
"Mamah sungguh tidak mengerti Kanaya, bukankah itu keingin kalian sendiri untuk menikah?" tanya Ratna lagi.
"Kak Elvano mengancam akan membuat bangkrut usaha Papa dan mengancam akan mencelakakan Papah, Mamah, Devan dan Bunda, jika Kanaya tidak mau menikah dengannya, Mah?" ujar Kanaya berterus terang.
"Tapi kenapa Elvano tega melakukan itu Kanaya?" tanya Ratna yang masih tidak percaya Elvano telah melakukan hal itu. Setahunya Elvano adalah seorang laki - laki yang baik.
"Karena Kak Elvano, ingin membalas kematian Kak Devita, dan membuat Kanaya menderita.," ujar Kanaya memandang dengan sendu wajah Mamahnya.
"Membalas dendam? Apa maksudmu? Bukan kamu yang menyebabkan kematian Devita, Kanaya!" Ujar Ratna tidak senang jika Kanaya di katakan sebagai penyebab kematian Devita.
"Kak Elvano tidak tahu itu, Mah. Seseorang mengatakan padanya kalau Kanayalah yang melepaskan Kak Devita pada hari itu, kalau Kanaya sudah sengaja membunuh Kak Devita!" Ujar Kanaya sambil meneteskan air mata.
"Kanaya anakku, maafkan Mamah, Nak. Seandainya Mamah tahu lebih dulu,Mama tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," ujar Ratna sambil memeluk dengan lembut Kanaya.
"Apa saja yang sudah Elvano lakukan padamu, Nak? Apa dia menyakitimu?" tanya Ratna.
"Beberapa hal, tapi Mamah tidak perlu kuatir, Kanaya sudah tidak apa - apa sekarang," jawab Kanaya tidak ingin membuat Mamanya khawatir. Buatnya melihat Mamanya sehat dan selamat di hadapannya sudah membuatnya senang dan lega.
"Ratna, sebaiknya kamu beristirahat saja dulu. Kanaya, antarkan Mamu ke kamarnya," pinta Bunda Alika pada Kanaya.
Namun sebelum Ratna sempat beranjak, Devan dan Bagas keluar hendak berpamitan.
"Bun, Devan berangkat ke kantor dulu, yah. Sekalian mengantar Bagas ke Bandara." ujar Devan berpamitan dan Alika mengangguk.
"Tante istirahat saja dulu, nanti sore kita mengobrol lagi," ujar Devan pada Ratna.
"Iya, Devan dan juga Bagas terima kasih, Tante jadi merepotkan kalian," ujar Ratna.
"Sama sekali nggak tante, saya sangat senang kalau tante bisa ada di sini," ujar Devan sambil mencium tangan Ratna dan juga Alika.
"Ay, aku pergi dulu ya. Lebih baik kamu istirahat dulu saja hari ini. Sementara aku selesaikan berkas - berkasmu," ujar Devan sambil memegang lengan Kanaya.
"Iya, Van. Kamu hati - hati di jalan," ujar Kanaya sambil mengantar Devan dan Bagas keluar rumah.
"Bagas, makasih ya, kamu sudah antar Mamaku kesini, aku nggak tahu bagaimana membalasnya," ujar Kanaya pada Bagas.
"Nggak perlu berterima kasih padaku, Ay. Itu semua Devan yang mengatur, aku hanya ngikutin perintah Bos saja." ujar Bagas sambil melirik Devan.
__ADS_1
"Bisa aja lo" Ujar Devan sambil menggaruk tengkuknya.
Mereka berdua berjalan menuju mobil Devan, tiba - tiba Devan berhenti dan berbalik.
"Oh iya, Ay. Aku hampir lupa, hari minggu nanti ada undangan makan siang," ujar Devan seperti teringat sesuatu.
"Di mana, Van?" tanya Kanaya.
"Di rumah Pak David. Beliau mengundang kita makan di rumahnya, dia ingin bertemu denganmu," ujar Devan.
Bagas berdehem keras.
"Makan bersama," gumam Bagas nyaris tidak terdengar Kanaya namun terdengar jelas oleh Devan.
"Pak Alexander David Mahendra?" tanya Kanaya.
"Iya, Pak David dan Ibu Rena yang mengundang kita," ujar Devan.
