
Kanaya menunggu Devan untuk makan malam di apartemennya. Tadi siang, Devan sudah mengatakan jika ia akan terlambat karena masih ada pekerjaan dan harus bertemu dengan kliennya, namun Devan tetap mengatakan akan makan malam di apartemen bersama Kanaya.
Kanaya pun sudah memasak sejak ia pulang bekerja tadi sore. Ia memasak cumi balado,tumis labu siam,tahu dan tempe goreng mendoan. Masakan rumah sederhana tapi Kanaya tahu Devan sangat suka dengan cumi balado.
"Ay, sebaiknya kamu makan saja dulu, kasihan anakmu kalau kamu sampai telat makan," ujar Ratna menasehati Kanaya karena sudah lewat pukul 7, Devan belum sampai juga.
"Tidak apa Mah, Kanaya belum lapar dan lagi Kanaya sudah makan buah tadi," ujar Kanaya.
Sebenarnya Kanaya tidak mau makan karena menunggu Devan datang. Ia ingin makan malam bersama Devan malam ini.
"Mama makan saja duluan, tidak usah tunggu Devan dan Kanaya," tambah Kanaya sambil menghampiri Mamanya yang sedang duduk menonton televisi.
Ratna pun mengangguk setelah menimbang cukup lama.
Kanaya duduk di kursi meja makan menemani Mamanya makan, meskipun ia tidak ikut makan. Ia hanya duduk di sana sambil mengobrol dengan Ratna.
Ratna sudah tidur dan masuk ke dalam kamarnya saat bel pintu berbunyi. Saat itu waktu sudah menujukkan pukul 8 malam. Kanaya pun membuka pintu apartemennya dan melihat Devan berdiri di sana,memandangannya dengan tatapan meminta maaf.
"Maaf Ay, aku terlambat," ucap Devan dengan penuh penyesalan sambil menatap mata Kanaya.
Kanaya balik memandang Devan yang tampak lelah setelah bekerja seharian.
Bagaimana mungkin ia tidak memaafkan seorang Devan Permana?
"Masuk Van," ajak Kanaya sambil tersenyum dan membukakan pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Devan masuk.
"Aku benar - benar minta maaf, karena pertemuanku dengan klien berlangsung lebih lama dari yang aku perkirakan," ujar Devan masih merasa bersalah.
"Gak pa - pa, aku tahu kamu sibuk. Kamu mau minum apa, Van?" tanya Kanaya sambil berjalan ke arah dapur dan membuka kulkasnya.
Devan lega karena Kanaya tidak marah padanya dan mau memaafkannya.
"Apa aja, Ay?" jawab Devan sambil membuka jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi meja makan, kemudian ia menyusul Kanaya ke dapur.
"Kamu masak cumi, Ay?" tanya Devan dengan mata yang berbinar saat ia melihat masakan yang Kanaya siapkan untuknya.
Kanaya tersenyum dan mengangguk sambil memberikan jus jeruk untuk Devan.
"Minum dulu, Van." ujarnya.
Devan menerima gelas itu dan langsung meneguknya habis sementara Kanaya menyiapkan makan malam mereka ke atas meja makan.
"Kita makan yuk, Van." ajak Kanaya sambil menaruh piring di atas meja makan.
"Kamu belum makan, Ay?" tanya Devan terkejut.
__ADS_1
"Kamu.... udah makan, Van?" Kanaya malah balik bertanya sambil menatap pada Devan.
'Apa Devan sudah makan duluan?' batin Kanaya.
"Nggak Ay, aku belum makan. Aku mau makan masakan kamu," ucap Devan cepat - cepat.
"Tapi kenapa kamu nggak makan duluan?" tanya Devan sambil berjalan mendekat.
"Aku... tunggu kamu," jawab Kanaya.
"Ya ampunnn, maafin aku ya Ay." ujar Devan sambil memeluk Kanaya. Devan semakin merasa bersalah saat tahu Kanaya belum makan karena menunggunya."
"Lain kali kamu jangan tunggu, Ay. Kamu nggak boleh telat makan, Ay. Kasihan dedek," ujar Devan masih memeluk Kanaya dan mengecup Kanaya.
"Gak pa - pa, Ay? Kamu makan yang banyak yah," ujar Devan sambil menggeser piring Kanaya dan medekat ke arah Kanaya.
Devan sendiri mengambil lauk dan pauknya dan ia pun mulai menyantapnya dengan menggunakan tangan tanpa menggunakan sendok.
"Masakanmu enak banget, Ay." komentar Devan sambil mengunyah makanannya.
"Kamu suka, Van?"
"Sukaaa banget! Kamu tau ini makanan kesukaannku," jawab Devan sambil tersenyum.
"Aku nambah ya, Ay. Kamu mau nambah?" tanya Devan sambil mengambil sesendok nasi.
"Ya ampun, Ay. Kenyang aku!" Celetuk Devan sambil duduk di sofa saat ia telah selesai membantu Kanaya mencuci piring bekas makan mereka.
"Makan jangan terlalu banyak, Van. Secukupnya aja," ujar Kanaya sambil tersenyum geli.
"Biasanya aku nggak seperti itu, Ay. Tapi nggak tau kenapa masakanmu luar biasa hari ini," ujar Devan beralasan sambil menarik Kanaya untuk duduk di sebelahnya.
"Devan!" Pekik Kanaya karena terkejut.
Devan tersenyum menyeringai dan langsung membungkukan badannya untuk mencium perut Kanaya bagian atas.
"Apa dia baik - baik saja, Ay?" tanya Devan mendongak sambil menatap Kanaya dan Kanaya pun mengangguk.
Tanpa sengaja Kanaya melihat samar - samar noda lipstik di kerah abu - abu tua milik Devan. Kanaya pun tertegun.
"Noda lipstik siapa itu? Dan kenapa bisa ada di situ?" batin Kanaya. Tidak pernah ia menemukan hal semacam itu. di diri Devan selama beberapa bulan terakhir ia tinggal dan dekat dengan Devan.
Apa Devan punya kekasih lagi? pikir Kanaya.
Mungkin saja Devan punya kekasih, apalagi ia sering datang terlambat beberapa hari ini.
__ADS_1
"Ay? Kanaya?" panggil Devan dengan menjetikkan jarinya di depan mata Kanaya.
"Eh iya?" tanya Kanaya saat ia tersadar.
"Kok, malah ngelamun," seloroh Devan sambil tersenyum dan duduk kembali di samping Kanaya."
"Nggak... Mmm... gimanan kerjaan kantor, Van?Sepertinya kamu sibuk terus, sedang banyak kasus ya?" tanya Kanaya mencoba mencari tahu.
"Ada beberapa kasus yang sedang berjalan dan ya, agak menyita waktu, tapi begitulah pekerjaan." jawab Devan
"Apa klien perempuan?" tanya Kanaya hati - hati.
Devan mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan pertanyaan Kanaya.
"Ada. Beberapa malah. Kenapa? Kok tumben tanya seperti itu?" tanya Devan dengan pandangan yang menyelidik.
"Nggak itu...." ujar Kanaya sambil menunjuk ke arah kerah baju Devan.
Devan mencoba melihat kerah bajunya namun tidak tampak karena posisinya sulit untuk di lihat dengan matanya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju cermin.
Setelah memperhatikan ia pun melihat noda itu.
"Sepertinya ini lipstiknya Monika," gumam Devan.Kemudian ia duduk kembali dan menoleh ke arah Kanaya yang masih menatapnya seakan menunggu penjelasan.
"Mmm... jadi tadi waktu aku sedang ada di lft bersama dengan Monika, tiba - tiba mati lampu, dan dia langsung memelukku karena takut, itu sebabnya ada lipstik di bajuku," terang Devan.
"Monika itu siapa? Klien kamu?" tanya Kanaya dengan ekspresi datar.
"Bukan. Monika itu pengacara baru di kantorku, dan tadi aku mengunjungi kliennya untuk memberikan masukkan dan dukungan sebelum sidang mereka," terang Devan.
Kanaya tidak berkomentar dan memutar badannya ke arah lain.
"Ay, kamu cemburu yah?" tanya Devan sambil menahan senyumnya.
"Nggak," jawab Kanaya pendek sambil menghidupkan televisi di depan mereka berusaha terlihat cuek dan tidak peduli.
Devan tersenyum dan memeluk Kanaya.
"Aku nggak ada apa - apa sama Monika atau klien perempuan yang lainnya. Hatiku cuma buat kamu," bisik Devan di telinga Kanaya.
Wajah Kanaya menghangat mendengar penjelasan Devan. Ia merasakan tatapan mata Devan mengarah ke wajahnya.
"Jangan marah ya," goda Devan.
Kanaya melirik ke arah Devan yang saat itu menaruh dagunya di bahu Kanaya. Dan ia pun tersenyum, malu karena cemburu pada rekan kerja Devan.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.