Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kenangan Yang Indah


__ADS_3

Kanaya Zavira POV


Kurasakan hembusan angin dan deru ombak yang menyapu pantai terdengar di telingaku.


Aku mengenali pantai ini. Saat pertama kali ku buka mataku. Ya, pantai ini banyak memberikanku kenangan yang indah. Pantai inilah tempat pertama kali aku datang bersama Devan di kota B, dan di pantai inilah Devan memberikanku cumi saus padang saat aku tengah mengandung Alvaro. Tempatnya di kedai itu, kedai yang saat ini masih berdiri tegak. Namun saat ini, pantai ini begitu sepi. Tidak ada seorang pun di sini.


"Kanaya!" Kudengar suara yang sangat familiar memanggil namaku.


Aku menoleh dan kulihat Devan tersenyum dan melambaikan tangannya padaku memintaku untuk menghampirinya. Senyum mengembang di wajahku saat aku melihatanya lagi, berdiri tegak dan menatapku dengan penuh rindu.


Aku pun berlari menghampirinya dan melompat ke arahnya, merasakan tubuhnya yang hangat dan kokoh dalam pelukanku. Kudekap tubuh yang berpakaian putih - putih itu dengan erat dan tak ingin ku lepaskan.


"Devan, aku rindu! Aku sangat rindu sama kamu!" Ucapku bertubi - tubi, melepaskan kerinduanku padanya. Seakan - akan sudah bertahun - tahun aku tidak berjumpa dengannya, sahabatku, kekasihku, pujaan hatiku.


"Aku juga sayang, aku juga sangat rindu padamu!" Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala ku. Memeluk ku erat dalam dekapan hangatnya.


Hatiku berbunga - bunga, belum pernah kurasakan kebahagaiaan seperti ini, bisa memeluknya kembali, merasaakan hangat tubuhnya dan menghirup aroma khas tubuhnya.


"Lihatlah sayang, kamu masih sangat cantik seperti dulu. Kanaya Zavira, gadis pendiam dengan hati sebening embun," ucap Devan sambil memandang lekat diriku. Aku tersenyum mendengar pujiannya. Pujian yang sangat kurindukan keluar dari mulutnya. Panggilan kata sayang yang sangat kurindukan.


Aku merindukanmu. Aku merindukan setiap ucapanmu, tawamu bahkan caramu memandangku dan memelukku erat dalam dekapanmu.


Kamu yang selalu membuat aku merasa istimewa, kamu yang selalu memujaku, dan kamu yang akan melakukan apa pun untukku.


Kami berdua pun saling tatap, dan aku merasakan kedamaian saat aku menatap matanya. Kegelisahan yang kurasakan mendadak hilang hanya dengan menatap matanya. Mata yang jika ku tatap dapat menembus hingga ke dasar relung hatinya, tempat aku bisa merasakan kehangatan cintanya padaku.


Ia melepaskan pelukanku dan menggandeng tanganku, mengajakku berjalan sepanjang tepian pantai itu.Menikmati saat - saat menjelang matahari yang terbenam. Hanya berdua saja. Kami. Aku dan Dia.


"Kanaya, apa kamu tahu kenapa orang sangat suka melihat matahari terbenam?" tanya Devan sambil melihat ke arah matahari yang mulai mengeluarkan warna jingga, orange dan kemerahan di ufuk barat.


Aku menatap ke arah matahari itu sesaat sebelum aku menoleh padanya.

__ADS_1


"Karena indah," jawabku.


Devan terkekeh. Kekehan yang paling indah yang pernah ku dengar. Entah mengapa apa yang kurasakan padanya sore itu merupakan yang terindah darinya.


"Tidak ada yang lebih indah dari pada memandangmu," ujarnya kemudian sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat pipiku terasa hangat.


"Tapi kamu benar. Karena pemandangan matahari terbenam memang indah, dan orang tetap mencarinya, meskipun tahu itu pertanda bahwa matahari akan menghilang. Kamu tahu kenapa?" tanya Devan lagi.


Aku berpikir dan menggeleng, tidak tahu pasti alasannya.


"Karena keindahan matahari terbenam akan tetap di ingat meskipun matahari itu telah hilang. Di sini," ujar Devan sambil meraih tanganku dan meletakkan tanganku di dadaku.


Seketika itu juga hatiku terasa perih, perih yang teramat sangat hingga menyebabkan air mataku menetes.


