
Kanaya teringat apa yang terjadi pada hari itu saat ia baru terbangun.
*** Flashback ON ***
Elvano baru saja pergi dari kamar Kanaya dan berangkat ke kantornya bersama Panji. Bella yang sangat khawatir dengan kondisi Kanaya, segera naik ke lantai dua. Ia hendak masuk ke kamar Kanaya saat Desi keluar dari kamar itu.
"Ibu Desi, bagaimana dengan kondisi Nyonya?" tanya Bella dengan harap - harap cemas.
"Nyonya masih demam dan belum bangun Bella," ujar Desi dengan wajah sedih.
"Boleh saya menemani Nyonya?" tanya Bella.
Bella memang sangat dekat dengan Kanaya, hingga semalam ia tidak bisa tidur memikirkan nasib Nyonyanya itu.
"Jagalah dia Bella, aku harus mengecek pekerjaan anak - anak yang lain dan membereska kamar Tuan," ujar Desi.
"Baik Bu Desi," jawab Bella lalu ia langsung masuk ke kamar Kanaya.
Saat ia masuk, serta merta ia meneteskan air mata melihat Kanaya yang terbaring lemah di ranjang itu dengan wajah yang sangat pucat. Saat ia memegang keningnya, suhu badannya masih hangat, walaupun sudah tidak terlalu panas. Ia menarik napas lega. Ia pun mengompres kening Kanaya dan menunggunya di kamar itu, sampai tiba - tiba Kanaya membuka matanya dan berteriak, "Jangan! "
"Tenang Nyonya, tenang," ujar Bella langsung memegang tubuh Kanaya untuk menenangkannya.
Kanaya yang baru tersadar dan melihat Bella berada di dekatnya pun langsung memeluk Bella dan menangis.
"Sudah Nyonya, anda aman sekarang," ujar Bella berusaha menenangkan Kanaya.
"Dimana ini Bella?" tanya Kanaya sambil melihat sekelilingnya dan menyadari ia bukan di kamar Elvano.
"Ini di kamar tamu, Nyonya. Minumlah dahulu" jawab Bella sambil memberikan segelas air putih dan Kanaya langsung meminumnya habis.
Tenggorokan Kanaya terasa lebih enak saat ia meminum air itu. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur hingga dahaga yang dirasakannya.
"Nyonya demam sejak pagi, Nyonya pasti lapar. Biar saya siapkan makan Nyonya," ujar Bella, kemudian ia meninggalkan Kanaya untuk mengambil makanan untuknya.
Kanaya melihat jam dinding, dan waktu sudah menunjukan pukul hampir jam 12 siang saat Bella menyuapinya bubur.
__ADS_1
"Apakah ada orang yang datang mencari aku?" tanya Kanaya, saat ia teringat ia telah menulis pesan untuk Devan tadi pagi, meminta tolong padanya.
"Tidak Nyonya, apa anda mengharapkan kedatangan seseorang?" tanya Bella heran.
Kanaya tertegun dan tidak menjawab pertanyasn Bella.
'Devan mungkin sudah tidak menghiraukan aku lagi, sekarang dia sudah punya Melisa ' batin Kanaya.
"Dimana, Kak Elvano?" tanya Kanaya sambil menoleh ke arah Bella.
"Tuan pergi ke kantor hampir sejam yang lalu Nyonya. Kata ibu Desi, Tuan akan segera pulang," jawab Bella.
Mendengar Elvano akan segera pulang, Kanaya pun beranjak hendak berdiri, namun kakinya masih lemas dan belum bisa menopang badannya, hingga ia pun nyaris terjatuh.
"Nyonya anda mau kemana?" tanya Bella sambil membantu mengembalikkan Kanaya ke atas ranjang.
"Aku harus pergi Bella... aku tidak mau tinggal di sini lagi.. sungguh aku sangat takut jika harus melihat Kak Elvano," ujar Kanaya masih mencoba berdiri, namun di cegah oleh Bella.
"Tenang Nyonya, tenang," ujar Bella berusaha mendudukan Kanaya kembali ke ranjang.
"Tidak Bella, aku harus segera pergi sebelum kak Elvano kembali. Aku sangat takut Bella, jika harus bertemu, Kak Elvano!" Ujar Kanaya.
"Bella, ku mohon... tolonglah bantu aku pergi dari sini, aku.... aku... tidak ingin berada di sini lagi...." pinta Kanaya dengan panik, membayangkan Elvano akan segera pulang.
"Bella, tolonglah....." pinta Kanaya yang tidak ingin bertemu Elvano. Ia masih merasakan sakit dari apa yang Elvano lakukan padanya. Ia sangat marah, kecewa dan jijik kepada Elvano.
Bella pun merasa iba pada Kanaya.
"Baik, saya akan bantu Nyonya tapi, habiskan dulu makan Nyonya dan minum obatnya." ujar Bella kemudian,"
"Apa itu benar Bella?" tanya Kanaya hampir tak percaya dan Bella mengangguk.
"Bella, biar aku makan sendiri. Pergilah ke kamarku dan kemasi barang - barangku," ujar Kanaya sambil meraih mangkuk bubur di tangan Bella.
Kanaya berusaha untuk makan secepat mungkin dan meminum obatnya. Ia benar - benar harus segera pergi sebelum Elvano kembali.
__ADS_1
Bella datang dan membantunya berganti pakaian.
"Tunggu Nyonya, apa rencana Nyonya sekarang? Nyonya mau kemana?" tanya Bella memastikan.
"Tolong pesankan taksi online, Bella. Nanti kita menginap di hotel sementara, sambil aku mencari tempat tinggal," ujar Kanaya yang saat itu belum mempunyai rencana apa pun. Ia memang tidak berencana untuk pergi dari rumah Elvano sebelumnya, sehingga semua ini adalah mendadak baginya.
"Baik Nyonya," jawab Bella.
Setelah segala sesuatunya siap, mereka berdua keluar dari dalam kamar, dengan Kanaya berpegangan ke bahu Bella. Namun saat mereka menutup pintu. Desi yang baru selesai membereskan kamar Elvano, Keluar dari kamar Elvano dan Desi tertegun melihat mereka berdua bersiap - siap untuk pergi.
"Ibu Desi, tolong biarkan Nyonya untuk pergi," ujar Bella perlahan.
Desi melirik pada kamera CCTV yang mengarah ke arahnya, dan ia pun berjalan ke arah blind spot kamera itu, sebelum ia bicara.
"Kalian tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan untuk pengarahan, sehingga tidak ada yang melihat kalian." ujar Desi.
Kanaya dan Bella saling padang kemudian mengangguk.
"Berhati - hatilah dan jaga diri kalian baik - baik," ujar Desi sambil memandang pada dua orang gadis yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Ingin rasanya ia memeluk mereka, tetapi ia tidak bisa karena ruang geraknya terbatas pada kamera CCTV yang akan merekamnya.
Desi pun membalikkan badan dan melangkah seperti biasa ke lantai bawah, memanggil semua anak buahnya untuk pergi ke pavilliun, tidak ada kecuali.
Kanaya dan Bella pun bisa keluar dari rumah itu tanpa ada seorang pun yang melihat mereka.
Mereka berhenti di pusat perbelanjaan dan mengambil taksi yang ada di sana untuk pergi ke sebuah hotel bintang tiga dan mengganti nomor telepon Bella. Dan mereka menginap di hotel itu selama dua hari, sebelum pindah ke rumah kontrakan kecil yang cukup untuk dirinya dan juga Bella. Kanaya pun membeli sebuah telepon genggam baru dan semua itu ia beli dengan menggunakan uang tabungannya yang ia dapat dari menulis online selama beberapa bulan terakhir.
*** Flashbcak OFF ***
"Bella, terima kasih sudah membantuku," ujar Kanaya sambil tersenyum pada Bella.
"Tidak masalah, Nyonya," jawab Bella.
Bersambung.....
Nantikan kisah mereka selanjutnya, ya...🤗
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like... like... like... like...