
Sejak keluar dari penjara dan resmi bercerai dari Kanaya, Elvano tampak sangat lesu dan tidak bergairah. Ia memang sudah bekerja kembali. Namun, tampaknya semangatnya tidak seperti yang dulu lagi. Ia lebih banyak menyendiri dan hanya bicara seperlunya saja.
Sean pun sudah pulang kembali ke rumah sakit, sedangkan Lisa masih membantu Elvano di perusahaan. Sean berpikir sudah waktunya bagi Lisa untuk mulai menekuni dunia bisnis. Ia pun belajar banyak dari Anton yang selalu membimbingnya dengan sabar.
Meskipun begitu, perkembangan usaha Alvarendra tidak sepesat dulu. Sore itu Elvano baru pulang dari kantor. Seperti hari - hari belakangan ini, ia akan selalu naik ke kamarnya dan tidak akan keluar lagi kecuali untuk makan malam.
Ia baru saja membuka pintu kamarnya saat di dengarnya pintu dari ujung lorong itu terbuka.
"Kanaya..." ucap Elvano sembari menoleh dengan penuh harap. Berharap Kanaya yang ada di sana akan tetapi bukan Kanaya yang di lihatnya keluar dari kamar itu, melainkan salah satu pelayan di rumahnya yang membawa alat kebersihan.
Raut wajah kecewa terpancar jelas di wajah Elvano.
"Sore, Tuan." Sapa pelayan itu saat melewatinya.
Elvano selalu teringat Kanaya. Ia tahu Kanaya selalu menghabiskan waktu di kamar baca atau kamar kecilnya di ujung lorong. Ingatannya akan Kanaya membuat Elvano melangkah Kaki menuju ke ruang baca dan memasukinya. Ia membayangkan Kanaya berbaring di sofa panjang itu, sambil asik membaca - baca buku novel kesukaannya.
Langkah Elvano berhenti di salah satu rak buku dan mengambil salah satu buku kesukaan Kanaya yang ia tahu Pride and Prejudice. Di bukannya sampul buku itu beberapa halaman, ia melihat beberapa kalimat yang di garis bawahi.
"You are too generous to trifle with me. If you feelings are still what they last April, tell me so at once. My affections and wishes are unchanged, but one word from you will silence me on this subject forever." (" Kamu terlalu bermurah hati untuk meremehkanku. Jika perasaanmu masih sama seperti April lalu, katakan padaku segera. Kasih sayang dan keiginanku tidak berubah, tetapi satu kata darimu akan mebungkamku tentang hal ini selamanya)".
Elvano menghela nafas dalam - dalam ia merasa tertohok dengan kalimat itu. Seandainya.... Ya, seandainya semua hal terkutuk itu tidak di lakukannya, ia masih memeluk Kanaya saat ini, di sini, menemani Kanaya membaca helai demi helai halaman buku - buku kesukaannya.
Ia pun terduduk lemas di sofa ruang baca itu sambil memeluk erat buku yang ada di tangannya.
"Tuan...." Panggil Desi perlahan saat menemukan Tuannya itu duduk di sofa di ruang baca dengan raut wajah yang sedih. Desi pun tidak tega melihat Tuannya seperti itu, tetapi tidak ada yang bisa di lakukannya. Semuanya terjadi karena kesalahan Tuannya sendiri.
Elvano mengangkat wajahnya dan bertanya, " Ada apa Desi?"
__ADS_1
"Maaf Tuan, ada paket datang sore ini," ujar Desi sambil memberikan sebuah kotak dengan sampul yang berwarna coklat.
Elvano mengambilnya dan melihat memang paket itu di tujukan untuknya. Ekspresi wajah Elvano berubah saat melihat pengirim paket itu Kanaya Zavira.
'Kanaya? Mengapa ia mengirimiku paket? Paket apa ini?' batinnya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, ia pun sangat penasaran dan cepat - cepat membuka paket itu.
Di sobeknya sampul coklat yang menutupi kotak hitam di dalamnya. Ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang Kanaya kirimkan padanya. Ia berharap paket itu pertanda bahwa Kanaya memberinya kesempatan kedua.
Timbul secercah harapan di hati Elvano dan ia pun mulai membukanya dengan sangat antusias.