"Tidak Devan! Kamu tidak boleh pergi!" Teriakku sambil memeluk dirinya dengan erat.


"Kanaya sayangku," ucapnya di telingaku, membuat tubuhku bergetar hebat, dan tangisku semakin keras terdengar.


Kudekap tubuhnya semakin erat, namun seerat apapun aku memeluknya, dengan mudah tangannya bisa menarikku menjauh darinya. Membuat sedikit jarak di antara aku dan dirinya, sehingga ia bisa menatap mataku. Menghipnotisku dengan pandangan matanya.


Ia tersenyum dan jari jemarinya menghapus butiran air hangat yang tiada henti mengalir di pipiku.


"Kanaya sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sini, di hatimu, Alvaro dan Clara," ujarnya sambil menaruh tangannya di dadaku.


"Just let me go," ucapnya sebelum ia mengecup keningku dan berjalan mundur menjauh dariku.


"Devannnn!" Panggilku padanya.


"Jaga dirimu baik - baik sayang," ucapnya sambil tersenyum dan pergi menjauhi, berjalan menyusuri pantai itu. Sampai akhirnya aku tidak bisa melihat lagi. Sementara itu, aku hanya terdiam terpaku di sana dan memanggil namanya tanpa bisa kugerakan kakiku untuk mengejarnya.


Aku menangis dan memejamkan mataku, menyadari bahwa dia telah pergi. Dia telah menghilang. Hanya tinggal kenangan indah yang tidak akan pernah ku lupa selamanya.

__ADS_1


Saat aku membuka mataku, langit - langit kamarku dan Devan terbentang di atas ku. Bukan lagi pemandangan pantai dengan indahnya sunset di sore hari.


Pipiku basah berurai air mata dan begitu pula bantal yang ku gunakan sebagai alas kepalaku.


Aku berbaring sendiri di ranjang itu. Ranjang yang biasa ku bagi bersama hangatnya tubuh Devan.


Kali ini ranjang itu begitu dingin dan sepi, meskipun begitu masih dapat ku hirup aroma tubuh Devan di ranjang dan kamar ini, akan tetapi kehangatannya telah hilang.


Ku peluk erat guling yang ada di sisiku dan kuhirup wangi tubuhya. Bagaimana dapat ku lepaskan, sayang?


Beberapa hari sudah, sejak aku pertama kali melihat Devan terbaring lemah di ranjang kamar ICU itu. Dokter telah memberikan pernyataan bahwa Devan mengalami banyak benturan, terutama di bagian kepalanya yang menyebabkan koma dan tidak sadarkan diri. kondisinya semakin melemah setiap harinya, bahkan dokter telah menggunakan alat bantu life support untuknya.


Alvaro dan Clara telah mengetahui apa yang terjadi dengan Ayah mereka, dan aku pun tidak bisa merahasiakannya lagi.


Berat bagi kami menerima kenyataan ini. Jangan kan bagi Alvaro dan Clara, aku saja masih belum dapat menerima kejadian yang menimpa Devan.


Setiap hari kami pergi ke rumah sakit. Ku katakan pada Alvaro dan Clara, untuk berbicara pada Ayah mereka, karena Ayah mereka pasti mendengarkan apa yang mereka katakan. Itulah yang aku yakini. Meskipun Devan dalam keadaan koma, akan tetapi aku yakin Devan masih dapat merasakan kehadiran kami yang menemaninya di sana.


Aku bisa merasakan kesedihan Alvaro dan juga Clara, karena aku pun merasakannya. Namun aku selalu berharap, bahwa Devan akan tersadar suatu saat nanti dan akan kembali sehat seperti sedia kala, dengan mengabaikan apa yang dokter katakan mengenai kondisi kesehatan Devan.


Ya, Dokter telah mengatakan kepadaku, bahwa kecil kemungkinan Devan dapat bertahan dengan kondisi tubuhya sekarang dan yang terbaik adalah melepaskannya pergi, dengan menghentikkan mesin life support yang menyokong 'keberadaannya' saat ini.


Semua urat nadi di dalam diriku menyangkal apa yang di katakan dokter padaku, sampai saat ini. Saat Devan mendatangiku dalam tidurku.


Just let me go, pintanya.


"Sayang, sanggupkah aku merelakanmu?"



Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2