Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Menunggu Elvano


__ADS_3

Mengandung Adegan 21+, Harap Bijak Dalam Membaca! Untuk Anak Di Bawah Umur Harap menjauhi Bab ini.


"Dimana kita Maya?" tanya Elvano pada Maya.


"Kita akan beristirahat sayang, aku tahu kamu pasti lelah," ujar Maya sambil berjalan merangkul lengan Elvano mencegahnya dari terjatuh. Mereka berhenti di depan kamar yang di sewa Maya dengan menggunakan kartu kredit Elvano, dan Elvano membuka pintunya.


"Kamu cantik sekali malam ini," ujar Elvano merancau sambil menjalarkan tangannya ke tubuh Maya yang terbalut gaun ketat mini.


Maya tersenyum menyeringai. Ia yakin bisa mengajak Elvano tidur bersamanya malam ini, karena ia telah memasukan obat perangsang dalam minuman Elvano, tanpa ia ketahui. Dan obat itu mulai menunjukkan efeknya.


"Tentu saja sayang," ujar Maya sambil melingkarkan lengannya di leher Elvano.


Obat perangsang yang di berikan Maya mulai berpengaruh, membuat gairah Elvano naik dengan Cepat, dan ia pun mencium bibir Maya dengan penuh nafsu.


Maya tentu saja memanfaatkan kesempatan yang telah di tunggu - tunggunya itu. Ia membalas ciuman Elvano dengan sama panasnya. Hingga mereka pun saling membuka pakaian satu sama lain dengan tergesa - gesa. Elvano bahkan menyobek baju yang di pakai Maya. Karena ia sudah tidak sabar menyalurkan hasratnya saat itu juga.


Tak memakan waktu yang lama. Hingga hanya terdengar suara ******* dari mereka berdua dalam kamar hotel itu.


Sementara itu Kanaya menunggu Elvano di rumah dengan gelisah. Bagaimana pun Elvano adalah suaminya sekarang, dan Elvano telah pergi seharian tanpa mengatakan kemana ia pergi.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Elvano belum juga kembali. Kanaya tidak tahu kemana harus mencari Elvano. Ia bahkan tidak mempunyai nomor telepon Elvano, sehingga Ia meminta Desi untuk menghubungi telepon genggam Elvano. Namun tampaknya Elvano tidak mengangkat telepon genggamnya. Kanaya pun akhirnya tertidur di sofa sambil menunggu Elvano. Ia bahkan tidak memakan malamnya karena menunggu Elvano yang tak kunjung datang.


***


Elvano terbangun pagi itu dan mengerang karena kepalanya terasa sangat sakit. Bahkan matanya pun sangat silau ketika berpapasan dengan sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela kamar hotel.


Elvano mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya memperhatikan kamar yang di tempatinya. Ia sama sekali tidak mengenali kamar itu. Kamar itu bukan kamarnya.Apakah ini kamar tamu di rumahnya yang di tempati oleh Kanaya? pikir Elvano.


Elvano tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, tetapi samar - samar ia mengingat aktifitas fisik yang ia lakukan tadi malam.


Elvano tertegun.


Ia pun langsung pucat pasi menyadari ia telah berhubungan intim dengan seseorang tadi malam. Apakah itu Kanaya? Benak Elvano terus menyebut nama itu dalam pikirannya.

__ADS_1


Kanaya..


Kanaya..


"Aaaarggghhhhh!" teriak Elvano sambil menarik rambutnya berharap wajah Kanaya hilang dari ingatannya.


"Selamat pagi, Elvano...," suara seorang wanita yang menyapanya membuat Elvano melonjak dari ranjangnya. Sedari tadi ia tidak memperhatikan jika ada seseorang bersamanya di ranjang itu.


Tiba - tiba wajah Maya dengan rambut yang berantakan menyebul dari dalam selimut dan tersenyum padanya.


"Maya?" tanya Elvano dengan terkejut. Ia tidak menyangka jika ia melakukannya dengan Maya tadi malam.