Namun, wajahnya kembali menampakkan kesedihan yang jauh lebih mendalam saat di lihatnya isi kotak hitam itu.
'Tidak Kanaya, jangan lakukan ini !" Jerit hati Elvano.
Cincin kawin yang dulu ia sematkan di jari Istrinya itu, telah kembali di hadapannya bersama Kanaya hari itu, hari dimana ia tidak bersandiwara memberikan perhatian tulus pada Kanaya.
"Tuan, anda baik - baik saja?" tanya Desi dari tempatnya bediri, ia tidak berani untuk mendekati Tuannya itu dan menenangkannya. Ia hanya membiarkan Tuannya itu menangis, mungkin dengan menangis bebannya akan hilang.
***
Setelah hari itu, Elvano seperti kehilangan jati dirinya. Ia kembali ke club malam dan kembali mabuk - mabukkan. Keluarganya pun menjadi resah oleh sikap Elvano.
Suatu malam, Elvano sedang berada di club malam di temani oleh dua orang pria yang ia kenal di club itu beberapa hari yang lalu. Duduk di samping mereka masing - masing seorang wanita penghibur yang mau meladeni apapun permintaan mereka.
Saat sedang asyik mengobrol dan minum Elvano secara tidak sengaja bertemu dengan Maya, ia sedang asik bergelendotan dengan seorang laki - laki yang Elvano kenal juga sebagai salah satu pengusaha di kota mereka.
"Oh, Bapak Yohanes Elvano Alvarendra yang terhormat. Bagaimana rasanya bui?" tanya Maya dengan nada yang mengejek Elvano.
__ADS_1
"Maya, Pergilah! Urus saja urusan mu sendiri! Aku tidak mau bicara lagi denganmu!" Ujar Elvano merasa benci pada Maya.
"Lihatlah dirimu Elvano, meyedihkan sekali karena seorang wanita yang tidak berharga!" Ejek Maya yang masih belum puas untuk mengejek Elvano. Ia masih sangat kesal karena tidak berhasil mendapatakan Elvano saat ia masih kaya raya dan di segani. Dan semua itu karena Kanaya Zavira!
"Jaga mulutmu Maya! Kanaya bukan wanita sampah sepertimu!" Teriak Elvano dengan emosi. Meskipun ia mabuk tetapi ia masih dapat mencerna perkataan Maya. Dan dia tidak rela jika Maya mengatakan hal jelek tentang Kanaya! Bagi Elvano, Kanaya masih tetap menjadi wanita yang ia cintai.
"Apa? Kau bilang aku wanita sampah?" ujar Maya sambil tertawa terbahak - bahak.
"Tapi kau menikmati tubuh wanita sampah ini, bukan?" ujar Maya lagi.
"Pergilah! aku sungguh jijik melihatmu, Maya!" Seru Elvano sambil menepis Maya agar pergi menjauh darinya.
Melihat Maya membuat Elvano mengingat kembali penghiantannya pada Kanaya, dan ia pun membencinya.
"Elvano, kau ini paling mudah di hasut dan di pengaruhi. Aku katakan Kanaya yang membunuh Devita, kau percaya! Aku katakan Kanaya berselingkuh dengan Devan, kau pun percaya juga!" Ujar Maya sambil tertawa mengejek.
"Apa?! Jadi semua itu, adalah kebohongan Maya?" pikir Elvano saat ia mendengar pengakuan Maya.
"Aku menyiksa Kanaya selama ini karena kebohongan Maya! Dan aku memperkosa Kanaya juga atas kebohongan Maya!" Pikir Elvano lagi mengingat perbuatannya selama ini pada Kanaya karena kebohongan Maya dan hasutannya.
Emosi Elvano pun mendidih. Amarahnya pun begitu meluap - luap, dan sekali kepalan ia meninju Maya hingga terpelanting dan membentur tembok di belakangnya. Ia begitu emosi dan sangat marah hingga tidak memandang Maya sebagai seorang perempuan. Baginya Maya adalah orang sudah yang sudah menghancurkan hidupnya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like... like... like.... yang banyak yah. Dan jangan lupa selalu tinggalkan jejak komen kalian.
__ADS_1