Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pengadilan Agama


__ADS_3

Kanaya masuk ke dalam kamarnya, namun rasa mualnya masih terasa. Ia pun berlari ke kamar mandi dalam dan memuntahkan isi perutnya lagi ke toilet.


"Kanaya, kamu kenapa?" tanya Ratna yang terbangun karena suara gaduh di dalam kamar mandi.


"Sepertinya Kanaya masuk angin, Mah?" jawab Kanaya dengan lemas setelah muntah beberapa kali.


"Ayo Mama balurkan minyak, Ay." ujar Ratna sambil membantu Kanaya bangun dari lantai kamar mandi.


Devan yang sangat khawatir dengan keadaan Kanaya pun membangunkan Bundanya.


"Bun, bangun Bun," Panggil pelan Devan memangil Bundanya untuk bangun.


"Ada apa, Van?" tanya Alika. Sambil membuka matanya perlahan.


"Ada apa, Van?" tanyanya sekali lagi.


"Kanaya, dia kelihatannya sedang kurang sehat. Tolong Bunda segera lihat Kanaya," pinta Devan.


Alika melihat jam di dinding masih jam 11. 30 malam. batinnya.


"Kanaya dimana?" tanya Bunda Alika.


"Dikamarnya, Bun. Tolong lihatin," pinta Devan lagi. Devan sebenarnya ingin melihatnya sendiri tetapi mengingat Kanaya menolaknya untuk mendekatinya, ia jadi ragu.


"Kamu dari mana sih, Van? kok wangi banget?" tiba - tiba Bunda Alika bertanya sambil mengendus - endus tubuh Devan.


"Apaan sih, Bun? Ayolah Bun, lihatin Kanaya. Devan takut Kanaya kenapa - kenapa," ujar Devan tidak mempedulikan ucapan Bundanya mengenai wangi di tubuhnya.


Alika pun beranjak dan pergi ke kamar Kanaya, sementara Devan menunggu di luar kamar Kanaya dengan khawatir.


"Kanaya kenapa, Ratna?" tanya Alika pada Ratna saat melihat Kanaya kepayahan.


"Sepertinya dia masuk ingin, mungkin karena dia terlalu lama main di pantai," ujar Ratna sambil mencari minyak kayu putih di dalam tasnya. Ratna memang selalu membawa minyak kayu putih di dalam tasnya.


"Apa yang kamu rasa, Ay?" tanya Alika dengan lembut sambil mengelus kepala Kanaya.


"Kanaya nggak apa - apa Bunda, cuma mual karena masuk angin aja. Benar kata Mama, kalau Kanaya terlalu lama main di pantai tadi," jawab Kanaya.


"Biar Kanaya sendiri, Mah," ujar Kanaya saat Ratna hendak membalurkan minyak kayu putih di tubuhnya.


"Biar Mama bantu, Ay," ujar Ratna.

__ADS_1


Kanaya menggeleng. Ia tidak ingin Mamanya melihat bekas luka - luka di punggungnya.


"Tolong panggil Bella saja, Mah. Biar Kanaya tidur dengan Bella malam ini," pinta Kanaya.


"Tapi, Ay...."


"Mah, Kanaya nggak ingin tidur Mama ke terganggu. Biar Bella saja yang temani Kanaya malam ini, ya?" Pinta Kanaya dengan wajah yang memohon.


"Ayo, Ratna. Biar Kanaya bersama Bella," ujar Alika yang mengerti kenapa Kanaya tidak ingin Mamanya membalurkan minyak kayu putih itu ke punggungnya.


"Kita bangunkan, Bella," tambahnya lagi sambil mengajak Ratna keluar dari kamar Kanaya.


"Bagaimana Kanaya?" tanya Devan pada Bundanya di depan kamar Kanaya.


"Kelihatannya dia masuk angin saja." jawab Alika.


"Ratna, istirahatlah.., biar aku yang membangunkan Bella," ujar Alika dan Ratna pun mengangguk. Kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Alika, hendak berjalan ke kamar Bella. Namun, berhenti sejenak.


"Devan, kamu mandilah! Baumu sangat menusuk, dan kamu berantakan sekali!" Sergah Alika. Lalu, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar Bella.


Devan mengendus tubuhnya sendiri, dan merasa tidak membaui apapun, kecuali wangi parfum Melisa!


Bella yang telah bangun masuk ke kamar Kanaya, sedangkan Alika memutuskan kembali ke kamarnya. Karena tidak ingin membuat Kanaya merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Nyonya, apa Nyonya baik - baik saja?" tanya Bella sambil mendekati Kanaya yang sedang meringkuk di ranjang.


"Sepertinya aku masuk angin, Bella? Bisa kau balurkan minyak ini?" tanya Kanaya sambil beranjak duduk dan memberikan sebotol minyak kayu putih pada Bella.


"Tentu saja, Nyonya," jawab Bella, sambil meraih botol minyak itu. Dan duduk di belakang Kanaya. Ia pun membuka atasan piyama yang di kenakan oleh Kanaya dan mulai membalurkan punggung Kanaya itu.


"Sudah Nyonya, mari kita tidur. Besok Nyonya harus bangun pagi, untuk pergi ke Bandara," ujar Bella mengingatkan sambil membenahi baju Kanaya.


"Terima kasih, Bella." ujar Kanaya, lalu menarik selimut sebatas lehernya dan memejamkan matanya.


Meskipun ia masih merasa sedih, mengetahui hubungan Devan sudah jauh dengan Melisa. Namun Kanaya berusaha untuk memejamkan matanya.


Esok adalah hari yang penting untuknya. Karena ia akan bertemu dengan Elvano dan menyampaikan tekadnya untuk bercerai dengan Elvano.


***

__ADS_1


"Kamu sudah siap, Ay? Tanya Devan sambil menatap Kanaya di dalam mobil yang mengatar mereka ke kantor Pengadilan Agama siang itu.


Kanaya menarik nafas dalam, kemudian mengangguk.


Saat ini mereka tengah menunggu waktu panggilan mediasi di dalam mobil sewaan mereka yang terparkir di depan halaman kantor Pengadilan Agama, sementara Beni sedang mengurusi semua administrasi perkara di dalam kantor Pengadilan Agama.


Kanaya mengenali mobil Elvano, yang sering di kendarai oleh Panji, terparkir tak jauh dari mobil mereka. Ia yakin Elvano ada di dalamnya, sama seperti dirinya, menunggu di panggil ke ruang mediasi.


Tiba - tiba Beni datang dan membuka pintu.


"Bu Kanaya sudah waktunya," ujar Beni kemudian menutup pintu dan menunggu di luar mobil.


"Ay, apapun yang terjadi selalu ingat, untuk tujuan apa kamu datang dan kembali kesini. Tetap tenang dan konsisten tentang tujuanmu. Aku tahu kau bisa.," ujar Devan, memberi semangat sambil menggenggam tangan Kanaya. Ia tahu saat ini Kanaya sangat gugup dan tangannya pun dingin.


"Meskipun aku tidak bisa ikut denganmu ke ruangan mediasi, tapi aku bersama kamu, Ay. Hanya berbatas tembok saja. Dan Elvano, dia tidak akan menyakitimu kamu jangan khawatir atau takut," ujar Devan lagi dan Kanaya mengangguk.


'Kak Elvano, tidak akan menyakitimu lagi, Ay! Kamu harus kuat.' batin Kanaya menguatkan dirinya.


Harus di akui ia masih sangat takut bertemu dengan Elvano, sosok yang selalu menghantui mimpi buruknya, bahkan sampai tadi pagi, saat ia terbangun dari tidurnya.


"Aku tahu, kamu pasti bisa Ay." ujar Devan sambil menepuk punggung tangan Kanaya.


"Iya Van. Terima kasih," jawab Kanaya.


"Kita keluar sekarang," ujar Devan. Dan Kanaya mengangguk.


Devan membuka pintu dan menunggu Kanaya keluar dari mobil sebelum mereka berjalan bersama menuju ruangan mediasi.


Di samping itu, Elvano dan juga tim pengacara sedang bersiap menuju ke ruang mediasi.


"Pak Elvano, sudah waktunya," ujar Dimas, pengacara Elvano.


"Apa dia sudah datang?" tanya Elvano menanyakan tentang Kanaya.


"Ya, Ibu Kanaya ada di sini. Terus terang saya belum melihatnya, akan tetapi pihak penasehat hukumnya mengatakan jika Ibu Kanaya sudah hadir untuk sidang mediasi," jawab Dimas.


Elvano menghela napas. Sudah dua minggu ia belum melihat Kanaya. Dan ia pun sudah sangat rindu pandanya.


Elvano berharap bisa menemuinya dan menatap wajahnya meskipun, ia hanya bisa melihatnya dalam ruangan mediasi di Pengadilan Agama. Elvano tidak punya pilihan lain selain menyanggupi untuk datang dalam mediasi, meskipun ia tidak menginginkan perceraian. Karena keinginannya datang adalah untuk mengajak Kanaya kembali padanya. Mungkin dengan bertemu langsung dengan Kanaya, ia bisa merubah Kanaya untuk berubah pikiran.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa, untuk, like, komen dan vote.


__ADS_2