
Namun hingga malam Elvano tak kunjung kembali.
"Nyonya, Anda sebaiknya makan terlebih dahulu. Saya yakin Tuan sudah makan, jika sampai selarut ini belum pulang." ujar Desi
Dilihatnya sudah pukul 10 malam, dan ia pun merasa lapar.
Mungkin Desi benar, pikir Kanaya kemudian beranjak berjalan ke arah meja makan.
Ia pun makan makanan yang di sediakan oleh Desi.
Saat ia sedang makan, tiba - tiba pintu depan rumah terbuka, dan masuklah Elvano dengan di rangkul oleh Panji.
Kanaya pun segera berdiri dan menghampiri mereka.
"Kak Elvano, apa yang terjadi?" tanyanya melihat pakaian Elvano yang berantakan, dengan kemeja yang ujung - ujungnya menggantung keluar. Rambut Elvano pun berantakan dan tercium bau alkohol dan asap rokok yang menyengat dari tubuh Elvano
"Haloooo Kanaya, apa kabar sayaaaang.." rancau Elvano sambil berjalan gontai di bantu oleh Panji, supirnya.
"Ayo Panji, bawa ke atas," ujar Kanaya sambil membantu dan memegang lengan Elvano.
Desi yang datang dari arah dapur menghampiri mereka.
"Biar saya, Nyonya," ujar Desi langsung mengambil alih memegang Elvano dari tangan Kanaya. Dan Kanaya pun mengikuti mereka ke kamar Elvano.
"Semuaahh gara - gara kaaamuuuu Kanaya," Elvano terus merancau tidak jelas.
Saat itu kali pertama Kanaya masuk kamar Elvano yang mewah dan luas. Panji dan Desi hendak mendudukan Elvano di kursi saat Elvano tiba - tiba merasakan mual dan mau muntah. Elvano pun langsung di bawa ke kamar mandi.
"Wueeeeekkk! Beberapa kali Elvano memuntahkan air dari mulutnya hingga ia terduduk lemas."
"Desi cepat ambilkan baju ganti Elvano!" perintah Kanaya sambil memegang tubuh Elvano agar tidak merosot. Desi pun langsung berlari ke arah lemari besar Elvano dan mengambil sebuah kaos dan celana pendek."
"Vitaaaaa...." panggil Elvano sambil memegang wajah Kanaya.
Kanaya tidak berkata apa - apa, ia tahu Elvano sedang mabuk, dan berbicara apapun padanya tidak akan membuahkan hasil.
"Jangan tinggalkan aku lagi..." ujar Elvano
kemudian memeluk Kanaya. Dalam pandangannya Kanaya adalah Devita.
"Kak Elvano, ganti bajumu dulu." ujar Kanaya.
Panji mengganti baju Elvano sementara Kanaya memegang Elvano agar tidak terjatuh. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil mengganti baju Elvano yang bersih dan membaringkannya di ranjangnya.
__ADS_1
Kanaya hendak keluar kamar saat tiba - tiba Elvano memanggilnya.
"Devitaa.." panggil Elvano sambil memegang tangan Kanaya dan tidak ingin melepaskannya pergi.
Kanaya pun sebenarnya sedih mendengar perkataan Elvano.
"Nyonya, Sebaiknya Nyonya temani Tuan dulu untuk sementara," ujar Desi yang berada di belakangnya. Kanaya menoleh ke arah Desi dan mengangguk.
Malam itu Kanaya menemani Elvano, dan tidur di sofa di kamar Elvano.
***
'Ah, sial! pusing sekali kepalaku!' Batin Elvano sambil duduk di ranjangnya.
Kepala Elvano terasa berat dan matanya berkunang - kunang. Belum lagi rasa mual di perutnya.
"Uweaaaak!"
Elvano pun berlari ke arah kamar mandi dengan sempoyongan dan membuka pintunya dengan tergesa - gesa sehingga menyebabkan bunyi yang cukup keras.
Kanaya yang tidur sofa pun terbangun karena kaget dan segera berlari mengikuti Elvano ke kamar mandi.
"Kal El, apa kamu baik - baik saja?" tanya Kanaya sambil memegang pundak Elvano yang sedang muntah di atas toilet duduk
"Jangan sentuh aku!" teriaknya lalu ia muntah kembali.
Kanaya tidak berani memegangnya dan hanya melihat Elvano dengan khawatir.
"Kak Elvano, biarkan aku membantumu," ujar Kanaya yang melihat kepayahan Elvano dengan kondisi badannya pasca mabuk tadi malam. Rupanya ia masih hangover akibat minuman beralkohol yang di konsumsinya.
Elvano tidak mengindahkan Kanaya dan berjalan keluar melewati Kanaya. Ia bahkan menabrak tubuh Kanaya sehingga menyebabkan Kanaya hampir saja terjatuh.
"Aaah!" jerit Kanaya tertahan saat ia berusaha menahan diri memegang dinding agar tidak terjatuh.
Elvano sama sekali tidak mengindahkannya dan tetap berjalan keluar kamar. di lihatnya Elvano dengan memejamkan mata dan memegang perutnya.
"Aku akan ambilkan teh hangat untukmu," ujar Kanaya sambil berjalan ke luar kamar.
Saat itu masih pagi, dan suasana rumah masih sepi, sehingga tidak banyak pelayan yang di temuinya.
"Desi, bisa tolong buatkan teh hangat untuk Kak Elvano?" pinta Kanaya pada Desi yang di temuinya di dapur.
"Apa Tuan sudah bangun?" tanya Desi dan Kanaya pun mengangguk.
__ADS_1
"Nyonya tunggu saja di kamar Tuan, akan saya antarkan teh nya sebentar lagi," ujar Desi sambil beranjak membuatkan teh hangat untuk Elvano.
Kanaya berjalan perlahan ke luar dapur menuju ke kamar Elvano, namun saat sudah sampai di depan pintu kamar Elvano, ia ragu - ragu untuk masuk. Ia tidak yakin jika Elvano tidak akan memarahinya. Ia memutuskan menunggu teh hangat yang di bawa Desi sambil berjalan mondar mandir di depan pintu kamar.
"Ini Nyonya, teh yang anda minta," ujar Desi sambil membawa baki yang berisi gelas mug teh hangat.
Kanaya pun segera mengambil gelas Mug itu dan membuka pintu kamar Elvano. Desi pun ikut masuk di belakang Kanaya.
Saat mereka masuk, Elvano sedang terkulai lemas dan bersandar pada kepala ranjangnya.
"Kak Elvano, minumlah teh hangat ini, ini akan membuatmu lebih baik," ujar Kanaya sambil berjalan mendekati Elvano dan menyodorkan teh hangat itu perlahan.
"Pergi!" teriak Elvano dan tanpa Kanaya sempat mengelak, Elvano menepis gelas yang di sodorkan Kanaya padanya.
Sreeetttt!
Tumpahan isi gelas yang di bawa Kanaya mengenai ke sekujur tubuh dan wajah Kanaya, membuat Desi dan Kanaya terkesiap.
"Nyonya apakah anda baik - baik saja?" tanya Desi yang segera tersadar dan mengambil gelas di tangan Kanaya. Ia pun segera mengelap wajah Kanaya yang terkena tumpahan teh hangat dengan tisu yang di ambilnya dari atas meja.
Kanaya hanya terdiam dan terlihat masih syok dengan apa yang terjadi.
"Aku bilang pergi! Aku tidak ingin melihatmu! Dasar pembunuh!" teriak Elvano pada Kanaya dengan tatapan tajam.
"Nyonya, Anda sebaiknya keluar, aku akan mengurus Tuan," ujar Desi sambil memandang Kanaya. Ia berpikir lebih baik untuk menenangkan Tuannya terlebih dahulu baru ia akan mengurus Kanaya.
Kanaya meneteskan air matanya dan membalikkan badannya, dan ia pun keluar dari Kamar Elvano.
Ia tidak mengerti kenapa Elvano benar - benar membencinya. Padahal ia tidak pernah sekalipun menyakiti Elvano, atau pun meminta Elvano untuk menikahinya. Dan apa maksud Elvano mengatakannya pembunuh?
Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan dirinya di lantai kamar. Kanaya menangis sambil memeluknya kakinya. Ia tidak menyangka bahwa Elvano akan terus memperlakukanny buruk, bahkan setelah mereka menikah. Karena sedih dan menagis Kanaya pun tertidur di lantai kamarnya.
Bunyi ketukan di pintu kamarnya membangunkan Kanaya dari tidurnya. Dan ia pun membukanya.
"Ada apa Sarah?" tanya Kanaya saat ia melihat Sarah ada di depan pintu kamarnya.
"Tuan memanggil Nyonya untuk sarapan," ujar Sarah dengan nada datar.
Kanaya tertegun. Benarkah? Elvano mau sarapan bersamanya? Pikir Kanaya tidak percaya dengan apa yang di katakan Sarah.
"Maksudmu Kak Elvano meminta aku untuk sarapan bersamanya?," tanya Kanaya memastikan.
Jangan lupa like komen dan Vote. Kalau berkenan tekan tombol like...like..like.
__ADS_1