Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Dokter Kandungan


__ADS_3

Saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil, Beni menghubungi Devan dan mereka pun sempat berbicara selama beberapa menit lamanya.


"Devan, kalau kamu sibuk. Kamu nggak perlu antar aku. Aku bisa sendiri kok," ujar Kanaya merasa tidak enak karena sepertinya Devan masih sibuk saat itu.


"Nggak Ay, aku nggak sibuk. Beni aja yang nggak paham apa yang sudah aku sampaikan sama dia tadi. Makanya dia telepon lagi," kilah Devan sambil membetulkan letak sabuk pengaman Kanaya sehingga tidak mengenai perutnya yang sudah mulai membesar.


Kanaya hanya bisa memandangi wajah Devan dengan rasa syukur, bersyukur karena ada Devan yang selalu memperhatikannya.


Devan sebenarnya sangat semangat sore itu, ia belum pernah mengantar Kanaya ke dokter kandungan, karena ini pertama kalinya Kanaya mengecek kandungannya lagi setelah kejadian ditaman.


Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Kanaya akan memeriksakan kehamilannya.


"Ibu Kanaya Zavira," terdengar seorang perawat memanggil nama Kanaya setelah setengah jam ia menunggu bersama Devan.


Kanaya beranjak berdiri, namun Devan ragu untuk ikut bersama Kanaya. Apa dia di perkenankan masuk? batin Devan.


"Devan, kamu mau ikut apa kamu mau tunggu di sini?" tanya Kanaya.


"Aku boleh ikut masuk, Ra?" tanya Devan.


Kanaya berpikir sejenak, sebelum ia mengangguk dan tersenyum.


Bagaimana mungkin ia menolak Devan yang sudah bersusah payah untuk mengantarkannya masuk ke dalam?


Devan terlihat sangat senang dan ia pun masuk bersama Kanaya.


Setelah tekanan darah dan berat badan Kanaya di periksa, dokter pun menyuruh Kanaya untuk berbaring untuk melakukan USG.


"Lihat Bu Kanaya, Ini anak Ibu.... terlihat sehat..." ujar Dokter sambil melihat ke arah layar monitor di hadapan mereka.


"Ukurannya saat ini sudah sebesar buah apel, dan jari - jarinya pun sudah terlihat," ujar Dokter itu sambil tersenyum melihat pandangan Kanaya dan Devan yang memandang takjub pada layar monitor yang ada di hadapan mereka.


Kanaya memandang takjub pada bayi yang ada di kandungannya. Di layar monitor itu anaknya tampak tengah meringkuk, begitu mungil, namun sudah membentuk tubuh seorang bayi manusia.


"Anakmu, Ay." ucap Devan sambil tersenyum pada Kanaya.


Devan pun takjub, dengan apa yang di lihatnya di layar monitor. Ini kali pertama ia melihatnya. Mereka bahkan bisa mendengar detak jangtung anak dalam kandungan Kanaya.

__ADS_1


Kanaya pun meneteskan air mata bahagia. Dalam hatinya perlahan - lahan tumbuh rasa cinta pada anak yang di kandungannya.


****


"Pak Devan, apa kabar, Pak?" tanya seorang wanita pada Devan saat mereka tengah mengambil resep di Apotik rumah sakit itu.


Dokter memberi Kanaya beberapa resep vitamin agar asupan vitamin anaknya terjaga.


"Eh, Mbak Dian, baik Mbak. Mbak Dian apa kabarnya?" tanya Devan pada wanita yang sedang mengandung itu.


"Baik, Pak. Saya sedang periksa kehamilan saja. Pak Devan sedang apa ada di sini?" tanya wanita itu yang terlihat heran karena sedang berada di Dokter kandungan. Padahal setahunya Devan belum menikah dan memiliki Istri. Ia pun melihat ke arah Kanaya yang berada di belakang Devan, dan melihat perut Kanaya yang sudah mulai membesar.


"Saya sedang mengantar sahabat saya," jawab Devan jujur apa adanya.


Dian, wanita itu memandang aneh pada Kanaya dalam benaknya ia berpikiran yang tidak - tidak.


Memang kemana Suaminya sampai harus Devan yang mengantarkannya? Atau jangan - jangan mereka berdua...


Kanaya menunduk merasakan pandangan mata Dian padanya dan juga Devan.


"Oh, iya Mbak Dian saya duluan ya," ujar Devan mengalihkan tatapan Dian dari Kanaya.


Kanaya dan Devan pun pulang.


