
Ia pun mencari melalui aplikasi ojek online. Namun ia tidak juga mendapatkan hasil.
Devan mencoba mencari melalui pencarian google, namun tidak juga menemukan penjual yang buka hingga saat itu. Mata Devan tak sengaja melihat 'Resep es cendol' di bagian bawah hasil pencarian google. Devan pun iseng membukanya.
Ia membaca apa saja bahan yang di butuhkan untuk membuat segelas es cendol.
Dan Devan tidak punya pilihan lain selain harus menjalankan mobilnya menuju ke supermarket 24 jam yang ada di daerahnya. Di sana memamg tidak menyediakan es cendol yang sudah jadi, akan tetapi bahan - bahan yang di butuhkan Devan ada di sana.
Senyum di wajah Devan mengembang tatkala melihat sebungkus cendol siap jadi ada di sana, sehingga ia hanya bisa mencari bahan lainnya, gula dan santen, seperti yang tertera di resep yang ia baca.
Devan pun pulang dengan membawa se plastik bahan - bahan untuk membuat es cendol.
Saat ia sampai di rumah, di lihatnya Kanaya tengah tertidur di sofa ruang ruang keluarga. Ia tersenyum melihat Kanaya tertidur dengan lelap dan sengaja tidak membangunkannya. Setelah menyelimuti Kanaya. Devan pun pergi ke arah dapur dan mulai membuat es cendol keinginan Kanaya.
Kanaya terbangun tak lama setelah Devan menyelimutinya. Saat melihat ke sekelilingnya, ia tidak menemukan Devan; namun Kanaya mendengar suara yang berasal dari dapur. Kanaya pun berjalan ke arah dapur dan melihat Devan sedang membuat sesuatu.
"Bikin apa, Van?" tanya Kanaya saat melihat Devan sangat sibuk sehingga tidak memperhatikannya.
"Eh, Ay. Kamu udah bangun?" tanya Devan sedikit terkejut melihat Kanaya ada di dekatnya.
"Iya Van, gerah." jawab Kanaya sambil mengibas - ngibaskan tangannya.
"Gerah?" batin Devan heran sambil tersenyum geli.
"Kamu buat apa Van? Perlu bantuan?" tanya Kanaya sambil mendekati Devan dan menperhatikan Devan yang sedang merebus santan dan juga air yang berwarna coklat gelap.
"Udah, kamu tenang aja, Ay. Duduk manis." ujar Devan yang berlagak seperti chef profesional, membuat Kanaya tersenyum geli.
Namun Kanaya tidak duduk dan memperhatikan Devan mengaduk air yang berwarna coklat gelap yang hampir mengental.
"Van, santannya harus di aduk, kalau nggak nanti pecah," ujar Kanaya sambil membantu Devan mengaduk santan.
Devan tersenyum melihat Kanaya membantunya mengaduk santan.
"Kamu lagi mau buat cendol, Van?" tanya Kanaya saat ia melihat bahan - bahan makanan yang ada di dapur saat itu.
"Iya Ay. Aku nggak nemuin tukang cendol. Aku harap kamu nggak keberatan nyobain cendol buatan aku yah?" ujar Devan dengan harap - harap cemas.
Kanaya mengangguk melihat usaha Devan yang demikian keras untuk membuatkannya es cendol.
Kanaya mengambil sedikit santan dan mencobanya.
__ADS_1
"Tambahin sedikit garam, Van." ujar Kanaya setelah menyecapnya sedikit.
Setelah melihat Devan sudah menambahkan garam sedikit di santan itu, Kanaya pun duduk di bangku stool di dekatnya dan memperhatikan Devan memasak.
Devan saat itu memakai sebuah sweat pants yang di padu dengan kaos oblong hitam dan memakai sebuah apron di pinggangnya.
Dalam pandangan Kanaya saat itu, Devan terlihat menggemaskan, apalagi tangan kekar Devan yang mengaduk santan di depannya terlihat sangat menarik. Dan Kanaya pun tersenyum melihatnya. Kapan lagi dia bisa melihat Devan memasak?
Jangan di tanya bagaimana caranya Devan memasak dan bagaimana keadaan dapur saat itu. Mungkin Siti akan geleng - geleng kepala esok pagi.
Devan mematikan kompornya dan mulai mengambil sebuah gelas panjang yang biasa di gunakan untuk minum jus. Kemudian Devan mengambil semangkuk es batu dari dalam kulkas dan menaruh sebagian ke dalam gelas itu, dan menaruh beberapa sendok cendol siap saji. Setelah itu ia menuang beberapa sendok gula jawa kental yang di buatnya tadi dan di tutup dengan santan.
Devan memandangi gelas es cendol itu sebelum ia menaruhnya di depan Kanaya, dan ia duduk di samping Kanaya.
Semoga Kanaya suka es cendol buatanku, doa Devan. Kalau Kanaya tidak mau meminumnya, Devan tak tahu lagi kemana harus mencari es cendol di jam itu.
"Cobain Ay." ujar Devan dengan sangat lembut.
Kanaya memandangi es cendol di depannya. Dari penampilannya memang terlihat seperti es cendol. Lalu, Kanaya menoleh ke arah Devan.
"Buat kamu mana, Van? Masa aku minum sendirian?" tanya Kanaya.
"Buat kamu dulu, nanti kalau mau aku buat lagi," ujar Devan sambil mendekatkan gelas cendol itu lebih dekat ke arah Kanaya. Kanaya memegang gelas itu dan mengaduknya, memperhatikan santan yang bercampur dengan cairan gula dan bahan lainnya.
"Gimana, Ay?" tanya Devan sambil memperhatikan dan menunggu reaksi Kanaya.
"Cobain sendiri, Van." jawab Kanaya sambil mengambil sesendok es cendol itu dan menyodorkannya ke mulut Devan. Karena penasaran, Devan pun langsung melahapnya.
"Rasanya..."
"Enak?" tanya Kanaya sambil tersenyum kemudian meminum lagi es cendolnya.
Devan tidak tahu lagi bagaimana perasaannya saat itu. Rasanya..... bahagia, saat melihat Kanaya menghabiskan satu gelas penuh es cendol buatannya, hingga Devan melongo melihat Kanaya meneguk habis es cendol di gelas itu.
"Nambah, Ay?" tanya Devan masih takjub.
"Udah Kenyang, Van?" jawab Kanaya sambil menggeleng dan membersihkan bibirnya dengan punggung tangannya.
"Makasih ya, kamu ternyata jago masak juga! Enak sekali cendol buatan kamu, Van! Aku kasih bintang 7 buat kamu!" Puji Kanaya sambil tersenyum lebar.
Devan tersenyum lebih lebar mendengar pujian itu. Baginya yang terpenting Kanaya menyukai cendol buatannya.
__ADS_1
"Aduuuh!" Pekik Kanaya dengan memegang perutnya dengan tiba - tiba.
"Kenapa Ay." tanya Devan dan raut wajahnya berubah menjadi khawatir. Ia pun merubah pisisi duduknya menghadap Kanaya.
Kenapa perut Kanaya? Kok dia kesakitan? Jangan - jangan karena es cendol buatanku!" Pikir Devan dengan teramat cemas.
Kanaya mengelus perutnya perlahan di bagian pinggir sebelah kanannya. Wajahnya sudah tidak sakit lagi.
"Kenapa Ay?" tanya Devan dengan khawatir.
Kanaya meraih tangan Devan dan menempelkanya di perut.
Devan membiarkan Kanaya melakukan itu dan menunggu. Tidak terjadi apa - apa.
"Ada ap...."
"Sssssst!" Kanaya menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya, meminta Devan untuk berhenti berbicara.
Tiba - tiba sesuatu bergerak dari dalam perut Kanaya yang dapat di rasakan oleh tangan Devan.
Devan terkejut dan menarik tangannya dengan reflek.
"I.... itu..." ucap Devan terbata - bata.
Kanaya tertawa melihat mimik wajah Devan. Dan ia pun mengangguk. Devan hampir tidak percaya ia bisa merasakan anak dalam kandungan Kanaya bergerak. Ia pun menaruh perlahan tangannya kembali ke perut Kanaya dan menunggu selama beberapa saat sampai bayi dalam kandungan Kanaya bergerak lagi.
Devan tertawa dan memandang Kanaya.
"Anakmu.... apa dia mengenaliku?" tanya Devan sambil memandang Kanaya.
Kanaya mengangguk.
"Sepertinya dia sangat suka cendol buatanmu?" ujar Kanaya sambil tersenyum memandang ekspresi wajah Devan yang sangat bahagia.
Devan terkekeh saat anak dalam kandungan Kanaya bergerak setiap kali ia memegang perut Kanaya malam itu. Ia begitu takjub hingga saat waktunya mereka istirahat, senyum masih mengembang di bibir Devan.
Bersambung....
"Hmmm... Gimana reaksi Elvano kalau tau Kanaya sedang hamil anaknya ya🤔Yang udah pada kangen sama nasibnya Elvano setelah melakukan pemukulan pada Maya.. Sabar ya. ikuti terus kisah mereka! 🤗
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.