Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Alvaro Samudera


__ADS_3

Seorang bayi mungil dengan kulit bewarna merah keunguan di angkat oleh Dokter Gita dan di serahkan Kepada Dokter Anak yang juga ada di sana.


"Selamat ya Bu Kanaya, anak Ibu ganteng sekali," ujar Dokter Gita sambil tersenyum lega.


Baik Kanaya maupun Devan tersenyum lega saat mendengar Alvaro menangis.


"Selamat Ay, kamu berhasil," ucap Devan sambil mengusap peluh di wajah Kanaya dan tersenyum padanya.


Wajah Kanaya yang tersenyum sangat bahagia, apalagi saat perawat menyerahkan Alvaro pada Kanaya.


Kanaya memandangi wajah mungil di hadapannya. Setelah mengandung selama 9 bulan, akhirnya ia dapat melihat dan menyentuh anak dalam kandungan itu.


"Alvaro Samudera, ini Bunda, Nak." ujar Kanaya pada putranya itu dengan mata yang berkaca - kaca.


Perawat mengajarkan Kanaya untuk memberikannya ASI pada Alvaro dan pertama kalinya juga bagi Kanaya melihat mulut mungil itu secara natural menghisap air susunya. Terasa aneh pada awalnya, namun lama kelamaan ia pun terbiasa.


Devan yang berdiri tak jauh dari Kanaya pun terharu. Diam - diam ia mengambil foto Kanaya dan juga Alvaro.


"Devan.." panggil Kanaya sambil mengangkat wajahnya ke arah Devan yang berdiri tak jauh darinya. Saat itu ia telah menyusui Alvaro dan Alvaro pun tampak sangat tenang dan berhenti menangis.


Devan menghampiri Kanaya sembari bertanya, "Ada apa, Ay?"


"Van, aku mau minta tolong, kamu mau mengadzani, Alvaro?" pinta Kanaya sambil menatap ke arah Devan.


"Tentu, Ay. Dengan senang hati akan aku lakukan," jawab Devan.


Kanaya menyerahkan Alvaro pada Devan dengan hati - hati. Baik Kanaya maupun Devan belum terbiasa untuk menggendong seorang bayi mungil sebelumnya. Untung saja ada seorang perawat yang membantu mereka.


Devan duduk di sisi ranjang persalinan Kanaya sambil memandangi wajah mungil Alvaro yang berada dalam gendongan tangannya.


Perlahan Devan merendahkan kepalanya dan mulai mengumandangkan Adzan di telinga kanan Alvaro, kemudian iqomah di telinga sebelah kirinya.


Saat Devan telah selesai melakukannya, ia menoleh kepada Kanaya dengan memandanginya dengan rasa kagum. Tak dapat di pungkiri kedua mata mereka berkaca - kaca, sama - sama merasa terharu dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Air mata bahagia Kanaya tidak terbendung lagi dan Devan langsung merangkul Kanaya dengan tangan Kananya dan membiarkan Kanaya menangis haru di bahunya. Sementara tangan kirinya menggedong Alvaro yang tampak mungil berada dalam gendongannya.


Apa yang lebih membahagiakan Devan selain


kedua orang yang sangat di cintainya itu ada di dalam pelukannya.


Dokter Gita yang mengetahui hubungan Kanaya dan juga Devan yang sebenarnya pun, ikut terharu saat memandangi mereka dari sudut ruangan bersalin itu, belum pernah ia melihat laki - laki lain yang berdedikasi melakukan apapun untuk seorang wanita yang mengandung anak orang lain, seperti halnya Devan Permana.


****


Alvaro Samudera menjadi pusat perhatian semua orang di rumah itu. Bayi mungil berwajah lucu itu dan menggemaskan yang telah berusia 5 bulan itu benar - benar telah menarik perhatian siapa pun yang berada di dekatnya.Ratna dan Alika pun sangat bahagia, mereka berdua memang sudah sangat mendambakan seorang cucu. Meskipun Alvaro bukanlah anak biologis dari Devan tetapi Alika sangat mencintai Alvaro seperti cucunya sendiri. Apalagi Devan dan Kanaya akan segera menikah minggu depan.


Mereka berlima sedang berada di rumah baru yang di bangun oleh Devan untuk Kanaya dan keluarga mereka. Hari itu, mereka berdua sengaja datang kesana untuk mengecek kesiapan rumah yang akan mereka tinggali. Rencanya mereka akan tinggal di sana setelah Kanaya dan Devan menikah.


Rumah itu tampak berbeda sekarang, selain berisi perabotan, kolam ikan dan kolam renang di belakang pun sudah bisa di gunakan. Secara garis besar rumah itu sudah siap untuk di huni. Bahkan mereka telah mempunya dua orang Asisten Rumah Tangga yang menjaga rumah itu sebelum mereka tempati.


"Alvaro! Alvaro! Ciluk ba!" Terdengar suara Alika dan Ratna yang sedang bermain bersama dengan Alvaro di pinggir kolam. renang sore itu, namun bukannya tertawa Alvaro malah menangis"


"Iya Mah," Kanaya beranjak dari duduknya di samping Devan.


"Aku tidurin Alvaro dulu ya, Van." ujar Kanaya sebelum ia meninggalkan Devan dan menuju ke kamar Alvaro yang berada di lantai di lantai dua.


Kamar Alvaro memang sudah di desain oleh Devan dengan sedemikian rupa sehingga ketika seseorang melangkah masuk ke ruangan itu,orang akan tahu jika ruangan itu adalah sebuah baby room.


Kanaya duduk di sofa dan mulai menyusui Alvaro. Alvaro seakan - akan sudah tahu, sehingga ia dengan sigapnya menyusu pada Kanaya.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya Alvaro kenyang tertidur pulas. Kanaya pun memindahkanya pada baby box dan menyelimutinya.


"Aku cemburu sama Alvaro," tiba - tiba terdengar suara Devan di telinga Kanaya.


Kanaya menoleh dan melihat wajah Devan sudah berada di sampingnya. ' Kapan dia sudah masuk ke kamar Alvaro?' batina Kanaya heran.


"Cemburu kenapa? Kamu ini ada - ada saja," ujar Kanaya dengan suara yang pelan dan tidak ingin membangunkan Alvaro.

__ADS_1


"Aku sangat cemburu karena Alvaro boleh..." ujar Devan sambil melirik ke arah dada Kanaya.


"Devann!" Pekik Kanaya tertahan sambil melotot. Dan Devan menyeringai. Kanaya memang tahu Devan hanya sedang bercanda sangat ingin mengatakannya.


Kemudian Kanaya pun menuju ke arah kamar mandi. Devan masih tertawa geli namun tetap mengecilkan volume suaranya karna ia tidak mau jika Alvaro terbangun. Kemudian Devan pelan - pelan melangkah mendekati ke arah box bayi milik Alvaro. Devan memandangi wajah mungil Alvaro yang sedang tidur. Alvaro memiliki kulit yang bersih hidung yang mancung dan bentuk wajah seperti Kanaya. Ia pun mengecup kening Alvaro dengan sayang, kemudian berjalan menuju ke kamar sebelah menyusul Kanaya yang masih berada di dalam kamar mandi.


Saat ia sampai Kanaya baru saja keluar dari kamar mandi, dan memandang Devan dengan heran.


"Alvaro masih tidur?" tanya Kanaya.


"Masih, nyenyak sekali, Ay." jawab Devan. Sambil berjalan masuk ke kamar itu dan menuju ke arah sofa panjang di kamar itu dan duduk di sana.


"Sini, Ay." panggil Devan sambil meminta Kanaya untuk duduk di sampingnya.


Kanaya menurut dan duduk di sebelah Devan.


"Ada apa, Van?" tanya Kanaya.


"Aku berpikir... untuk jiarah ke makam Ayahku sebelum kita menikah, dan maksudku.. itu terserah padamu... kalau kamu mau ikut, kita bisa sekalian jiarah juga ke makam Papamu," ujar Devan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


Mereka sudah lama tidak berjiarah ke makam kedua Ayah mereka dan menurut Devan, ia ingin melakukannya sebelum mereka menikah dan itu artinya mereka akan pergi ke kota D.


"Kapan, Van?" tanya Kanaya


"Kita hanya punya waktu seminggu bagaimana kalau besok dan kita bisa tinggal 3 hari di sana,"


"Baik, aku juga setuju karena sudah lama belum mengunjungi makam Papa dan Kak Devita," ucap Kanaya meski masih ada sesuatu yanf mengganjal hatinya.


Di samping itu, Elvano belum pernah melihat Alvaro secara langsung sejak ia di lahirkan karena Kanaya hanya pernah mengiriminya foto saat Alvaro baru saja lahir.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2