Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kedatangan Elvano


__ADS_3

Elvano sudah mendarat di kota B. Ia pun segera turun dan menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh Anton, asistennya untuk menjemput mereka.


Hanya kurang dari setengah jam, Elvano telah sampai di rumah Devan. Rumah Devan tidaklah sebesar rumahnya, tetapi terlihat bahwa ia cukup sukses sebagai pengacara walaupun baru berusia 24 tahun.


Elvano pun turun dari mobilnya bersama Anton dan juga Ardi serta beberapa orang anak buah Ardi.


Nakula dan Teo mendekati mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nakula.


Ardi maju kedepan. " Kami ingin bertemu Ibu Kanaya. Suaminya disini untuk menjemputnya," ujar Ardi tidak mau kalah.


"Maaf, saya kira Bapak - bapak salah alamat. Ini kediaman Bapak Devan Permana," ujar Nakula lagi.


"Sudah cukup basa basinya! Dimana Devan dan Istri saya Kanaya?!" Bentak Elvano tak sabar kepada dua orang sekelas penjara rumah baginya.


Nakula dan Teo saling pandang.


"Bapak tunggu di sini," ujar Nakula lalu ia berbalik masuk kedalam rumah sementara Teo masih berjaga di depan rumah.


Nakula melapor pada Gilang dan mengatakan bahwa Elvano sudah tiba di depan rumah.


"Ayo Pak Devan sudah waktunya," ujar Gilang.


"Kamu disini ya Ay." ujar Devan sambil memegang lengan Kanaya. Kanaya mengangguk.


"Hati - hati, Van." ujar Kanaya.


"Pasti Ay, jangan kuatir kami hanya akan berbicara, lagi pula ada Gilang dan teman - temannya," ujar Devan sambil beranjak.


"Titip ya, Ben." ujar Devan pada Beni sebelum ia meninggalkan ruangan itu.


Devan keluar rumah bersama Gilang dan Nakula.


"Dimana Kanaya?" tanya Elvano setengah berteriak saat melihat Devan keluar dari rumahnya.


Devan menghampiri Elvano.


"Kanaya aman bersamaku, kamu tidak perlu kuatir," ujar Devan sambil mentapa tajam ke arah Elvano, namun intonasi suaranya tidak tinggi, terkesan dia biasa saja menghadapi Elvano. Devan tidak ingin terlihat gegabah dan emosi meskipun tangannya terkepal ingin meninju wajah Elvano dan memukulinya habis - habisan.


"Apa maksudmu? Dia istriku, serahkan dia kepadaku!" Teriak Elvano dengan emosi mendengar Devan berkata ' Kanaya aman bersamanya'.


"Aku tidak bisa melakukannya. Kanaya menolak untuk ikut bersama denganmu," ujar Devan dengan santai.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar Devan, atau aku akan menututmu karena telah menculik Kanaya dariku!" Bentak Elvano.


Devan tersenyum dan menyerahkan sehelai surat pada Elvano.


"Kamu tidak bisa menuntutku, Elvano. Karena aku adalah kuasa hukumnya sekarang. Keselamatan jiwa Kanaya terancam saat ia bersama denganmu, dan sebagai kuasa hukumnya aku melarangmu bertemu dengannya, demi kebaikannya," ujar Devan saat Elvano masih memahami isi surat kuasa itu.


"Kalau tidak ada yang lainnya. Anda bisa segera pergi dari sini!" Ujar Devan sambil tersenyum.


"Devan, kamu tidak bisa melakukan itu! Dia Istriku!" Teriak Elvano tidak menyangka jika Devan telah menyiapkan segala sesuatunya untuk menentangnya.


"Aku bisa, dan akan melakukannya Elvano! Aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk menyakiti Kanaya lagi! Dan aku pastikan akan membalas apa yang telah kamu lakukan pada Kanaya!" Ujar Devan dengan tajam.


Ia ingin Elvano tahu, bahwa ia tidak bisa menyentuh Kanaya lagi dan membayar atas semua perbuatannya yang telah ia lakukan pada Kanaya selama ini.


"Kurang ajar kamu Devannn!" Teriak Elvano dengan emosi.


