
Heeiiiit.... stop✋ Likenya dulu dong... setelah itu, jangan lupa ramaikan kolom komentarnya🤗
💐💐 Happy Reading semuanya....
Siang itu, mereka berdua berangkat ke Restoran Safir di Palace Hotel tempat Alexander David Mahendra menginap.
Saat mereka sampai di restoran itu, seorang pria menghampiri mereka.
"Selamat siang Pak Elvano, Pak Raka, saya Alvian," ujar Alvian menyalami dan memperkenalkan dirinya pada Elvano dan Raka.
"Siang Pak Alvian," balas mereka berdua sambil tersenyum.
"Mari Bapak - bapak, Pak David sudah menunggu di dalam," ujarnya sambil mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk ke bilik VVIP restoran itu.
Tadinya mereka berpikir akan bertemu seorang laki - laki yang berusia di atas 40 tahun, dengan begitu banyaknya kesukseksan dan usaha yang di milikinya. Akan tetapi saat mereka melangkah masuk, mereka mendapati seorang laki - laki dengan perawakan gagah, tampan kharismatik dan hanya beberapa tahun lebih tua dari mereka berdua berusia sekitar 30 tahunan.
"Apa kabar Pak Elvano, Pak Raka. Saya Alexander David Mahendra," ujar David memperkenalkan dirinya dengan hangat sambil berdiri dari duduknya.
"Baik Pak David, kami senang sekali bertemu dengan Bapak," ujar Elvano menanggapi sapaan David.
"Ya, saya pun begitu Pak Elvano. Mari silakan duduk," ujar David sambil mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
"Kita bicara santai saja ya Pak Elvano, Pak Raka," ujar David sambil tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk memesan makanan dan minuman di restoran itu.
Setelah selesai memesan pesanana mereka, barulah mereka membicarakan tujuan pertemuan mereka di tempat itu.
"Saya memperhatika perusahaan Pak Elvano dan Pak Raka ini berkembang sangat pesat dan saya ingin ikut andil di dalamnya," ujar David membuka percakapan bisnis mereka.
Tentu saja Elvano dan Raka sangat senang mendengarnya. Dengan ikut berinvestasinya perusahaan David dalam perusahaan mereka, akan membuat perusahaan mereka berkembang lebih pesat. Dan mereka pun membicarakan kerja sama investasi mereka secara garis besar saat itu, yang berujung kepada pembicaraan selanjutnya.
Pembicaraan mereka pun berlanjut, tahap demi tahap hingga akhirnya Alexander David Mahendra berinvestasi dalam perusahaan mereka hanya dalam seminggu setelah pertemuan pertama mereka.
Dan dalam 3 bulan berikutnya perusahaan Elvano sudah menjadi perusahaan Start -up nomor satu dan hampir di gunakan oleh setiap orang di indonesia untuk berbagai macam keperluan sehari - hari, dari mulai transportasi, pembayaran tagihan transaksi online, dan telah berpartner dengan berjuta - juta usaha kuliner, retail dan telekomunikasi. Belum lagi membuka lapangan pekerjaan bagi berjuta - juta orang.
Hingga akhirnya ia dan Raka pun di undang oleh David untuk membicarakan kelanjutan bisnis mereka di kota tempat tinggal David, di kota B.
Kedatangan Elvano di kota B merupakan suatu langkah besar untuk Elvano, karena pertemuan bisnisnya dengan Alexander David Mahendra, dan pengusaha lain, ia juga akan menemui Kanaya dan Alvaro di sana.
__ADS_1
Elvano memang menahan diri untuk tidak mengunjungi Alvaro saat ia keluar dari penjara lebih dari setengah tahun yang lalu. Bagaimanpun ia ingin Kanaya dan Alvaro melihatnya sebagai seseorang yang berbeda dari laki - laki yang mereka lihat di penjara hari itu. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa ia mampu untuk bangkit dan mampu mengulang kesuksesannya di masa lalu dengan hasil jerih payahnya sendiri. Meskipun ia tahu, ia tak mungkin lagi memiliki Kanaya, akan tetapi tidak ingin meninggalkan kesan buruk di mata Kanaya. Baginya kesan Kanaya dan Alvaro terhadapnya sangatlah penting.
"Apa kau sudah siap?" tanya Raka padanya di bandara siang itu.
"Ya Ayo!" Jawab Elvano sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gate tempat pesawat mereka mereka.
"Man, everything is going to be okay!" Ucap Raka sambil menepuk pundak temannya itu.
*****
"Alvaro udah emam?" tanya Devan yang baru saja turun dari lantai dua dan berpakaian kerja rapi, saat ia melihat Alvaro duduk bersama Alika di sofa ruang keluarga.
"Udah Ayah," jawab Alvaro pendek sambil memegang baby training cup miliknya.
"Emam pake apa?" tanya Devan lagi.