"Ya, tentu saja, Van." ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Ya udah Ay, aku berangkat dulu ya, Ay. Nanti aku kabari lagi berangkat jam berapa?" ujar Devan sambil berbalik arah dan berjalan menuju mobilnya.
"Maksud lo?" tanya Devan.
"Lo masih cinta sama Kanaya. Itu sebabnya lo lakuin ini semua buat dia, kan?" tanya Bagas lagi.
"Lo ngomong apa sih, Gas. Dia kan memang sahabat gue dari kecil, jelas gue bantuin dia," sangkal Devan sambil mengendarai mobilnya.
"Terus aja nyangkal! Hati mah nggak akan bisa bohong, Van!" Ujar Bagas.
Devan hanya diam dan tidak berkomentar. Tidak ada gunanya berbohong pada Bagas, ia bagaikan sebuah buku yang terbuka di depan sahabatnya Bagas.
'Nggak semudah itu untuk melupakkan Kanaya, buat gue dia sangat istimewa,' batin Devan.
Akhirnya mereka sampai di Bandara. " Makasih banyak, Bagas. Gue hutang budi sama lo!" ujar Devan.
"Santai aja, apa yang gue bisa bantu, pasti akan gue bantu. Take care, ya!" Ujar Bagas. Mereka pun mengucapkan salam perpisahan satu sama lain dan Devan masuk ke dalam gerbang keberangkatan.
__ADS_1
Devan langsung berangkat ke kantornya untuk menyelaesaikan beberapa kasus dan mengurus berkas perkara perceraian Kanaya.
Rencananya hari ini, hasil medical check up Kanaya keluar, dan ia bisa segera mendaftarkan gugatan cerai Kanaya ke pengadilan Agama di kota D.
"Selamat pagi, Pak," sapa Beni.
"Pagi Beni, bagaimana perkembangan kasus - kasus yang kita tangani?" tanya Devan sambil melepas jasnya dan menyampirkannya ke gantungan jas di ruangan kantornya.
"Beberapa tim pengacara kita sudah berangkat ke pengadilan, dan sejauh ini tidak ada kendala, Pak." ujar Beni sambil menaruh berkas perkara di mejanya.
"Ini untuk sidang besok pagi, Pak. Tinggal Bapak cek saja," ujar Beni.
Devan pun memeriksa beberapa berkas perkara dan memanggil beberapa orang pengacaranya yang sedang menangani kasus itu serta mendiskusikannya. Ia selalu melakukan hal itu, sehingga ia tahu perkembangan setiap kasus di firma hukumnya.
Setelah lewat dari jam makan siang, Beni membawa beberapa berkas lagi.
"Berkas Ibu Kanaya apa kau sudah selesaikan?" tanya Devan.
"Sudah Pak. Tinggal Bapak periksa, untuk medical check up juga sudah keluar," ujar Beni sambil menujuk satu berkas. Devan mengambil satu berkas yang di maksud dan langsung memeriksanya.
Devan terhenyak saat melihat hasil medical check up Kanaya, Ia memang mengetahui jika Elvano kerap mencambuk tubuh Kanaya, tetapi melihat foto tubuh Kanaya yang penuh dengan luka membuatnya terkejut luar biasa.
'Ya ampun, Ay. Aku tidak tahu jika Elvano melakukan hal ini padamu,' batin Devan.
'Kau harus membayarnya Elvano!" Geram Devan di dalam hati. Tangannya terkepal dan tanpa dia sadari, ia menggebrak meja kerjanya.
BRAK!
"Pak Devan, apa anda baik - baik saja?" tanya Beni yang bingung melihat reaksi dari Devan.
Tetapi ia pun mengerti mengapa Bosnya melakukan itu saat di lihatnya luka - luka yang ada di tubuh Kanaya. Siapa pun akan geram melihatnya, terlebih orang yang telah mengenal dekat korban.
"Segera urus berkas perkara ini, jangan di tunda - tunda!" Ujar Devan dengan wajah geram.
"Baik Pak, jika Bapak sudah periksa segera saya akan meminta team untuk langsung mendaftarkannya hari ini juga" balas Beni.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho. Nantikan kisah mereka terus ya~~
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.