"Pak Elvano sudah, Pak. Kita sebaiknya pergi," ujar Anton yang melihat bahwa mereka tidak akan mungkin menang melawan Devan saat itu.


Anton dan Ardi pun mencoba menenangkan Elvano dan menariknya masuk kedalam mobil.


Kanaya yang mendengar teriakan Elvano, melihat apa yang terjadi dari kejauhan, dari jendela ruang makan Devan.


Kali pertama ia melihat Elvano setelah apa yang Elvano lakukan padanya malam itu.


"Ay, apa kamu baik - baik saja," tanya Devan sambil menaruh tangannya bahu Kanaya.


Kanaya terhenyak. Ia mengangguk, lalu duduk di kursi meja makan dekat dengan Beni.


"Apa ada lagi ingin di tanyakan, Pak Beni?" tanya Kanaya. Kanaya terlihat gugup dan tidak tenang.


"Ya Bu, ma...." jawab Beni lalu di potong oleh Devan.


"Istirahatlah dulu, Beni. Nanti kita lanjutkan lagi," ujar Devan.


"Baik, Pak." Lalu beranjak dari duduknya.


Devan mendekati Kanaya dan duduk di dekatnya.


"Ay, istirahatlah dulu. Nanti kita lanjutkan lagi," ujar Devan.


Kanaya mengangguk.


"Aku akan istirahat di kamar sebentar," ujar Kanaya sambil bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Biar Bunda temani ya, Ay." ujar Bunda Alika sambil ikut masuk ke dalam kamar Kanaya.


Devan melihat Kanaya dengan sedih. Ia terlihat sangat tertekan dengan apa yang terjadi.


"Pak Devan saya pamit dulu, akan tetapi kalau Bapak tidak keberatan. Saya akan tinggalkan anak buah saya di sini untuk menjaga Ibu Kanaya," ujar Gilang pada Devan.


"Baik Gilang, sekali lagi terima kasih atas bantuannya." ujar Devan sambil beranjak dan mengantar Gilang kedepan rumahnya.


"Beni, berapa banyak lagi berkas yang harus di isi?" tanya Devan setelah Gilang pergi.


"Sedikit lagi, Pak. Bagaimana dengan jadwal medical chek up Ibu Kanaya sore nanti?" tanya Beni.


"Kita lihat saja nanti bagaimana kondisi dari Ibu Kanaya," ujar Devan yang mengkhawatirkan Kanaya. Ia tidak ingin memaksa Kanaya jika ia terlalu lelah atau gelisah.


Beni pun beristirahat sejenak, dan begitu pula dengan Devan.


Setelah satu jam berlalu, Devan menemui Kanaya di kamarnya. Saat ia masuk, Bunda Alika sudah lama keluar dari kamar Kanaya dan Kanaya tengah melamun, duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela di sampingnya.


"Ay, kita makan siang dulu yuk. Bunda sudah siapin makanan buat kita semua," ujar Devan mengajak Kanaya makan siang bersama yang lainnya.


"Kamu makan saja dulu. Aku tidak lapar, Van." ujar Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman.


"Kalau kamu nggak mau makan di luar. Aku ambilkan makan ya, Ay. Kita bisa makan disini," ujar Devan membujuk Kanaya untuk makan.


"Aku... Belum lapar, Van.." ujar Kanaya.


"Bunda pasti sangat sedih kalau kamu nggak mau makan. Tunggu ya, Ay." ujar Devan lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Kanaya di kamar itu.


Tak lama Devan kembali sambil tersenyum dengan sebuah piring yang berisi nasi, lauk pauk. Ia pun duduk di samping Kanaya.


"Cobain, Ay. Bunda yang masak," ujar Devan sambil mengambil nasi lauk dan pauk sesendok dan menyodorkannya di depan mulut Kanaya.


Kanaya menggeleng.


"Aku belum mau makan, Van." ujar Kanaya pelan menolak untuk makan.


"Aku akan terus pegangin ini sampai kamu mau makan," ujar Devan sambil memandang Kanaya.


Kanaya yang tadi hanya melihat ke arah jendela, namun lama kelamaan ia menoleh ke arah Devan.


Devan tersenyum dan menaikan kedua alisnya. Membuat wajahnya tampak jenaka.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2