Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pertemuan Devan dan Gilang


__ADS_3

Gilang Narendra atau yang biasa di panggil Gilang sedang duduk bersama Lucas di sebuah Cafe saat David menghubunginya.


"Selamat siang, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Gilang beranjak dari duduknya dalam memberi isyarat pada Lucas, bahwa ia akan menerima telepon dan bergerak menjauh.


Ia tahu jika David yang menghubunginya langsung, berarti ada hal penting yang harus ia kerjakan.


"Siang, Gilang?" sapa David.


"Gilang, aku ingin kamu membantu Devan Permana untuk mencari sahabatnya yang hilang. Bantu Devan untuk menemukannya," ujar David pada Gilang.


"Devan Permana pengacara, Bapak?" tanya Gilang memastikan.


"Ya, pengacara saya, pergunakan apapun yang kamu butuhkan, kamu tidak perlu memerlukan izinku untuk memakai aset yang ada," ujar David.


"Baik Pak, akan saya kerjakan. Saya akan memghubungi Pak Devan secepatnya," ujar Gilang.


Setelah itu sambungan telepon pun terputus dan Gilang kembali ke mejanya bersama Lucas.


"Ada tugas penting?" tanya Lucas.


"Ya, aku harus segera pergi. Kapan - kapan kita ketemu lagi!" Ujar Gilang pada Lucas. Mereka pun saling berjabat tangan sebelum Gilang meninggalkan Cafe dan kembali ke salah satu tempat singgahnya, sebuah apartemen di lantai 9 di pusat kota itu. Ia membuka file komputernya dan mencari data - data Devan Permana.


Devan Permana adalah seorang pengacara yang terbilang sukses di usianya yang masih muda, dan hampir satu tahun ini menetap di kota B setelah tinggal di kota D sejak ia di lahirkan.


Gilang sendiri sudah pernah bertemu dengan Devan Permana dalam beberapa kesempatan. Saat Gilang menemani David hadir dalam beberapa acara dan Devan permana pun ada di sana.


Setau Gilang, Devan Permana seseorang yang berani dan menjunjung tinggi hukum. Ia bahkan berani menentang atasannya sendiri di Firma Hukum Asegaf Star karena bertindak tidak fair terhadap kasus yang sedang di tangani Firmanya itu, hanya beberapa bulan setelah ia bekerja di sana.


Dan hal inilah yang membuat Alexander David Mahendra kagum padanya, dan mendukungnya untuk mendirikan Firma hukum miliknya sendiri. Hingga saat ini Firma Hukum Permana, menjadi salah satu Firma Hukum terpandang di kota B, bahkan mengalahkan Firma Hukum Asegaf Star tempatnya bekerja dan di pecat dulu. Tak heran jika David memintanya membantu Devan untuk menemukan temannya yang hilang.


Gilang pun langsung menghubungi Devan, dan membuat janji temu sore itu hingga akhirnya hakim memutuskan untuk menunda sidang hingga esok hari.

__ADS_1


Devan terlihat menyalami kliennya sebelum ia melihat ke arah Gilang yang sedang duduk di kursi penonton di bagian belakang ruang sidang.


Gilang tersenyum dan mengangguk pada Devan. Hingga Devan merapikan barang - barangnya dan menghampirinya.


"Pak Devan," sapa Gilang dengan sopan sambil menjabat tangan Devan.


"Gilang," sapa Devan, kemudian mereka berjalan keluar ruangan sidang.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak Devan?" tanya Gilang saat ia telah duduk di sebuah Cafe yang tidak terlalu ramai dan tidak jauh dari gedung pengadilan.


Devan memberikan telepon genggamnya pada Gilang, ia menunjukkan foto dirinya dengan seorang wanita berkulit putih bersih, berambut agak kecoklatan dengan bentuk wajah agak heart shape yang di poles make up natural. Cantik sekali. Kata pertama yang terbesit dalam pikiran Gilang.


Di foto yang terlihat belum lama di ambil itu, baik Devan maupun wanita itu sama - sama tersenyum lebar, kalau bisa di bilang sangat serasi. Tapi... siapakah wanita itu?"


Setahu Gilang, Devan masih melajang, tetapi ia di ketahui berhubungan dengan seorang model ternama di kota mereka, Melisa. Dan jelas wanita itu bukan Melisa.


Gilang menaikan arah pandangnya kembali ke arah Devan.


"Dia..., sahabat saya namanya Kanaya Zahira," ujar Devan sambil mengambil kembali ponselnya dan memandangi wajah wanita itu di telepon genggamnya. Tampak kekhawatiran dan kerinduan di pancarkan melalui tatapan matanya.


"Jadi menurut Bapak, kepergian Ibu Kanaya di sebabkan oleh perlakuan buruk suaminya?" tanya Gilang.


"Saya menduga seperti itu. Tetapi saya tidak memiliki bukti. Saya harap Anda bisa segera menemukannya, sehingga saya bisa melindunginya dari apapun yang menyakitinya" ujar Devan dengan penuh tekad.


"Baiklah Pak, saya akan segera berangkat ke kota D besok pagi," ujar Gilang.


"Sebenarnya saya ingin ikut denganmu besok, sayangnya saya masih ada sidang esok hari, jadi lusa saya akan ikut bergabung bersamamu," ujar Devan.


"Temuilah Kapten Lian, selama ini dia yang membantu memberikan informasi perkembangan pencarian Kanaya. Dia mungkin bisa membantumu untuk mendapatkan semua bukti yang di perlukan untuk menemukannya." ujar Devan sambil mengirim nomor Kapten Lian kepada Gilang.


"Baik Pak, saya akan segera menghubunginya," ujar Gilang.

__ADS_1


"Nanti saya akan menghubunginya, jika saya mempunyai petunjuk penting keberadaan Ibu Kanaya," ujar Gilang lagi.


"Baik, saya tunggu kabar darimu, Gilang. Hubungi saya, kapan pun itu jika ada informasi yang penting mengenai Kanaya," ujar Devan dengan penuh harap pada Gilang.


"Baik, Pak?" jawab Gilang, kemudian ia pun pamit untuk mempersiapkan penyelidikannya.


Selepas bertemu Devan, Gilang segera mencari informasi mengenai Kanaya Zahira. Ia pun menghubungi Rafael, seorang hacker handal yang sering membantunya menyelesaikan beberapa kasus atau tugas yang di serahkan padanya.


"Cari tahu kegiatannya seminggu terakhir ini, akun bank, pemakaian kartu dan jenis pembayaran yang sering di gunakannya akhir - akhir ini," ujar Gilang.


"Dia kelihatan seperti wanita yang baik - baik dan apa kejahatan yang di lakukannya?" tanya Rafael.


"Dia memang wanita yang baik - baik, Rafael!" Sergah Gilang sambil tertawa, menayakan Rafael yang menyangka setiap kali ia meminta informasi, orang itu pasti terlibat kejahatan.


"Dia menghilang dari peredaran, dan aku harus menemukannya. Bantu aku mencari petunjuk apapun, dan beritahu aku" ujar Gilang.


"Baiklah Gilang, berilah waktu beberapa hari, untukku...."


"Beberapa hari? Ayolah Rafael... jangan mempermalukan dirimu sendiri!" Ujar Gilang sambil tertawa.


"Hah! Kau ini sama saja dengan Toni!" Ujar Rafael.


"Jangan menyebut Toni, dia sudah damai di alamnya" ujar Gilang memperingatkan Rafael.


"Baiklah, akan ku berikan kabar secepatnya," ujar Rafael sebelum memutus sambungan teleponnya.


Setelah itu, Gilang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kota D esok hari, menyiapkan tiket pesawat, dan hotel tempatnya menginap yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, tempat penyelidikannya berlangsung. Ia pun telah menghubungi Kapten Lian untuk membuat janji temu dengannya besok pagi.


Gilang berusaha bekerja secepat dan seefesien mungkin mengumpulkan informasi yang di butuhkannya. Karena ia tahu semakin lama ia bergerak, Kanaya mungkin sudah jauh pergi.


Gilang mendarat di kota D pagi itu, dan langsung menemui Kapten Lian.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa, like, komen dan vote.


__ADS_2