Devan tak henti - hentinya berbicara mengenai anak dalam kandungan Kanaya. Ia benar - benar takjub, sementara Kanaya lebih banyak diam di dalam mobil.


"Ingat apa kata Dokter, Ay. Harus makanan yang sehat dan bergizi, dan jangan terlalu lelah," oceh Devan di dalam mobil mengingatkan apa yang Dokter katakan di dalam ruangan periksa tadi.


"Mulai sekarang jangan jajan yang kurang sehat! Nanti aku akan bilang ke Siti untuk masak makanan yang bergizi buat kamu. Kamu mau apa tinggal bilang aja." tambah Devan lagi.


Melihat Devan yang sedang mengoceh panjang lebar seperti itu membuat Kanaya lupa pada Dian, dan ia pun tertawa kecil sambil menoleh ke arah jendela kaca mobil dengan mata yang berkaca - kaca.


"Kok ketawa, Ay? Aku serius loh!" Ujar Devan heran. Ia merasa apa yang di katakannya itu benar.


"Iya, Van. Makasih ya. Kamu sudah lama nggak secerewet ini. Aku jadi inget waktu kamu ceramahin aku, untuk terus lanjut kuliah dan move on setelah kepergian Kak Devita" ujar Kanaya.


"Aku cerewet ya..." ujar Devan seperti menyadari ucapannya.

__ADS_1


Kanaya mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi aku tahu maksud baik, makasih ya, Van." ucap Kanaya denga tulus.


"Maaf ya, Ay. Kalau aku cerewet. Aku hanya ingin kamu dan anakmu sehat. Kamu jangan kapok kalau aku cerewetin lagi ya!" Ujar Devan sambil melirik sesekali ke arah Kanaya.


"Iya, Pak Devannnn," jawab Kanaya sambil tersenyum geli.


Tengah malam Kanaya terbangun, bukan karena mimpi buruknya. Namun karena perutnya terasa lapar. Selama hamil porsi makan Kanaya memang tidak terlalu banyak, namun sering. Setiap beberapa jam sekali Kanaya akan makan, dengan porsi yang tidak banyak. Hanya beberapa sendok saja. Beberapa jam kemudian Kanaya akan makan lagi dengan porsi yang tidak banyak juga.


Melihat hal itu Alika dan Ratna menyiasatinya dengan menaruh beberapa lauk yang di taruh di dalam kulkas, dan jika Kanaya mau makan, ia hanya tinggal menghangatkannya saja di microwafe.


Kanaya keluar kamar dan membuka kulkas. Seperti biasa di dalam kulkas ada beberapa lauk yang di taruh dalam kotak kedap udara. Namun Kanaya tidak ingin makan - makanan yang ada di sana. Ia ingin sekali makan cumi saus padang yang dulu pernah di makannya bersama dengan Devan di pantai. Kanaya pun gelisah, ia sangat lapar tetapi tidak ingin makan - makanan yang ada di dalam kulkas. Saat itu sudah jam 11 malam dan semua sudah tertidur lelap. Kanaya memutuskan untuk mengendarai mobil untuk pergi ke pantai itu, dan membelu cumi saus padang keinginannya.


Ia pun hendak mengambil kunci mobil Devan di dalam rak seperti biasa. Akan tetapi malam itu kunci mobil Devan tidak ada di tempatnya. Ia mencari ke sekeliling ruang keluarga, namun tidak menemukannya. Terpaksa ia harus menanyakannya pada Devan.


"Van, Devan." panggil Kanaya pada Devan sambil mengetuk pintu kamar Devan.


Setelah beberapa kali ketukan Devan membuka pintunya.


"Ada apa, Ay?" tanyanya dengan ekspresi yang masih mrngantuk.


"Van, aku mau pinjam mobil?" ujar Kanaya.


Mau pinjam mobil? Devan pun melihat ke arah jam dinding.


"Kamu mau pergi kemana, Ay. Di jam segini?" tanya Devan heran dan mulai hilang rasa kantuknya.


"Aku... mau keluar sebentar. Ada yang mau aku beli," jawab Kanaya.


"Kamu mau beli apa, Ay? Ini sudah malam dan sudah banyak toko yang tutup.


"Aku... Ingin makan seafood. Paling cuma sebentar, Van. Aku mau pinjam mobilmu, tetapi kuncinya nggak ada di depan." ujar Kanaya


Devan ingat menaruh kunci mobilnya di kamarnya, dan bukan ditempat biasannya.


"Ya sudah aku anterin....."

__ADS_1


Bersambung. ...


Jangan lupa untuk selalu like, komen dan juga hadiahnya.


__ADS_2