
**Author cuma minta jangan Pelit dong kasih tombol likenya dan jangan lupa kasih vote dan bunga mawarnya ya~ biar author tambah rajin buat Up hehehe..
Makasih...
Happy Reading....🤗**
"Arfan, sudah kamu siapkan semua draft kerja sama dengan PT. HUBB?" tanya Elvano pada asistennya di kantor.
"Ya Pak, sudah hampir selesai dan 5 menit lagi siap," ujar Arfan melalui interkom dari ruang kerjanya.
"Oke, kalau sudah bawa ke kantorku. Setengah jam lagi kita berangkat," ujar Elvano kemudian menutup percakapan interkomnya.
Tak lama telepon genggamnya menyala dan masuklah panggilan telepon dari Devan. Ia mengambil telepon genggamnya dari atas meja dan menjawabnya.
"Ya Devan?"
"Elvano, aku minta tolong padamu untuk mencari Kanaya dan anak - anak!" Seru Devan langsung saat Elvano menjawab panggilan teleponnya.
"Wow, tunggu dulu Devan. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Elvano saat mendengar nada panik dari suara Devan. 'Apa yang terjadi sampai Devan begitu panik?' batin Elvano. Ia pun menjadi khawatir namun tidak di tampakkanya.
"Seseorang mengikuti Kanaya dan anak - anak di sekolah, dan mereka belum sampai rumah sampai saat ini." ujar Devan terlihat jelas ia terlihat sangat khawatir akan keselamatan mereka.
Apa maksud Devan seseorang mengikuti mereka? Apa mereka dalam bahaya? Pikir Elvano.
"Oke.... aku akan mencari mereka. Apa kamu sudah menelepon sekolah?" tanya Elvano sambil beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kantor dengan langkah cepat dan panjang. Elvano pun was - was, karena Kanaya dan anak - anak adalah orang - orang yang ia sayangi seperti keluarganya sendiri.
"Tidak. Tapi Bastian mengatakan jika Kanaya dan anak - anak sudah keluar dari gerbang sekolah," terang Devan.
"Ok Devan, tenang. Kamu lagi ada di mana?" tanya Elvano berusaha untuk tidak panik saat ia pun sebenarnya sangat khawatir di dalam hatinya. Ia tidak ingin terjadi hal - hal buruk pada Kanaya dan juga anak - anak.
"Aku masih dalam perjalanan dari kota A. Elvano.... tolong cari Kanaya dan anak - anak untukku..." pinta Devan.
__ADS_1
"Tenang Devan. Aku akan mencari mereka, akan ku kabari kamu secepatnya kalau aku sudah menemui mereka," ujar Elvano mencoba untuk tidak panik dan membuat keadaan menjadi lebih sulit bagi mereka.
Setelah percakapan telepon berkahir ia menghubungi Arya, supirnya untuk standby di lobby kantor.
Dalam 5 menit berikutnya ia sudah sampai di dalam mobil menuju ke arah sekolah anak - anak.
Kanaya seharusnya tidak berada jauh dari rumah, karena letak sekolah anak - anak pun tidak jauh dari rumah mereka.
Karena tidak tahu Kanaya berada dimana dan panggilan teleponnya pun tidak di angkat, ia pun menelepon Adella.
"Adella, apa kamu melihat Kanaya dan anak - anak di sekolah?" tanya Elvano langsung tanpa basa - basi.
"Ya, aku ketemu mereka dan Keira ada bersama dengan mereka?" jawab Adella.
"Keira bersama Kanaya?" tanya Elvano dengan terkejut.
"Ya Elvano, aku menitipkan Keira pada Kanaya karena aku harus mengantarkan pesanan gaun. Tapi jangan khawatir, dua jam lagi aku akan jemput Keira, dia pun ingin bermain bersama dengan Clara." ujar Adella yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Ya, tentu saja. Ada apa Elvano? Kenapa pertanyaanmu sangat aneh?" tanya Adella. Tidak biasanya Elvano bicara seperti itu. Tentu saja Kanaya keluar dari gerbang sekolah.
"Tidak apa, aku.... harus menemukan Kanaya terlebih dahulu. Beritahu aku kalau Kanaya menghubungimu dan tanyakan dimana dia," ujar Elvano kemudian ia memutus panggilan teleponnya.
