
Mengandung Adegan 21+ harap bijak.
Elvano tidak mempedulikannya dan membawa Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskannya ke ranjang besarnya, hingga tersingkaplah baju terusan yang di kenakan Kanaya, memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.
"Kak Elvano apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kanaya dengan wajah yang ketakutan melihat Elvano menatapnya bagaikan Harimau melihat mangsa. Matanya menggelap melihat kemolekan tubuh Kanaya. Tanpa berpikir panjang Elvano pun langsung menindih tubuh Kanaya dan ******* bibir Kanaya dengan rakusnya.
Kanaya memberontak dan mendorong tubuh Elvano yang ada di atasnya, berusaha melepaskan diri.
"Kak Elvano berhenti!" Teriak Kanaya meminta Elvano menghentikkan apa yang di lakukannya.
"Kau pikir bisa seenaknya membiarkan laki - laki lain menyentuhmu, hah?!" Teriak Elvano sambil mengunci tangan Kanaya di atas kepalanya.
"Kamu milikku Kanaya! Hanya aku yang boleh menyentuhmu!" Teriak Elvano, lalu ia membuka kancing baju Kanaya dengan kasar dengan sekali tarikan hingga robeklah baju Kanaya, memperlihatkan kulit putih halus dan belahan dada di antara kedua gunung kembar Kanaya yang terekspos.
"Jangan Kak Elvano, aku mohon..." pinta Kanaya saat Elvano bagaikan orang kalap merobek pakaiannya hingga tubuhnya terbuka, dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
"Di bagian mana Devan menyentuhnya, hah?" tanya Elvano.
"Tidak, Kak El." ujar Kanaya sambil menggeleng.
Air mata menetes di pipinya saat tubuh Elvano menindihnya dan menjelajahi tubuh Kanaya dengan bernafsu.
"Ini semua milikku Kanaya, milikku!" Teriak Elvano kemudian merobek penutup gunung kembar Kanaya dan ******* kedua gunung kenyal itu dengan penuh nafsu.
"Hentikan, Kak El," ucap Kanaya lirih sambil meneteskan air mata. Namun, hal itu tidak menghentikkan Elvano. Hatinya kalap dan nafsu sudah menguasainya.
"Apa Devan juga menyentuh ini?" tanya Elvano sambil memasukkan tangannya ke dalam penutup segitiga berbahan tipis yang ada di bagian bawah tubuh Kanaya, dan memainkan jarinya di sana.
"Kak Elvano... tolong jangan lakukan ini," pinta Kanaya sambil menangis, merasa harga dirinya telah di lecehkan oleh Elvano.
"Jangan meminta aku berhenti! Kamu milikku dan aku yang berhak melakukan apapun padamu, bukan Devan!" Teriak Elvano kemudian menyobek penutup segitiga Kanaya dengan sekali hentakkan.
Elvano menindih tubuh Kanaya, mengunci ke dua tangan Kanaya dengan satu tangannya dengan kuat, sementara tangan yang lainnya membuka celananya.
__ADS_1
Kanaya tidak bisa memberontak lagi saat Elvano memaksakan miliknya masuk ke dalam bagian terintim miliknya, membuat Kanaya menjerit kesakitan dan Kanaya meneteskan air mata saat Elvano merenggut miliknya yang berharga dan menikmati tubuhnya dengan paksa.
Elvano seperti kehilangan akal sehatnya dan kecemburuan telah membuatnya buta, hingga ia memaksakan kehendaknya berkali - kali pada Kanaya malam itu.
***
Matahari mulai terbit , dan Kanaya berbaring di ranjang Elvano dengan kaki bergetar karean rasa sakit yang luar biasa di pangkal pahanya dan intinya karena perbuatan Elvano padanya semalaman, sedangkan Elvano masih tertidur pulas di sebelahnya karena kelelahan dengan apa yang tengah ia lakukan
Kanaya mengerang tertahan, menahan rasa sakitnya sambil bergeser perlahan, berusaha untuk tidak membangunkan Elvano.
Ia meraih telepon genggamnya di meja nakas dan menulis pesan pada Devan.
Devan tolong aku...
Kanaya pun mengirimkannya segera saat tiba - tiba Elvano menggerakan tubuhnya.
