
Kanaya dan Rena sedang bercakap - cakap di kantor Kanaya di Apartemen Clarissa Sky Garden.
"Bagaimana anak - anak Bu? Pasti seru ya. Brayen sekarang sudah menginjak remaja," tanya Kanaya.
"Ya, Brayen sekarang sudah kelas 1 SMP, di usianya yang sekarang ia butuh untuk merasa mandiri, jadi terkadang memang agak sulit untuk mengajak ia beraktivitas seperti waktu dia masih di sekolah dasar. Tapi aku dan David memberikan dia ruang untuk mencari identitas dirinya, selama ia tidak melewati batas yang seharusnya," ujar Rena sambil tersenyum mengingat anaknya yang telah menginjak usia 13 tahun.
"Sedangkan Retta dia masih menganggumkan... manja sampai sekarang," tambah Rena sambil tertawa membicarakan putrinya yang masih berusia 8 tahun. Ia dan David memiliki seorang putri bernama Laretta yang lahir setahun setelah kelahiran Clara, hanya berbeda beberapa bulan dari Clara.
"Ya, di usia yang seperti itu mereka memang masih sangat manja. Begitu juga dengan Clara, dia... manja sekali. Apalagi kalau ada Kak Elvano.... Ah, mungkin Kak Elvano saja yang terlalu memanjakannya," ujar Kanaya tidak menyadari ia membicarakan tidak hanya Clara, tetapi juga Elvano.
"Rena menatap Kanaya sambil tersenyum. " Dan bagaimana dengan Bundanya?" tanya Rena sambil memperhatikan mimik wajah Kanaya.
Kanaya langsung menoleh ke arah Rena. Saat Rena menanyakan hal itu. Tetapi Rena hanya menatapnya menunggu jawaban darinya.
"Mm... maksud Bu Rena? Saya... saya dan Kak Elvano tidak ada apa - apa lagi, kami... hanya berteman saja," ujar Kanaya mencoba menerangkan hubungannya dengan Elvano agar tidak di salah artikan.
Rena tersenyum mendengar jawaban Kanaya.
"Kadang - kadang kita tidak menyadari bahwa sikap kita bisa sangat berbeda dari apa yang kita pikirkan terhadap diri kita sendiri," ujar Rena sambil beranjak dari duduknya.
Kanaya tidak berkomentar karena ia pun mencoba mencerna apa yang Rena katakan.
"Mbak Kanaya mau ikut makan siang bareng?" ajak Rena tiba - tiba mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin lain waktu, Bu Rena. Saya dan Kak Elvano harus pergi ke...."ucapan Kanaya terhenti saat mendapati Rena melihat ke arahnya sambil menaikkan alisnya. Seperti berkata 'Sudah ku bilang kan?'
"Ini bukan seperti yang Ibu pikirkan. Saya dan Kak Elvano akan ke sekolah anak - anak, karena mereka meminta kami datang," ujar Kanaya menerangkan.
"Ooh, apalagi jika sudah menyangkut anak - anak! Bukan kah anak - anak akan senang jika mempunyai keluarga yang komplit?" tanya Rena sesaat sebelum ia keluar dari kantor Kanaya, dan membuat Kanaya tercengang. Tetapi pertanyaan itu, lebih merupakan sebuah pernyataan dari pada sebuah pertanyaan.
"Ibu Rena ada - ada saja." batin Kanaya.
__ADS_1
Kanaya sama sekali tidak berpikiran untuk menikah lagi, apalagi untuk jatuh cinta lagi. Setelah kepergian Devan,ia merasa ia tidak akan bisa jatuh cinta lagi pada orang lain lagi. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Devan?Bahkan sampai hari ini pun ia masih selalu teringat padanya.
Dan lagi hubungannya dengan Elvano karena ada Alvaro di antara mereka, itu saja! Bantin Kanaya berusaha meyakinkan dirinya.
Lamunan Kanaya terpecah oleh dering telepon genggamnya dan nama Elvano lah yang muncul di sana.
"Halo, Kak El?" tanya Kanaya sambil menutup laporan pendapatannya di atas meja.
"Halo Ay, aku baru saja selesai meeting. Apa kamu sudah siap? Aku dan Arya akan segera ke kantormu sekarang," ujar Elvano melalui sambungan telepon.
"Ya, Kak El. Aku juga sudah selesai. Aku tunggu di lobby?" tanya Kanaya.
"Oke, 10 menit lagi aku sampai. Tunggu ya." jawab Elvano.
Dan setelah itu mereka berdua menutup percakapan telepon.
Kanaya menggigit bibirnya dan menggenggam telepon genggamnya dengan erat. Ia merasa ada perasaan aneh di hatinya. Apa yang di katakan Rena baru saja?
Kanaya berbicara dengan Lina di lobby apartemen sambil menunggu Elvano datang.
"Mbak Kanaya!" Terdengar seseorang memanggil namanya.
Kanaya menoleh dan seorang laki - laki berusia sedikit lebih muda darinya tersenyum dan menghampirinya.
"Siang Pak Kevin!" Sapa Kanaya dengan ramah pada pria yang menjadi penghuni salah satu unit apartemennya.
"Siang Mbak Kanaya. Ah, Mbak Kanaya ini. Sudah saya bilang panggil saja saya kevin, tidak perlu memanggil, Pak." ujar Kevin sambil tersenyum.
"Tidak enak, Pak Kevin," jawab Kanaya kemudian kembali berkata, " Tumben, jam segini belum berangkat, Pak Kevin?"
__ADS_1
Kanaya memang jarang bertemu Kevin di apartemen pada saat jam kerja. Biasanya mereka akan bertemu saat Kanaya hendak pulang kerja atau saat Kevin hendak berangkat kerja di pagi hari.
"Ya Mbak Kanaya, kebetulan jadwal saya hari ini tidak terlalu padat. Jadi saya sedikit santai," jawabnya, kemudian melihat penampilan Kanaya yang sudah rapi dan menjinjing tas di tangannya.
"Mbak Kanaya mau pergi, wah padahal saya mau ajak Mbak Kanaya makan siang! Apa saya terlambat?" tanyanya tanpa sungkan.
"Ya, maaf Pak Kevin. Saya mau jemput anak saya ke sekolah," jawab Kanaya.
"Bukan kah, masih terlalu cepat untuk menjemput anak di jam segini?" tanya Kevin sambil melihat ke arah jam tangannya yang baru menunjukkan jam setengah sebelas.
"Kalau Mbak Kanaya mau, saya bisa antar Mbak dan kita makan siang setelahnya?" tanya Kevin lagi. Kevin memang pernah mengajak Kanaya pergi hari itu.
Diam - diam Kevin telah menaruh hati pada wanita cantik yang telah menjada selama setahun belakangan ini. Kevin telah tinggal di apartemen itu selama 5 tahun lamanya, dan ia kerap memperhatikan Kanaya. Akan tetapi saat itu, Kanaya telah bersuami dan ia pun menahan diri.
Saat mengetahui suaminya telah meninggal dunia, tentu saja Kevin menganggap ini sebagai suatu pertanda baginya untuk memulai pendekatan. Meskipun usia Kevin 3 tahun lebih muda dari pada Kanaya, ia tidak keberatan. Apalagi Kanaya tetap terlihat sangat cantik di usianya yang ke 31 tahun.
Ia menunggu selama beberapa bulan lamanya, agar Kanaya melewati masa dukanya, dan baru sebulan terakhir ia menujukkan perhatiannya. Akan tetapi Kanaya bersikap sopan dan menjaga jarak pribadi dengannya.
Kevin juga bukanlah pria pertama yang ingin mendekat kan diri pada Kanaya. Sejak meninggalnya Devan Permana, banyak laki - laki, baik seusia dengan Kanaya, lebih muda atau pun lebih tua seusianya dari Kanaya yang mendekatinya.Akan tetapi Kanaya tetap bersikap ramah dan tidak menunjukkan keinginannya untuk membina suatu hubungan dengan pria - pria itu.
"Maaf Pak Kevin, kebetulan saya pergi bersama teman," ujar Kanaya menolak dengan halus.
Tak jauh dari tempat Kanaya dan Kevin bercakap - cakap, mobil Elvano telah menepi di driveway apartemen itu.
Adakah di sini yang kangen dengan Maya? kasih komen di bawah yah👇 hehehe. Author juga mau kasih tau nih, Novel Alexander David Mahendra dan Adrena Clarissa Putri mungkin akan di Up minggu depan yah🤗
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1