Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rasa Penasaran


__ADS_3

Kanaya pun mengarahkan pandangannya ke arah orang yang ia tabrak dan sangat terkejut saat ia melihat ekspresi wajah Lisa, adik Elavano.


"Li... Lisa?" ucap Kanaya dengan gugup. Ia tidak menyangka dari sekian banyak orang yang ia kenal, keluarga Elvanolah yang ia temui


Lisa yang saat itu mengenakan pakaian wanita karier, tampak terkejut dan memandang Kanaya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia tidak bisa menutupi keterkejutannya apalagi saat ia melihat ke arah perut Kanaya yang membesar.


Lisa tampak ingin bertanya sesuatu, mengenai hal itu saat Mira datang ke arah mereka.


"Kanaya sudah dapat yang kamu cari?" tanya Mira yang melihat kantung belanja di tangan Kanaya.


"Ya, sebentar lagi," jawab Kanaya yang masih terkejut dengan kehadiran Lisa yang ada di hadapannya.


" Oke, aku ke kasir duluan," ujar Mira lalu ia berjalan ke arah kasir.


"Apa kabar, Lisa?" tanya Kanaya berusaha untuk memecah kecanggungan.


"Baik, kamu juga kelihatannya lebih baik Kanaya. Apa kamu akan tinggal lama di sini?" tanya Lisa.


"Tidak, kebetulan aku ada tugas kantor yang harus aku hadiri di sini," jawab Kanaya.


"Maaf Lisa. Aku sebaiknya segera kembali ke teman - teman....."


"Kanaya, bisa kita bicara sebentar saja?" ujar Lisa tiba - tiba memotong perktaannya.


Kanaya tampak ragu, ia sungguh tidak ingin membicarakan masa lalu. Dan berbicara dengan Lisa, apalagi yang akan mereka bicarkan kalau tidak mengenang masa lalu?


"Kanaya, sebentar saja aku tidak akan menyakitimu," ujarnya sambil menatapnya dengan memohon.


"Baiklah. Biar aku membayar ini terlebih dahulu," ujar Kanaya akhirnya sambil melirik kantong belanjaan di tangannya.


Setelah menunggu Kanaya membayar belanjaannya dan menitipkan belanjaannya itu kepada Mira, Kanaya pun duduk di sebuah cafe di mall itu bersama dengan Lisa.


"Bagaimana kabarnya Bu Luna dan Pak Sean?" tanya Kanaya.


"Ayolah Kanaya, dengan bercerai dengan Kak Elvano, bukan berarti kamu harus berhenti memanggil mereka Mama dan Papa. Mereka juga masih sangat menyayangimu, dan kadang - kadang membicarakanmu juga," ujar Lisa.


Kanaya tersenyum dan melihat kelain arah, seakan - akan ia tidak ingin mengetahui hal itu lebih lanjut.


"Apa kau tidak ingin mengetahui keadaan, Kak Elvano?" tanya Lisa.


"Aku sangat yakin kalau dia baik - baik saja, Lisa," ujar Kanaya sambil tersenyum simpul.


"Kanaya, apa kau sungguh tidak tahu apa yang sudah terjadi dengannya?" tanya Lisa, sambil mengerutkan dahinya hingga alisnya nyaris menyatu.

__ADS_1


"Aku... aku memang tidak pernah berkontak lagi dengan Kak Elvano..." aku Kanaya.


"Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Lisa dengan pandangan yang menyelidik sambil menatap ke arah Kanaya.


Kanaya bisa membalas tatapan Lisa hanya dalam hitungan detik sebelum ia mengalihkan pandangannya.


Lisa pun tersentak saat mengetahu bahwa Kanaya tidak menikah lagi, yang berarti anak yang sedang di kandungnya adalah....


"Ya Tuhan.... bagaimana mungkin kamu tidak memberitahu kami, Kanaya?!" Tanya Lisa tiba - tiba dengan intonasi yang meninggi. Kanaya pun tahu maksud dari pertanyaan Lisa itu.


Kanaya memang tidak pernah memberitahu Elvano atau pun keluarga Elvano mengenai kehamilannya, mengingat ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Elvano. Kanaya hampir saja tidak menerima anak dalam kandungannya. Bagaimana mungkin ia mengatakannya pada, Kak Elvano?


"Dengar Lisa! Hubungan ku dengan, Kak Elvano sudah berakhir. Dan aku berada dalam kondisi yang jauh dari kata siap saat mengetahui kehamilanku! Kamu harus tau, bahwa apa yang Kak Elvano lakukan dulu membuatku trauma bahkan hingga saat ini." ujar Kanaya memberitahukan alasan mengapa ia tidak memberitahukan kepada Elvano mengenai hal itu.


"Kanaya, tapi itu anaknya! Dia juga berhak tau itu!" Ujar Lisa.