"Ya Elvano, ini aku," ujar Maya dengan senyum mengembang di wajahnya, terlihat jelas jika ia sangat menikmati permainan panas mereka tadi malam.


Elvano yang tidak menyadari jika ia tidak memakai sehelai benang pun segera tersadar.


"Jangan malu - malu Elvano, aku telah melihat semuanya tadi malam," ujar Maya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Elvano


Sialan! Apa yang aku lakukan tadi malam hingga bisa tidur bersama Maya! Maki Elvano pada dirinya sendiri.


Dalam hatinya Maya tertawa senang karena ia telah berhasil membuat Elvano tidur dengannya. Hal itu akan ia jadikan alasan untuk terus memepet Elvano hingga Elvano berada dalam genggamannya.


Elvano segera memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi.


Saat Elvano keluar dari dalam kamar mandi, Maya masih tidak mengenakan pakaian apapun dan duduk di atas ranjang.


"Pakailah pakaianmu Maya!" ujar Elvano sambil melihat sekeliling kamar itu mencari dompet dan telepon genggamnya.


"Kau mencari ini?" tanya Maya. Di tangannya ia memegang dompet dan telepon genggam milik Elvano.


"Berikan padaku?" ujar Elvano dengan jengah.


"Kau harus mengambilnya sendiri, Elvano," ujar Maya sambil memegang dompet dan telepon genggam Elvano.

__ADS_1


"Berhenti bercanda Maya, aku harus berangkat ke kantor! ujar Elvano sambil melangkah dengan gusar dan mengambil barang miliknya dari tangan Maya dengan kasar.


"Kau ingin cepat - cepat pulang untuk bekerja hari ini atau untuk menemui istrimu?" tanya Maya dengan nada cemburu.


Ya, Maya cemburu pada Kanaya karena Elvano justru menyebut dan meneriakkan nama Kanaya saat ia mendapatkan pelepasannya tadi malam. Dan itu membuat Maya sangat gusar menyadari Elvano membayangkan Kanaya saat mereka berkali - kali melakukan adegan panas semalam.


Obat perangsang yang di berikan Maya pada Elvano cukup untuk membuat Elvano terjaga sepanjang malam dan berkali - kali melakukan penyatuan dengannya, namun hanya nama Kanaya yang keluar dari mulut Elvano.


"Menemui pembunuh itu? Apa kau pikir aku sudah kehilangan akal sehat untuk mau mencarinya?" ujar Elvano, lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Maya tersenyum penuh kemenangan karena ia telah berhasil menjebak Elvano untuk tidur dengannya dan membuat Elvano membenci Kanaya.


Elvano mengendari mobil kembali ke rumahnya. Saat ia berjalan di ruang keluarga ia melihat Kanaya tidur di sofa.


"Bangun!" Bentaknya sambil menguncang - guncangkan bahu Kanaya dengan kasar.


Kanya terkejut dan segera duduk. Ia mengerjapkan - ngerjapkan matanya, menahan silaunya sinar matahari yang masuk ke matanya dan melihat bayangan seseorang di depannya.


Saat ia mendongak dilihatnya Elvano sedang berdiri di depannya.


"Kak Elvano, kamu sudah pulang?" ucap Kanaya sambil mencoba menenangkan diri dari keterkejutannya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di sini? Apa kau tidak pernah di ajarkan tata krama?" Bentak Elvano lagi.


"M..Maaf, aku ketiduran tadi malam. Aku menunggumu pulang, Kak El." ujar Kanaya.


Elvano berdecih dan menertawainya dengan sinis seakan tidak percaya jika Kanaya menunggunya tadi malam.


"Cepat bangun dan siapakan sarapan untukku! Aku mau berangkat kerja!" perintah Elvano kemudian berjalan naik ke atas kamarnya.


Kanaya pun segera bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di sisi ruang keluarga itu. Setelah membasuh wajahnya, ia berjalan ke dapur dan bertemu Desi di sana.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya.


__ADS_2