
"Ya sudah aku anterin," ujar Devan sambil masuk kembali dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan juga jaket. Devan saat itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos untuk tidur.
"Nu, biar aku sendiri aja," ujar Kanaya yang tak enak hati merepotkan Devan tengah malam seperti ini.
"Apaan sih, Ay? Nggak mungkin aku biarin kamu keluar jam segini sendirian," ujar Devan berjalan sambil keluar rumah dan Kanaya mengikutinya dari belakang.
Devan mengendarai mobilnya mencari tempat makanan seafood yang masih buka.
"Kamu mau makan apa sih, Ay? Kok tumben jam segini mau seafood?" tanya Devan sambil matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari tempat makan yang masih buka. Hampir semua rumah makan dan tenda seafood yang mereka datangi tutup.
"Aku pengin banget makan cumi saus padang yang waktu itu kita makan di pantai, Van?" terang Kanaya.
Devan manggut - manggut. 'Mungkin ini yang namanya ngidam,' batin Devan.
"Nah, itu ada!" Ujar Devan tersenyum saat ia melihat sebuah warung tenda seafood yang masih buka. Ia pun mermarkir mobilnya dan segera memesan cumi saus padang keinginan Kanaya.
Hanya dalam beberapa menit cumi saus padang itu terhidang di sana beserta sepiring nasi yang hangat untuk Kanaya.
"Ayo Ay, di makan?" ujar Devan sambil mendekatkan sepiring nasi dan cumi saus padang ke dekat Kanaya.
Kanaya memandangi cumi saus padang di depannya, dan ia menggeleng.
"Kenapa Ay? Kok nggak di makan.Katanya kamu pengin makan cumi saus padang?" tanya Devan heran.
"Aku nggak mau yang ini, Van?" jawab Kanaya pelan.
"Kamu mauanya yang apa?" tanya Devan berusaha sabar.
"Aku mau cumi saus padang tapi bukan yang ini!" Jawab Kanaya dengan cemberut.
Pemilik dan Pelayan warung tenda itu menoleh ke arah mereka, karena mendengar perkataan Kanaya.
"Terus kamu maunya yang bagaimana? Cumi saus padang semuanya sama seperti ini," tanya Devan masih sabar.
"Aku maunya yang di pantai Van, yang waktu itu?" jawab Kanaya matanya mulai berkaca - kaca.
"Yang di pantai? Ya ampuunn, itu kan jauh tempatnya! Jam segini juga pasti sudah tutup!" Batin Devan.
"Ay, kalau di pantai jam segini pasti sudah tutup. Kamu makan yang ini aja dulu ya, besok sore baru kita kesana." bujuk Devan.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau anterin aku kesana, biar aku sendiri yang kesana," ujar Kanaya, lalu beranjak dari duduknya.
"Eh, Eh, Ay. Tunggu dulu! Bukannya aku nggak mau anter kamu, tapi ini sudah larut malam dan aku yakin sudah tidak ada siapapun di sana," ujar Devan kembali membujuk.
Tiba - tiba Kanaya menangis.
"Ay, udah dong, jangan nangis nggak enak tuh di lihat, Masnya." ujar Devan sambil mengelus pundak Kanaya dan melirik karyawan warung tenda yang sesekali melihat mereka.
Kanaya berbalik lain arah sambil menutupi wajahnya, dan tidak ingin berbicara lagi dengan Devan.
Devan menghela napas.
"Mas, tolong di bungkus aja," ujar Devan sambil mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanan mereka.
"Ayo Ay. Kita berangkat." ajak Devan setelah menerima bungkusan makanan mereka.
Devan pun mengalah dan membawa Kanaya ke pantai yang jaraknya cukup jauh sekitar satu jam perjalanan.
Dalam perjalanan, Ratna menelepon Devan.
"Iya Tante, Kanaya ada sama Devan," jawab Devan. Rupanya Ratna terbangun dan tidak menemukan Kanaya di kamarnya. Ia pun menjadi khawatir dan menghubungi Devan.
"Maaf Tante, tadi kami pergi tidak bilang," ujar Devan. Alasan Devan tidak memberitahukan kepergian mereka karena kedua Ibu mereka sudah tidur dan Devan berpikir bahwa ia dan Kanaya akan keluar sebentar saja. Ia tidak menyangka bahwa harus mengendarai mobil sampai ke pesisir untuk mengantar Kanaya mencari cumi saus padang keinginannya. Sesampainya di Pantai hari sudah lewat tengah malam dan suasana sangat sepi. Tidak ada satu orang pun di sana.
"Ay, udah sampai ujar Devan perlahan sambil menepuk bahu Kanaya.
Kanaya pun terbangun dan melihat sekitarnya, gelap gulita.
"Dimana kedainya Nu?" tanya Kanaya sambil mengucek matanya.
"Itu di depan," jawab Devan sambil menunjuk sebuah rumah beberapa ratus meter di depan mereka dan tampak hanya sebuah lampu yang temaram meneranginya
"Kamu tunggu di sini, Ay. Biar aku yang kesana. Kamu kunci pintu sampai aku kembali," ujar Devan sambil membetulkan letak sweater yang di pakai Kanaya.
Kanaya mengangguk.
"Hati - hati, Van" ujar Kanaya, sedikit takut karena saat itu sangat gelap dan sunyi. Hanya suara debur ombak di pantai di dekat mereka yang terdengar.
Devan mengangguk dan keluar dari mobil.
__ADS_1
"Kunci pintu, Ay." ujarnya sebelum menutup pintu mobil.
Kanaya segera mengunci pintu mobil dan memperhatikan Devan yang berjalan menuju kedai hanya di terangi oleh cahaya lampu dari telepon genggamnya.
Devan berjalan di pinggir pantai itu sambil memeluk jaketnya dan memegang telepon genggamnya untuk menerangi jalan yang ada di depannya. Setelah lima menit berjalan sampailah ia di kedai yang di maksud.
Kedai itu tampak sepi dan hanya satu buah lampu yang menerangi teras kedai berisi bangku - bangku yang di tumpuk yang biasanya di gunakan untuk duduk pengunjung kedai itu.
"Permisi!" Teriak Devan, berusaha mengalahkan suara ombak dari pantai di dekatnya.
Masih tidak ada jawaban dari sang pemilik kedai.
"Permisi! Halo?" Teriak Devan sekali lagi sambil mengetuk pintu kedai itu beberapa kali.
Akhirnya setelah mengetuk dan berteriak berkali - kali, pintu itu pun terbuka juga.
Seorang pria paruh baya membuka pintu.
"Ada apa, Mas?" tanya pria itu pada Devan dengan pandangan menyelidik.
"Maaf Pak, kalau saya sudah menganggu Bapak malam - malam. Apa Bapak pemilik kedai Seafood?" tanya Devan pada pria itu.
"Iya Pak. Tapi kami sudah tutup dan ini sudah tengah malam, besok saja datang lagi," jawab Bapak itu dengan nada tidak ramah sama sekali.
"Siapa Pak?" tiba - tiba seorang wanita paruh baya berdaster berdiri di belakang Bapak itu.
"Ini Bu, malam - malam tanya kedai," jawab Bapak itu.
"Maaf, Pak, Bu. Istri saya... dia sedang hamil 4 bulan dan sedang ngidam masakan kedai Bapak," ujar Devan, ia terpaksa mengatakan Kanaya Istrinya karena hal itulah yang paling masuk akal untuk di ucapkan dan tidak menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.
"Istrinya mana?" tanya Bapak itu.
"Ada Pak, saya tinggal di mobil tadi, saya khawatir dia akan kedingan kalau berjalan kaki sampai kesini karena dia juga sedang hamil," jawab Devan. Mobil memang tidak bisa mencapai depan kedai itu persis karena kedai itu berada 200 meter dari jalan beraspal.
Devan lalu memperlihatkan foto di telepon genggamnya. Foto dirinya dan Kanaya yang di ambilnya belum lama ini dan memperlihatkan perut Kanaya yang sudah semakin membesar.
"Isti Bapak mau apa?"
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote