Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Ceraikan Aku


__ADS_3

Kanaya yang berlari masuk ke dalam rumah sempat mendengar deru mobil Elvano meninggalkan halaman rumah. Ia tidak perduli dan terus naik ke lantai dua melewati Desi yang terkejut melihatnya dan ia pun langsung masuk kedalam kamarnya.


Di dalam kamar ia bersandar pada pintu kamar dan terduduk di lantai.


Ia menangis dan memutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kesal dan maraha karena Elvano telah berlaku kasar padanya dan tidak mengindahkan perasaannya.


"Nyonya apa Anda baik - baik saja?" tanya Desi sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Nyonya" Panggil Desi sekali lagi setelah tidak ada jawaban dari dalam kamar Kanaya.


"Aku baik - baik saja Desi," ujar Kanaya sambil tersedu - sedu setelah berusaha untuk mengendalikan perasaannya.


"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya Desi dari balik pintu kamar Kanaya.


"Aku akan memgambilkan teh hangat untuk Nyonya," ujar Desi setelah tidak ada jawaban dari Kanaya. Desi pun meninggalkan lorong itu dan turun ke dapur.


Selepas kepergian Desi, Kanaya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia sudah lebih tenang sekarang.


Dipandanginya wajahnya yang sembab karena menangis, kemudian di sentuhnya bibirnya yang berdarah karena tamparan dan ******* kasar Elvano pada bibirnya. Ia pun meringis dan merasakan getirnya darah yang masuk kedalam mulutnya.


Kanaya segera membasuh dan mengeringkannya dengan hati - hati, terutama pada bibirnya yang terluka.


Ia pun memutuskan untuk mandi agar pikirannya kembali jernih dan hatinya menjadi lebih tenang. Setelah selesai mandi, Kanaya keluar dari ruang shower dengan memegang handuknya dan mengeringkan tubuhnya secara perlahan. Ia berdiri tanpa sehelai benang pun dan menatap tubuhnya di pantulan cermin.


Tubuhnya terlihat sangat indah dengan pinggangnya yang langsing, kulit putih dan bersih serta kedua buah dadanya yang tidak bisa di bilang berukuran kecil mengantung sempurna di sana. Namun saat ia memiringkan badannya dan melihat punggung bagian belakangnya yang penuh dengan bekas goresan - goresan luka, ekspresi wajahnya pun berubah.


Tidak ada yang menarik disana, mengundang rasa iba pada siapapun yang melihatnya. Ia pun melangkah berat. Kanaya melangkah maju dan mengambil sebotol kecil antiseptik, kemudian di bubuhkan di atas luka di bibirnya secara perlahan.


"Nyonya?" terdengar suara Bella yang memanggilnya dari kamar.


"Ya, Bella." Jawab Kanaya sambil membalut tubuhnya dengan handuk kemudian ia membuka pintu dan melihat Bella yang sedang berdiri di depan kamarnya sambil membawa baki berisi teh hangat dan sepiring kudapan.


"Apa Nyonya baik - baik saja?" tanya Bella sambil menatap wajah Nyonyanya dan melihat bibir di Nyonyanya itu.


"Ya Bella," jawab Kanaya menuju ke lemari pakaiannya.


"Apa Tuan memukulmu lagi, Nyonya?" tanya Bella yang ingin tahu penyebab luka di bibir Nyonyanya itu.

__ADS_1


Kanaya menggeleng. "Bella aku tidak apa - apa," ujar Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


Bella mengangguk.


"Kalau tidak ada lagi yang Nyonya butuhkan, saya kembali lagi ke bawah," ujar Bella sambil membawa baki di tangannya.


"Terima kasih Bella," ujar Kanaya sebelum Bella menutup pintu.


Selepas kepergian Bella, Kanaya memakai baju tidurnya dan menyesap teh hangat yang di bawakan Bella untuknya. Setelah itu ia membaringkan dirinya di atas ranjang dan menatap langit - langit kamar. Punggungnya sudah tidak terasa sakit lagi, namun hatinya masih merasakan pedih. Apalagi mengingat kembali kondisi kedua orang tuanya.


Kanaya teringat apa yang dikatakan Bella. Ia pun mengambil telepon genggamnya dan mulai cari tahu mengenai aplikasi menulis cerita dan mulai mempelajarinya.


Elvano melajukan mobilnya dengan cepat. Pada awalnya ia tidak tahu kemana, arah dan tujuannya, hingga ia terngiang perkataan Kanaya, bahwa ia tidak perduli jika ia pergi bersama Maya, simpanannya. Dan darah Elvano kembali bergejolak, marah dan kesal dengan ketidak pedulian Kanaya padanya. Dan Elvano pun pergi ke tempat Maya dan menghabiskan malamnya bersama Maya.


***


Kanaya sedang berkutat dengan Hand phonenya, menulis sebuah cerita pada sebuah aplikasi menulis online. Sudah beberapa bulan ini Kanaya menggelutinya dan ia pun mulai mendapatkan penghasilan dari menulis novel. Bahkan salah satu novelnya menjadi Best Seller dan memenangkan kompetisi pada aplikasi tersebut, sehingga Kanaya bisa mendapatkan penghasilan yang cukup dan bisa memberikan sedikit penghasilannya untuk kedua orang tuanya.


Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Elvano, ia memang tidak memberitahu Elvano jika ia tengah menulis sebuah novel online, dan Elvano pun tak pernah bertanya.


Bagi Kanaya, ia tidak mengharapkan lagi perubahan sikap Elvano, atau pun berharap suatu hari nanti Elvano bisa berubah. Ia sudah berusaha namun Elvano memang tidak mencintainya.


Kanaya hanya menjalani hidup dengan apa adanya dan berusaha tidak mencari masalah dengan Elvano, semuanya itu demi orang tuanya.


Hari itu cuaca mendung dan sudah beberapa hari ini turun hujan lebat. Sebentar saja gerimis mulai turun dan Kanaya pun masuk ke dalam rumah. Di rumah hanya ada dirinya, pelayan dan beberapa penjaga lainnya. Elvano sendiri sudah 4 hari tidak pulang kerumah. Meskipun terkadang Kanaya merasa kehilangan tetapi ia sadar tidak ada gunanya berharap akan Elvano.


Pintu depan terbuka dan tawa Maya mengumandang ke seluruh ruangan. Maya berjalan berangkulan bersama Elvano, dan ia berhenti saat melihat Kanaya sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Sayang, apa kamu akan memberitahu kabar gembira kita?" tanya Maya pada Elvano.


"Memang dia harus tahu, tapi lebih baik kamu saja yang memberitahukannya," ujar Elvano hanya melirik sekilas pada Kanaya.


"Baiklah," ujar Maya dengan tersenyum lebar. Ia berjalan menghampiri Kanaya sambil tersenyum menyeringai.


Kanaya tidak tahu apa yang akan Maya sampaikan, namun iya yakin itu adalah kabar buruk baginya.


Apakah Maya akan pindah dan akan tinggal bersama di rumah ini? pikir Kanaya.

__ADS_1


"Kanaya aku sedang mengandung anak Elvano, dan Elvano akan menikahiku minggu depan, jadi mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa dengan kehadiranku," ujar Maya sambil mengelus perutnya yang saat itu masih terlihat ramping.


Hamil? Menikah?


Kanaya terkesiap mendengar kabar itu dan ia pun menoleh ke arah Elvano dan meminta penjelasan darinya. Namun Elvano tidak mengatakan apa pun dan pergi meninggalkan mereka.


"Dan Kanaya, mulai sekarang akulah yang berkuasa di rumah ini," ujar Maya di depan wajah Kanaya. Kemudian Maya berjalan ke lantai atas sambil tertawa.


"Oh ya. Aku lupa, tadi Elvano bilang nanti sore kita akan menemui orang tuanya dan kamu pun harus ikut," ucap Maya kemudian tertawa senang.


Ya Tuhan! Apa benar apa yang di katakan Maya? Kenapa kak Elvano diam saja dan tidak mengatakan apa - apa? Batin Kanaya. Ia pun merasa harus berbicara dengan Elvano. Kanaya pun naik ke lantai 2 dan mengetuk pintu kamar Elvano.


"Kak Elvano, Ini aku. Aku ingin bicara," ujar Kanaya saat tidak ada jawaban dari dalam kamar Elvano.


Elvano pun membuka pintu kamarnya dan memandang Kanaya. Kali pertama mereka saling pandang setelah sekian lama.


"Bicaralah," ujar Elvano masih menatapnya.


"Apa benar semua yang di katakan Maya?" tanya Kanaya memberanikan diri. Elvano menatap Kanaya beberapa saat.


"Ya, itu semuanya benar," jawab Elvano tanpa ekspresi.


"Dan Kalian akan menikah?" tanya Kanaya lagi dan meminta kepastian pada Elvano.


"Ya, karena dia sedang mengandung anakku," ujar Elvano.


"Kak El, A.. Aku... Aku," ujar Kanaya berusaha menenangkan dirinya dan menatap ke arah lain .


Hatinya sakit dan dadanya terasa sesak, meskipun ia tidak berharap lagi pada Elvano, tetapi mengetahui Elvano akan menikahi Maya cukup menyakitkan baginya.


"Aku minta ceraikan aku, Kak Elvano," ujar Kanaya setelah ia merasa kuat untuk mengatakannya.


Saat itu setetes air mata bergulir di pipinya.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2