Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rahasia Elvano Dan Adella


__ADS_3

Alvaro tidak berkata apa - apa atau pun mengeluarkan ekspresi apapun. Ia menoleh ke arah Devan di depan pintu, sesaat sebelum menunduk.


Elvano yang melihat hal itu segera mengambil alih keadaan dengan memegang Clara.


"Clara, Kakak udah nggak papa kok, iya kan Kak?" tanya Elvano pada Alvaro, dan Alvaro mengangguk sambil melihat adik kecilnya.


"Nah, sekarang Clara ikut Papa yuk? Tadi Papa beli ice cream. Clara mau?" tanya Elvano sambil mengajak Clara keluar dari kamar Alvaro.


Clara memang ikut - ikutan dengan memanggil Elvano dengan panggilan Papa, semenjak Kakaknya memanggil Elvano dengan sebutan Papa. Clara sangat menganggumi Kakaknya itu, sehingga apa yang ia lakukan sering di ikutinya.


"Mauuuuu! Ada yang rasa coklat? Clara suka yang rasa coklat, Pah" jawab Clara seperti lupa apa yang terjadi, saat ia mendengar kata ice krim di benaknya. Clara memang sangat suka sekali makanan dan snack, apalagi es krim. Dan Elvano tahu betul kesukaannya.


Terdengar samar - samar percakapan Elvano dan Clara saat Devan berjalan mendekati Alvaro dan duduk di tepi ranjangnya.


"Alvaro masih marah sama Ayah?" tanya Devan sambil memandang wajah putranya.


Alvaro menggeleng dan tiba - tiba langsung memeluk Devan.


"Maafin Alvaro ya, Yah. Alvaro sangat sayang kepada Ayah," ujar Alvaro sambil menangis.


"Iya Ayah tahu, Ayah juga sangat sayang pada Alvaro," ujar Devan sambil membalas pelukan anaknya itu dengan erat


"Alvaro, jangan berpikir kalau Ayah nggak sayang sama Alvaro. Rasa sayang Ayah ke Alvaro sama Clara itu sama.Kalian berdua itu anak Ayah. Ayah tidak pernah sekalipun membeda - bedakan," ujar Devan, sambil mengecup pucuk kepala Alvaro, seperti yang ia lakukan sejak Alvaro lahir.


"Alvaro harus paham, kalau Ayah minta Alvaro untuk mengalah pada Clara atau pun Keira, karena mereka itu adik Alvaro. Bukan karena Ayah lebih sayang pada mereka. Alvaro mengerti kan?" tanya Devan.


Alvaro mengangguk.


"Udah, jangan nangis lagi. Alvaro sudah besar kan?" ujar Devan sambil tersenyum dan memegang pundak anaknya itu.


"iya, Yah." ujar Alvaro sambil menghapus air matanya.


"Kalau Alvaro mau tinggal sama Papa, Ayah nggak keberatan, tapi jangan lupa pulang ya? Kasihan Bunda, nanti kangen sama Alvaro. Ayah dan Clara juga pasti kangen." ujar Devan dengan canda.


Alvaro tertawa pelan mendengar canda Ayahnya.


Sementara Clara berjalan sambil melonjak - lonjak gembira dengan es krim dan coklat di tangannya kembali bersama Elvano di kolam renang di belakang rumah.


"Devan mana, Kak El?" tanya Kanaya pada Elvano, karena heran Clara kembali bersama Elvano dan bukannya Devan.

__ADS_1


"Ada, di atas sedang bicara dengan Alvaro," ujar Elvano sambil melihat es jeruk yang ada di meja.


Kanaya yang melihat arah pandangan Elvano dan mengambilkan satu gelas untuk Elvano.


"Alvaro gimana?" tanya Kanaya.


Elvano meneguk es jeruknya terlebih dahulu, sebelum ia menjawab.


"Dia memang kurang nyaman dengan situasi saat ini. Tapi aku rasa, setelah dia belajar untuk menemukan jati dirinya, ia akan baik - baik saja. Kamu jangan khawatir," ujar Elvano tersenyum pada Kanaya.


Namun Kanaya belum merasa lega mendengar hal itu Kanaya tahu pasti sulit bagi Alvaro mengetahui Ayah yang sangat di sayanginya selama ini bukan Ayah kandungnya. Dia mungkin cemburu dan kecewa kepada Clara, karena Clara anak kandung Ayahnya.


"Dia bicara apa padamu, Kak El?" tanya Kanaya.


"Dia bilang, dia ingin tinggal sementara denganku?" jawab Elvano.


Kanaya mendesah. Tinggal sementara itu artinya untuk jangka waktu yang cukup lama. Bagaimana mungkin ia akan berpisah dengan Alvaro dengan jangka waktu yang cukup lama?


"Aku bilang padanya, ia harus meminta izin dahulu padamu dan juga Devan," tutur Elvano.


