
"Nyonya mau sesuatu? Teh hangat?" ujar Bella menawarkan sesuatu agar lebih tenang.
"Tidak usah Bella, aku baik - baik saja." ujar Kanaya.
"Aku..aku mau tidur Bella," ujar Kanaya kemudian merebahkan dirinya tengkurap di atas ranjang.
Bella membantu menyelimuti Kanaya, dan kemudian meninggalkan Kanaya untuk beristirahat.
Akan tetapi Kanaya tidak bisa memejamkan matanya. Tiap kali ia memejamkan matanya, ia teringat pandangan Elvano terhadapnya tadi.
'Apakah ia jijik melihat luka - lukaku?" Batina Kanaya.
Kanaya meneteskan air mata. Ia tahu ia tidak terlihat cantik dan menarik dengan semua bekas luka itu. Ia sadar tubuhnya tampak menyeramkan dan juga menjijikan bagi laki - laki yang melihatnya. Ia tidak sempurna lagi. Tak kan ada laki - laki yang menginginkannya.
Selepas keluar dari kamar Kanaya, hatinya gelisah, amarah bergemuruh di dadanya. Bukannya kepada Kanaya, tetapi pada dirinya sendiri yang telah melukai Kanaya sampai seperti itu.
Sejak memutuskan membuat Kanaya menderita, peperangan batin terus berkecamuk di hatinya. Ia tidak pernah tenang. Elvano sepertinya mempunyai dua kepribadian. Di satu sisi sebagai Elvano yang pendendam dan ingin menuntut balas, dan di satu sisi Elvano yang merasa iba dan membutuhkan Kanaya dalam hidupnya.
Elvano berhenti berjalan dan bersandar pada dinding lorong dan menengadahkan wajahnya. Ia mendengar pintu Kanaya terbuka dan Bella keluar dari kamar Kanaya.
Bella terkejut melihat Tuannya masih berada di lorong itu. Ia tampak ragu melangkah dan meninggalkan Nyonyanya sendirian. Akan tetapi pandangan tajam Tuannya membuatnya bergegas melangkah dan pergi dari tempatnya.
"Permisi Tuan," Ucapnya saat melewati Elvano.
Elvano tidak menjawab apapun, dan kembali menoleh ke arah pintu kamar Kanaya saat Bella menghilang menuruni tangga.
"Elvano, apa yang kamu lakukan disini? Aku menunggumu di bawah," ujar Maya tiba - tiba dan menghampirinya.
"Kenapa kamu belum berganti baju? Apa yang kamu lakukan sejak tadi?" tanya Maya heran.
Maya melihat ke arah kamar Kanaya yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Apa kamu bersama dengan dia?" tanya Maya sambil menunjuk pintu kamar Kanaya.
"Sudah Maya, aku mengantuk," seru Elvano kemudian beranjak dari sana menuju kamarnya.
"Elvano sayang, kamu mau kemana? Hari ini kamu sudah berjanji akan bersamaku," ujar Maya dengan manjanya, sambil menarik Elvano ke kamarnya dan mengunci pintunya.
"Maya, apa - apaan kamu? Aku mau tidur di kamarku!" Seru Elvano dengan kesal.
Tetapi Maya tidak menghiraukan ucapan Maya dan mulai membuka kancingnya satu persatu pakaiannya hingga tidak ada selembar benang pun menutupinya.
Maya tidak peduli, ia harus bisa tidur dengan Elvano malam ini, agar ia bisa mengandung anak Elvano.
__ADS_1
"Maya, aku sedang lelah," ujar Elvano berusaha menolak Maya malam itu.
Maya terus menggoda Elvano dan mencium bibir Elvano, sementara tangannya bergeriliya membuka pengait celana Elvano dan menurunkan resletingnya, hingga celana itu terjatuh ke lantai.
"Tenanglah sayang, aku akan memuaskanmu malam ini," ujar Maya dengan suara yang mendesah sambil mencium bibir Elvano, yang kini telah mulai membalas ciumannya saat tangan Maya memberikan perhatiannya pada bagian bawah tubuh Elvano yang mulai mengeras.
Maya tahu, Elvano telah masuk ke dalam jeratnya lagi. Ia tersenyum menggoda pada Elvano dan berlutut di depan Elvano, membuat bola mata Elvano menggelap kemudian memejamkan mata saat bibir Maya mulai memberikannya kenikmatan di bawah sana.
***
"Nyonya, bangun," terdengar suara Bella yang membangunkannya.
Kanaya membuka matanya dan melihat wajah Kanaya tak jauh darinya.
"Bangun Nyonya, sudah pagi," ujar Bella sambil tersenyum.
