
**** Flashback ON ****
"Bertahanlah Maya." ujar Elvano ia sangat khawatir dengab kondisi Maya dan jabang bayi yang di kandungnya.
"Sakit Elvano." ujar Maya.
"Aku sangat takut kehilangan anak kita." ujar Maya sambil meneteskan air mata.
"Bertahanlah kita akan sampai di rumah sakit," ujar Elvano.
"Cepatlah Panji!" Teriak Elvano pada Panji agar cepat mengendarai mobilnya.
"Baik Tuan." ujar Panji berusaha mengendarai mobil secepat mungkin.
Maya tersenyum dalam pelukkan Elvano. Ia memang tidak ingin Elvano tahu jika ia mengalami keguguran, tapi bagaimana lagi? Ia secara tidak sengaja terjatuh dan menyebabkan pendarahan. Paling tidak dengan kejadian ini ia bisa menyalahkan Kanaya.
ia berharap setelah kejadian ini, Elvano akan menyingkirkan Kanaya selama - lamanya.
Sesampainya di rumah sakit, Maya segera di tangani oleh dokter dan perawat yang ada di rumah sakit itu.
"Bagaimana kondisinya dokter?" tanya Elvano dengan harap - harap cemas.
"Sakit Dokter!" Teriak Maya berusaha meyakinkan dokter itu. Ia tidak ingin mengatakan kepada Elvano jika janinnya tidak berkembang.
"Maaf Pak, bisa bapak tunggu di luar?" pinta Dokter itu pada Elvano.
Elvano pun mau tak mau keluar dari ruangan itu dan menunggu di depan ruang gawat darurat. Maya sedikit lega ketika Elvano tidak ada di ruangan itu.
"Maaf Bu, sepertinya janin dalam kandungan ibu sudah tidak berkembang," ujar Dokter itu.
"Apa benar Dokter?" pura - pura Maya tidak tahu.
"Ya, sepertinya pendarahan ini bukan karena terjatuh, tetapi karena keguguran alami," ujar Dokter itu dengan mengerutkan keningnya.
"Dokter.., Bisakan dokter tidak mengatakan hal ini pada suami saya? Maksud saya, saya merasa sangat kehilangan denga keguguran ini. Dan saya tidak ingin suami saya menyalahkan saya atas keguguran ini, kalau sampai ia tahu janinnya tidak berkembang," pinta Maya.
"Maaf Bu...."
"Saya mohon dokter, bilang saja saya keguguran karena terjatuh," pinta Maya sambil meneteskan air mata dan memasang wajah yang sangat sedih dan takut, hingga dokter itu pun tak tega untuk menolak permintaannya.
__ADS_1
"Saya akan membantu ibu, tetapi dalam laporan medis saya, saya harus menulis yang sebenarnya, alasan yang sebenarnya penyebsb ke guguran ibu" ujar dokter itu.
'Tidak masalah dokter, Elvano tidak akan membaca dan mengerti laporan medis dokter!' Batin Maya berserok gembira.
"Baik dokter tidak apa - apa, yang penting suami saya tidak pernah menyalahkan saya. Terima kasih dokter," ujar Maya dengan wajah yang lega.
Dokter itu pun mengangguk dan keluar dari ruang gawat darurat.
"Bagaimana kondisinya dokter?" tanya Elvano begitu dokter itu keluar dari ruang gawat darurat.
"Mohon Maaf, Pak. Janinnya tidak bisa kami selamatkan," ujar dokter pada Elvano.
"Jadi... jadi Maya keguguran?" tanya Elvano.
"Iya Pak, saya mohon maaf. Kalau besok belum tuntas, kami terpaksa akan melakukan tindakan medis." ujar Dokter.
Elvano mengangguk pelan.
Kanaya, kamu sengaja melakukan ini! Kamu memang pembunuh! Geram Elvano dalam hati.
"Elvano..." panggil Maya dengan lirih. dari bilik ruang gawat darurat.
"Elvano aku kehilangan anak kita...." ujar Maya sambil menangis dan bersedih.
"Tidak apa Maya, tidak usah di pikirkan, yang penting jaga kesehatanmu." ujar Elvano yang berusaha menenangkan Maya yang terlihat sedih dan syock.
"Seandainya Kanaya tidak mendorongku... ini semua tidak akan terjadi Elvano." ujar Maya sambil menangis tersedu - sedu di dada Elvano.
"Apa yang terjadi Maya? Kenapa dia bisa mendorongmu?" tanya Elvano ingin tahu.
