Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Izin David


__ADS_3

"Pak Devan, apa anda baik - baik saja?" tanya Alvian pada Devan saat mereka tengah bertemu di kantor Devan. Alvian datang ke Firma Hukum Permana untuk mengurus beberapa berkas legal perusahaan Mahendra.


"Maaf pak Alvian, saya tidak bermaksud mengabaikan Anda?" ujar Devan saat tersadar dari lamunannya.


"Anda ada masalah?" tanya Alvian dengan memandang wajah Devan yang tampak gelisah.


Selama mengenal Devan Permana, belum pernah Alvian melihat Devan tidak fokus dalam pekerjaannya. Walaupun masih sangat muda, tetapi Devan adalah seorang pengacara yang kompeten dan sangat di percaya oleh David.


"Hanya masalah pribadi Pak Alvian, saya minta maaf kalau...."


"Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Ibu Kanaya Zahira?" tanya Alvian memotong ucapan Devan.


Devan tertegun dan memandang Alvian.


Bagaimana dia tahu kalau Kanaya menghilang? Berita menghilangnya Kanaya Zahira tidak pernah tersebar ke publik karena Elvano menutupnya rapat - rapat.


"Anda jangan heran Pak Devan, banyak hal yang saya ketahui karena tugas saya mencari tahu banyak hal yang berhubungan dengan bisnis Pak David, dan kadang - kadang informasi seperti itu ikut masuk bersama dengan informasi yang lainnya," ujar Alvian.


Devan menghela napas berat.


"Kanaya memang sahabat saya Pak Alvian, dan menghilangnya dia membuat saya khawatir;" ujar Devan masih mencoba menutupi perasaannya.


"Kalau Anda mau, Anda bisa meminta bantuan Gilang. Anda kenal kan dengan Gilang?" tanya Alvian.


"Maksud Pak Alvian, Pak Gilang Narendra?" tanya Devan sambil mencondongkan tubuhnya.


"Iya, Gilang Narendra," ujar Alvian sambil tersenyum ia sendiri hampir lupa nama lengkap Gilang, karena seringnya lupa memanggil dengan sebutan Gilang.


Devan sempat pernah bertemu beberapa kali dengan Gilang. Ia adalah salah seorang yang bekerja untuk Alexander David Mahendra dalam segala banyak hal, meskipun Devan tidak tahu apa yang di lakukan oleh Gilang, karena beberapa hal tidak di ketahui.


"Dimana saya bisa bertemu dengan Pak Gilang?" tanya Devan.


"Anda tidak akan menemuinya Pak Devan, karena Gilang yang akan menemui Pak Devan," ujar Alvian sambil tertawa kecil. Alvian saja tidak tahu dimana ia harus menemui Gilang. Gilang adalah orang yang masih misterius dalam banyak hal. Mungkin hanya David yang tahu dimana Gilang tinggal.


"Temuilah Pak David dam mintalah bantuan dari Gilang. Saya rasa Pak David tidak akan keberatan," ujar Alvian sambil beranjak dari duduknya.


"Apa Pak David, ada waktu pagi ini?" tanya Devan. Ia yakin Alvian sebagai asisten pribadi David sangat paham jadwal kegiatan David.

__ADS_1


"Hari ini jadwal Pak David sangat padat. Tetapi jika Pak Devan ada waktu, bicaralah sebelum jam makan siang, beliau ada di kantornya," ujar Alvian berjalan ke luar kantor Devan.


Devan memang membutuhkan bantuan seorang profesional, yang bisa membantu menemukan Kanaya. Apa Gilang bisa membantunya menemukan Kanaya? Pikir Devan.


Devan harus menggeser beberapa janji temunya hari itu agar ia bisa menemui David di kantornya di gedung Mahendra Tower, gedung pencakar langit tertinggi di kota mereka.


Devan pu menaiki lift menuju lantai 70 tempat kantor David berada.


"Selamat siang Pak Devan, silahkan masuk, Pak David sudah menunggu Anda di dalam," ujar Salsa sekretaris Alexander David Mahendra.


Devan pun masuk ke dalam kantor David saat itu pula David mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Devan.