"Cayul cop," jawab Alvaro, sambil memegang wajah Devan dengan tangan mungilnya.
"Sayur sop? Enak?" tanya Devan dengan intonasi bicara pada anak kecil.
Alvaro mengangguk.
"Iya. Sebentar lagi Ayah berangkat kerja. Alvaro nanti di rumah yang baik yah," ujar Devan pada Alvaro.
Kanaya mendengarkan percakapan Alvaro dan Devan pun tersenyum. Ia sedang mengatur meja makan untuk sarapan mereka pagi itu.
"Taruh di sana Siti," ujar Kanaya pada Siti untuk menaruh makanan di tempat yang di tunjuk.
Tiba - tiba telepon genggam Kanaya berbunyi dan Kanaya pun mengangkatnya.
"Halo?" sapa Kanaya pada penelepon yang tidak di ketahuinya.
"Kanaya, ini aku Elvano," jawab Elvano dari sebrang telepon genggamnya.
Kanaya langsung menghentikan apa yang di lakukannya saat mendengar suara Elvano. Bahkan tanpa Elvano menyebut namanya pun, Kanaya sudah bisa mengenali suaranya.
Kanaya terkejut saat Elvano menghubunginya. Apa iya sudah keluar dari penjara.
"Kak Elvano?" tanya Kanaya untuk meyakinkan, meskipun alam bawah sadarnya sangat yakin itu suara Elvano.
__ADS_1
"Iya Ay, ini aku." jawab Elvano.
Kanaya tidak merespon dan berjalan menjauh dari ruang keluarga dan ruang makan yang saat itu sedikit ramai dengan suara orang yang bicara dan suara televisi.
"Maaf kalau aku tiba - tiba menelepon. Apa kabarmu dan Alvaro?" tanya Elvano.
"Kami baik - baik saja, Kak El. Mmm.. apa kamu sudah keluar dari....?" tanya Kanaya namun tidak menyelesaikan pertanyaannya.
"Ya, aku sudah keluar dari penjara beberapa bulan yang lalu. Rupanya mereka menganggap aku berkelakuan baik dan mengurangi masa tahananku," jawab Elvano jujur.
"Syukurlah," timpal Kanaya sambil menghembuskan napas lega.Ia pun lega Elvano sudah keluar dari penjara.
Elvano tersenyum mendengar ucapan Kanaya. Meskipun ia tidak melihat Kanaya mengatakannya, namun ia tahu Kanaya benar - benar bersyukur ia sudah bebas dan hal itu membuat hati Elvano benar - benar senang.
"Ay, kebetulan aku ada di kota B, hari ini," ujar Elvano tertahan.
Kanaya mendengar ucapan Elvano, sambil ia menahan nafasnya, sudah mengira - ngira kemana arah pembicaraan Elvano.
"Kalau kamu tidak keberatan, bolehkan aku bertemu dengan Alvaro?" tanya Elvano dengan penuh harap. Ia memang ingin sekali bertemu dengan mereka berdua, namun ia tahu hanya bisa mengucapkan nama Alvaro di depan Kanaya.
"Kamu ada di kota B, Kak El? Sampai kapan?" tanya Kanaya.
"Mungkin beberapa hari, ada beberapa pertemuan bisnis yang harus aku hadiri, tapi kalau kamu... maksudku Alvaro ada waktu, aku ingin sekali bertemu dengannya," ujar Elvano mencoba berhati - hati untuk berbicara.
"Aku tidak keberatan Kak El, bagaimanapun kamu adalah Papanya Alvaro," jawab Kanaya.
"Tetapi aku harus melihat jadwalku hari ini, jam berapa kamu ada waktu?" tanya Kanaya beralasan. Bukannya ia tidak ingin Elvano bertemu dengan Alvaro, akan tetapi ia harus membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Devan.
"Sore ini aku kosong. Tapi kalau kamu sempat di jam lain, aku tidak keberatan untuk mengubah jadwal meetingku," ujar Elvano, meskipun pertemuan bisnisnya sangat penting, namun ia rela untuk mengatur ulang jadwalnya demi ia bisa bertemu dengan Kanaya dan Alvaro.
"Nanti aku kabari ya, Kak El. Ini nomor teleponmu?" tanya Kanaya.
"Ya. Baiklah aku tunggu kabar darimu," ucap Elvano sebelum menutup percakapan telepon mereka.
Sebenarnya Elvano ingin sekali berbicara banyak pada Kanaya. Menanyakan bagaimana kabarnya dan menceritakan apa yang di lakukannya beberapa bulan terakhir ini. Ia ingin bercakap - cakap dan melepaskan kerinduannya pada Kanaya. Namun ia sadar, hal itu tidak mungkin ia lakukan. Karena Kanaya sudah bukan menjadi miliknya lagi.
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiahnya.
__ADS_1