
"Kak El, ada Ma....." uacapan Kanaya terpotong oleh kata - kata Elvano.
"Kanaya, jangan membantahku!" Ujar Elvano dengan nada tinggi, membuat Kanaya sedikit terkejut. Kanaya pun tidak ingin cari masalah dan duduk kembali di kursinya. Setelah itu, Elvano baru mau melepaskan tangannya.
"Elvano, hari ini ada gladi bersih di rumah orang tuaku, kamu datang kan?" tanya Maya pada Elvano dengan manja.
"Aku kerja hari ini, Maya. Aku tidak bisa ikut," ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya.
"Tapi Elvano, kalau kamu tidak ikut, bagaimana kamu tahu kamu harus apa besok," ujar Maya merajuk sambil menahan tangan Elvano agar tidak pergi.
Elvano berdecak.
"Maya aku sudah pernah menikah, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujar Elvano kemudian melepaskan pegangan tangan Maya dan pergi ke kamarnya untuk bersiap - siap kerja.
Kanaya sebenarnya ingin tertawa, namun di tahannya. Ia pun ikut beranjak dan berjalan ke lantai atas hendak ke ruang baca.
Baru saja Kanaya sampai di anak tangga teratas, Maya memanggilnya dengan mencengkram bahunya dengan keras.
"Kanaya!" Panggil Maya dengan membalikkan tubuh Kanaya dengan kasar menghadapnya.
"Apa maumu? Kenapa kamu tidak bisa membiarkan aku dan Elvano menikah dengan damai? Kenapa kamu tidak pergi saja?" ujar Maya pada Kanaya dengan kesal. Maya mensejajari langkahnya dengan Kanaya di puncak tangga lantai dua.
"Percayalah Maya, seandainya bisa, akupun sangat ingin melakukannya. Tetapi, Elvano tidak ingin melepaskan aku pergi, dan itu semua karena ulahmu," ujar Kanaya pada Maya.
"Apa maksudmu?" tanya Maya.
"Apa yang kau katakan pada, Kak Elvano? Kau bilang aku membunuh Devita, Kakakku dan kau juga bilang bahwa aku menyuruh Kak Devita untuk membatalkan pernikahannya dengan Kak Elvano? iya kan?" tanya Kanaya dengan geram.
"Bukankah benar begitu! Kamu sengaja melepas pegangan tanganmu pada Devita!" Ujar Maya sambil tertawa.
"Kamu tahu itu tidak benar Maya! Aku tidak akan melakukan hal itu pada Kakakku," ujar Kanaya membela diri, karena ia memang tidak pernah melakukan hal itu. Maya tertawa.
"Sekarang katakan kepada Kak Elvano apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang kamu katakan itu salah, dan mengada - ada!" Ujar Kanaya.
"Dan membuat Elvano meninggalkanku? Tidak akan terjadi Kanaya!" Ujar Maya dengan licik sambil mendorong Kanaya yang berdiri persis di atas tangga. Namun saat ia mendorong, saat itu pula, Kanaya hendak pergi meninggalkannya, sehingga Maya mendorong ruang kosong yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Aaaaarghhhh!" Teriak Maya saat ia berguling dari tangga.
__ADS_1
Kanaya segera berbalik dan terkejut melihat Maya yang terjatuh dari tangga, ia pun hendak berlari menolong Maya.
Elvano yang berada di dalam kamarnya berlari keluar saat mendengar suara teriakan keras.
"Maya, kau tidak apa - apa?" tanya Kanaya dengan Khawatir. Walaupun ia membenci Maya tetapi tidak tega melihat orang lain terluka, apalagi Maya tengah mengandung.
"Arrrghhh...!" Teriak Maya sambil memegang perutnya.
"Pergi kamu!" Teriak Maya sambil mendorong Kanaya hingga terjelembab di tangga. Ia sengaja melakukan itu saat melihat Elvano menuruni tangga dan menghampiri mereka.
"Ada apa Maya?" tanya Elvano sambil mendekati Maya dan terkejut melihat darah mengalir dari kaki Kanaya.
"Dia mendorongku!" Ujar Maya sambil menunjuk kanaya.
"Tidak! Tidak, Kak Elvano, aku tidak mendorongnya!" Ujar Kanaya sambil menggelengkan kepalanya
"Arrgghhh... Sakit Elavno," ujar Maya meringis kesakitan sambil memeluk dada Elvano.
"Kanaya apa yang kamu lakukan! Kanaya, kalau sampai terjadi sesuatu pada Maya dan juga bayinya, kau harus bertanggung jawab!" Bentak Elvano kemudian menggendong Maya ke depan rumah dan langsung membawa Maya ke rumah sakit dengan mobil yang di kendari Panji.
"Nyonya Anda baik - baik saja?" tanya Desi sambil memberikan Kanaya segelas air.
Kanaya mengangguk dan meminum air dari gelas yang di berikan oleh Desi.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nyonya?" tanya Desi ingin tahu.
"Aku tidak tahu Desi. Aku...Aku memang sempat berbicara dengan Maya, namun saat aku hendak berjalan ke ruang baca, tiba - tiba Maya sudah terjatuh di belakangku. Aku sama sekali tidak menyentuh dia ataupun mendorongnya." ujar Kanaya bingung.
"Apa Anda yakin Nyonya?" tanya Desi sambil melihat ekspresi wajah Kanaya.
"Ya. Aku sangat yakin! Aku tidak mendorongnya! Desi, sungguh kamu harus percaya padaku," ucap Kanaya dengan matanya menggenang. Kalau Desi saja tidak yakin bagaimana dengan Elvano.
"Ya Nyonya. Aku percaya padamu. Kita berharap saja tidak ada hal yang buruk yang terjadi pada Nona Maya dan juga bayinya," ujar Desi sambil membantu Kanaya berdiri.
*****
"Beristirahatlah Maya, aku akan mengurus Kanaya nanti," ujar Elvano sambil membaringkan Maya di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Elvano menunggu Maya hingga di pindahkan ke kamar perawatan. Setelah itu ia pun pulang dengan di antar Panji.
Elvano sangat marah dengan apa yang Kanaya lakukan pada Maya, karena ia telah membunuh bayi yang ada dalam kandungan Maya yang juga adalah anaknya.
"Kanaya!!" Teriak Elvano dengan suara keras hingga menggelegar keseisi ruangan.
"Dimana Kanaya?" tanya Elvano pada seorang pelayan sedang membersihkan rumah dengan geram. Tangannya terkepal, menahan emosi yang meluap.
"Dimana pembunuh itu?!" Teriaknya lagi.
"Nyo.. nyo... nyonya ada di kamarnya, Tuan." jawab pelayan itu dengan terbata - bata. Karena takut melihat Tuannya murka.
Elvano pun langsung menuju ke lantai dua mencari Kanaya ke kamarnya. Sementara pelayan tadi segera mencari Desi. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Nyonyanya itu, melihat kemurkaan Elvano.
"Desi! Desi! Cepatlah bantu Nyonya! Tuan sangat marah sekali pada Nyonya. Aku takut Tuan akan melakukan tindakan yang kejam!" Ujar pelayan itu sambil berlari tergopoh - gopoh.
"Astaga!" Seru Desi sambil berlari ke dalam rumah dan naik ke lantai dua.
Elvano menggendor - gedor di kamar Kanaya.
"Kanaya! Cepat buka pintu ini! Dasar pembunuh!" Teriak Elvano dari luar kamar.
"Pergilah Kak Elvano. Aku tidak mendorong Maya! Aku tidak bersalah!" Teriak Kanaya dari dalam kamar. Ia sangat ketakutan sekali mendengar suara Elvano yang begitu penuh amarah padanya.
Kanaya takut membayangkan apa yang akan Elvano lakukan padanya. Ia yakin Elvano tidak akan hanya mencambuknya kali ini. Apakah ia akan membunuhku juga? pikir Kanaya.
Ya Tuhan, tolonglah aku. Aku sama sekali tidak berbuat itu, doa Kanaya.
Kanaya sangat ketakutan. Air mata mengalir di pipinya, tangannya menggenggam roknya dengan kencang dan telapak tangannya sudah basah oleh keringat.
Bersambung...
Bab 57 sudah di UP ya. Kira - kira hukuman apa yang akan di lakukan Elvano pada Kanaya? Berhasilkah Desi menolong Kanaya dari amarah Elvano.
Nantikan terus kisah mereka ya!
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1