Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Godaan Malam Pertama


__ADS_3

Acara akad Kanaya dan Devan berlangsung di ballroom Grand Hotel di kota B, yang rencananya di hadiri oleh kurang dari 100 orang keluarga Kanaya dan Devan. Kerabat, sahabat dan kolega dekat Kanaya dan Devan.


Ballroom itu telah di sulap menjadi tempat acara akad nikah yang indah dan sakral. Di dekorasi dengan nuansa hijau, putih dan gold yang luar biasa indah.


Setelah berbagai macam sambutan pengajian dan doa, tibalah acara yang dinanti pengucapan ijab dan qobul.


Kanaya di perbolehkan keluar dari ruangan tempatnya menunggu. Ia berjalan ke karpet merah melewati para tamu undangan yang sebagian besar ia kenal dengan baik. Diantaranya ada Ibu Rena, Gilang, Luna, Sean, Lisa, kemudian ada Bella dan juga Fandi. Selebihnya kolega dekat Devan dan Kanaya.


Sedangkan Devan, ia berdiri bersama penghulu, Pak Alexander David Mahendra sebagai saksi nikah, dan juga Om Tyo yakni Adik dari Papa Kanaya yang tinggal di lain kota. Om Tyo akan bertindak sebagai wali nikah Kanaya, karena Papa Kanaya telah tiada.


Kanaya berjalan di karpet merah itu di ikuti Ratna yang menggedong Alvaro dan tiga orang keluarga dari Om Tyo sebagai satu - satunya keluarga Kanaya yang ada.


Devan memandang Kanaya tidak berkedip sambil tersenyum dan menunggu ia sampai di depannya. Dalam pandangan Devan Kanaya tampak sangat cantik. Kebaya yang di pakainya, meskipun panjang, namun tidak mengurangi keindahan lekuk tubuhya. Begitu pula riasan wajahnya walaupun terlihat natural namun masih terlihat glamour dan fresh dan bercahaya.


Kanaya pun memandangi Devan sambil tersenyum, mengaggumi ketampanan Devan mengenakan setelan jas dan rambut yang diatur classic tapper cut. Kali pertama ia melihat Devan hari itu dan matanya seperti terpaku padanya.


Kanaya tidak mendengar dengan jelas apa yang pembawa acara katakan saat itu. Fokusnya hanya melihat pada Devan. Ia pun berhenti di depan Devan saat Devan meraih tangannya dan mengajaknya duduk di sebelah kursinya.


"Kamu cantik sekali sayang," bisik Devan sebelum ia ikut duduk di samping Kanaya.


Rupanya Devan tidak ingat jika dia sedang menggunakan mikrofon yang di sematkan di kerah bajunya sehingga semua orang bisa mendengarkan semua bisikan itu. Dan para tamu undangan pun bersorak riuh rendah.


Kanaya tersipu malu, sedangkan Devan tersenyum menanggapinya.


Tak ada yang salah dari perkataannya, Kanaya memang cantik, dan ia menyayanginya.


Acara pun kembali berlangsung dan kata - kata itupun di ucapkan.


"Aku terima nikah dan kawinnya Kanaya Zavira Binti Rayhan Adi Wiguna dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Devan dengan mantap dengan satu kali hembusan napas.


Dan balasan kata "SAH!" Yang di ucapkan tamu undangan pagi itu, terdengar begitu indah bagi Kanaya dan Devan. Sehingga mereka berdua tersenyum dengan penuh suka cita.


Kanaya dan Devan terlihat sangat bahagia hari itu, mereka menerima ucapan selamat dan menyalami begitu banyak orang, tidak hanya saat akad nikah, namun resepsi pernikahan mereka malam harinya.


Tamu undangan terakhir sudah pulang dan hanya tinggal keluarga terdekat. Alvaro tampak sudah tertidur di gendongan Siti. Sementara Alika dan Ratna pun sudah tampak lelah.


"Kalian istirahatlah biar Alvaro, tidur sama Mama dan Bunda," ujar Ratna.


"Mah, apa nanti tidak merepotkan Mama dan Bunda?" tanya Kanaya merasa tidak enak, karena kamar yang akan Devan dan ia tempati berada di lantai teratas hotel itu, sedangkan Ratna dan keluarga lainnya berada di lantai bawahnya.


Devan dan Kanaya sebagai newlywed couple mendapat courtesy dari Alexander David Mahendra, pemilik hotel untuk menempati president suite room hotel itu untuk dua malam.

__ADS_1


"Nggak pa - pa. Alvaro sudah tidur, dan nanti kalau dia terbangun masih ada simpanan ASI, jadi kalian tidak perlu kuatir mengenai Alvaro. Kalian istirahatlah," ujar Alika ikut menimpali.


Kanaya dan Devan saling pandang.


"Kita ke atas?" ajak Devan sambil menaikan kedua alisnya dengan jenaka.


"Sudah Kanaya, temani Devan beristirahat," ujar Ratna, menasehati anaknya itu untuk pergi ke kamar mereka.


"Ya sudah, Kanaya dan Devan istirahat dulu ya Bun, Mah. Kalau ada apa - apa jangan sungkan.."


"Iya Kanayaaa..., sudah sana kalian istirahat!" Ujar Ratna dengan sedikit kesal karena anaknya itu keras kepala saat segera di suruh istirahat. Bagaiamana pun juga malam itu adalah malam pengantin mereka bukan? Ratna dan Alika sengaja memberi pasangan pengantin baru itu waktu untuk berdua.


Devan menarik Kanaya dengan menggedongnya bride style sebelum Kanaya bicara lagi.


"Devannn!" Pekik Kanaya saat tidak punya persiapan dengan apa yang Devan lakukan padanya.