Sebagian dalam diri Elvano merasa tidak mungkin Kanaya melakukan hal itu, jika tidak ada pemicunya yang membuatnya benar - benar marah. Selama menikah dengan Kanaya, Elvano belum pernah melihat Kanaya berlaku kasar atau bermain tangan pada siapapun, sehingga ia heran mengapa Kanaya sampai hati mendorong Maya yang sedang hamil dari atas tangga.
"Aku tidak tahu Elvano, aku hanya bilang bahwa aku akan menikah denganmu besok, dan dia harus mengikhlaskanmu. Tetapi dia malah marah - marah padaku dan menuduh aku telah meracunimu dengan memberitahu mengenai apa yang ia lakukan pada Devita. Padahal aku hanya mengatakan apa yang aku tahu. Dia tidak suka aku menikah denganmu Elvano, itu sebabnya dia ingin melukaiku dan membunuh anak kita." ujar Maya dengan air mata yang masih berlinang.
Mendengar semua penjelasan dari Maya Elvano sangat marah. Elvano mengepalkan tangannya.
*** Flashback OFF ***
****
__ADS_1
"Kanaya cepat buka atau aku akan menghancurkan pintu ini!" Teriak Elvano dengan amarah dari balik pintu kamar.
"Tidak Kak Elvano, aku tidak bersalah! Pergilah!" Ujar Kanaya berharap Elvano akan segera pergi meninggalkannya.
Elvano pun menggedor pintu dengan keras dan menendangnya berkali - kali.
Akhirnya dengan dorongan bahunya yang kuat, ia mendobrak pintu kamar Kanaya hingga kunci pintu itu rusak dan terbuka!
Elvano memandang nanar pada Kanaya yang berdiri di sudut kamar itu dengan ketakutan dan pucat pasi.
Elvano mendekati Kanaya dengan tangan terkepal.
"Ku mohon jangan dekati aku, Kak Elvano! Aku tidak bersalah! Aku tidak mendorong Maya!" Teriak Kanaya sambil berlari menyelamatkan diri dan melemparkan benda - benda apa pun yang ada di dekatnya ke arah Elvano. Lampu sudut ruangan, pajangan yang ada di meja bufet di dekatnya, serta buku - buku yang ada di kamarnya, untuk menghambat Elvano mendekatinya. Ia tahu tidak akan selamat jika Elvano menangkapnya. Namun, apa daya kamar kecilnya tidak membuatnya terbebas lebih lama, Elvano menangkapanya dan mencengkram lehernya ke tembok, membuatnya sulit bernapas.
"Pembunuh! Kamu sengaja melakukan itu untuk membunuh anakku!" teriak Elvano dengan cukup keras. lalu...
PLAK!!
Satu tamparan sangat keras Elvano berikan pada Kanaya sehingga sudut bibirnya langsung berdarah. dari tamparan itu Kanaya merasa sedikit pusing. namun Elvano kembali mencengkram leher Kanaya dan mencekiknya. Kanaya berusaha melepaskan cengkraman elvano di lehernya dan meronta - ronta. Elvano mencekik Kanaya begitu kuat.
"Lepaskan Nyonya Tuan!" Teriak Desi sambil berlari menghampiri Tuannya.
Ia berusaha menarik tangan Elvano yang mencekik leher Kanaya.
"Kumohon lepaskan Tuan, Nyonya tidak bersalah!" Teriak Desi dengan sekuat tenaga berusah melepaskan tangan Elvano.
"Jangan pernah ikut campur Desi! Dia telah membunuh anakkku!" Teriak Elvano dengan emosi sambil mendorong Desi dengan satu tangannya sehingga Desi terjelembab. Namun Desi segera bangkit kembali dan berdiri di depan Tuannya.
"Tolonglah Tuan, Nyonya tidak bersalah! Aku punya buktinya!" Teriak Desi untuk menghentikkan Elvano dari mencekik Kanaya yang keadaannya kini sudah sangat pucat dan lemah karena kekurangan oksigen.
"Apa?" Seru Elvano sambil menghempaskan Kanaya ke atas ranjangnya.
Desi langsung menghampiri Kanaya dan mengecek kondisi Kanaya yang terbatuk - batuk dengan leher memar.
"Nyonya, apakah Nyonya baik - baik saja?" tanya Desi.
"Bagaimana kau tahu ia tidak melakukannya? Apakah kau melihatnya?" tanya Elvano masih dengan emosi tinggi dan tidak memperdulikan Kanaya yang kesakitan.
"Cepat katakan Desi! Teriak Elvano dengan tidak sabar.
__ADS_1
Janga lupa like komen dan vote