
"Masuk" ujar Elvano menyuruh Kanaya untuk masuk ke dalam mobil.
Kanaya pun masuk ke dalam mobil di ikuti Elvano.
"Jalan Panji!" Perintah Elvano.
"Kita mau kemana, Kak El? Aku... Aku belum berganti pakaian." ujar Kanaya. Sambil melihat bajunya yang hanya memakai rok title putih sebatas lutut dan atasan hitam lengan pendek. Wajahnya pun hanya di poles tipis dan tampak natural. Ia bahkan tidak membawa dompet atau tasnya.
Elvano tidak menjawab dan sedang mengetik sesuatu di layar hand phonenya.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran, dan mereka pun turun.
"Ayo Ay," ujar Elvano sambil menggandeng tangan Kanaya masuk ke dalam restoran. Di dalam restoran ia bertanya pada pelayan yang ada di meja resepsionis.
"Pak Abian Syahlendra?" tanya Elvano pada pelayanan restoran disana, dan pelayan itu menunjuk sebuah meja, dima seorang pria berkemeja putih tengah duduk di sana dan menyesap minumannya.
Elvano pun berjalan menggandeng Kanaya mendekati pria itu.
"Apa kabar Pak Abian?" Sapa Elvano saat mereka sudah sampai di meja depan itu.
"Baik Pak Elvano, Pak Elvano sendiri apa kabar?" tanya pria yang bernama Abian itu.
"Baik Pak Abian. Perkenalkan ini istri saya, Kanaya?" ujar Elvano sambil memperkenalkan Kanaya.
Kanaya pun menjabat tangan Abian dan mengangguk sopan.
"Apa kabar Bu Kanaya? Ternyata memang benar apa yang di katakan orang - orang, bahwa istri Pak Elvo sangat cantik. Dan lebih cantik dari yang terlihat di media. Beruntung sekali saya bisa bertatap muka langsung," ujar Abian pada Elvano sambil tertawa kecil.
"Pantas saja, Pak Elvano jarang mengajak istri Bapak, Pak Elvano pasti takut jika ada yang menculik istri Bapak ya?" kelakar Abian pada Elvano.
"Ah, bisa saja Pak Abian," ujar Elvano dengan tersenyum.
"Duduk disini, Ay." ujar Elvano sambil menarik sebuah kursi di sampingnya, dan Kanaya pun duduk.
Kanaya tidak tahu apa maksud Elvano mengajaknya ke restoran itu. Namun tampaknya Elvano tampak mengajaknya untuk menemaninya santap siang dengan rekan bisnisnya, sesuatu yang belum pernah Elvano lakukan sebelumnya.
Sekali - kali Elvano menggenggam tangan Kanaya di atas meja saat ia tengah berbicara dengan Abian.
'Ternyata kamu mengajakku hanya untuk berakting saja,' batin Kanaya.
"Habiskan makananmu sayang," ujar Elvano saat melihat Kanaya terdiam dan belum menghabiskan makanan di piring.
Kanaya tersenyum dan melanjutkan makan.
"Pak Elvano perhatian sekali" ujar Abian sambil tersenyum melihat pasangan yang ada di depannya.
__ADS_1
Elvano dan Kanaya hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Abian.
Setelah satu jam bersantap siang bersama Abian, mereka pun kembali ke mobil.
"Ke mall Panji," ucap Elvano saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Kak El, apa tidak sebaiknya aku pulang saja?" tanya Kanaya.
"Tidak," jawab Elvano pendek.
Sesampainya di mall, kembali Elvano menggandeng tangan Kanaya dan berjalan melihat - lihat etalase toko. Elvano masuk ke sebuah toko jam dan melihat - lihat sebuah toko jam yang ada di sana.
Ia melihat jam tangan merek terkenal keluaran terbaru dan mencobanya.
"Coba yang silver, Kak El." ujar Kanaya saat Elvano tengah mencoba jam tangan berwarna coklat.
"Saya coba yang silver itu," ujar Elvano pada pelayan toko. Ia pun kemudian mecoba jam tangan silver itu di tangannya.
"Oke, saya ambil yang silver itu," ujar Elvano.
"Ibu tidak sekalian? Kami punya beberapa jam yang pasti cocok untuk Ibu. Yang couple juga ada," ujar pelayan itu.
Elvano melihat Kanaya dan menyadari Kanaya tidak memakai jam tangan.
"Ini yang couplenya, Pak." ujar Pelayan itu mengeluarkan beberapa pasang jam tangan couple dari dalam etalase,"
"Kamu suka yang mana?" tanya Elvano.
