Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pertemuan Devan dan Kanaya


__ADS_3

Elvano melepas pelukannya dan tersenyum manis pada Kanaya.


"Sekarang kamu tidak usah khawatir, wartawan itu tidak akan menganggu kamu lagi, Sayang?" ucap Elvano kemudian mengecup kening Kanaya.


Bagi orang lain yang melihat perlakuan Elvano akan menganggap Elvano bersikap manis dan sayang pada Kanaya. Dan orang - orang yang ada di sana memandang iri pada Kanaya. Sebenarnya mereka tidak tahu bahwa itu semua hanyalah sandiwara.


Namun Linda yang duduk tak jauh dari Kanaya dan melihat ekspresi wajah Kanaya melihatnya ada yang janggal karena melihat wajah Kanaya yang pucat pasi sat Elvano memeluknya dan membisikan sesuatu.


Kanaya berusaha mengikuti gladi resik itu, dengan tetap tersenyum, walaupun ia sangat gelisah memikirkan Devan yang menunggunya. Ia yakin Devan masih menunggunya.


Akhirnya acara gladi resik itu pun selesai. Mereka makan siang bersama. Dan Kanaya benar - benar tidak mempunyai kesempatan untuk menemui Devan Karena Elvano selalu ada di sampingnya, dan Kanaya pun tidak bisa menghubungi Devan Karena Elvano tidak mengembalikan telepon genggamnya. Elvano seperti biasa memperlakukan Kanaya sedemikian manis di hadapan banyak orang.


"Mbak Kanaya, setelah ini saya akan menemani Mbak Kanaya untuk SPA," ujar Linda yang menemuinya.


"Baik, saya akan bersiap - siap," ujar Kanaya sambil tersenyum. Ia senang akhirnya bisa terlepas dari sisi Elvano dan ia akan mencari cara agar bisa bertemu dengan Devan.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Elvano sambil tersenyum.


"Aku mau SPA dulu," jawab Kanaya sambil tersenyum.


"Kita sama - sama dong, Yang. Aku juga akan ikut SPA." ujar elvano tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Kamu...Kamu juga ikut SPA?" tanya Kanaya dengan terkejut. Ia tidak menyangka jika Elvano akan ikut ke SPA bersama dengannya.


"Iya sayang, Ayo!" ujar Elvano sambil merangkul Kanaya dan berjalan bersamanya kearah ruang SPA yang ada di hotel itu.


Kanaya pun terpaksa mengikuti Elvano, dan ternyata mereka memang melakukan SPA untuk pasangan pengantin yang memakan waktu berjam - jam lamanya. Hingga pupuslah harapan Kanaya untuk bisa bertemu dengan Devan.


Kanaya mengikuti kegiatan lainnya dengan tidak bersemangat, karena pasrah dan merasa tidak akan bisa bertemu dengan Devan lagi. Setelah makan malam bersama, mereka semua kembali ke kamar masing - masing. Kanaya pun sudah sampai kembali ke kamarnya dengan di temani Linda.


***


Devan beberapa kali mencoba memasuki hotel, namun ia selalu tertangkap oleh petugas keamanan yang ada di sana. Namun Devan tidak putus asa, ia tetap menunggu disana menunggu hingga penjagaan itu lengah.


"Maaf pak, saya mau melaporkan bahwa Pak Devan masih ada di depan halaman hotel dan tidak mau pergi," ujar Anton asisten pribadi Elvano.


"Dia masih ada di sana?" jawab Elvano heran.

__ADS_1


"Ya Pak, dan sepertinya Pak Devan belum mau pulang," jawab Anton.


'Devan, ternyata dia sangat kuat pendiriannya'. batin Elvano


"Baik, biarkan dia masuk ke lobby dan katakan pada Kanaya bahwa Devan menunggunya di lobby ujar Ryan.


"Anda yakin pak? Bukankah Anda..."


"Kerjakan saja apa yang aku katakan Anton!" bentak Elvano dengan kesal.


"Baik Pak." jawab Elvano segera setelah mendengar bosnya itu kesal padanya.


"Dan beritahu aku kalau Kanaya sudah turun untuk meenemui Devan" ujar Elvano.


"Baik Pak." ujar Anton lagi, dan ia pun undur diri.


Anton pun menghubungi penjaga yang ada dj depan pintu masuk hotel dan menyuruhnya untuk membiarkan Devan masuk.


Penjaga itu menghampiri Devan di mobilnya dan mengetuk kaca jendela mobil Devan.


Devan hampir tidak percaya mendengarnya, namun ia pun segera turun dari mobilnya, kemudian berlari masuk ke dalam loby hotel.


"Bapak tunggu dusini. Ibu Kanaya akan segera turun," ujar penjaga itu lalu meninggalkan Devan yang sedang duduk di loby hotel itu.


Devan sendiri merasa aneh, kenapa ia di perbolehkan masuk dan bertemu dengan Kanaya, namun ia tidak memikirkannya, karena tujuannya datang memang untuk menemui Kanaya, dan ia akan segera bertemu dengannya.


Kanaya mendapat telepon dari resepsionis hotel yang memberitahunya bahwa Devan Permana tengah menunggunya di loby hotel.Kanaya senang sekali mengetahui kabar itu, Mengetahui Devan masih berusaha menemuinya, membuatnya tidak sabar untuk bertemu Devan.


Saat ia keluar kamar, tidak di jumpainya penjagaan di depan kamar hotelnya. Walaupun sedikit heran, namun ia segera bergegas keluar kamarnya dan turun ke loby hotel untuk menemui Devan.


Saat keluar dari lift, Kanaya melayangkan pandangannya ke penjuru loby hotel yang sepi itu dan menemukan Devan sedang duduk di salah satu sofa disana.


Saat itu pula tatapan mereka bertemu.


"Devan!" panggil Kanaya dengan tersenyum lebar dan bergegas menemui Devan dengan setengah berlari.


Begitu pula Devan, ia pun segera menghampiri Kanaya.

__ADS_1


Saat mereka bertemu di tengah - tengah loby hotel, mereka pun langsung berpelukan.


"Ay!" panggil Devan sambil mendekap Kanaya erat.



"Maaf, Van. Aku benar - benar tidak bisa menemuimu hari ini." ujar Kanaya sambil meneteskan air matanya. Entah kenapa saat memeluk Devan, ia pun menangis antara bahagia dan sedih.


"ssssst, sudah Ay. Jangan nangis, aku sangat senang bisa bertemu kamu," ujar Devan sambil menghampus air mata Kanaya di pipinya. Ia pun menarik Kanaya bergeser ke pinggir agar tidak berada di tengah - tengah ruangan.


"Ay, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba - tiba menikah dengan Elvano?" tanya Devan langsung. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika Kanaya akan menikah dengan Elvano besok pagi.


"Sayang kamu disini rupanya aku mencari kamu kemana - kemana," tiba - tiba Elvano datang menghampiri mereka dan langsung merangkul Kanaya serta mendaratkan kecupan di pipi Kanaya.


Kanaya pun langsung menjaga jarak dari Devan dengan kehadiran Elvano, namun ia tidak langsung merespon perkataan Elvano, hanya memandangi Devan dengan rasa bersalah.


"Devan, kamu ada disini juga rupanya," ujar Elvano sambil memandang Devan.


"Ya, aku.... hanya ingin bertemu dengan Kanaya," ujar Devan dengan perasaan berkecamuk melihat Elvano memeluk mesra Kanaya.


"Aku tahu kalian bersahabat. Namun, kamu juga harus mengerti bahwa Kanaya akan segera menikah denganku. Jadi aku sangat menghargai jika pertemuan seperti ini tidak terjadi lagi." ujar Elvano pada Devan


"Tapi aku hanya ingin menemuinya..." ujar Devan berusaha menjelaskan.


"Aku tidak keberatan kamu menemuinya, tetapi memeluk calon istriku di tempat umum seperti ini, tidak bisa kubiarkan. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada orang - orang bahwa istriku berpelukan dengan laki - laki lain?" ujar Elvano sambil menatap tajam ke arah Devan.



"Kak Elvano, kami tidak punya maksud apa - apa, Aku dan Devan sudah lama tidak bertemu," ujar Kanaya sambil menjelaskan alasan mereka berpelukkan.


"Sayang kamu tidak bisa mengatur perkataan dan pikiran orang yang melihat kalian. Dan satu hal lagi aku sangat cemburu melihat kedekatan kamu bersama Devan. Harusnya kamu katakan ketika kita mulai berpacaran sebulan yang lalu, jadi aku tidak perlu terus menerus cemburu dengannya," ujar Elvano dengan wajah sedih.


Kanaya terkejut mendengar perkataan dari Elvano. Dan Ia pun menatap Devan yang melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Ia ingin menjelaskan semuanya tidaklah benar, akan tetapi cengkraman tangan Elvano di pinggangnya mengurungkan niatnya.


"Kalian sudah berpacaran hampir sebulan yang lalu?" tanya Devan hampir tidak percaya.


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2