
Halo.. Halo author kembali lagi nih? Adakah yang masih setia😃😄 Semoga suka ya dengan Extra Partnya🤗
Happy Reading....
Bastian Louis Alvarendra dan Berlin Kirannia Alvarendra adalah nama yang Elvano dan Kanaya Pilih untuk putra dan putri kembar mereka.
Entah seperti apa hidupnya andai Kanaya tidak kembali padanya, dia tidak akan pernah merasakan kebahagian seperti ini.
"Terima kasih sayang, telah menjadi Ibu yang hebat dari anakku," ucap Elvano dengan tulus lalu mengecup kening Istrinya sekilas menyalurkan perasaan bahagianya.
"Terima kasih juga atas kesempatan kedua yang kau berikkan untukku," mata Elvano menjadi berkaca - kaca seketika menjadi cengeng.
"Sayang..." ucap Kanaya mengusap pipi suaminya
"Aku berjanji akan menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk keluarga kita,"
Kanaya mengangguk pelan.
Alvaro dan Clara sangat senang dengan kelahiran adik kembar mereka. Elvano pun terlihat sangat bahagia, bisa merasakan dan menjalani peran dirinya sebagai seorang Ayah secara untuh. Sejak Twins B masih dalam kandungan Kanaya, saat Kanaya melahirkannya dan setelah kelahirannya.
Ia sangat antusias sekali dan tidak keberatan untuk bangun di tengah malam menemani Kanaya menyusui Twins B atau pun mengganti popoknya.
******
Yohanes Elvano Alvarendra POV
Hidungku mengusap suatu permukaan yang lembut dengan aroma yang mulai aku terbiasa dengannya. Dan alam bawahku sadarku dengan cepat mengenali aroma itu, aroma yang hanya di miliki oleh tubuh Kanaya.
Dengan mata terpejam kuhirup lagi aroma itu, dan kukecup permukaan lembutnya hidungku menjelajah dan mengusap perlahan permukaan kulit yang telah menjandi canduku.
"Heeemmm....," kudengar Kanaya bergumam sesuatu. Apa dia terbangun?"
Saat aku membuka mata, ku dapati tubuh Kanaya berada dalam dekapanku. Ia membelakangiku dan aku memeluknya dari belakang, bahkan mengaitkan kakiku dengannnya.
Aku tersenyum bahwa aku memilikinya sekarang. Kanaya telah menjadi istriku seutuhnya. Jiwa dan raganya milikku dan hanya aku yang boleh memilikinya dan menyentuhnya.
Kanaya, tahukah kamu bahwa kamu membuatku menjadi laki - laki yang paling bahagia di muka bumi ini?
Selimut yang kupakaikan tadi malam hanya menutupi separuh kebawah tubuh polos kami. Entah bagaimana selimut itu bisa di turun sampai ke pinggang sehingga aku dapat melihat tubuh bagian atas Kanaya yang berada dalam dekapanku. Tubuhku menghangatkannya dan ia tampak nyaman di dalamnya.
Ku angkat kepalaku agar aku dapat melihat wajahnya. Rambut - rambut yang sebagian menutupi pipinya ku pindahkan kebelakang telinganya agar aku dapat melihat dengan jelas wajahnya. ia bergerak sedikit karenanya kembali tertidur pulas.
Ku perhatikan bagaimana ia tertidur. Sesekali bulu mata dan kelopak matanya seperti bergerak. Apa dia bermimpi? Apa yang di impikannya hingga ujung bibirnya membentuk lengkungan, membuatnya tersenyum dalam tidurnya.
Aku harap ia memimpikanku, atau mungkin memimpikkan apa yang semalam kami lakukan.
__ADS_1
Ah, mengingat itu gelora itu hadir kembali, aku ingin mengulanginya lagi. Saat itu. Detik itu.
Jankunku naik turun, mengingat kejadian tadi malam, bagaimana dia berada di bawahku dan menyebut namaku dalam desahannya.
Ekspresi yang di tunjukkannya saat aku memberikannya surga dunia, begitu luar biasa. Aku pikir tidak ada yang akan bisa meniru ekspresi alami seperti itu. Saat tubuhnya menegang di bawahku, matanya mengerjap dan bibirnya memekikan namaku tertahan. Hanya namaku.
Kanaya bergerak merubah posisinya tidurnya,menjadi terlentang. Tentu saja ia tidak sadar jika separuh tubuhnya terekspose.
Kutarik selimut agar bisa menutupi tubuh bagian atasnya, dan tanpa sengaja tanganku menyentuh buah dada ranumnya. Ia meringis..
Baru kuperhatikan jika air susu menetes dari ujung kedua bukit.... em, bukan bukit tapi gunung kembarnya.
Dan baru kuingat, ia belum menyusui Twins B semalaman.
Hmm... kukoreksi, bukan Twins B yang di susuinya tadi malam. Dan aku pun tergelak.
