
Devan menatapnya heran, karena Monika tidak mengerjakan apa yang di suruhnya dan malah berdiri bersandar di dekatnya.
"Oke Pak, terima kasih banyak," ujar Devan sambil menutup sambungan teleponnya dan melirik ke arah Monika.
"Ada yang mau Bapak bicarakan dengan saya, Pak?" tanya Monika sambil tersenyum manis.
Devan memundurkan kursinya agar memberikan jarak pada Monika dan berdiri mengambil jasnya yang berada di gantungan jas dan memakainya.
"Apa yang kamu katakan pada Kanaya tadi malam?" tanya Devan tanpa basa - basi sambil berjalan kembali di depan Monika.
Devan ingin tahu apa yang Monika katakan pada Kanaya tadi malam, hingga membuat Kanaya menanyakannya mengenai di penjaranya Elvano. Apa maksud Monika mengangkat topik sensitif itu kepada Kanaya, padahal mereka tidaklah dekat?
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa Pak Devan menanyakan hal itu? Pikir Monika.
"Tidak Pak, saya... saya mengobrol saja dengan Bu Kanaya," jawab Monika dengan gugup.
"Apa tepatnya yang kamu obrolkan?" tanya Devan lagi, berusaha membuat Monika berbicara.
"Saya... saya hanya menanyakan perjalanan Ibu Kanaya ke kampung halamannya. Itu saja?" jawab Monika.
"Untuk apa?"
"Saya pikir Ibu Kanaya kembali ke kota D untuk bertemu mantan Suaminya," tambah Monika beralasan.
Devan memperhatikan Monika berbicara. Ia sama sekali tidak percaya apa yang di katakan Monika.
Merasa mendapatkan tatapan tajam seperti itu, Monika pun menjadi salah tingkah.
"Dan apa urusanmu menyakan hal itu padanya? Apalagi sampai mengungkit - ngungkit mantan Suaminya yang ada di dalam penjara?" ujar Devan.
"Bahkan kau juga membawa - bawa namaku dalam hal ini!" Seru Devan.
Meskipun Devan tidak tahu persis apa yang di bicarakan mereka semalam. Akan tetapi, ia sudah bisa menebaknya. Karena Kanaya langsung menyakan padanya mengenai pengetahuannya akan vonis penjara Elvano.
__ADS_1
Di mata Monika terlihat sangat jelas jika Devan mencoba melindungi Kanaya dan ia pun menjadi kesal. Namun ia hanya bisa menunduk.
"Monika kamu adalah pengacara yang bekerja di firma saya, dan saya harap kamu lebih fokus pada pekerjaanmu, dari pada mengurusi masalah pribadi orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kasus yang sedang kamu kerjakan!" Ujar Devan sambil menatap tajam Monika.
"Ba... baik Pak," jawab Monika kemudian ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Tok! Tok! Tok!
"Pak Devan, Pak Amran sudah siap Pak. Apa Bapak mau berangkata sekarang?" ujar Beni yang tiba - tiba menyembulkan wajahnya di pintu ruangan Devan.
"Saya sebentar lagi turun, Beni," ujar Devan sambil menoleh ke arah Beni. Sesaat lalu kembali lagi pada Monika.
Beni yang merasakan suasana tegang di kantor itu, tidak berani berlama - lama berdiri di sana, dan segera menutup pintu. Memilih Devan menunggu di luar ruang kantornya.
"Biarlah Monika mendapatkan pelajaran," batin Beni. Melihat dari tatapan mata Devan ia tahu Devan sedang memarahi Monika, dan Devan tidak akan melakukan itu pada karyawannya kalau karyawannya tidak membuat suatu kesalahan. Ia sangat tahu betul jika Devan sangat toleran terhadap para karyawannya.
"Lain kali kamu mencampuri urusan pribadi saya dan Kanaya, saya tidak akan segan - segan kehilangan seorang pengacara yang tidak tahu caranya membawa diri," ujar Devan dengan pandangan penuh arti pada Monika.
"I... iya Pak, iya.... maafkan saya, saya.... sudah tidak akan mengulanginya lagi.." ujar Monika yang tak berani menatap wajah Devan.
Karena Devan harus segera pergi maka ia pun tidak memarahi Monika lagi.
"Kembali bekerja dan ingat baik - baik apa yang saya katakan baru saja," ujar Devan kemudian ia mengambil tas kerjanya dan berjalan menuju pintu keluar. Baru beberapa langkah ia berjalan, Devan kemudian tiba - tiba berhenti.
"Mengenai Pak Rahardian saya sudah menghubunginya dan mengatakan langsung padanya bahwa saya tidak bisa ikut dengannya malam ini, kamu pergilah bersama Roni," ujar Devan, kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
"Hmmffft! Kanaya.... kamu mengadukan saya pada Devan!" Geram Monika dan mengepalkan tangannya saat Devan sudah tidak di ruangan itu lagi. Akal - akalan Monika untuk mengajak Devan keluar nanti malam pun gagal dan membuatnya bertambah kesal.
*****
3 bulan kemudian.
Usia kehamilan Kanaya sudah menginjak usia 38 minggu, dan Kanaya di perkirakan akan melahirkan mimggu depan.
__ADS_1
Baik Kanaya, Devan, Ratna dan Alika semua tampak sangat senang menunggu kelahiran Alvaro Samudera, bayi dalam kandungan Kanaya.
Devan bahkan melarang Kanaya untuk tinggal di apartemen dan membawa Kanaya kembali ke rumahnya. Devan sangat protektif terhadap Kanaya dan bayi yang ada dalam kandungannya sehingga ia tidak ingin di bantah saat meminta Kanaya kembali pindah dalam rumahnya. Dengan kembali ke rumah Devan, Devan merasa Kanaya akan lebih aman, karena akan ada yang menemaninya selama 24 jam penuh, dan terlebih lagi Devan bisa selalu bersama dengannya.
Kanaya telah mengambil cuti melahirkan sejak beberapa hari yang lalu oleh karena itu ia sudah tidak bekerja lagi dan hanya menunggu kelahiran anaknya di rumah.
Luna dan Sean juga sudah mengetahui kabar kehamilan Kanaya. Tentu saja Luna dan Sean sangat berbahagia. Meskipun Kanaya telah bercerai dari Elvano, namun tak bisa di sangkal anak yang di kandung Kanaya adalah anak Elvano, cucu mereka. Kanaya pun tidak berusaha menutupinya dari Sean dan juga Luna.
Sean dan Luna pun kerap menghubungi Kanaya dan menanyakan kabarnya. Mereka bahkan sempat mengunjungi Kanaya tak lama setelah Kanaya pergi mengunjungi Elvano di lapas beberapa bulan yang lalu.
Sean dan Ratna juga mengetahui kedekatan hubungan Kanaya dan Devan. Meskipun terbesit harapan di suatu hari nanti Kanaya bisa kembali bersama Elvano, namun mereka juga tidak bisa memungkiri bahwa Kanaya teihat sangat bahagia bersama Devan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menerima takdir, dan berharap suatu hari nanti Elvano pun bisa hidup berbahagia seperti halnya Kanaya dan juga Devan.
Hari sabtu pagi itu bersinar cerah dan Devan baru saja pulang dari lari paginya, saat Kanaya tengah berjalan - jalan di halaman depan rumahnya. Kanaya memang sudah tidak bisa melakukan olahraga berat atau lari ke tempat yang jauh bersama Devan, sehingga ia hanya bisa berjalan - jalan pelan di depan rumah Devan.
"Pagi Sayang!" Sapa Devan dan mengecup pipi Kanaya dari belakang, membuat Kanaya terkejut. Ia tidak melihat kedatangan Devan, yang tiba - tiba saja mencuri kecupan di pipinya.
"Devan! Kamu ngagetin aja!" Protes Kanaya sambil memajukan bibirnya cemberut.
Devan terkekeh melihatnya dan bertambah gemas melihat Kanaya cemberut seperti itu. Bukannya meminta maaf, Devan malah mengecup pipi Kanaya yang satu lagi dari depan.
"Devan! Malu di lihat orang!" Protes Kanaya yang saat itu sudah memerah pipinya.
Devan tertawa bahkan tidak peduli protes Kanaya. Ia bahkan tidak menengok ke arah jalanan di belakangnya untuk mengecek apakah ada orang atau tidak.
"Jangan marah dong, Yang. Aku kan kangen sama kamu," goda Devan.
"Maluu Van, banyak orang lewat tuh!" Ujar Kanaya melipat tangan di depan dadanya.
"Iya deh, Maaf ya..." ujar Devan akhirnya.
Bersambung..
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1