
Kanaya menunduk dan menahan senyumnya.
"Hm" gumam Devan sambil menunduk dan memandang mata Kanaya.
Mau tak mau Kanaya pun membuka mulutnya dan melahap makanan yang di sodorkan Devan untuknya.
"Nah gitu dong," ujar Devan sambil tersenyum dan menyiapkan lagi sesendok makanan untuk Kanaya sementara Kanaya mengunyahnya.
"Enak Ay." tanya Devan.
"Enak, Van." jawab Kanaya. Kemudian Devan menyuapkan sendok kedua.
"Kamu nggak makan, Van? Aku nggak akan habis makan itu sendiri" ujar Kanaya sambil menunjuk piring yang di pegang oleh Devan yang masih penuh dengan nasi, lauk dan pauk.
"Gampang Ay, nanti aku tinggal ambil sendiri di meja," ucap Devan sambil menyuapkan sendok ke tiga ke mulut Kanaya.
"Kerupuknya, Ay." ujar Devan sambil menyuapkan kerupuk yang tertinggal di piring.
Tak terasa sudah di habiskan oleh Kanaya siang itu dan dia sudah merasa kenyang.
"Sudah, Van. Aku sudah kenyang," ujar Kanaya sambil meminum segelas air yang ada di meja di dekatnya.
"Sayang, Ay. Ini masih banyak." ujar Devan melihat isi piring di tangannya.
Kanaya mengambil piring di tangan Devan dan menyendokkan nasi beserta lauk pauk ke mulut Devan.
"Kamu yang habiskan ya, Van. Mubazir kalau di buang," ujar Kanaya sambil menunggu mulut Devan terbuka.
Devan tentu saja dengan senang hati menerima suapan dari Kanaya. Sudah lama Kanaya tidak menyuapinya. Dulu mereka juga sering melakukan itu jika makan di restoran dan mengicipi makanan yang mereka pesan satu sama lain.
"Tambahin sambel dong, Ay." Protes Devan karena Kanaya lupa memberikan sambel ke sendoknya.
"Iya, nih," ujar Kanaya sambil menambahkan sambel di sendok makan dan menyuapi Devan.
"Enak, Ay." ucap Devan sambil mrngunyah makannya.
"Kapan - kapan kita makan ke luar yuk, Ay. Aku ingin sekali ajak kamu keliling kota ini." ujar Devan sambil menatap wajah Kanaya yang tertunduk memperhatikan piring di tangannya. Sedang menyiapkan sesendok makan untuk Devan.
__ADS_1
Kanaya mengangguk dan menoleh ke arah Devan, sesaat pandangan mata mereka bertemu.
"Hmmm..., ada satu tempat di sini yang membuat kue coklat yang sangat enak," ujar Devan sambil tangannya menunjuk sendok di tangan Kanaya.
Kanaya pun mulai menyuapi Devan lagi.
"Kamoooo pasti suka, Ay." ujar Devan dengan mulut penuh hampir tidak jelas mengatakan apa, membuat Kanaya tertawa.
Devan tersenyum melihat Kanaya tertawa, tawa lepas pertama yang ia lihat dari Kanaya sejak ia membawanya pergi dari kota D.
Dalam hati Devan ia ingin membuat Kanaya tertawa bahagia setiap hari.
"Kenapa, Van?" tanya Kanaya sambil berhenti tertawa saat melihat Devan tertegun menatapnya.
"Aku senang melihatmu tertawa, Ay. Kamu cantik." ujar Devan sambil menatap Kanaya.
Kanaya tersenyum malu merasa heran pada dirinya kenapa ia merasa malu di puji Devan seperti itu. Padahal sejak dulu ia biasa saja setiap kali Devan memuji ataupun mengejeknya dengan canda, tidak terlalu dia ambil hati. Namun saat ini ia merasa ada sesuatu percikan di hatinya mendengar Devan memujinya.
"Ayo, Ay. Satu suap lagi biar aku habiskan," ujar Devan tiba - tiba sambil melirik sisa makanan yang ada di piring di tangan Kanaya.
Kanaya pun menyendokkan suapan terakhir ke mulut Devan.
Kanaya mengangguk dan tersenyum.
Ia pun turun dari ranjangnya dan menaruh piring kotor di atas meja.
"Kalau kamu sudah siap, kita bisa mulai lagi menjawab pertanyaan dari Beni, bagaimana?" tanya Devan perlahan, berharap Kanaya sudah merasa lebih baik.
"Ya, aku rasa aku siap," ujar Kanaya lalu keluar membawa piring kotor di tangannya.
Devan tersenyum dan berjalan keluar mengikuti Kanaya ke ruang makan.
"Van, Mamaku... aku.. aku mau telepon mamaku," tiba - tiba Kanaya berbalik karena teringat Mamanya yang tinggal sendiri di kota D.
"Tenang Kanaya, aku yakin Mamamu baik - baik saja. Kamu bisa pakai teleponku Ay." ujar Devan sambil memberikan telepon genggamnya pada Kanaya.
Kanaya pun langsung menghubungi Mamanya.
__ADS_1
"Hallo Devan," terdengar suara Ratna dari sambungan telepon.
"Mah, ini Kanaya, Ma." ujar Kanaya segera.
"Kanaya? Kamu ada dimana, Nak? Apa kamu baik - baik saja? Kata Elvano kamu pergi dari rumah," Tanya Ratna dengan nada khawatir.
"Kanaya ada di kota B, Mah. Di tempat Devan," jawab Kanaya.
"Kanaya sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai pergi dari rumah Elvano?" tanya Ratna. Karena Elvano tidak memberikan informasi apa pun pada Ratna, kecuali ia mengatakan saat Kanaya kabur dari rumah.
"Ceritanya panjang, Mah? Apa Mama baik - baik saja? Apa Kak Elvano mengancam Mama?" tanya Kanaya dengan nada khawatir. Mata Kanaya menggenang ia begitu rindu pada Mamanya.
"Mama baik - baik saja, Kanaya. Mama belum bertemu dengan Elvano beberapa hari ini. Apa Elvano melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Ratna.
Devan memberi isyarat pada Kanaya untuk memberikan ponselnya pada Devan, biar ia yang bicara dengan Mamanya.
Kanaya memberikan telepon itu pada Devan.
"Tante, ini Devan" ujar Devan sambil melangkah menjauhi Kanaya.
"Devan, ada apa sebenarnya? Bagaimana Kanaya bisa bersama denganmu?" tanya Ratna bingung.
"Ceritanya panjang, Tante. tetapi yang pasti Kanaya sudah tidak ingin bersama dengan Elvano. Saya minta tante jangan menemui Elvano dulu atau bertemu dengan orang lain yang belum tante kenal. Saya akan meminta seseorang untuk mejemput Tante, nanti saya infokan lebih lanjut orang yang akan menjemput Tante. Tante bersiap - siaplah," ujar Devan.
Kanaya merasa sedikit lega, meskipun ia masih khawatir jika belum bertemu langsung dengan Mamanya.
Hari itu Kanaya sudah menyelesaikan berbagai berkas dan pertanyaan yang di ajukan Beni padanya. Dan setelah itu, Devan, Beni dan Bella mengantar Kanaya untuk medical check up ke rumah sakit.
Kanaya melarang Devan untuk ikut medical check up. Ia malu jika Devan mengetahui luka - luka yang ada di tubuhnya akibat cambukan dari Elvano.
Selama medical check up, Bella lah yang selalu mendampinginya sementara Devan dan juga Beni menunggunya di depan ruang periksa.
Semua hasil pemeriksaan itu akan di lampirkan dalam tuntutan perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang di ajukan Kanaya.
Kanaya memang sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai dari Elvano. Ia pikir tidak ada gunanya mempertahankan pernikahannya bersama dengan Elvano.
Hari itu, sebelum musibah itu terjadi. Kanaya berpikir untuk memperbaiki pernikahannya dengan Elvano dan mencoba untuk menerima Elvano, meskipun sebagian dari dirinya merasa trauma akan hukuman cambuk dari Elvano yang pernah ia berikan kepada dirinya. Namun saat itu, ia masih percaya akan janji Elvano untuk tidak menyakitinya lagi. Hingga terjadilah malam naas itu yang telah meluluhlantahkan kepercayaan Kanaya pada Elvano sampai di titik terendah. Dan ia tidak bisa menerima Elvano lagi.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.