Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Keadaan Devan


__ADS_3

"Kak Elvano.... tolonglah beritahu aku," ucap Kanaya lirih. Air matanya tidak berhenti mengalir membayangkan yang terburuk yang terjadi.


"Devan... tidak sadarkan diri Ay... dia masih dalam perawatan dokter," ucap Elvano akhirnya, memberitahukan apa yang di katakan Raka padanya.


"Devannnn..." panggil Kanaya lirih sambil ia menangis berurai mata.


"Kau harus tabah, Ay. Kita doakan semoga Devan segera pulih," ujar Elvano sambil memeluk Kanaya yang tampak sangat terpukul dengan berita itu.


"Bunda! Bunda!" Terdengar suara Clara memanggil Kanaya sambil mengetuk pintu kabin.


Saat itu Kanaya masih dalam kondisi yang terpukul dan tidak mungkin untuk menemui Clara. Elvano memberi isyarat pada pramugari yang ada di kabin itu, untuk menemani anak - anak di kabin depan.


Pramugari yang tampak ikut bersedih itu pun mengikuti perintah Elvano dan menemui Clara di luar kabin.


"Bunda lagi istirahat, adek sama Tante aja, yuk. Tante juga punya es krim, adek mau?" tanya pramugari itu membujuk Clara. Clara yang tidak tahu apa - apa pun kemudian mengikuti pramugari itu dengan senang.


"Ini tidak mungkin terjadi, Kak El...." ucap Kanaya masih menggeleng, masih tidak percaya jika Devan mengalami itu.


"Ay... aku tahu ini sulit bagimu, tetap berharap yang terbaik dan kamu harus tabah demi anak - anak," ucap Elvano sambil menghapus air mata Kanaya dan memandang wajah sedihnya.


"Devan, pasti akan sembuh Kak Elvano! Ya, dia sudah berjanji padaku, tidak akan meninggalkan aku. Dia pasti akan sembuh!" Ujar Kanaya sambil tersenyum getir


"Ya, Ay. Kita doakan yang terbaik untuknya," ujar Elvano kembali memeluk Kanaya. Hati Elvano pedih melihat kepedihan Kanaya.


Bagi Elvano, ia lebih baik melihat Kanaya hidup berbahagia bersama dengan Devan, dari pada melihat Kanaya yang bersedih seperti itu.


"Maaf Pak, Bu. Kami akan segera mendarat, sebentar lagi," ujar salah seorang pramugari.Setelah ia mengetuk pintu kabin dan membuka pintunya.


"Ya, kami akan segera kesana sebentar lagi. Bisa tolong temani anak - anak?" pinta Elvano pada pramugari itu.

__ADS_1


"Baik Pak," jawabnya. Kemudian ia keluar dari kabin itu.


"Ay, kita akan langsung ke rumah sakit setelah mendarat. Aku sudah minta pada Adella untuk menjaga anak - anak malam ini, biar mereka tinggal di rumah Adella dulu," ujar Elvano memberitahukan rencananya.


Kanaya mengangguk, masih dengan meneteskan air mata setiap kali ia mengingat Devan.


Elvano mengelap air mata Kanaya perlahan.


"Tetapi aku meminta kamu untuk tabah di depan anak - anak. Mereka belum tahu mengenai hal ini, dan sebaiknya kita tidak memberitahu mereka sampai mereka siap dan kamu pun siap. Bisa kamu lakukan, Ay?" pinta Elvano. Ia berharap Kanaya tidak terlalu bersedih di depan Alvaro dan juga Clara dan membuat mereka ikut bersedih.


Kanaya mengangguk, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tetapi di dalam hatinya apa yang di katakan Elvano memang benar, dan ia harus mencobanya demi Alvaro dan juga Clara.


Mereka pun akhirnya mendarat di bandara di kota B setelah hampir dua jam perjalanan.


Kanaya dan Elvano langsung segera berangkat ke rumah sakit, dengan di antar oleh Arya, supirnya. Sedangkan Alvaro dan Clara ikut bersama Adella dan juga Raka, dan akan ikut menginap di rumah mereka sementara waktu.