"Jam berapa ini?" tanya Maya sambil menguap dan membalikkan tubuhnya .
"Sudah jam 8 Nyonya," jawab Bella sambil membuka jendela kamar Kanaya hingga sinar mentari bisa menerobos masuk.
'Ya ampun sudah siang sekali,' batin Kanaya.
Tidak biasanya Kanaya bangun sesiang itu. Ia tidak tahu jam berapa hingga akhirnya ia bisa tertidur tadi malam.
"Nyonya mau sarapan di kamar atau di luar?" tanya Bella sebelum Kanaya menyalakan keran air.
"Saya sarapan di luar saja, Bella," ucap Kanaya.
Kanaya memutuskan makan di ruang makan, toh hari sudah siang, ia yakin Maya dan Elvano pun pasti sudah makan terlebih dahulu.
"Baik Nyonya, saya akan menyiapkan sarapan untuk Nyonya." ujar Bella lalu keluar dari kamar Kanaya.
Kanaya mandi dan perlahan mengeringkan punggungnya, tepat saat ia mendengar seseorang memasuki kamarnya.
"Bella?" tanyanya. Ia ingin memastikan siapa yang masuk. Ia tidak ingin terulang kejadian tadi malam, saat Elvano yang masuk ke dalam kamarnya dan ia tidak menyadarinya.
"Bella?" Panggil Kanaya sekali lagi karena tidak ada jawaban.
"Ya Nyonya," jawab Bella.
Kanaya menghembuskan napas lega dan keluar dari dalam kamar mandinya.
"Bella tolong olesi salep ini," ujar Kanaya.
__ADS_1
Bella tersenyum dan mengambil salep dari tangan Kanaya, kemudian ia mulai mengolesi luka di punggung Kanaya.
"Nyonya, lukanya mulai mengering salep yang di berikan oleh dokter ini cukup manjur," ucap Bella mengomentari luka Kanaya.
"Terima Kasih, Bell." ucap Kanaya saat Bella telah selesai mengolesinya.
"Nyonya silahkan berpakaian, saya akan menunggu di bawah," ujar Bella, lalu ia keluar dari kamar.
Kanaya berjalan ke sebuah lemari pakaian dan mengambil terusan oversize di atas lutut berwarna hitam, memoles tipis wajahnya dan menyisir rambutnya. Sederhana namun terlihat sangat cantik seperti biasanya.
Ia pun keluar kamar dan turun ke bawah, ke ruang makan. Ia berharap tidak bertemu dengan Elvano atau pun Maya pagi itu. Walaupun hal itu sepertinya tidak mungkin untuk terjadi. Dan harapannya ternyata tidak menjadi kenyataan.
Saat mencapai ruang makan, ia melihat Elvano dan juga Maya sudah duduk di sana, mereka belum mulai makan.
"Mari Nyonya silahkan duduk," ujar Bella sambil membukakan kursi berseberangan dengan Maya dan Elvano.
"Saya belum lapar Bella, saya akan sarapan nanti saja," ujar Kanaya, kemudian hendak berbalik pergi dari sana.
"Duduk dan makanlah!" Suara Elvano terdengar memerintahnya.
"Aku belum lapar Elvano, kamu..."
"Kanaya Zavira! Duduklah!" Bentak Elvano padanya.
"Sudahlah Elvano, dia saja tidak ingin makan. Untuk apa kita menunggunya?" gerutu Maya dengan kesal karena Elvano menyuruhnya untuk menunggu Kanaya sarapan bersama mereka.
"Diamlah Maya!!" Bentak Elvano pada Maya.
Kanaya berbalik kembali dan duduk di kursi yang sediakan oleh Bella untuknya.
"Apakah Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya Bella.
"Tidak Bella, ini sudah cukup," jawab Kanaya sambil melihat berbagai hidangan yang tersedia di meja. Biasanya ia tidak pernah di hindangkan makanan sebanyak itu. Hanya beberapa macam lauk dan sayur jika ia makan seorang diri.
"Hei pelayan! Cepat ambilkan aku segelas susu!" Perintah Maya pada Bella.
"Baik Nona," jawab Bella dengan sopan. Ia pun berjalan ke arah kulkas dan mengambil segelas susu untuk Maya.
"Ini Nona," ucap Bella saat kembali dan menaruh susu itu di depan meja Maya. Namun Maya pura - pura tidak sengaja menyentaknya dan tumpahlah susu itu mengenai meja dan bajunya.
"Dasar tidak becus!" Teriak Maya pada Bella.
Jangan lupa like komen dan vote
__ADS_1