Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Tidak Terbiasa


__ADS_3

Kanaya berjalan mengelilingi kamar besar Elvano, ia tidak lagi melihat foto Kak Devita di kamar itu. Dimana Kak Elvano menyimpannya?


"Kanaya, kenapa tidak tidur?" tanya Elvano saat Elvano keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Aku... aku tidak terbiasa... di sini Kak Elvano," jawab Kanaya dengan gugup sambil melihat ke arah lain.


"Bolehkah aku kembali ke kamarku saja?" tanya Kanaya dengan wajah pucat.


"Kanaya, aku tahu kamu belum terbiasa, tapi cobalah lama - lama kamu akan terbiasa," ujar Elvano sambil menggandeng tangan Kanaya kembali ke ranjang besar di kamar itu. Elvano kembali mendudukan Kanaya di sana.


"Tidurlah, aku berpakaian dulu," ujar Elvano sambil tersenyum dan berjalan menuju lemari besarnya dan masuk ke dalam untuk berpakaian. Tak lama ia keluar sudah mengenakan piyamanya.


Elvano langsung berjalan menuju ranjang tampat Kanaya duduk dengan canggung, kemudian membaringkan dirinya di sisi lain ranjang itu.


"Ay..." panggil Elvano sambil mrnepuk ruang kosong di sampingnya, meminta Kanaya untuk berbaring di sana.


Kanaya pun pelan - pelan berbaring di ranjang itu di sisi bersebrangan dengan Elvano. Melihat itu, Elvano menarik tubuhnya dan tubuh Kanaya mendekat, hingga mereka bertemu di tengah - tengah ranjang.


"Ay, aku memang telah berbuat hal buruk kepadamu, tetapi aku akan berjanji mencoba mulai memperbaikinya saat ini dan tidak akan menyakitimu lagi." ujar Elvano sambil memandang kedua bola mata Kanaya.


'Benarkah?' Batin Kanaya sambil menatap mata Elvano yang ada di hadapannya.


Kanaya menoleh ke arah lain. Ia tidak ingin memandang mata Elvano lebih lama, hatinya masih sangat sakit setelah apa yang ia lakukan padanya, dan Elvano mengatakan hal itu seperti apa yang telah dilakukannya tidak berarti apa - apa.


Ia belum bisa menerima janji apa pun yang dikatakan Elvano, hatinya masih membutuhkan waktu untuk sembuh dan mempercayai kata - kata Elvano.


"Aku ingin istirahat, Kak El," ujar Kanaya sambil membaringkan tubuhnya dan menghadap ke arah lain.


Elvano tentu saja kecewa karena Kanaya masih menjaga jarak darinya, tetapi ia tidak ingin memaksa Kanaya, dan membiarkan Kanaya melakukan apa yang di inginkannya.


Elvano bergeser mendekati Kanaya dan memeluk Kanaya dari belakang. Walaupun Kanaya menjaga jarak darinya, ia masih tetap bisa tidur dan memeluknya.


Setelah kejadian ia hampir membunuh Kanaya, hati Elvano mulai luruh, dan bagian dari dirinya yang selama ini membutuhkan Kanaya semakin bertambah kuat. Mengalahkan kebenciannya pada Kanaya karena telah membunuh Devita. Apalagi keraguannya akan kebenaran kata - kata Maya membuatnya mengabaikan apa yang Maya telah katakan padanya. Berpisah dari Kanaya selama beberapa hari pun membuatnya merindukan Kanaya dan ia ingin memiliki Kanaya seutuhnya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Elvano untuk tidur terlelap sambil memeluk Kanaya, tetapi Kanaya justru tidak dapat tidur. Ia gelisah dan merasa asing berada di sana, dalam pelukan laki - laki yang bergelar suaminya.


Kanaya tidak tahu pukul berapa, hingga akhirnya ia tertidur, dengan harapan pagi menjelang dan ia bisa terbebas dari rasa gelisahnya.


***

__ADS_1


Elvano tersenyum saat membuka matanya dan melihat wajah Kanaya yang tertidur di hadapannya. Perlahan ia bergeser menjauh, hendak beranjak dari ranjangnya, berusaha tidak membangunkan Kanaya yang sedang terlelap.


Ia berhasil beranjak dari ranjang tanpa membangunkan Kanaya, dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap - siap bekerja.


Kanaya terbangun oleh suara ketukan di pintu.