"Kalau kamu tidak mengijinkan aku akan memberinya waktu 1 - 2 hari untuk menginap." ujar Elvano.


"Terima kasih, Kak El," ucap Kanaya.


"Jangankan Alvaro, Clara pun sudah ku anggap sebagai anakku sendiri," ujar Elvano sambil memandang Kanaya. Kemudian menghela napas, dan melihat ke arah lain, bertemu pandang dengan Adella yang melihat ke arah mereka dan ia melambaikan tangannya. Kanaya pun tersenyum pada Adella.


"Kak El. Mungkin, Adella mau es jeruk?" ujar Kanaya pada Elvano, sambil mengambilkan dia gelas es jeruk dan memberikannya pada Elvano.


"Oh iya Ay. Biar aku bawa kesana," ujar Elvano sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah Adella.


Kanaya mendekati Clara dan menemaninya yang sedang asyik makan es krim di pinggir kolam. Mulutnya belepotan dengan noda es krim coklat yang di makannya.


Sambil menemani Clara, Kanaya sempat melihat ke arah Elvano bercanda gurau dengan Adella dan anak mereka Keira.


Mereka tampak bahagia. Tetapi apa benar Elvano berbahagia seperti senyuman yang di tampakkannya saat itu? Sungguh miris bahwa kebahagiaan Elvano dan juga Adella dalam pernikahan mereka hanya berlangsung 4 tahun lamanya. Namun, meskipun mereka berdua telah berpisah, Elvano, Adella dan juga Keira tampak sangat bahagia. Bahkan Adella tetap ikut serta dalam beberapa liburan mereka bersama. Bagi orang luar yang melihat, akan tampak aneh, namun bagi mereka ber empat hal itu tampak biasa saja.


"BUNDA..." panggil Alvaro sambil memeluk Bundanya itu.


Kanaya terbangun dari lamunannya dan langsung memeluk anak laki - lakinya itu dengan erat.

__ADS_1


"Kakak, bikin Bunda khawatir," ujar Kanaya sambil menangkup wajah Alvaro dan menyentuh hidungnya dengan canda.


Devan yang datang bersama Alvaro, duduk di samping Alvaro di tepi kolam. Mereka ber empat saling berangkulan dan tersenyum.


"Mau Kak?" tanya Clara yang menyodorkan es krim stiknya yang tinggal sedikit pada Kakaknya dan Alvaro menggigitnya, membuat Kanaya tersenyum. Kanaya melirik ke arah Devan yang juga sedang menatapnya saat itu. Ia bahagia segala sesuatu berjalan baik dengan Devan di sampingnya.


*****


"Minum Dell," ujar Elvano sambil menyodorkan minumannya pada Adella.


"Makasih Elvano," jawab Adella sambil ia menerima gelas dari Elvano.


"Keira mau Pah," ucap gadis manis yang ada di pangkuan Adella. Sambil mengangkat tangannya ke arah Elvano.


"Sini sayang, sama Papa," ujar Elvano sambil duduk dan membiarkan Keira untuk pindah di pangkuannya dan menikmati es jeruk yang di bawa oleh Elvano.


"Hmmmm..." gumam Keira sambil menjilat dan memutari bibirnya, merasakan segarnya es jeruk di sore hari itu.


"Enak ya," ujar Elvano, sambil memeluk dan mencium Keira. Gadis itu mengangguk dan meneguk lagi isi gelas itu.


"Alvaro, gimana Elvano?" tanya Adella, sambil ia menoleh pada Elvano.


"Sepertinya dia sudah baik - baik saja," ujar Elvano sambil melihat ke arah Kanaya, Devan dan kedua anak mereka yang sedang berangkulan di pinggir kolam. Ingin rasanya ia pergi kesana dan bergabung dengan mereka. Namun, ia tidak melakukannya dan memilih tetap bersama Adella dan juga Clara dan membiarkan Devan untuk memiliki waktu dengan keluarganya.


"Elvano, kenapa kamu begitu baik?" tanya Adella tiba - tiba.


Elvano mengerutkan keningnya.


"Kamu masih begitu baik denganku dan juga Keira, meskipun kita telah berpisah, dan Keira...." ucapan Adella tidak di teruskannya karena ia tidak ingin anaknya mendengarnya.


"Kamu ngomong apa sih, Dell? Nggak usah jadi melow begitu. Kamu kaya orang lain aja!" Ujar Elvano sambil memutar bola matanya.


"Elvano..." ucap Adella, sambil menatap Elvano dengan penuh arti dan menggenggam tangannya.


"Sudahlah Dell, yang sudah lalu biarlah berlalu. Keira juga anakku," ujar Elvano sambil menatap Adella kemudian ia merebahkan dirinya di lounger yang di dudukinya dan menatap ke arah langit di atas mereka.


Elvano memandang awan - awan putih kebiruan di langit dan benaknya melayang jauh ke masa 7 tahun yang lalu saat ia menemui Adella pagi itu.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2