Kuakui aku memang mencobanya. Aku tak ada pilihan lain, karena kedua gunung kembar itu begitu menggoda, and have to taste it!
Kalau Twins B sudah bisa berbicara, mereka pasti akan memarahiku dan mengatakan "Papah, stay away from my milk factory!"
Aku pun terkekeh membayangkan Twins B mengatakan itu.
"Tapi maaf Twins B. Papah tidak bisa melakukannya!" Batinku sambil aku menggeleng menertawai diriku sendiri yang menjadi rival Twins B dalam hal itu.
Tangan Kanaya bergerak, mengucek matanya dan membuyarkan lamunanku. Kudekati wajahnya, dan Kanaya terkejut melihatku menatapnya.
"Selamat pagi, sayang." ucapku sambil tersenyum dan menatapnya. Meskipun aku tidak yakin menyebutnya pagi? Aku bahkan belum melihat sinar matahari dari jendela besar di sisi tembok kamar.
"Selamat pagi," balasnya menarik selimut menutupi dadanya dan melirikku malu - malu.
Baru aku mau mengatakan kalau air susunya berlimpah, tetapi ia sudah menyadarinya sendiri saat selimut basah oleh ASI nya dan ia pun meringis tertahan.
"Aku harus ke Twins B," ucapnya hendak beranjak dari ranjang kami.
"Tunggu Ay," kataku sambil menahan tangannya dan meraih jam tangan di meja nakas di sampingku. Aku ingin tahu jam berapa saat itu, karena dari glass wall yang terbuka belum ada cahaya matahari.
Ternyata tepat dugaanku, saat itu masih jam 4.15, belum juga subuh.
"Sekarang masih terlalu pagi untuk ke tempat Twins B. Aku yakin mereka semua masih tidur dan begitu pula Siti dan Desi." ujarku sambil meletakkan kembali jam tanganku ke meja nakas.
Dia menggigit bibir bawahnya terlihat bingung.
"Pompa ASIku, ada di koper Kak El," ujarnya terlihat bingung dan sebentar meringis saat buah dadanya tersenggol tangannya. Aku pernah mendengar jika ASI tidak segera di keluarkan akan terasa sakit.
"Kalau begitu keluarkan saja," ujarku sambil tersenyum dan menyeringai. Namun, ia tidak melihat seringaiku karena fokus memikirkan solusi.
__ADS_1
"Kamu benar, terpaksa harus aku buang," ujar Kanaya sambil bergeser.
"Eh, mau kemana?" tanyaku sambil menarik tubuhnya kepelukanku, membuatnya ada di atasku.
"Aku mau ke kamar mandi, buang.. susu...." jawabnya sambil merona.
"Biar aku bantu sayang," ujarku, lalu dengan sekejap mata. aku balikkan tubuh kami hingga aku yang berada di atasnya.
"Kak El...kamu mau apa?" tanyanya dengan gugup.
"Aku mau... minum susu..." jawabku sambil memandangnya dan menyeringai.
Belum sempat Kanaya berkata apa - apa sudah kurasakan kembali cairan putih yang berwarna creamy, manis dan sedikit gurih itu langsung dari pabriknya.
******
Kanaya Zavira POV
Ya ampuuuun Kak Elvanooo! Batinku menjerit melihtnya dengan lahap meminum susu milik Twins B.
Awalnya aku merasa geli dan ingin menampiknya, namun ku urungkan niatku melihatnya sangat menikmatinya. Yang bisa ku lakukan hanyalah menutup mulutku menahan tawa.
Harus ku akui bahwa aku tidak lagi merasa sakit akibat air susu yang terlalu penuh di buah dadaku.
"Ada yang lucu?" tanyanya sambil menyeka bibirnya, kemudian memanjat ke atasku, sehingga wajahnya ada di hadapanku.
Aku menggeleng masih dengan tanganku menutupi mulutku, menahan tawa yang mungkin terlepas kalau ku buka mulutku.
Kulihat dengan jelas di sudut bibirnya tersisa cairan putih, susu Twins B.
"Itu..." tunjukku sambil menyekanya dengan jariku.
Aku terkekeh sambil membersihkan bibirnya yang meninggalkan bekas susu seperti seorang anak kecil yang belepotan meminum susu. Menyadari itu, ia pun ikut terkekeh bersamaku.
"Sekarang aku tahu, kenapa Twins B suka sekali dengan susumu," candanya sambil menempelkan dahinya di dahiku.
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.
"Rasanya enak langsung dari botolnya," jawab Elvano sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aku tidak bisa berhenti kalau sudah mencobanya," tambahnya lagi dengan tatapan menggoda.
Setelah itu ia meraih bibirku, dan menyesapnya dan aku pun membalasnya. Bibir kami saling bertautan, memberi perhatian pada satu sama lain.
Tak perlu waktu lama bagi Elvano untuk menyingkirkan selimut yang menghalangi kami, hingga kami mengulang kembali apa yang terjadi malam.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya.