Dimas, Luna berhasil mengetahui nomor kamar yang di huni oleh Kanaya. Ia dan Dimas pun pergi kesana dan mengetuk pintu, Ratna lah yang membukanya.
"Luna, mau apa kamu kesini?" tanya Ratna dengan nada tinggi. Ratna masih sangat marah pada keluarga Alvarendra karena membiarkan Elvano melakukan hal sekejam itu pada Kanaya, Putrinya. Hatinya sangat sakit setelah melihat rekaman vidio yang di putar di dalam ruang persidangan itu.
"Ratna, bisa aku berbicara dengan Kanaya sebentar?" pinta Luna dengan sopan.
"Luna, lebih baik kau tidak usah berbicara lagi dengan Kanaya. Cukup sudah apa yang anakmu lakukan pada anakku!" Ujar Ratna dengan ketus. Ia pun hendak menutup pintu tapi Luna menahannya.
"Ratna, tolonglah beri aku kesempatan untuk bicara pada Kanaya, aku ingin minta maaf atas apa yang telah terjadi," pinta Luna.
"Ibu Ratna, tolonglah beri Ibu Luna kesempatan untuk berbicara sebentar saja," pinta Dimas ikut berbicara.
"Ada apa ini?" tanya Devan yang tiba - tiba keluar dari kamar sebelah di sebelah kamar Kanaya.
"Ini Devan, mereka mau bicara dengan Kanaya," ujar Ratna menerangkan dengan nada yang masih kesal.
Devan memandang Dimas dan Dimas pun mendekati Devan.
"Pak Devan, saya meminta maaf, kalau saya tidak memberitahukan perihal kedatangan Ibu Luna," ujar Dimas.
"Kamu tahu kan, seharusnya kamu menghubungi kami terlebih dahulu?" tanya Devan menimpali Dimas.
"Saya tahu, tapi saya tidak tega melihat Ibu Luna seperti itu. Saya meminta kebaikan hati Pak Devan untuk bisa mengizinkannya bicara dengan Ibu Kanaya" pinta Dimas sekali lagi.
Devan memandang ke arah Luna yang sekarang tampak sangat lelah, Devan pun mendengar apa yang terjadi dengan keluarga Alvarendra, setelah Elvano di tahan, sehingga ia pun menjadi luluh.
"Tunggu di sini..." ujar Devan pada Dimas dan Devan pun masuk ke kamar Kanaya.
Saat Devan masuk ke kamar Kanaya, di lihatnya Kanaya sedang tidur di ranjangnya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan vote. jangan lupa tinggalkan jejak komentar kalian yah~~~