"Lisa! Aku sungguh tidak ingin membicarakan hal ini..." ujar Kanaya lalu ia beranjak dari duduknya dan berbalik hendak meninggalkan Lisa. Ia menyesal telah menyetujui berbicara dengan Lisa.


"Dia di penjara!" Ujar Lisa tiba - tiba dengan suara bergetar.


Kanaya berhenti berjalan.


Di penjara? Siapa? Apakah.... Kak Elvano?


"Kak Elvano di penjara beberapa bulan yang lalu," ujar Lisa dengan suara yang hanya mereka berdua bisa mendengarnya. Ia menatap Kanaya dengan tatapan sendu.


"Kak Elvano di penjara? Kenapa? Apa... apa yang terjadi? " batin Kanaya.


Meskipun Elvano melakukan banyak hal yang menyakiti harga dirinya, perasaan dan fisiknya, akan tetapi Elvano pernah berlaku baik padanya.


"Apa... apa yang terjadi?" tanpa terasa ia duduk di kursinya.


"Kejadiannya sangat cepat," ujar Lisa mulai bercerita.


"Terjadi hanya beberapa hari saat kalian resmi bercerai...." ujar Lisa, kemudian menghela napas selama beberapa saat.


"Kak Elvano, saat itu dia belum menerima perceraiannya denganmu. Dia pergi ke sebuah club malam dan bertemu Maya di sana. Entah bagaimana, rupanya Maya memprovokasi Kak Elvano hingga Kak Elvano menjadi sangat kesal dan marah, hingga ia hilang kendali dan memukul Maya, hingga.... hingga Maya menjadi lumpuh sekarang," ujar Lisa.


Kanaya terkesiap mendengar cerita Lisa. Ia sama sekali tidak menyangka jika itu yang terjadi pada Elvano.


"Kak Elvano pun di tangkap polisi dan terbukti bersalah karena telah mencelakai Maya hingga menyebabkan kelumpuhan permanen padanya," ujar Lisa.


Raut wajah Lisa terlihat sangat sedih memikirkan keadaan Elvano di dalam penjara.

__ADS_1


"Ba... bagaimana kondisinya?" tanya Kanaya. Ia sebenarnya ragu untuk bertanya akan tetapi rasa penasarannya memaksanya untuk bertanya.


"Bagaiamana menurutmu, Ay?" Lisa malah balik bertanya padanya. Kanaya menatapnya balik.


"Maaf, bukan maksudku.... aku hanya khawatir dengannya," ujar Kanaya.


"Dia terlaihat putus asa, Ay. Aku dan Mama sudah berusaha memberinya semangat, tetapi seakan - akan dia sudah tidak punya gairah untuk hidup lagi" ujar Lisa.


Kanaya terdiam dan ikut menyesal dengan apa yang terjadi pada Elvano. Tetapi apa yang bisa ia lakukan?


Mereka berdua terdiam selama beberapa saat.


"Kanaya... aku mohon kepadamu,"


Kanaya menggeleng, ia sudah mengerti kemana arah permintaan Lisa.


"Dengarkan aku dulu, Kanaya...." pinta Lisa untuk mendengarkan dulu permintaannya sebelum ia menolak.


"Temuilah Kak Elvano... mungkin dengan begitu, dia akan memiliki semangat untuk hidup," ujar Lisa.


Menemuinya dan mengatakan apa?


"Maaf Lisa, aku.... ikut bersedih dengan apa yang terjadi padanya. Tapi aku tidak bisa menemuinya. Maafkan aku...." ujar Kanaya sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Lisa.


Kanaya tidak mungkin untuk menemui Elvano. Mengingat Elvano saja membuat kenangan buruk kembali menghantuinya. Bagaiamana mungkin ia akan menemui Elvano? Dan membiarkan Elvano tahu bahwa ia sedang mengandung anaknya?


"Kanaya.... tolonglah!" Kanaya masih mendengar suara Lisa memohon padanya, namun Kanaya tetap berjalan ke luar kafe itu dan meninggalkan Lisa.


Hingga malam tiba, Kanaya masih teringat apa ceritakan Lisa padanya. Dia pun gelisah.


Haruskah dia menemui Elvano?


"Ya temuilah dia, demi masa lalu kalian dan anak dalam kandunganmu," kata hatinya berkata.


"Jangan lakukan! Dia akan tahu kalau kamu mengandung anaknya dan tidak akan melepaskanmu lagi, Kanaya! Biarkan dia membusuk di dalam penjara! He deserved it!" Kata hati yang lainnya berkata.


Ah, Kanaya sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan ia pun bingung membayangkan Elvano yang benar - benar masuk kedalam penjara kali ini, dan hatinya pun merasa iba.


Saat Kanaya tengah bergumul dengan perasaannya sendiri, telepon genggamnya berdering dan tampaklah wajah Devan di layar kaca telepon genggamnya.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya


__ADS_2