
Desi mengerutkan keningnya.
"Tentu saja ada Nyonya. Apa yang Nyonya inginkan? Nanti saya siapkan," ujar Desi. Desi adalah satu - satunya orang yang bersikap ramah padanya di rumah itu.
"Apa saja. Saya sangat lapar." ujar Kanaya merasa malu mengatakannya.
"Nyonya tunggulah di ruang makan, saya akan menyiapkan segera," ujar Desi dan ia pun bergegas berjalan menuju arah dapur dan memerintahkan koki membuatkan makanan untuk Kanaya.
"Nyonya, makanlah dim sum ini dulu, sementara Koki sedang memasakkan anda makanan," ujar Desi.
Ia heran mengapa Nyonyanya itu sangat kelaparan, padahal kurang dari 2 jam yang lalu ia menyiapkan sarapan untuk Tuannya dan Nyonya tersebut.
"Nyonya, apakah Anda tidak menyukai bubur yang di siapkan tadi pagi?" tanya Desi penasaran.
"Tidak Desi, bukan tidak suka. Saya tidak sarapan tadi pagi," jawab Kanaya sambil mengambil gelas air putih di depan dan meminumnya.
"Anda tidak sarapan?" tanya Desi heran dan Kanaya menggeleng.
"Baik Nyonya, tunggulah sebentar," ujar Desi dan ia pun segera pergi ke dapur.
"Dimana Sarah?" tanya Desi pada salah satu pelayan yang ada di sana.
"Dia sedang istirahat di kamarnya," jawab Pelayan itu.
Desi melihat jam tangannya dan menggelengkan kepalanya. Dan ia bergegas menuju paviliun khusus pelayan menginap di sana. Ia pun mengetuk pintu Kamar Sarah.
"Sarah, ini aku Desi." ujar Desi sambil mengetuk pintu kamar Sarah.
"Ada apa Desi?" tanya Sarah sambil merapikan pakaiannya.
"Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk memanggil Nyonya sarapan?" tanya Desi pada Sarah langsung.
"Oh iya. Aku sudah memanggilnya." jawab Sarah.
"Tapi kenapa Nyonya mengatakan ia tidak sarapan pagi ini? itu adalah tugasmu untuk melayani mereka dan memastikan mereka menikmati makanan mereka" ujat Desi sambil memandang Sarah.
"Desi, saya sudah memanggil Nyonya. Nyonya sendiri yang tidak mau makan, katanya masih kenyang," ujar Sarah beralasan.
"Harusnya kamu melaporkan itu pada saya Sarah, Kalau sampai Nyonya sakit apa kamu mau bertanggung jawab pada Tuan?" tanya Desi.
__ADS_1
Sarah tertawa. Dan Desi memandang Sarah dengan aneh.
"Tuan tidak akan marah Sarah. Tuan saja membenci Kanaya," ujar Sarah dengan senyum mengejek dengan beraninya.
"Jaga ucapanmu Sarah! Apa yang Tuan lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Selama Nyonya masih menjadi istri Tuan, Sudah kewajiban kita untuk melayaninya. Ingat! Jangan berbicara seperti itu lagi, atau aku akan memberikan penilaian buruk terhadapmu!" ujar Desi dengan nada memerintah Sarah pun menciut dan mengangguk.
Desi meninggalkan kamar Sarah dengan kesal. Ia memang sudah melihat gelagat ketidaksukaan Sarah terhadap Nyonya baru mereka sejak pertama kali Tuannya membawa pulang istrinya itu.
***
"Terima kasih Desi, saya sudah kenyang sekarang," ujar Kanaya setelah ia menyelesaikan makananannya.
"Sudah tugas saya Nyonya. Kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, bilang saja pada saya," balas Desi sambil membereskan piring bekas makan Kanaya.
Kanaya melihat buku yang ada di sampingnya, dan ia teringat kembali pada Devan.
"Desi, bisa saya pinjam Handphone mu?" tanya Kanaya yang tiba - tiba mempunyai suatu ide. Dan ia pun mempercayai Desi. Sehingga ia berani meminjam telepon genggamnya.
