
"Van, apakah kamu sudah tahu kalau Kak Elvano selama ini di penjara?" tanya Kanaya, ia pikir memang sebaiknya ia menanyakan hal ini pada Devan dari pada hanya menerka - nerka dalam hatinya.
"Ya, kan kamu yang bilang," jawab Devan. Heran kenapa Kanaya tiba - tiba menanyakan tentang Elvano kepadanya?"
"Sebelum itu, Van. Sebelum aku tau dari Lisa kalau Kak Elvano di penjara, kamu sudah tahu sebelumnya, kan?" tanya Kanaya sambil memandang langsung kedua bola mata Devan.
Devan yang tadinya menatap Kanaya, mengalihkan pandangannya. Seketika itu pula Kanaya tahu, kalau Devan memang mengetahuinya dan tidak mengatakan kepadanya.
"Devan!" Seru Kanaya sambil beranjak dari duduknya
"Ay...." panggil Devan dengan rasa bersalah.
"Ay... kamu dengarkan aku dulu," pinta Devan sambil beranjak mendekati Kanaya
"Kenapa kamu nggak bilang ke aku?" tanya Kanaya sambil menatap Devan. Ia merasa Devan tidak jujur padanya. Kenapa harus menutup - nutupinya jika Elvano di penjara?
"Aku melakukan itu untuk melindungi kamu. Untuk kebaikan kamu dan juga Alvaro," ujar Devan memberikan penjelasan pada Kanaya.
"Kebaikan aku dan juga Alvaro? Bukannya kamu yang bilang justru Kak Elvano harus tahu mengenai Alvaro?" tanya Kanaya membalik kan kata - kata Devan.
"Ya. Itu yang terbaik saat ini Kanaya. Tapi tidak waktu itu," ujar Devan mencoba menerangkan,"
Kanaya mengerutkan keningnya. Tidak mengerti apa maksud ucapan Devan.
"Waktu Elvano di vonis aku pun mengikuti beritanya. Tetapi aku tidak mungkin menceritakan hal itu padamu," terang Devan sambil menatap Kanaya.
"Saat itu, kamu baru mengetahui tentang kehamilanmu, dan kamu pun belum menerima kehadiran Alvaro. Jadi bagaimana mungkin aku akan menceritakan apa yang terjadi pada Elvano?" ujar Devan.
"Aku minta maaf kalau aku salah, aku hanya ingin melindungi kamu. Sampai beberapa hari yang lalu pun kamu tidak ingin mendengar nama Elvano, Kan. Jadi bagaimana mungkin aku memberitahukannya padamu?" ujar Devan dengan nada lembut sambil mengusap pipi Kanaya.
Kanaya memikirkan apa yang Devan katakan. Ia tahu Devan jujur mengatakannya. Dan apa yang di katakan Devan memang benar ia belum bisa menerima Elvano dan bahkan ingin melupakan Elvano yang pernah hadir dalam hidupnya sampai beberapa hari yang lalu.
Dan setelah mendengar penjelasan Devan ia pun mengerti mengapa Devan tidak memberitahunya.
"Aku minta maaf, Van. Aku pikir kamu tidak jujur padaku," ucap Kanaya akhirnya menyadari jika ia tidak seharusnya ia mencurigai Devan seperti itu.
"Nggak pa - pa, Ay. Yang aku heran kenapa kamu tiba - tiba bertanya seperti itu?" tanya Devan menyelidiki.
__ADS_1
"Monika yang memberitahu aku, tapi meskipun begitu harusnya aku tidak langsung menyalahkanmu," ujar Kanaya.
"Monika bilang apa?" tanya Devan heran, kenapa tiba - tiba Monika mengatakan hal seperti itu pada Kanaya. Apa yang memicunya?
"Aku rasa karena dia menyukaimu, Van" ujar Kanaya mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Devan....."
"Ah, sudahlah. Lain kali saja di bicarakan. Sekarang sudah terlalu malam," ujar Kanaya. Dia sendiri pun tidak tahu pasti apa tujuan Monika mengatakan hal itu padanya. Dia memutuskan akan membicarakan hal itu dengan Devan lain waktu.
"Kamu yakin?" tanya Devan.
"Iya. Aku pun tahu kamu juga lelah bekerja," ujar Kanaya sambil membetulkan kerah baju Devan di hadapannya.