"Tuan," panggil Desi dari balik pintu kamar Elvano.


Kanaya beranjak dari tidurnya dan mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Ia berpikir jika Elvano sedang mandi, dan ia pun berjalan menuju pintu.


"Tuan, Nyo...." tiba - tiba ucapan Desi terhenti melihat Kanaya yang membukakan pintu kamar.


"Ada apa Desi?" tanya Kanaya sambil menutup mulutnya yang menguap karena masih mengatuk.


"Nyonya... Nyonya tidur disini?" tanya Desi dengan terkejut.


"Iya Desi, Kak Elvano meminta aku tidur disini tadi malam," jawab Kanaya.


"Ada apa, kenapa pagi - pagi sudah panik?" tanya Kanaya yang mendengar nada panik dari Desi tadi saat mengetuk pintu.


"Tidak Nyonya, saya hanya khawatir ketika saya tidak menemukan Nyonya di kamar," ujar Desi tersenyum malu seperti menertawai dirinya sendiri.


"Anda baik - baik saja, Nyonya?" tanya Desi sambil memperhatikan Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ya Desi, aku baik - baik saja, aku hanya menemani Kak Elvano tidur tadi malam," ujar Kanaya sambil melangkah keluar dan menutup pintu.


"Nyonya mau kemana?" tanya Desi.


"Ini sudah pagi, Desi. Aku mau ke kamarku dan mandi," ujar Kanaya sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Baik Nyonya, sarapan akan siap sebentar lagi," ujar Desi sambil tersenyum, kemudian berbalik ke arah tangga.


Elvano yang telah selesai mandi, keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Kanaya yang telah pergi dari kamarnya. Ada rasa kecewa di hatinya.


Elvano segera mengenakan pakaian kerjanya dan keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Saat ia sampai keruang makan, ia tidak mendapati Kanaya disana, hanya ada Sarah yang sedang menyiapkan sarapannya.


"Dimana Istri saya?" tanya Elvano pada Sarah.


"Nyonya belum turun, Tuan?" ujar Sarah sambil menunduk.

__ADS_1


"Cepat cari dia, dan katakan aku menunggunya untuk sarapan," perintah Elvano pada Sarah.


Sarah meninggalkan ruang makan dan segera berjalan menuju ke kamar Kanaya di lantai 2. Di depan pintu kamar Kanaya ia berhenti mengetuk pintunya.


"Ya sebentar," jawab Kanaya yang masih mengenakan bajunya setelah selesai mandi.


Setelah berpakaian, ia pun membuka pintu dan mendapati Sarah berdiri di depan kamarnya. Sudah lama ia tidak berhubungan dengan Sarah, karena Desi sebisa mungkin menjauhkan Sarah dari Kanaya.


"Ada apa Sarah?" tanya Kanaya.


"Tuan menunggu Nyonya untuk sarapan?" ujar Sarah.


Kanaya memandang wajah Sarah, mencari tahu apakah ia berbohong seperti waktu itu atau kah bicara sebenarnya."


"Apa benar Elvano menunggu aku sarapan?" tanya Kanaya lagi untuk memastikan.


"Iya Nyonya. Segeralah ke meja makan, Tuan sudah menunggu dari tadi," ujar Sarah.


"Baik, aku akan menyusul kesana sebentar lagi," ujar Kanaya, kemudian menutup pintu kamarnya. Dan Sarah pun kembali ke ruang makan.


"Mana istriku?" tanya Elvano tidak sabar.


"Nyonya sedang bersiap - siap, Tuan. Beliau baru selesai mandi," ucap Sarah sambil menunduk.


Elvano melihat jam yang ada di tangannya dan mengetuk - ngetuk meja makan dengan jarinya sambil menunggu Kanaya.


Tak lama Kanaya pun turun, dengan baju terusan selutut berwarna putih dengan motif bunga - bunga kecil yang terlihat manis.


"Kak Elvano, apa kamu memanggilku?" tanya Kanaya sambil mendekati meja makan.


"Temani aku makan, Kanaya." ujar Elvano sambil tersenyum, melihat Kanaya yang telah selesai mandi, dan terlihat sangat manis pagi itu.


Kanaya menarik kursi di seberang tempat duduk Elvano.


"Kanaya kenapa jauh sekali? Duduklah disini?" ujar Elvano sambil menepuk kursi makan di sebelahnya.


Kanaya diam, tidak jadi duduk di kursi itu.


Jangan lupa, like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2