'Ya Tuhan semoga mereka semua baik - baik saja,' batin Elvano dengan khawatir. Ia teringat dengan perkataan Raka mengenai Randy Sanjaya. Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang di tangani oleh Devan?
Sementara itu di sebuah restoran cepat saji, Kanaya dan anak - anak sedang memesan makan siang mereka.
"Bunda! Aku mau itu!" Seru Clara saat melihat gambar kids meal dengan hadiah mainan.
"Tante, Keira juga mau itu, sama kaya Clara!' Ujar Keira sambil menunjuk gambar yang sama dengan Clara. Kedua anak itu pun sibuk memilih hadiah mainan yang di sodorkan pelayan restoran itu.
"Alvaro mau apa?" tanya Kanaya sambil menoleh pada putranya yang tengah mendongak melihat menu di hadapan mereka.
__ADS_1
"Yang biasa aja, Bun." jawab Alvaro, yang sudah lebih besar dari adik - adiknya.
Kanaya yang sudah tahu makanan kesukaan Alvaro pun langsung memesan cheese burger beserta kentang goreng dan coke.
Kanaya masih menunggu pesanan makanan mereka. Saat tiga orang laki - laki berbadan besar masuk ke dalam restoran cepat saji itu dan memperhatikan mereka.
Bahkan saat Kanaya dan anak - anak duduk di meja, mereka pun juga duduk di meja tak jauh darinya. Dan Kanaya sama sekali tidak mengetahuinya. Ia tidak berpengalaman dan sama sekali tidak berpikir bahwa mereka sedang di ikuti sejak mereka keluar dari gerbang sekolah.
"Kita tunggu sampai mereka selesai makan, dan kembali ke mobil, baru kita ambil mereka," ujar salah satu dari tiga orang itu dengan suara rendah.
Sementara Elvano telah mengetahui lokasi mereka, sedang menuju ke lokasi restoran cepat saji itu.
"Cepat Arya!" Seru Elvano sambil melacak aplikasi GPS jam tangan milik Keira yang menunjukkan lokasi Keira.
Ia pun menghubungi Bastian, dan mengatakan lokasi Keira dan Bastian pun segera betangkat kesana dengan kedua anak buahnya. Elvano tahu, jika keadaan semakin tidak terkendali, ia akan membutuhkan seseorang seperti Bastian.
Bastian dan Elvano sampai di restoran cepat saji itu dan sampai dalam waktu yang hampir bersamaan dan mereka berdua pun langsung keluar dari mobil dan langsung mencari sosok Kanaya dan anak - anak.
Mata terlatih Bastian langsung melihat ke ruangan dalam restoran dari dinding kaca restoran dan ia bisa melihat Kanaya dan anak - anak yang tengah makan dan sambil tertawa. Dan mata Bastian juga menangkap tiga sosok laki - laki yang duduk tak jauh dari mereka. Ia mengenali mereka sebagai anak buah Randy Sanjaya. Bastian memberi kode pada Elvano dengan matanya pada tiga orang laki - laki itu, membuat Elvano semakin waspada dan mempercepat langkahnya menuju ke arah pintu masuk restoran itu. Ketiga orang itu tampak hendak beranjak saat melihat Kanaya dan anak- anak telah selesai makan dan berdiri. Namun, tampaknya Kanaya dan anak - anak, keluar dari pintu yang berbeda dengan pintu arah Elvano masuk.
'Ya Tuhan, semoga aku bisa sampai ke Kanaya sebelum mereka,' batin Elvano, yang melihat ke tiga laki - laki itu beranjak dari duduknya.
"Ayo, Clara dan Keira. Waktunya kita pulang," ujar Kanaya yang sudah mulai berjalan dan masih tidak menyadari bahwa ada tiga orang laki - laki yang mengikuti mereka.
Ketiga orang itu bersiap - siap untuk melancarkan aksinya saat mereka keluar dari restoran dan berada di parkiran, dengan begitu, tidak banyak orang yang memperhatikan.
Kanaya sedang memencet remot kunci mobilnya saat sebuah tangan kekar menarik bahunya dan membuatnya terkesiap.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa tekan tombol like, komen, vote, dan hadiahnya.