"Selamat siang, Pak Devan. Maaf saya menganggu waktu Anda," ujar Devan sembari melangkah mendekati David yang masih duduk di kursi kerjanya dan menjabat tangannya.


"Selamat siang Devan, silahkan duduk," ujar David dengan ramah.


Devan pun duduk di kursi di depan meja kerja David yang terlihat sangat kuat dan kokoh, yang membuat siapapun yang duduk di belakangnya tampak berwibawa dan berkarisma. Salah satu meja kerja yang terbaik yang pernah Devan lihat.


"Bagaimana kondisi di Firma? Saya lihat Firma mu berkembang sangat pesat, dan hampir semua perusahaan di kota ini menggunakan jasa Firma Hukum Permana, benar begitu?" tanya David sambil tersenyum lebar pada anak muda yang duduk di hadapannya.


"Kamu ini selalu saja merendah Devan!" Ujar David sambil tertawa dan Devan membalasnya dengan tersenyum sopan.


"Bagaimana kabar kamu Devan? Alvian bilang ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya David sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dengan santai.


"Ya Pak, kalau Bapak tidak keberatan saya ingin minta bantuan Gilang untuk mencari keberadaan teman saya," ujar Devan berterus terang.


"Apa temanmu menghilang? Sudah lapor Polisi?" tanya David.


"Sudah Pak. Teman saya tinggal di kota D, dan beberapa hari ini menghilang dan belum di temukan," ujar Devan.


Dalam benaknya berkelebat wajah Kanaya yang tampak lemah, pucat dan ketakutan saat pergi dari rumah Elvano siang itu.


David memperhatikan raut wajah Devan. Meskipun ia berusaha untuk berbicara biasa padanya, namun Devan tidak bisa menuembunyikan kecemasan dan kegaulan hatinya. Hal ini mengingatkan David saat kehilangan Rena selama beberapa hari saat ia di culik oleh Arka. Apakah temannya itu sangat istimewa baginya?


"Apakah temanmu ini orang yang sama dengan yang kamu ceritakan padaku waktu itu. Seorang yang istimewa?" tanya David memastikan.


Devan menghela napas.

__ADS_1


"Iya Pak, buat saya dia istimewa. Oleh sebab itu saya meminta izin Bapak untuk meminta bantuan pada Gilang, saya sangat mengkhawatirkannya," jawab Devan.


"Saya mengerti bagaimana perasaanmu, Devan. Saya pun pernah berada dalam posisimu, dan Gilang membantuku menemukan orang yang sangat istimewa untukku saat itu," ujar David.


"Aku harap Gilang bisa membantumu menemukannya," ujar David.


"Jadi. Bapak mengizinkan?" tanya Devan dengan penuh harap.


"Ya, tentu saja Devan. Beritahu Gilang apapun yang ingin di ketahuinya. Sekarang pulanglah dan tunggu Gilang menghubungimu," ujar David sambil tersenyum.


"Terima kasih Pak David, saya sungguh sangat menghargai bantuan Bapak," ujar Devan sambil menjabat tangan David.


"Sama - sama Devan. Jangan patah semangat, dan aku harap sahabatmu bisa segera di temukan," ujar David sambil menepuk pundak Devan untuk memberikannya semangat.


Devan mengangguk dan berkata sekali lagi, " Terima kasih, Pak!"


Devan pun keluar dari kantor David.


David pun segera menghubungi Gilang, dan memberinya tugas untuk membantu Devan.


Sementara Devan keluar dari kantor David dan bertemu dengan Ibu Rena, Istri dari Pak David dan Putra mereka Brayen.


"Ibu Rena, apa kabar, Bu?" Sapanya pada Rena sambil menjabat tangan Rena.


"Baik Pak Devan, Pak Devan sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Rena.


"Saya baik, Bu." jawab Devan berusaha tersenyum, walaupun ia masih merasa gelisah.


Devan tidak ingin menahan Rena lebih lama di luar ruangan David. Ia tahu David tidak punya waktu banyak, karena ia telah menggunakan sebagian waktu istirahat David untuk membicarakan masalahnya.


"Silahkan, Bu. Bapak ada di dalam, saya permisi dulu." ujar Devan pamit undur diri.


Rena pun mengangguk dan tersenyum, saat Devan pamit dan berjalan menuju lift.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2