
"Sekarang juga kau ikut aku ke kantor polisi, kita laporkan Kanaya dengan tuduhan pembunuhan!" ujar Elvano dengan geram sambil menarik Maya berdiri.
"Tunggu, tunggu Elvano!" ujar Maya menghentikan Elvano dari menariknya.
"Polisi tidak akan percaya apa yang aku katakan, Elvano! Aku tidak punya bukti dan kejadian itu sudah berlangsung lama," alasan Maya dengan wajah yang pucat pasi. Ia pun takut jika harus berhadapan dengan polisi, dan jika polisi mengetahui kebohongannya.
"Katakan saja apa yang kau tahu, aku yakin polisi akan memprosesnya!" ujar Elvano bersikeras untuk melaporkan Kanaya ke polisi.
"Jangan Elvano kalau dia bebas kamu tidak akan bisa membalaskan sakit hatimu," bujuk Maya.
Elvano menoleh kearah Maya dan berfikir.
"Benar Elvano, lebih baik kamu balaskan dendammu secara pribadi, dengan begitu ia akan merasakan apa yang kamu rasakan," rayu Maya di telinga Elvano. Ia memanas - manasi Elvano agar membuat Elvano membalas dendam akan kematian Devita.
Maya punya maksud lain melakukan itu. Selain agar ia mendapatkan Elvano, ia pun hendak menggagalkan usaha perjodohan Elvano dengan Kanaya yang di rencanakan Luna, ibu Elvano.
Ia tidak sengaja mendengar Luna berencana menjodohkan Elvano dengan Kanaya beberapa hari sebelumnya.
Maya memang menyukai Elvano. Saat Devita mengenalkannya pada Elvano. Saat itu Devita dan juga Elvano telah bertunangan dan mereka jalan berempat bersama Lisda. Saat itulah Devita mengenalkan Elvano padanya, dan saat itu pula lah Maya jatuh hati pada Elvano.
Sayangnya Maya tidak mengetahui jika usaha balas dendam Elvano kepada Kanaya adalah dengan cara menikahinya.
*** Flashback berakhir ***
Elvano mengangkat telepon dari Maya.
"Halo," sapanya datar.
"Elvano kamu ada dimana? aku menunggu teleponmu tadi malam, kenapa tidak menghubungiku?" tanya Maya sambil merajuk.
"Aku tertidur tadi malam. Ada apa Maya?" tanya Elvano.
"Aku kangen sama kamu..., bagaimana kalau kita ketemuan?" tanya Maya.
__ADS_1
Elvano memang terkadang pergi bersama Maya setelah Maya mengatakan pada Elvano apa yang terjadi di taman bermain itu. Tetapi Elvano tidak pernah menganggap Maya lebih, baginya Maya adalah teman Devita. Ia bersama Maya hanya untuk mengorek informasi apa saja yang di lakukan Kanaya pada Devita. Ia pun tidak pernah menyentuh Maya, sekeras apapun Maya mengajaknya tidur bersama.
Namun kali ini pikiran Elvano sedang kusut. Pikirannya tak tenang setelah menikahi Kanaya.
Ia menikahi Kanaya dengan tujuan untuk membuatnya menderita, karena tidak ingin melihat Kanaya bahagia bersama Devan, oleh karena itu ia nekat menikahi Kanaya.
Namun setelah apa yang terjadi tadi pagi di kamarnya, ia menjadi gelisah karena tubuhnya merespon berbeda terhadap Kanaya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dengan perempuan lain setelah kematian Devita.
'Tidak! Gadis kampungan seperti itu tidak mungkin bisa membuatnya seperti itu!' batin Elvano. 'Dan akupun tak akan pernah menyentuh pembunuh itu, apapun yang terjadi! ' janji Elvano dalam hatinya.
Elvano pun memutuskan untuk menerima ajakan Maya.
"Baiklah Maya, dimana kamu ingin bertemu?" tanya Elvano.
Maya tampak sangat senang ketika Elvano mau menemuinya. Ia bertekat akan membuat Elvano jatuh hati padanya dan terikat padanya.
" Kita ketemuan siang ini di restoran Eropa. Aku tunggu ya Elvano, aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu," ujar Maya dengan suara yang menggoda.