Devan memandang Kanaya memastikan gadisnya itu tidak gelisah memikirkan sesuatu. Perlahan Devan menunduk dan mengecup bibir Kanaya
"Aku pulang sayang," ucap Devan perlahan dan Kanaya pun mengangguk.
Setelah itu seperti biasa Devan berlutut dan mengecup perut Kanaya, kemudian berkata, "Om Devan sudah tidak sabar ingin bertemu kamu,"
Ke esokan harinya seperti biasa Devan datang pagi ke kantornya. Beberapa karyawannya sudah mulai berdatangan dan menyapanya saat ia melangkahkan kakinya ke lobby kantornya.
Devan pun tak segan - segan untuk menyapa para karyawannya, baik ia seorang pengacara, staf administrasi, security atau pun OB di kantornya. Dan ia pun hafal nama - nama mereka yang bekerja di Firma Hukumnya.
"Selamat Pak," sapa Putri sekretaris Devan.
"Pagi Putri," ujar Devan sambil tersenyum dan melangkah melewati meja kerja Putri. Ia berhenti di depan pintu kantornya dan teringat sesuatu.
"Putri apakah kamu sudah menghubungi real estate agent yang saya minta?" tanya Devan pada Putri.
"Sudah Pak, nanti siang rencananya dia akan kesini untuk membicarakannya dengan Bapak," jawab Putri.
Devan mengangguk dan hendak masuk ke dalam ruangannya ketika ia teringat satu hal lagi.
" Satu lagi Putri, kalau Monika sudah datang, suruh dia datang ke ruanganku," ujar Devan pada Putri.
"Baik Pak," jawab Putri dan Devan pun masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Di dalam ruangan kerjanya sudah ada Beni yang sedang menaruh berkas - berkas di atas meja kerja Devan.
"Selamat pagi, Pak?" sapa Beni saat melihat Devan masuk.
"Pagi Beni, apa kau sudah siapkan semua berkas - berkas untuk sidang pagi ini?" tanya Devan sambil tersenyum.
"Sudah Pak, semuanya ada di sini," ujar Beni sambil menunjuk berkas yang paling atas dan beberapa berkas yang ada di atas meja.
"Oke, jangan lupa untuk mengingatkan saksi kita untuk besiap - siap, kita berangkat setengah jam lagi," ujar Devan sambil menaruh tas kerjanya di atas meja.
Sementara itu Putri menghubungi meja kerja Monika, dan Monika mengangkat panggilan telepon darinya.
"Selamat pagi Monika?" sapa Putri.
"Pagi Putri," jawab Monika yang saat itu masih tampak sedikit mengantuk karena ia pulang larut malam.
"Monika, kamu di panggil Pak Devan untuk menghadapnya pagi ini," ujar Putri memberitahu pesan Devan.
Monika langsung duduk tegak.
"Ada apa ya, Putri?" tanya Monika pada sekretaris Devan itu.
"Aku tidak tahu Monika, Pak Devan tidak memberitahuku secara spesifik, hanya menyuruhmu untuk menghadapnya pagi ini. Dan sebaiknya secepatnya, karena Bapak ada sidang pagi ini," ujar Putri.
Setelah Putri menutup percakapan telepon mereka. Senyum merekah di bibir Monika. "Akhirnya, Pak Devan mulai menaruh perhatian juga padaku," gumamnya. Sambil membenahi riasan wajahnya dan bercerim sebelum ia beranjak berdiri untuk pergi ke ruangan kantor Devan. Tak lupa ia menyemprotkan parfum dan melepas beberapa kancing kemeja bagian atasnya. Sehingga ia merasa lebih menarik.
Ia pun berjalan ke arah kantor Devan di lantai dua melewati meja Putri tanpa menegurnya kemudian mengetuk pintu, sebelum ia masuk ke ruangan Devan.
Saat ia masuk, Devan sedang berbicara di telepon dengan seseorang.
Devan melihat Monika datang dan memberinya isyarat untuk duduk di kursi tamu di hadapan mejanya selagi ia sedang berbicara di telepon. Namun, Monika tidak memgikuti apa yang Devan perintahkan dan malah mendekati Devan dan bersandar pada meja kerja Devan. Monika menyilangkan kakinya ke depan dan menunggu Devan selesai menelepon.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote.
__ADS_1