"Kak El, aku sudah memiliki jam tangan. Kamu..." ucapan Kanaya terpotong oleh Elvano.
"Katakan saja yang mana kamu suka, Kanaya." ujar Elvano sambil menatap Kanaya.
Kanaya melihat ke arah jam tangan yang ada di depan mereka.
"Yang ini bagus." ujar Kanaya sambil menunjuk sepasang jam berwarna hitam dengan model yang tidak terlalu ramai. Classic dan simple.
"Pilihan yang bagus, Bu," ujar sang pelayan toko sambil melepaskan jam tangan wanitanya dan memberikannya kepada Kanaya untuk di lihat.
Elvano mengambil jam tangan itu dari tangan Kanaya dan memakaikannya di tangan kiri Kanaya, kemudian memakai pasangan satunya di pergelangan tangan kirinya pula.
Elvano mensejajarkan pergelangan tangannya dengan Kanaya.
Kanaya tertegun melihat di tangan mereka tidak hanya jam tangan yang sama tetapi juga cincin dengan model yang sama di jari manis mereka.
"Kami ambil yang ini," ujar Elvano. Kemudian mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya.
__ADS_1
"Bapak mau langsung memakai jamnya?" tanya pelayan itu.
"Ya," jawab Elvano sambil tersenyum dan menoleh ke arah Kanaya.
Elvano tersenyum karena bisa membelikan sesuatu untuk Kanaya. Biasanya ia hanya menyuruh Anton membelikkan kebutuhan Kanaya kalau ia hendak menghadiri suatu undangan. Namun kali ini ia membelikannya langsung, dan entah mengapa ia merasa sangat senang.
Setelah itu Elvano mengajak Kanaya ke sebuah toko perhiasan.
"Pilihlah yang kau suka, Kanaya." ujar Elvano sambil melangkah masuk.
"Mbak, tolong pilihkan perhiasaan yang cocok untuknya," ujar Elvano sambil menghampiri pelayan toko itu.
Pelayan toko perhiasaan itu langsung menghampiri Kanaya dan menawarkan beberapa perhiasaan kalung, gelang dan cincin yang ada di toko itu.
Kanaya tampak bingung, bukan karena ia tidak bisa memilih perhiasaan, namun karena heran dengan sikap Elvano.
'Apakah Kak Elvano melakukan semua ini untuk menutupi rasa bersalahnya dengan menikahi Maya? Atau ada maksud lain di balik semua ini?' tanya Kanaya di dalam hatinya.
Kanaya tidak memilih perhiasan yang di di tawarkan oleh penjaga toko tersebut dan menghampiri Elvano yang sedang duduk di sebuah sofa toko tersebut.
"Kak El, mengapa kamu melakukan ini?" tanya Kanaya. Dengan terus terang. Karena Elvano belum pernah mengajaknya berbelanja atau membelikan sesuatu secara langsung selama mereka menikah, dan tiba - tiba ia mengajaknya berbelanja.
Elvano menatap Kanaya yang tampak bingung.
"Kamu tidak harus melakukan ini, karena kamu akan menikahi Maya. Aku tidak memerlukannya," ujar Kanaya sambil menoleh ke arah lain, masih terasa sakit mengatakan pernikahan Elvano dan juga Maya.
"Aku melakukan ini, bukan karena aku akan menikahi Maya. Aku melakukannya karena aku mau melakukannya." ujar Elvano.
"Aku mempunyai cukup perhiasan, Kak El. Aku tidak membutuhkan yang baru. Aku mau pulang..." ujar Kanaya, kemudian berdiri dan melangkah keluar toko itu.
"Kanaya apa maumu? Aku sudah berusaha berbuat baik padamu!" Ujar Elvano kesal karena Kanaya menolak niat baiknya.
'Berbuat baik? Dengan berselingkuh dan menikahi wanita lain?' Batin Kanaya dengan tersenyum getir.
"Oke. Apa maumu Kanaya? Apa kamu menginginkan uang?" tanya Elvano.
Kanaya terkesiap. Kecewa dan sakit hati dengan ucapan Elvano.
"Aku bukan Maya. Aku tidak menginginkan uangmu," ujar Kanaya dengan kecewa, kemudian berjalan menuju pintu keluar mall.
"Kanaya, katakan saja apa maumu! Jangan membuatku bingung!" Tanya Elvano lagi sambil menahan tangan Kanaya dan membuatnya berhenti berjalan.
Kanaya memandang Elvano dan berkata, "Aku ingin bercerai, Kak Elvano,"
Jangan lupa, like komen dan vote.
__ADS_1