Saat mobil berhenti di rumah sakit. Lobby rumah sakit itu telah penuh dengan pencari berita, yang mencoba mencari informasi mengenai kondisi korban kecelakaan dalam mobil itu adalah Devan Permana.


"Ibu Kanaya, bagaimana keadaan Bapak, Bu?"


"Apa hal ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang Bapak tangani," tanya Wartawan silih berganti, dan tidak ada yang di pikirkan oleh Kanaya kecuali bahwa ia hanya ingin melihat suaminya, Devan Permana.


"Ikut saya Bu Kanaya." ujar seorang laki - laki dengan badan yang tegap. Elvano mengenalinya sebagai anak buah dari Bastian, yang saat itu ikut menjemput Kanaya dan anak - anak siang itu, di restoran cepat saji. Mereka pun mengikutinya masuk ke dalam rumah sakit sampai di depan ruang ICU.


"Devannn...!" Panggil Kanaya di depan jendela ruang ICU saat melihat Devan terbaring tak sadarkan diri di sana.


"Ay, sabar ya Ay." ujar Elvano sambil merangkulnya.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat Devan di rawat, dan Kanaya langsung berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Kanaya dengan penuh harap pada dokter itu dan juga Elvano mengikutinya.


"Ibu Istri dari Pak Devan Permana?" tanya Dokter itu.


"Iya Dokter, saya Istrinya. Bagaimana kondisi suami saya?" tanya Kanaya lagi.


"Ibu silahkan ikut saya," ujarnya sambil menunjukkan jalan menuju ke arah kantornya.


Dokter mengatakan bahwa Devan mengalami benturan yang cukup parah karena posisinya yang berada di sisi mobil tronton yang menabrak mereka. Dan sampai saat itu, Devan masih belum sadarkan diri, dan masih menunggu hasil pengecekan terhadap organ - organ vitalnya.


Kanaya berjalan masuk ke ruang ICU. Suasana di ruangan itu terasa sunyi sepi hanya terdengar bunyi bip dari monitor dan mesin ventilator yang ada di sana.


Di hadapan Kanaya. Devan sedang berbaring dengan mata yang terpejam. Kepala, lengan dan kakinya di balut perban, sementara berbagai selang di hubungkan ke dalam tubuhnya. Melihat hal itu, air mata nya kembali mengalir.


"Sayang.... aku ada di sini Yang," panggil Kanaya dengan lirih. Mendekatkan wajahnya ke wajah Devan yang diam tak bergerak. Di kecupnya pipi Devan dengan penuh rasa rindu. Hingga air mata yang menetes di pipinya kini membasahi pula pipi Devan. Namun, Devan tetap tidak bergerak.


Kanaya duduk di sebuah kursi di samping ranjang Devan, yang di sediakan perawat untuknya.


"Yang, aku rindu sama kamu.... kamu harus sembuh... aku tahu kamu pasti kuat!" Ucap Kanaya sambil terisak. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Devan, kemudian mengecupnya lembut.


"Kamu janji sama aku nggak akan ninggalin aku, kamu janji akan terus bersama aku. Jangan tinggalin aku dan anak - anak.... kami membutuhkanmu.... aku membutuhkanmu..." ujar Kanaya kemudian sambil terisak. Di peluknya erat - erat tangan Devan yang ada di dalam genggamannya dan ia tidak ingin melepaskannya.


Kanaya tidak rela melepasnya pergi...


Elvano memandangi Kanaya yang duduk di samping Devan sambil menangis dari balik jedela kaca ruang ICU tempat Devan di rawat. Tak terasa air matanya pun menetes. Devan Permana bukanlah lagi rivalnya. Dia adalah keluarga. Apa yang telah di lakukannya untuk Alvaro dan Kanaya tidak akan dapat di bayarkan untuk apa pun.


Seandainya waktu dapat di putar kembali, Elvano rela menukar tempatnya untuk Devan, karena hanya Devanlah yang dapat membahagiakan Kanaya.


Tidak ada yang lebih membahagiakan Elvano dari pada melihat Kanaya dan Alvaro bahagia, dan tidak ada yang lebih menghancurkan hatinya dari melihat kedua orang yang terpenting dalam hidupnya hancur berkeping - keping.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2