"Oke, aku akan segera kesana Maya." ujar Elvano lalu memutus sambungan teleponnya.
Saat ia keluar dari kamar menuruni tangga, dilihatnya Kanaya sedang duduk sambil membaca sebuah majalah di sofa ruang keluarga.
" Kak Elvano, kamu mau kemana? Apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Kanaya sambil beranjak dari duduknya, menghampiri Elvano.
Kanaya ingat tadi pagi Elvano mengatakan jika mereka berdua akan pergi berbulan madu siang ini. Namun Elvano tidak mengatakan kemana dan jam berapa mereka akan berangkat.
"Bukan urusanmu!" ujar Elvano tanpa menoleh ke arah Kanaya.
"Kak Elvano, kamu mau pergi kemana?" tanya Kanaya sambil berjalan di belakang Kanaya.
Namun Elvano tidak menjawab dan berjalan menuju ke mobil sportnya di garasi rumahnya.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintunya, membiarkan Kanaya terbengong di luar mobil mewahnya. Tanpa mengindahkan Kanaya, ia menginjak pedal gasnya dalam - dalam dan melaju dengan suara rauman yang sangat kencang dari mobilnya.
__ADS_1
Kanaya menghela napas berat melihat kelakuan Elvano. Tadinya ia ingin mengajak Elvano mengobrol, sehingga ia bisa tahu kenapa Elvano bisa berlaku buruk padanya. Ia tidak percaya bahwa Elvano adalah seorang yang mempunyai perangai yang buruk. Kanaya yakin ada alasan kenapa Elvano sanagt berubah sikapnya.
****
Elvano melajukan mobilnya dengan sangat kencang dan baru menurunkan kecepatan saat telah keluar dari halaman rumahnya yang besar.
Ia sempat melihat dari kaca spionnya ekspresi kecewa dan takutnya Kanaya saat ia meninggalkannya di garasi itu.
Elvano berusaha mengubur dalam - dalam wajah Kanaya di benaknya. Ia berniat akan bersenang - senang hari ini. Sehingga ia bisa melupakan bayangan akan Kanaya.
Hari itu ia menghabiskan waktunya bersama Maya. Setelah makan siang di restoran, Elvano dan juga Maya lanjut berkaroke ria, dan setelah itu mereka pergi ke club malam.
Elvano hampir tidak pergi ke club malam, tetapi Maya sangat mengenal tempat itu. Ia membawa Elvano kesana dan memberinya minuman beralkohol yang membuat Elvano mabuk dan merancau.
Maya benar - benar membuat Elvano bersenang - senang malam itu, dan Elvano pun mabuk berat.
"Kanaya itu brengsek! Dia mencoba menyentuhku!" rancau Elvano.
"Sudah kubilang aku jijik padanya dan jangan menyentuh ranjangku! Tapi apa yang dia lakukan? Tau apa?" tanya pada Maya dan beberapa wanita dan pria yang di temuinya di club malam itu. Elvano bahkan mentraktir mereka minuman, di luar kesadarannya.
Yang lain menggeleng dan ada juga yang meng olok - olok, Namun Elvano sedang mabuk hingga dia tidak menyadari apa yang mereka olok - olokan.
"Dia naik ke ranjangku dan tidur denganku!" ujar Elvano tidak sadar dengan apa yang ia katakan.
"Berani sekali dia! Dia pikir aku akan tertarik padanya? Dasar gadis kampungan!" seru Elvano.
"Tentu tidak sayang, gadis seperti itu bukan tipemu," jawab Maya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Maya berpikir akan mudah baginya menyingkirkan Kanaya. Apalagi dengan penampilan Kanaya yang kampungan dan tidak tahu bagaimana caranya bersolek.
Maya merasa dirinya jauh di atas Kanaya. Dan ia yakin akan segera memiliki Elvano dalam waktu dekat. 'Lihat saja jika nanti Elvano menceraikan Kanaya setelah menyiksanya terlebih dahulu' batin Kanaya.
Ia tidak perlu khawatir, karena ia yakin Elvano tidak akan pernah menyentuh Kanaya, 'bagaimana mungkin Elvano akan tertarik pada gadis seperti itu,' batin Maya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan banyak uang di club malam itu, Maya membawa Elvano ke hotel tidak jauh dari club.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya