
Terima kasih banyak untuk para reader yang masih setia membaca cerita ini. Love u all so much❤❤❤ kalian yang terbaik.... Terima kasih karena sudah membuat cerita yang biasa ini menjadi sesuatu yang istimewa. Dan mohon maaf yang sebesar - besarnya bagi para reader yang tidak puas dengan novel ini, karena saya juga masih dalam tahap menulis cerita. Oleh karena itu masih banyaaakkk banget kekurangnya. Tapi makasih banyak loh udah mau mampir❤
Happy Reading semuanya....🤗
**** Flash Back On *****
"Nyonya Alvarendra, apakah ada yang ingin kamu makan? Ayam bakar, sea food, atau yang lainnya" tanya Elvano membelai pucuk kepala Kanaya. saat mereka sedang duduk di ruang tamu siang itu.
"Aku tidak mau itu, Kak El" jawab Kanaya menatap wajah Elvano dengan lekat.
"Lalu kamu mau makan apa?" ujar Elvano kemudian mencubit pipi Kanaya yang tembem.
"Isshh... sakit Kak El" rengek Kanaya memajukan bibirnya, tiba - tiba Elvano yang jail langsung mecium bibir Kanaya, dengan mata tertutup Elvano terus ******* bibir Kanaya, mata Kanaya mendelik sempurna, ia tidak tahu kalau dirinya akan mendapatkan serangan mendadak dari suaminya itu.
"Ish, Kak El. Tidak enak kan di lihat oleh asistenmu. Sudah pesankan aku bakso saja!"
"Really..? Hanya itu saja?" tanya Elvano.
"Iya... tapi Bakso beranak yang super pedas ya..?"
"Mana ada sayang...?"
"Ada... tadi pas kita lewat ada di pengkolan?"
"Kalau di pengkolan tidak higienies, Ay? Nanti Anak kita kena kuman?"
"Issh,,, Kenapa banyak sekali sih larangannya."
Arfan yang sedari tadi sedang berdiri, menahan tawanya, melihat Bosnya yang sedang berdebat dengan istrinya hanya karena masalah bakso.
"Tapi ini permintaan anak kembar kita, Kak El," ujar Kanaya ngambek dengan mengerucutkan bibirnya.
"Arfan, kamu sudah dengarkan apa yang Istriku minta, sekarang cepat belikan bakso beranak itu," kata Elvano pada Arfan.
"Tapi aku tidak mau Asisten mu yang beli, sayang?" ucap Kanaya.
Elvano mengernyitkan keningnya lalu berkata, "Lalu kamu mau menyuruh siapa, Ay?"
"Ya kamu lah Kak El," ucap Kanaya spontan.
"What! Aku?" ucap Elvano menunjuk wajahnya sendiri .
"Huaaaa... hiks... kamu tidak sayang sama anak kita Kak El, kamu jahat..." rengek Kanaya menangis tersedu - sedu.
Elvano pun mulai panik dan bingung.
"Oke... oke aku akan cari.. kamu jangan nangis ya Ay. Aku beli sekarang... oke kamu tunggu ya," ucap Elvano yang menenangkan Kanaya dan beranjak dari ruang tamu untuk mencari bakso pesanan kanaya itu.
Sementara itu, Elvano dan Arfan sedang mencari pengkolan di pinggir jalan yang menjual bakso beranak super permintaan Kanaya dan bayi kembarnya.
"Aku heran kenapa Kanaya selalu meminta yang aneh - aneh. Bakso beranak... memangnya bakso beranak itu seperti apa. Apa kamu tahu Arfan?" Gerutu Elvano.
"Nah, itu... itu.. bakso beranaknya," tujuk Arfan yang tak jauh dari mobilnya berhenti, ada sebuah tenda merah yang di penuhi oleh orang - orang yang mengantri.
"Rame banget Pak Elvano, tapi apa nggak salah Nyonya Kanaya minta bakso pengkolan itu?"
"Iya, katanya itu permintaan anak kembarku," jawab Elvano tersenyum getir.
__ADS_1
"Ya sudah biar saya yang turun Pak Elvano, karena antriannya sangat panjang,".
"Tidak usah, biar aku yang turun sendiri dan mengantri aku takut anak kembarku nanti ngeces,"
"Baik Pak El. Kalau begitu saya parkirkan dulu agar Pak Elvano tidak terlalu jauh untuk berjalan,"
Elvano dan Arfan pun berjalan ke warung bakso tersebut.
"Ada cowok ganteng beli bakso pinggir jalan,"
"Rapi banget pake jas lagi." heheehe
Begitulah bisik - bisik para wanita yang sedang mengantri, namun Elvano dan Arfan hanya cuek tanpa pedulikan mereka.
Elvano pun mulai berbicara...
"Tolong semuanya yang berada di sini, Istriku sedang hamil, tolong bisahkah, aku meminta duluan?"
"Ya nggak bisa dong! Kami sudah ngantri dari tadi!" Kata seorang pembeli.
"Pak, berapa harga bakso beranak semangkok?" tanya Elvano.
"Semangkok 25 ribu aja, Tuan,"
"Ya sudah saya beli semua,"
"Nggak bisa gitu dong. Enak ajah, saya sudah mengantri dari tadi malah mau di borong!" Ucap pembeli lainnya yang merasa kesal.
"Tenang Mba, Bos saya membeli semua bakso itu artinya kalian bisa makan gratis sepuasnya," ucap Arfan menjelaskan ucapan dari Bosnya itu.
"Apa? Bener ini, Tuan? Kita makan gratis?" kata salah satu pembeli. Dan pembeli yang lainnya ikut merasa senang.
"Baik Tuan, saya buatkan untuk Tuan duluan yang lain sabar ya, kan gratis," kata tukang bakso yang merasa senang.
"Ini Tuan, baksonya," kata tukang bakso lalu menyerahkan satu bungkus katong plastik pada Elvano.
"Jadi berapa semuanya, Pak?" tanya Elvano.
"Ada 80 porsi, Tuan. Jadi totalnya semua dua jutaan,"
"Ini ada uang empat juta ambilah," ujar Elvano sambil menyerahkan ke tangan tukang bakso tersebut.
"Ini beneran buat saya, Tuan?" tanya tukang bakso yang tak percaya, kemudian di anggukan oleh Elvano.
"Terima kasih Tuan," ujar sang pemiliki bakso dan membungkuk dengan hormat.
Elvano dan Arfan meninggalkan pengkolan itu menuju ke rumah kembali, hingga Elvano sampai di rumahnya.
Ceklek.
"Sayang..." Elvano masuk ke dalam rumah dan melihat Kanaya yang sedang tertidur di sofa ruang tamu.
"Cup!" Elvano mencium kening Kanaya.
Kanaya terbangun saat mendapatkan kecupan dari Elvano. " Kak El, kamu sudah pulang? Mana bakso beranak supernya?" tagih Kanaya.
"Ini..." Elvano mengangkat plastik bakso itu dan memberikannya pada Kanaya. Kanaya pun langsung menaruh bakso beranak itu ke dalam mangkok dan memakan bakso beranak itu dengan lahap.
__ADS_1
"Kak El, kamu mau coba?" tawar Kanaya pada Elvano.
"Tidak, Ay! Untuk kamu saja, pelan - pelan saja makannya," ucap Elvano sambil mengelus lembut kepala Kanaya.
"Akhirnya habis juga," kata Kanaya sambil bersandar di punggung sofa, dan mengelus perutnya yang buncit.
"Enak banget, Kak El. Berapa harga bakso beranak super ini?" tanya Kanaya.
"Empat juta!" jawab Elvano.
"Apa?!"
***** Flashback Berakhir *****
Kanaya mendengarkan Elvano dan memandangi wajahnya. Mengingat kejadian tersebut mereka bedua pun tersenyum geli.
"Tetapi aku bersyukur memiliki ini semua bersamamu. Kamu, orang yang aku cinta. Ada bersamaku. Anak - anak yang luar biasa yang kita miliki. Anugerah apalagi yang lebih baik dari ini semua? Kamu memberiku keluarga yang sempurna," ujar Elvano sambil memandang manik mata Kanaya.
Kanaya tersentuh, dengan apa yang di katakan Elvano padanya. Ia menarik dirinya mendekati wajah Elvano dan mengecup bibirnya.
"Pertama. Aku bersyukur kamu mencintaiku dan juga anak - anak, tanpa terkecuali. Kamu Papah yang terbaik untuk mereka Kak El." ujar Kanaya mengingat Elvano sangat menyayangi Clara seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri Alvaro dan Twins B ( Bastian dan Berlin).
"Yang kedua aku pun tak pernah menganggap mu lebay," ujar Kanaya di sambut tawa geli keduanya.
"Tapi benar Kak El, menurutku.. kamu sangat menarik dan sexy dengan sikap sentimentilmu itu," ucap Kanaya sambil melingkarkan lengannya di leher Elvano.
"O ya?" tanya Elvano sambil mengerling ke arah Kanaya.
"Ya... untuk apa aku berbohong?" jawab Kanaya sambil merapatkan dirinya dengan Elvano.
"Nyonya Alvarendra, apa kamu mau merayuku?" tanya Elvano sambil mendekap erat tubuh Kanaya yang saat itu sudah setengah berbaring di atasnya.
"Mungkin," jawab Kanaya sambil mengerling nakal pada suaminya itu.
Sedetik kemudian kedua insan itu, sudah saling menautkan bibir mereka satu sama lain.
"Nyonya besar sepertinya aku harus menculikmu sebentar," ujar Elvano sambil beranjak duduk untuk kemudian berdiri sambil menggendong Kanaya di hadapannya.
"Kak El, tapi aku belum selesai berbicara denganmu," ujar Kanaya dengan manja sambli ia menatap wajah Elvano yang ada di hadapannya dan hanya beberapa centimeter saja jaraknya. Kanaya melingkarkan kakinya pinggang Elvano untuk mencegahnya terjatuh saat Elvano membawanya ke arah rumah pantai mereka.
"Kita lanjut bicara lagi nanti, sekarang saatnya aku akan menunjukkan betapa seksi dan menariknya suamimu ini!" Ujar Elvano sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Bunda mau kemana?" teriak Clara, yang melihat Bundanya beranjak pergi dan di gendong oleh Elvano.
"Bunda mau bobok Siang dulu Clara!" Teriak Elvano tanpa memutus kontak matanya dengan Kanaya.
Meskipun, Clara heran di biarkannya saja Bunda dan Papanya itu masuk kedalam rumah pantai dan ia kembali asyik bermain bersama Alvaro dan Twins B.
"Desi! Tolong jaga anak - anak di depan lagi ya, mereka masih bersama dengan Siti dan satu hal lagi jika Twins B ingin minum tinggal hangatkan Asi saja" ucap Elvano tanpa menoleh ke arah Desi saat ia melewati Desi di dekat pintu masuk rumah. Ia langsung membawa Kanaya masuk ke dalam kamar mereka.
"Baik Tuan," jawab Desi sambil tersenyum melihat kemesraan mereka dan membiarkan mereka menikmati kebersamaan mereka.
"Akhirnya Tuan dan Nyonyanya benar - benar berbahagia bersama." ucap Desi dalam batin. Kemudian Desi keluar rumah dan menghampiri ke empat anak itu yang sedang bersama Siti dan bermain di pantai.
Bersambung..
Episodenya udah Author buat panjang, sekarang bantu Author untuk VOTE dan jangan lupa sehabis baca langsung LIKE sertakan KOMENTAR positifnya juga ya, Author sangat berterima kasih dengan komentar - komentar kalian yang sudah buat Author bersemangat. Nantikan Extra part ke 4 🤗 Para reader sabar menunggu kan....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadihnya.