Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Janji Devan


__ADS_3

Devan pun menghubungi temannya Bagas.


"Hei, Devan! Ada apa? Lo udah balik ke kota A? Apa ada yang ketinggalan, sampai harus menghubungi gue," kelakar Bagas.


"Gue..... nggak jadi pulang," ujar Devan pada Bagas. Ia memang sudah beberapa kali bercakap - cakap lewat telepon dengan temannya itu, tetapi belum bertemu dengan temannya itu, selama ia menginap di kota D, karena Bagas sedang pergi keluar kota.


"Oh ya? Wah bagus dong! Kebetulan gue udah balik nih. Kita ketemuan yuk! Lo ada dimana sekarang?" tanya Bagas dengan bersemangat.


"Gue lagi ada di jalan," jawab Devan sambil melihat keluar jendela.


"Ya udah, kita ketemuan sekarang di tempat biasa?" balas Bagas menyebut tempat dahulu mereka sering mengobrol saat Devan masih tinggal disana.


"Oke," ujar Devan.


Dan Devan pun mengendarai mobilnya ke cafe tempatnya ia dan Bagas sering mengobrol dulu.


"Gimana kabar lo, Van?" tanya Bagas sambil menyalaminya dengan hangat.


Devan hanya tersenyum dan tidak menjawab.


"Ada apa?" tanya Bagas heran melihat raut wajah temannya.


"Apa semuanya baik - baik saja? Kerjaan lo?" tanya Bagas mencari tahu kegelisahan temannya itu.


"Nggak. Kerjaan gue baik," jawab Devan.


"Terus?" tanya Bagas penasaran.


"Kanaya... menghilang," ujar Devan dengan berat.

__ADS_1


"Maksud lo? Bukannya lo sempat ketemu Kanaya, kemarin?" tanya Bagas heran.


"Ya, gue emang ketemu Kanaya kemarin, tapi... siang ini dia pergi dari rumahnya, dan belum di temukan sampai sekarang," ujar Devan.


"Udah lapor polisi," tanya Bagas dan Devan pun mengangguk.


"Elvano gimana? Gimana kejadiannya, Kenapa Kanaya bisa hilang?" tanya Bagas heran.


"Gue nggak tahu, apa yang sebenarnya terjadi, tapi gue punya firasat kalau Elvano sudah menyakiti Kanaya, dan menyebabkan Kanaya pergi," ujar Devan. Dan ia pun menceritakan semua yang ia ketahui pada Bagas, termasuk apa yang di dengarnya dari Lisda dan Maya dan juga permintaan tolong dari Kanaya ke teleponnya yang baru ia ketahui beberapa jam yang lalu.


Bagas terlihat ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Kanaya. Ia pun teringat beberapa bulan yang lalu saat ia bertemu di pesta gala, dan saat itu Elvano menunjukkan betapa posesifnya ia terhadap Kanaya, sehingga Elvano tampak keberatan saat Kanaya berbincang dengan dirinya. Tetapi apa iya, ia menyiksa Kanaya? mereka berdua terlihat seperti pasangan yang serasi dan bahagia di banyak media.


"Terus apa rencana lo, Van?" tanya Bagas sambil memandang temannya yang sedang memikirkan sesuatu. Bagas tahu, Devan masih menyimpan perasaan pada Kanaya, sehingga terlihat jelas bahwa ia sangat menghkhawatirkan Kanaya.


"Gue.... gue ingin ngikutin perkembangan pencarian Kanaya, tapi polisi mengatakan Elvano berkeberatan kalau gue ikut campur," ujar Devan.


"Gue ada kenalan, siapa tau aja dia bisa bantu, supaya lo bisa mendapatkan kabar perkembangan pencarian Kanaya," ujar Bagas.


"Siapa?" tanya Devan sambil mencondongkan


tubuhnya kearah Bagas.


"Ada, teman juga orang kepolisian. Sebentar gue telepon dulu orangnya," ujar Bagas dan ia pun segera menghubungi temannya itu dan membuat janji temu dengannya.


***


Dua hari sudah Devan menginap di kota D sejak kepergian Kanaya, namun belum ada kabar mengenai keberadaan Kanaya. Pihak kepolisian sudah mencari Kanaya ke berbagai tempat, namun belum berhasil menemukannya ataupun Bella.


Kanaya memang terlihat pergi bersama Bella siang itu dengan memesan taksi online. Akan tetapi setelah semua itu, semua hal yang berhubungan dengan Kanaya dan Bella tidak dapat di lacak. Bahkan telepon genggam milik Bella pun tidak aktif. Sehingga ia tidak di ketahui keberadaannya. Mereka berdua seperti menghilang di telan bumi.

__ADS_1


"Pak Devan, bagaimana dengan sidang besok hari, Pak?" tanya Putri, sekretaris Devan di kantor Firma hukumnya di kota B, melalui sambungan telepon.


"Pak Adipati, tidak mau jika orang lain yang akan mewakilkannya, ia hanya mau dengan Pak Devan saja, karena Pak Devan sudah berjanji padanya akan mewakilinya dalam sidang perdananya besok," ujar Putri dengan hati - hati.


"Baiklah Putri, aku akan kembali nanti sore. Tolong kamu siapkan berkas - berkasnya dan kirimkan padaku. Akan aku pelajari lagi dalam perjalanan pulang," ujar Devan akhirnya. Mau tak mau Devan harus kembali ke kota B untuk menghadiri beberapa jadwal sidang kasus - kasus yang di tanganninya disana, meskipun ia enggan meninggalkan kota D sebelum menemukan Kanaya.


"Baiklah Pak Devan, segera akan saya kirimkan berkas - berkasnya beserta tiket pesawat untuk Bapak untuk nanti sore," ujar Putri sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Devan berbaring di ranjang hotelnya dan menatap langit - langit kamarnya.


Ia selalu mengikuti perkembangan pencarian Kanaya melalui Kapten Lian , teman Bagas yang memberitahu segala sesuatunya. Devan pun ikut mencari ke tempat - tempat yang dulu yang sering di kunjungi oleh Kanaya, namun tidak juga membuahkan hasil.


"Aku akan mencarimu, Ay. Tidak peduli sampai berapa lama pun, aku akan mencari cara untuk menemukanmu.," ujar Devan seakan - akan Kanaya ada di sampingnya.


***


"Waktunya Anda minum obat, Nyonya," ujar Bella pada Kanaya saat Kanaya tengah berbaring sambil menulis novelnya melalui telepon genggamnya.


Sudah beberapa hari semenjak ia meninggalkan rumah Elvano bersama Bella siang itu, dan kondisi Kanaya sudah semakin membaik meskipun ia masih harus berbaring.


"Sudah aku bilang Bella, jangan panggil aku Nyonya lagi, panggil aku dengan sebutan Kanaya saja," ujar Kanaya sambil mengambil obat yang telah di sodorkan oleh Bella padanya.


"Tidak apa Nyonya, bagi saya Nyonya tetaplah seorang Nyonya." ujar Bella sambil tersenyum.


Kanaya meneguk obatnya dan melihat Bella yang sedang tersenyum dengan tulus.


Bella sungguh telah menolongnya ia bahkan rela kehilangan pekerjannya untuk menolong Kanaya.


Jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2