Kanaya pun segera menaruh kembali ponselnya ke atas meja nakas dan menyembunyikannya di bawah buku, tidak ingin Elvano menemukan telepon genggamnya.
***
Kanaya..
Ia pun segera menoleh ke arah lain dan mendapati Kanaya masih tertidur dengan membelakanginya. Selimut menutupi sebagian tubuh Kanaya dan menyisakan punggungnya yang terekspose karena tidak mengenakan sehelai benang pun.
Garis - garis samar menghiasi tubuh langsing bagian belakang Kanaya, hasil kreasi Elvano padanya dulu.
'Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya semalam?' batin Elvano. Merasa syok melihat keadaan kamarnya yang berantakan, dan pakaian Kanaya yang berserakan di lantai bagaikan hewan buas telah mengoyaknya.
Perlahan ia mendekati Kanaya dan mengamati wajah Kanaya. Ia melihat wajah Kanaya yang terpejam dan nafasnya beraturan menandakan ia masih tertidur.
Elvano pun bangun perlahan dan masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan shower air untuk membilas tubuhnya dari bekas keringatnya tadi malam.
"Aaaaaarghh!" Elvano menggeram memukul dinding kamar mandi saat ingatannya akan apa yang ia lakukan tadi malam datang secara silih berganti, dan bagaimana Kanaya menangis memohon padanya untuk berhenti, tetapi ia mengacuhkannya.
__ADS_1
'Bagaimana aku tega melakukan itu padanya? Bagaimana aku bisa memandangnya setelah apa yang aku lakukan padanya tadi malam?' Batin Elvano dengan penuh sesal, memaki dirinya sendiri akan apa yang telah ia lakukan pada Kanaya tadi malam.
Cukup lama Elvano berada di dalam kamar mandi itu, menyesali dirinya. Ia berniat meminta maaf pada Kanaya saat ia telah selesai mandi. Ia pun keluar dari kamar mandi, namun di lihatnya Kanaya masih terlelap, tidak bergerak dari tempatnya.
Elvano memutuskan untuk mengenakan pakaian kerjanya terlebih dahulu baru membangunkan Kanaya. Elvano memang mempunyai meeting penting siang nanti dan ia harus pergi ke kantor hari itu.
"Kanaya...." panggil Elvano pelan sambil memegang pundak Kanaya. Namun Elvano sangat terkejut saat mendapati tubuh Kanaya yang sangat panas.
"Kanaya..." panggilnya lagi sambil memegang kening Kanaya. Panas. Tubuh Kanaya sangat panas.
"Kanaya, bangun Ay!" Panggil Elvano berkali - kali tapi, namun Kanaya tidak bergerak sama sekali dan hanya mengeluarkan gumaman dari mulutnya.
Elvano berlari keluar kamar dan memanggil Desi.
"Desi! Desi!" Panggil Elvano dengan keras dan panik.
Desi yang sedang berada di lantai dasar pun segera menghampiri Elvano dengan tergopoh - gopoh.
"Cepat panggil Dokter Adam, sekarang!" Perintah Elvano.
"Ya Tuan," jawab Desi dengan nada yang sama cemasnya. Ia tahu untuk siapa Dokter Adam di panggil. Ia sendiri tidak tahu keadaan Nyonyanya, namun melihat kepanikan Tuannya. Ia merasa kondisi Kanaya sangatlah buruk.
Desi sempat mengecek seluruh ruangan di rumah itu untuk mencari keberadaan Kanaya tadi pagi. Namun, ia tidak menemukannya. Ia menduga Kanaya ada di dalam kamar Elvano, namun ia tidak bisa memasukinya karena kamar itu terkunci dari dalam.
Elvano segera kembali masuk kedalam kamarnya dan menghampiri Kanaya.
"Ay... bangun Ay," panggil Elvano sambil menepuk pipi Kanaya berkali - kali, namun Kanaya juga tidak membuka matanya.
Desi yang telah menelepon Dokter Adam dan menyuruh Panji untuk menjemput Dokter itu, segera masuk ke dalam kamar Elvano.
Desi terkesiap dan menutup matanya saat melihat kamar Elvano. Betapa terkejutnya ia melihat seisi kamar Elvano yang telah berantakan, apalagi melihat pakaian yang di kenakan Kanaya tadi malam tampak berserakan di lantai dengan kondisi terkoyak.
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typo.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.