Ratna dan Alika hanya tertawa geli melihat Devan membopong Kanaya dan masuk kedalam lift.


"Udah Van, turunin," ujar Kanaya saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Untuk apa?" tanya Devan sambil menyeringai.


"Nanti kamu cape gendong aku," ujar Kanaya.


"Jadi Nyonya Devan Permana, jadi apa yang harus aku lakukan malam ini?" tanya Devan sambil memandang wajah Kanaya.


"Devan, mmm... sepertinya kita.... mmm..." ucap Kanaya namun tidak di teruskan.


"Kita....?" tanya Devan lagi ingin Kanaya meneruskan ucapannya.


"Kita... aku... maksudku... harus melepas ini semua terlebih dahulu," ujar Kanaya sambil memujuk baju kebaya dan riasan serta tatanan rambutnya.


"Oke," jawab Devan sambil menahan senyumannya, bertepatan dengan saat pintu lift terbuka dan ia menuju ke satu - satunya pintu yang ada di lantai itu dan Kanaya membukanya.


Ia menurunkan Kanaya di tengah - tengah di ruangan itu seperti halnya mereka sangat takjub dengan kemewahan presdent suite room yang di berikan untuk mereka. Ruangan itu sangat besar dengan sebuah televisi besar, beberapa buah sofa panjang, sebuah sofa single yang bentuknya melengkung, lemari pendingin, sebuah ranjang besar dan lebar dengan sebuah buket bunga yang cantik di ataz meja nakas dan kuntum bunga mawar tersebar di atas tempat tidur mereka.


Kanaya berjalan menuju ke wall window yang ada di sana dan memandang gedung - gedung pencakar langit yang ada di kota B, dengan lampu malamnya dan bintang serta langit biru yang cerah. Indah sekali.


"Devan, ini indah sekali! Kita harus benar - benar berterima kasih pada, Pak David," ujar Kanaya sambil menoleh ke arah Devan.


"Ya," ujar Devan sambil menoleh pada Kanaya.

__ADS_1


"Ay," ujar Devan sambil meraih pinggang Kanaya dan menariknya dekat.


Jantung Kanaya bedebar kencang. Kanaya memang sudah sering berduaan saja dengan Devan. Tapi itu saat mereka belum menikah dan Devan tidak melakukan apa - apa lebih dari seharusnya. Dan sekarang?


"Ya Van?" jawab Kanaya kemudian menelan ludahnya.


Devan memandangi wajah cantik Kanaya. Kemudian ia sedikit fokus pada bibir Kanaya yang terbuka. Ia memang selalu merindukan bibir hangat dan lembut milik Kanaya. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia mengecupnya lembut dan menyesapnya perlahan sambil menarik tubuh Kanaya lebih dekat padanya. Semakin lama semakin intens apalagi ketika Kanaya membalas kecupannya.


Kanaya melingkarkan lengannya di leher Devan, namun sungguh pakaian kebaya membatasu gerak Kanaya sehingga ia tidak merasa nyaman.


"Devan," ucap Kanaya, menarik dirinya sesaat.


"Ya Ay," tanya Devan dengan pandangan mata yang sudah menggelap.


"Aku.... harus segera melepas ini," ujar Kanaya dengan tersipu.


'Hmmm, memang pakaian kebaya ini menyulitkan," batin Devan sambil tersenyum.


"Biar aku bantu ya," ujar Devan sambil mulai membuka kancing kebaya di depan dada Kanaya.


"Jangan Van! Biar aku saja," ujar Kanaya sambil tangannya memegang dadanya.


"Biar aku saja, Van. Aku... ke kamar mandi dulu," ujar Kanaya sambil melangkah mundur. Kemudian berjalan cepat masuk kedalam kamar mandi. Dan setelah masuk kedalam kamar mandi Kanaya langsung melepas baju pengantinnya, mandi, menyisir rambutnya dan juga membersihkan wajahnya dan air sabun yang ada di sana.


Kanaya bahkan tidak tahu, dimana mereka menaruh koper dan peralatan pribadinya di kamar itu. Ia belum melihat saat mereka masuk tadi. Karena tidak tahu dimana koper miliknya, Kanaya pun mengenakan bathrobe yang di sediakan di sana.


Devan menunggu Kanaya dengan gelisah dan menuangkan segelas air untuk ia minum. Ia pun melepas jasnya kemudian ia sampirkan di sandaran sofa yang ada di sana dan menggulung bajunya hingga sebatas lengan.


15 menit kemudian Kanaya keluar dari kamar mandi dengan malu - malu karena hanya mengenakan bathrobe hotel.


"Van, aku nggak tahu dimana koper kita," ujar Kanaya sambil berjalan pelan ke arah Devan sambil memegang sambungan tali bathrobenya di depan dada.


Devan tersenyum, ia pun tidak tahu dimana koper mereka. Tapi, siapa yang membutuhkan koper untuk saat ini, iya kan?"


"Minum dulu, Ay." Ujar Devan sambil memberikan segelas air pada Kanaya. Kanaya menerimanya dan langsung meminumnya habis.


Devan tersenyum dan memandangi wajah polos Kanaya. Kanaya memang hanya mengenakan bathrobe tanpa make up, dan rambutnya pun hanya tergerai begitu saja. Namun entah mengapa ia mendapati Kanaya sangat **** malam itu. Apalagi saat pikiran liar Devan mengatakan jika Kanaya tidak mengenakan apapun di bawah bathrobe sungguh ini adalah godaan malam pertama yang sangat indah.


"Kamu tetap cantik sayang, apapun yang kamu pakai," ujar Devan sambil memgambil gelas di tangan Kanaya dan menaruhnya kembali di meja, kemudian ia mengangkat tubuh Kanaya dan menggedongnya.


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, voye dan hadiahnya.


__ADS_2