"Tentu Nyonya," jawab Desi sambil menyerahkan telepon genggam yang di ambil dari sakunya. Dan Kanaya pun menerimanya.
Kanaya berjalan dan mendekati jendela yang ada di ruangan itu. Ia memencet nomor Devan yang diingatnya di luar kepala. Namun, setelah beberapa kali mencoba menghubungi Devan, hanya ada bunyi tut...tut..tut yang di dengarnya, Seolah - olah telepon Devan tidak aktif.
Dengan sedih Kanaya mengembalikan telepon pada Desi.
"Terima kasih," ujarnya.
"Iya Nyonya. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Desi.
"Desi, bolehkah saya keluar sebentar memakai mobil Elvano? Saya ingin pulang mengunjungi orang tua saya," tanya Kanaya. Ia ingin pulang sebentar mengunjungi kedua orang tuanya dan menanyakan perihal Devan kepada Bunda.
"Maaf Nyonya, Tuan berpesan pada saya bahwa Nyonya tidak boleh pergi tanpa sepengetahuan Tuan," ujar Desi. Ia pun merasa iba melihat ekspresi wajah Kanaya saat ia mengatakan hal itu. Namun tidak ada yang dapat ia lakukan, Ia hanya mematuhi perintah Tuannya.
"Jam berapa biasanya Elvano pulang kerja?" tanya Kanaya.
"Biasanya Tuan pulang pukul Lima atau Enam sore Nyonya, tetapi bisa juga malam jika ada rapat atau sedang banyak pekerjaan," tutur Desi
Kanaya mengangguk.
"Desi, bisa saya pinjam teleponmu lagi?" tanya Kanaya dan Desi memberikan teleponnya kembali.
__ADS_1
"Ini Nyonya. Saya akan membereskan meja makan terlebih dahulu," ujar Desi kemudian meninggalkan Kanaya.
Kanaya mencari nama Tuan Elvano di kontak telepon Desi, dan ia segera Men-dialnya.
Butuh beberapa saat sampai Elvano mengangkat panggilan teleponnya.
"Ya Desi?" Tanya Elvano saat ia menjawab panggilan teleponnya.
"Ini aku Kak Elvano" ujar Kanaya.
Elvano yang mengenali suara Kanaya pun duduk tegak di meja kerjanya.
"Ada apa meneleponku?" tanya Elvano dengan nada dingin.
Saat itu Anton masuk ke ruang kantor Elvano, dan Elvano pun memberi aba - aba kepada Anton untuk menunggunya.
"Kak Elvano, aku mau meminta ijin. Aku ingin pulang ke rumah mengunjungi Papah dan mamahku. Sebentar saja." pinta Kanaya pada Elvano.
"Kamu tidak bisa datang kesana, Kanaya?" ujar Elvano.
"Kenapa Kak El? mereka orang tuaku," ujar Kanaya memohon. Ia benar - benar ingin bertemu dengan orang tuanya dan juga Bunda.
"Sebab aku mengatakan kepada mereka. Kalau aku sedang pergi berbulan madu. Jadi jangan coba - coba mengunjungi mereka beberapa hari ini! Kamu harus ingat bahwa kebahagiaan mereka ada di tanganmu!" ancam Elvano kemudian memutus sambungan telepon mereka.
"Kak Elvano? Kak Elvano?" Panggil Kanaya saat yang di dengarnya adalah bunyi tut tut tut..
Kanaya mencoba menelepon Elvano kembali, namun Elvano tidak mengangkatnya.
'Baiklah aku akan menunggu sampai Kak Elvano pulang dari kantor,' ucap Kanaya dalam batin. Kemudian mencari Desi untuk mengembalikan telepon genggamnya.
Setelah itu Kanaya pun kembali ke ruang baca untuk melanjutkan membaca bukunya.
Tidak banyak yang dilakukan Kanaya hari itu. Sebagian waktunya di habiskan di ruang baca untuk membaca beberapa buah buku yang menarik minatnya. Selebihnya ia mengitari rumah Elvano untuk melihat - lihat kondisi rumah itu.
Menjelang Sore Kanaya telah mandi dan menunggu Elvano pulang dari kantornya. Ia duduk di ruang keluarga sambil menoton televisi.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.